
Eliot tak bergeming saat mendengar kata-kata dari istrinya. Dia meraih wajah istrinya yang bercucuran air mata. Sakit sekali hati Eliot menatapnya.
"Aku benar-benar minta maaf sayang." Eliot mengusap wajah istrinya dengan lembut. Menarik wajahnya perlahan dan meraup rakus bibir istrinya dengan hangat.
Aaron sebenarnya tidak benar-benar pergi. Dia masih berada dalam ruangan itu. Hanya saja dalam penglihatan kasat mata Hana, dia tak terlihat.
Dia hanya bisa melihat Hana begitu tertekan dengan kehadirannya. Menangis sesegukan dipelukan Eliot.
Sampai kapan kau seperti ini padaku? Apa benar hati kecilmu itu tak ada lagi ruang untukku. Aaron mencengkram erat kedua tangannya.
Saat bersamaan dia sudah diberikan tanda oleh oleh Eliot agar memunculkan dirinya.
Baru saja Hana melepaskan pagutannya. Mata Eliot berubah menjadi biru seolah menembus kedua bola mata Hana dan membuatnya tak sadarkan diri.
Hana tanpa sehelai benang pun sudah berada dalam dekapan Eliot yang sama sepertinya. Aaron kemudian berpenampilan sama seperti mereka dan berada dibelakang tubuh Hana.
"Kau sungguh akan melakukannya saat dia tak sadar?" Aaron berkata meyakinkan lagi sebelum sesuatu yang akan mereka lakukan pada istrinya.
__ADS_1
"Kita tidak punya banyak waktu. Perlu persiapan yang lebih matang untuk membangkitkannya, tapi setidaknya kita sudah ada persiapan."
Tegas Eliot memberikan keputusannya. Dia tak ingin lagi menganggap sepele. Nyawa istrinya dengan raga manusia akan hilang kapan saja tanpa perlindungan yang benar-benar kokoh.
Aaron kemudian mengangguk. Mereka mulai mendudukkan Hana ditengah. Kedua tangan Eliot dan Aaron menopang tubuh Hana. Mereka memejamkan matanya.
Cahaya biru muncul dari tangan Eliot dan cahaya hijau muncul dari tangan Aaron. Mereka berdua menyalurkan tenaga dalam mereka pada tubuh Hana. Tubuh Hana bersinar keemasan.
Seolah ada yang bangkit dari tubuhnya. Eliot membuka mulutnya, bola jiwa berwarna biru muncul dan memasuki mulut Hana. Kemudian mereka memutar tubuh Hana saat bola biru itu sudah benar-benar merasuki tubuh istrinya. Lalu Aaron membuka mulutnya, sama seperti Eliot, Aaron pun mengeluarkan bola jiwa berwarna hijau dan perlahan memasuki tubuh Hana.
Kedua bola jiwa itu berkolaborasi dalam tubuh Hana sehingga mengeluarkan cahaya keemasan yang lebih terang. Sinarnya benar-benar terpancar dengan sempurna. Tubuh Hana melayang diudara dengan kumpulan sinar tersebut, lalu di punggung belakang milik Hana muncul seperti tato burung Phoenix.
Eliot meraih tangan istrinya. Dan mereka berdua, Eliot dan Aaron masing-masing memegang tangan Hana dan mengapit tubuh Hana di tengah. Mereka membiarkan tubuh lelahnya terbaring begitu saja.
Hana membuka matanya. Kepalanya masih bersandar pada dada Eliot. Dia tersenyum bahagia, tapi dia merasakan hal lain dari punggungnya.
Punggungnya terasa sangat berat. Dan dia melirik pinggangnya. Ada tangan lain yang sedang melingkar disana.
__ADS_1
Ada apa ini?
Hana menolehkan kepalanya dan dia membelalakan matanya saat melihat Aaron berpenampilan sama seperti mereka, tanpa sehelai benang pun sedang memeluk tubuhnya.
"AAARRRGGGHHH!!!"
Hana berteriak sangat keras. Membuat keduanya lelaki itu membuka mata dan duduk sambil menggaruk kepalanya.
"Ada apa sih sayang?" Eliot berkata seperti ada dalam mimpi.
"Iya, berisik sekali. Kenapa kau berteriak sayang?" kini Aaron yang berkata, tapi mata keduanya seperti belum fokus.
Bagh! Bugh! Hana yang emosi. Dia benar-benar mendadak membara. Melempari keduanya dengan bantal.
"KELUAR KALIAN!!" teriaknya memekik tajam. Dan, keduanya seperti mendapatkan perintah dari seorang Raja langsung melompat dari ranjang dan keluar kamar.
Prang!Prang!
__ADS_1
"Kau benar-benar gila, Eliot! Aku tidak mau bertemu denganmu lagi!"
Hana yang menggila. Membanting semua barang yang berada di dalam kamar.