
Mobil mereka berhenti di sebuah Mansion yang terlihat sangat begitu mewah di mata Hana dan Rani. Bagi mereka yang terbiasa tinggal di rumah sewaan itu adalah suatu keajaiban mereka bisa tinggal di sebuah istana.
"Waahhh ..., Han lihat, lihat banyak pelayan yang menyambut kedatangan kita. Arrggghhh, aku merasa seperti sedang bermimpi, seperti dalam dongeng!" Rani yang terus menyenggol sikut Hana.
"Iya, Ran. Cubit aku, Ran, cubit!" Hana yang masih tak percaya.
GYUTT. GYUTT.
Rani mencubit kedua pipi Hana dengan kencang,
"Akhh, sakit banget Ran!!' teriak Hana.
"Sakit, berarti kita sedang tidak bermimpi, Han!" Rani memeluk bahagia teman seperjuangannya.
Hurff.
Eliot dan Lucas hanya menatap dan menggelengkan kepala melihat kelakuan keduanya.
"Bagaimana bisa istri-mu meracuni istri-ku seperti itu!" Dengus Eliot.
"Yang benar saja, bukankah istri-mu yang meracuni istri-ku" sahut Lucas yang tak mahu kalah.
"Cih, bisa-bisanya kau menyalahkan istriku. Lihat tuh kelakuan kedua-nya" ucap Eliot melihat Hana dan Rani yang terlihat norak menyentuh satu demi satu barang yang ada di dalam mansion tersebut.
Lucas sambil tersenyum hanya bisa menepuk jidatnya.
"Selama kami tidak ada jaga dan kawal mereka dan kalian para koki buatkan makanan apapun yang mereka inginkan, mereka adalah nyonya rumah ini" Perintah Eliot pada para pengawal, pelayan dan koki.
"Kau yakin menempatkan mereka disini ketika kita tak ada" ucap Lucas yang berubah serius dan khawatir melihat Hana dan Rani yang terlihat sangat bahagia.
"Asher akan segera kembali, kita harus berada di istana besar sementara waktu dan meninggalkan mereka. Aku tak ingin Asher mengetahui keberadaannya. Apalagi kau tahu dia sangat membenci manusia" ucap Eliot dengan segala rasa kekhawatiran mereka.
"Benar, Asher dan Aaron yang harus kita waspadai sekarang!" tambah Lucas.
"Setidaknya pengawalan sudah kita perketat dan aku juga sudah menambah beberapa pengawal bayangan"
"Baiklah, aku bisa meninggalkan Rani dengan tenang'
"Uhm"
Hana dan Rani terlihat berlari kecil setelah mereka puas menikmati dan berkeliling seluruh ruangan. Mereka langsung melompat ke pelukan Eliot dan Lucas.
"Kau senangg" ucap Eliot.
__ADS_1
"Uhm, terima kasih!"
CUP.
Hana memberi kecupan di pipi Eliot.
"Kau sedang menggoda-ku untuk mencoba ranjang baru, hah" bisik Eliot.
"Hihi, kau ya, tidak ada puasnya!" Hana segera melepaskan pelukan.
"Ayolah, hanya beberapa jam mencoba ranjang baru, aku jamin besok aku tidak akan mengganggumu!' ucap Eliot terus melingkarkan tangan di pinggang Hana.
"Cih, tidak mau! Aku lelah, Rani juga sama dengan-ku, lihatlah ..."
Hana yang berbalik sudah tak melihat Rani dan Lucas. Beberapa detik kemudian Hana mendengar terikan Rani dari lantai atas.
"Astaga, Rani benar-benar kecanduan! Kau dengar bahkan suara mereka bisa tertengar sampai di lantai bawah!" gerutu Hana.
"Untuk urusan itu, mereka semua yang ada di sini akan tuli!" sahut Eliot.
"Tuli? Benarkah?"
"Uhm"
Hana yang tak percaya namun melihat para pengawal dan pelayan yang tanpa ada reaksi apapun, Hana baru percaya.
BLASH.
Eliot sudah memapah tubuh Hana yang sedang berjalan di tangga.
"Sudah, aku sudah memindahkan barang pribadi kalian"
"Jangan ganggu aku ya, biarkan aku tidur pulas!" pinta Hana.
"Uhm, aku janji tidak akan menganggu asalkan aku boleh tidur di samping-mu"
"Deal!" ucap Hana sambil tersenyum.
Beberapa menit kemiudian mereka sudah terbaring di ranjang, rasa penasaran bergelayut di benak Hana yang sudah merebahkan kepalanya di lengan kekar Eliot.
"Apa yang kau fikirkan?"
"Entahlah ..."
__ADS_1
"Sungguh?" Eliot mengerutkan dahinya sambil menatap wajah Hana.
"Uhm ..., bolehkah aku bertanya"
"Katakanlah?"
"Sebenarnya ...,"
"Apa? Katakan saja"
Eliot mengusap lembut pipi Hana.
"Aku hanya penasaran apa ada hubungan apa kau dengan ..." Hana ragu-ragu untuk menyebutkan nama Aaron.
"Aaron, itu yang mau kau tanyakan?"
Hana mengangguk.
"Hurf, kami bersaudara" ucap Eliot membuat mata Hana membulat lebar.
"Ba-bagaimana bisa? Kalian sungguh bersaudara?"
Hana yang makin penasaran.
"Uhm, kami, enam bersaudara ya, maksudnya kami berenam adalah saudara serigala dari ibu-ku yang berdarah campuran"
"Campuran?"
"Ayah adalah raja serigala sedang ibu dia setengah manusia"
Hana membenarkan posisinya dan duduk.
"lalu kalau aku yang seperti ini ..., apakah manusia bisa di terima di hadapan Ayah dan Ibu-mu?"
Hana yang tiba-tiba merasa khawatir dia tidak di terima dalam keluarga Eliot.
Eliot tersenyum, "Kau sungguh mencemaskannya?"
Eliot menarik wajah Hana yang tertunduk sedih.
"Heemm, entah kenapa aku merasa Aaron tidak akan mudah melepaskan-ku begitu saja, tapi harusnya jika memang kalian bersaudara harusnya dia tidak bersikap keras kepala pada-mu, juga hubungan kita ..." ucap Hana.
"Memang sulit, karena Aaron juga memilih-mu sebagai calon istri-nya di masa lalu, kau sempat menjadi bagian terpenting baginya, jadi akan sangat sulit.Itu seperti mencabut jantung-nya sendiri!" jelas Eliot membuat sekujur tubuh Hana bergidig, merinding ...
__ADS_1