SUAMIKU CINTA PERTAMA SAHABATKU

SUAMIKU CINTA PERTAMA SAHABATKU
Menyerahkan diri


__ADS_3

Perlahan Raina membuka mata, samar-samar ia melihat ada seseorang di depannya yang menatap dirinya sambil menangis. Saat mata Raina sudah terbuka sempurna, ia dapat melihat bahwa oang itu adalah Alex suaminya.


"Mas kamu kenapa nangis..?" Tanya Raina membuyarkan lamunan Alex, ia sampai tidak menyadari jika istrinya sudah bangun.


"Sayang, kamu udah bangun...?" Tanya Alex mengalihkan pertanyaan Raina.


"Mas, jawab aku kenapa kamu nangis...?" Raina mengulangi pertanyaannya.


"Mas gak papa sayang, cuma kelilipan tadi," jawab Alex mencari alasan.


"Claudia udah pulang Mas...?" Tanya Raina.


"Udah, sekarang dia lagi mandi," jawab Alex.


"Oh, syukurlah, aku khawatir banget Mas kamu gak angkat telpon aku tadi," kata Raina.


"Maafkan Mas ya Sayang, karena sibuk sama kerjaan jadi lupa mau liat hp," jawab Alex berbohong.


Raina tahu jika suaminya itu sedang berbohong, akan tetapi ia memilih untuk tidak banyak bertanya.


"Kamu udah makan Mas...?" Tanya Raina.


"Belum, Mas mau mandi dulu baru makan," jawab Alex.


"Ya udah mandi dulu gih!" Ucap Raina sambil memandang wajah tampan suaminya.


"Kamu gimana keadaannya Sayang..?" Tanya Alex pula.


"Aku baik-baik aja Mas, hari ini mualnya berkurang, aku udah bisa makan walau dikit tapi gak dimuntahin Mas," jawab Raina dengan senang.


"Bagus dong, kamu baik-baik ya Sayang di perut Mama," ucap Alex sembari mengusap perut Raina yang masih datar, terlihat jelas Alex juga sangat senang mendengar kabar tersebut.


"Euhm... Kamu mandi dulu deh sama Mas!" Perintah Raina karena mulai tercium bau keringat di tubuh Alex. Bagaimana tidak seharian ini Alex berada di luar ruangan dengan aktivitasnya yang sangat menguras tenaga itu.


"Iya deh, Mas mandi dulu ya," jawab Alex lalu menuju ke kamar mandi.


...


Denis tampak tertunduk, ia tidak berani menatap istrinya yang sedari tadi meneteskan air mata. Rita sangat kecewa akan perbuatan Denis, bahkan ia tidak mengizinkan Denis untuk dekat dengan anaknya. Hanya tinggal mereka bersama Bram, sementara anak buah serta bodyguard Alex dan Denis telah pergi dari rumah tua tersebut.

__ADS_1


"Tolong maafkan aku Sayang," Denis memohon serta berlutut di bawah kaki Rita.


"Bangun Mas, kamu gak perlu lakuin ini kalau nantinya kamu juga gak berubah," kata Rita.


"Aku janji akan berubah, aku akan lakukan apa aja asal kamu mau maafin aku," ucap Denis.


"Kamu yakin mau ngelakuin apa aja...?" Tanya Rita.


"Iya aku yakin, katakan apa yang harus aku lakukan," jawab Denis.


"Aku mau kamu menyerahkan diri ke polisi atas kasus penculikan Claudia," pinta Rita.


"Apa...?" Denis menatap Rita tidak percaya.


"Kenapa kamu menatapku Mas...? Aku yakin kamu tidak akan berani," kata Rita dengan senyum mencibir.


"Kamu benar-benar mau melihat suamimu ini masuk penjara...?" Tanya Denis.


"Lebih baik aku melihat suamiku di penjara, bisa merenungi apa kesalahannya dan menjadi pelajaran untuk tidak melakukan kesalahan itu lagi, dari pada harus melihat suamiku terus saja berbuat jahat kepada orang lain, bahkan istri dan anaknya terancam. Untug saja Pak Alex masih punya hati membiarkan kami tetap hidup, tidak berhati iblis seperti kamu," ucap Rita yang membuat Denis hanya terdiam.


"Kenapa kamu diam Mas? Kalau kamu tidak mau, lebih baik kita berpisah," ucap Rita.


"Apa kamu akan tetap mencintaiku jika nanti aku di penjara...?" Tanya Denis.


"Iya aku janji akan selalu melihatmu Mas," jawab Rita yakin.


"Baiklah kalau itu benar-benar maumu, akan Mas lakukan asal kita tidak bercerai, aku sangat mencintai kamu Rita, aku gak mau kehilangan kamu dan Dania," ucap Denis dengan penuh keyakinan, tatapannya juga sendu.


"Kamu serius Mas...?" Tanya Rita yang tidak percaya, sebenarnya ia juga tidak rela jika suaminya harus mendekam di penjara, akan tetapi ia ingin Denis benar-benar berubah menjadi orang baik seperti pertama kali ia mengenalnya.


"Aku serius, sekarang boleh gak aku meluk kamu dan anak kita...?" Jawab Denis dan meminta.


Rita hanya mengangguk, Denis segera memeluk istri dan anaknya itu, kali ini ia benar-benar merasa bersalah karena telah melibatkan keluarga karena kebodohan yang ia lakukan.


Denis segera mengantarkan istri dan anaknya pulang, setelah itu di temani oleh asistennya Bram menuju ke kantor polisi.


"Bos apa anda yakin akan menyerahkan diri...?" Tanya Bram.


"Saya yakin, saya tidak mau keluarga saya jadi tumbalnya lagi, saya sangat takut kehilangan mereka. Kamu tenang saja, saya tidak akan melibatkan kamu Bram, tapi tolong urus perusahaan dan hantarkan istri bersama anak saya pulang ke rumah orang tuanya," ucap Denis.

__ADS_1


"Baik pak," jawab Bram.


...


Tok.. Tok.. Tok... Suster mengetuk pintu kamar Alex.


Alex segera membuka pintu, dan seperti biasa Suster datang mengantar Adrai yang sudah tertidur pulas, Baby sister-nya juga akan beristirahat karena sudah pukul 9 malam. Semenjak Raina mengalami morning sickness, baby sister Adrai di minta untuk bekerja hingga pukul 9 malam, tentunya dengan gaji dan bonus yang besar dari Alex.


"Anak Papa, makasih ya Sus," ucap Alex lalu menutup pintu.


"ulUdah tidur ya Mas dia...?" Tanya Raina saat melihat suaminya itu menggendong anak mereka.


"iya sayang," jawab Alex lalu meletakkan Adrai ke atas kasur di tengah-tengah antara Raina dan Alex.


"Sayangnya Mama, bentar lagi mau jadi abang," ucap Raina lalu mengecup kening anaknya.


"Sayang, Adrai kan udah tidur, kamu juga tidur ya sekarang"kata Alex.


"kamu emangnya gak tidur Mas...?" Tanya Raina.


"Mas masih ada kerjaan, kalau udah siap Mas langsung tidur kok," jawab Alex.


"Ya udah, tapi jangan sampai larut malam ya Mas," pesan Raina.


"Iya sayang," jawab Alex.


"Selamat tidur Sayang," ucap Alex lalu mengecup bibir Raina singkat dan juga keningnya.


Raina tersenyum lalu memejamkan mata, sementara Alex melangkahkan kaki menuju meja kerjanya.


Malam semakin larut, waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, Alex yang sudah terasa mengantuk masih berusaha menyiapkan berkas yang akan ia berikan esok pagi kepada Perusahaan AB.


Hingga akhirnya berkas itu selesai, lalu ia menutup laptop-nya dan berniat akan tidur.


"Hoam..." Alex menguap karena rasa kantuk yang ia tahan dari tadi.


Alex berjalan menuju ke kasurnya, setelah sampai, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur yang terasa sangat nyaman. Akan tetapi baru saja hendak memejamkan mata, Alex mendengar suara teriakan dari samping kamarnya yang ia yakini adalah suara Claudia. Alex segera berlari menuju ke kamar anaknya itu.


"jangan bunuh aku, Papa, Mama aku takut....." Teriak Claudia dalam igauannya.

__ADS_1


***


__ADS_2