SUAMIKU SERIGALA

SUAMIKU SERIGALA
Tamu tak di undang


__ADS_3

Rani menatap Hana yang menunggu dirinya bicara setelah bertelponan dengan Morris.


"Bagaimana" ucap Hana kembali melakukan pantomim kepada Rani.


Bagaimana aku bilangnya ya, aku belum menceritakan bahwa Morris itu sebenarnya buaya darat, dan Hana masih sangat mencintai dan mencemaskan nya. Pekik Rani di hati.


Rani binggung apa dia harus menceritakan yang sebenarnya barusan atau menutupi nya, namun Rani sendiri pun kesal mendengar suara wanita tadi.


"Yang menjawab telpon bukan dia" ucap Rani ragu, sambil melihat wajah Hana.


"Siapa" ucap Hana masih ber pantomim sambil Hana meneguk air dalam gelasnya.


"Dia bilang Lona, tunangannya" ucap Rani membuat air yang di minum Hana tersembul keluar hampir mengenai Rani kalau dia tidak segera menghindari.


"Apa Lona? Lona tunangan Morris!" ucap Hana melepas pantomim nya dan bersuara keras.


Hana yang tersadar segera membekap mulutnya dan celingak celinguk kembali, Hana takut kalau tibatiba Eliot muncul di hadapannya ketika dia menyebutkan nama Morris, namun kali ini tidak ada pergerakan yang mencurigakan apapun bagi Hana.


Hana mengusap dadanya, lega.


"Kenapa sih Han, kau ini aneh masih saja... " ucap Rani yang sewot sendiri kesal melihat tingkah sahabatnya.


"Ssttt... jangan kencang-kencang Ran, nanti dia dengar... " ucap Hana bertingkah seperti orang bodoh lagi.


"Ya ampun Han... kamu takut apa sih... " ucap Rani kembali duduk dan menepuk jidatnya.


"Sstt... kau bilang tadi Lona yang menjawab telpon Morris dan dia bilang, dia tunangan Morris... " ucap Hana setengah berbisik kembali meyakinkan kembali bahwa dia tidak salah mendengar.


"Iya, dia bilang dia Lona, tunangan Morris" ucap Rani yang ikutan seperti Hana berbisik juga.


Hana menarik dirinya ke kursi dan merenungi semua ucapan Rani.


"Kau kenal dia" pancing Rani.


"Iya... dia teman kuliah-ku dulu, aku nggak menyangka kalau dia... " ucap Hana yang tak mampu berkata, hatinya merasa sakit ketika mengetahui penghianat Morris pacarnya.


"Sebenarnya satu minggu lalu pernah bertemu Morris. Untungnya Morris tidak mengenaliku jadi aku bebas mengambil beberapa gambar-nya" ucap Rani menjulurkan ponselnya dan memperlihatkan beberapa foto mesra Morris dengan seorang wanita.


Hana memperjelas foto tadi, benar foto dalam ponsel Rani itu adalah Lona. Lona temannya semasa kuliah dulu.

__ADS_1


Walaupun terasa begitu sakit buat Hana entah kenapa dalam hati Hana ada sedikit perasaan lega, lega dia tak perlu merasa bersalah karena telah menghianati Morris, ternyata Morris lah yang lebih dahulu menghianati Hana.


"Kau marah Han?" tanya Rani melihat wajah Hana yang tertunduk.


"Bukan marah, tapi aku sebenarnya kemarin merasa bersalah pada nya, aku merasa menghianati Morris yang tulus mencintaiku" ucap Hana bergetar.


"Sudahlah yang penting sekarang kau kan sudah ada seseorang... " ucap Rani menatap wajah Hana yang cemberut.


"Seseorang katamu Ran... dia itu... " ucap Hana yang membayangkan wajah Eliot ketika matanya berubah warna dan tatapan yang begitu menyeramkan...


"Aarggghhh" teriak Hana mengacak-acak rambutnya sendiri.


.


.


.


Sementara di kastil Eliot,


Eliot kedatangan beberapa tamu yang tak di undang...


"Untuk apa kau datang Aaron? Apa ada hal yang mendesak hingga kau sendiri yang turun tangan" ucap Eliot menatap balik tajam Kenzie.


"Ayolah... Eliot kau masih saja kaku memanggil namaku" ucap Aaron yang melangkah maju menepuk pundak Eliot dengan pelan, tangan Aaron menekan pundak Eliot dengan kekuatan dalamnya. Eliot menghentakkan tubuhnya, membuat tangan Aaron terlepas dari pundaknya.


Aaron tersenyum menyeringai, "Aku senang bertemu lawan yang sepadan" ucap Aaron melenggang masuk ke dalam kastil Eliot di ikuti dua orang nya.


Eliot berbalik dan mengikuti Aaron masuk ke kastilnya, Aaron seolah memberi kode untuk memeriksa ke seluruh tempat kepada dua orang tadi, Lucas bersiap menghadang namun Eliot mencegah Lucas untuk bertindak.


Kedua orang tersebut memberi tanda kepada Aaron tidak menemukan sesuatu yang mereka cari...


"Jadi kau mempersiapkan apa untuk makanan pembuka tamu-mu, Eliot" ucap Aaron berbalik menatap tajam Eliot.


Eliot menjentikkan jarinya, di hadapan Aaron telah hadir tiga orang wanita yang sudah di tutup kedua matanya dan tangan mereka terikat.


Mata hijau Aaron menyala, hidungnya langsung mencium aroma manis yang tak dapat mereka hindari dan sepersekian detik yang terdengar hanya jeritan dan teriakan dari para wanita yang menjadi mangsa dan santapan makanan pembuka mereka...


"Bolehlah, tidak terlalu buruk rasanya, kalau begitu kami pamit dulu, ayo Nick, Nath kita pergi" ucap Aaron lalu mereka pun menghilang.

__ADS_1


"Tuan, apakah tidak akan membuatnya curiga" ucap Lucas setelah kepergian Aaron.


"Biarkan dan tetap awasi pergerakan mereka, jangan sampai kita kecolongan" ucap Eliot terlihat waspada.


.


.


.


"Kau besok masuk kerja kan Han?" ucap Rani yang bersiap akan pulang.


"Iya, aku antar ke depan ya" ucap Hana menggandeng pinggang Rani berjalan bersama.


"Jangan pikirkan Morris terus ya Han, biarkan saja kalau nanti dia sampai macan-macam, aku akan turun tangan" ucap Rani sambil mengepalkan tinjunya ke hadapan Hana membuat seberkas senyum di wajah Hana.


"Iya... nggak akan, kau juga Ran, apa kau juga baik-baik saja... kau kan senasib denganku," ucap Hana berbalik menatap Rani.


"Yah... Han, nasi sudah jadi nasi goreng, memang mahu di apakan lagi, aku cuma bisa pasrah, paling tidak aku akan ikut kencan buta, meminta seseorang bertanggung jawab, hehehe... " tawa Rani sambil cengar cengir sendiri, dan...


PLETAKK!! PLETAKK!!


"Aw" teriak Hana dan Rani meringis kesakitan memegangi lengannya, di lengan keduanya ada bercak merah seperti habis di pukul oleh tangan, kedua orang itu Hana dan Rani saling membelakangi, mata mereka berkeliling ke sekitar yang tidak ada seorang pun.


"Argghhh" teriak mereka berbarengan dan saat mereka berlari tubuh mereka berdua saling terpental hingga mereka berdua jatuh duduk.


"Haannn... " ucap Rani dengan suara bergetar, ketakutan.


"Apa ku bilang Ran... aku sudah bilang jangan main-main dengan mereka" ucap Hana setengah berbisik pada Rani.


"Iya, mana aku tahu akan begini sih... " sewot Rani memburu kesal.


Dari pandangan Hana dan Rani yang tidak bisa mereka lihat, Eliot dan Lucas ada di hadapan mereka berdua, menatap mereka dengan penuh amarah.


Berani sekali wanita ini meminta ikut kencan buta untuk meminta seseorang mempertanggung jawabkan perbuatanku. Lucas.


Masih saja istriku berani memikirkan pria sampah itu, tampaknya aku harus memberikan pelajaran agar dia jera. Eliot.


Tiba-tiba tubuh mereka berdua terangkat dan berbalik, kepala mereka berdua ada di bawah dan seolah ada seseorang yang manarik kaki mereka naik dan turun berulang kali, hingga mereka berdua berteriak...

__ADS_1


"Ampuuunn, maaf... tolong berhenti, aku tidak akan mengulanginya lagi!!!" teriak Hana dan Rani berbarengan.


__ADS_2