SUAMIKU SERIGALA

SUAMIKU SERIGALA
Ulat Keket


__ADS_3

Penjelasan dari Eliot membuat tubuh Hana bergetar. Hatinya sedikit tergerak. Aaron bahkan benar-benar merelakan nyawanya hanya untuk mendapatkan cinta.


“Apa tak bisa kau cegah dia, EL? Untuk apa berkorban sebesar itu. Membuatku merasa bersalah saja. Memangnya dia tak bisa memilih wanita lain dari kaum kalian itu. Ya ... contohnya wanita ulet keket itu!” ketus Hana saat


membahas akhirnya tentang Sheira.


“Sepertinya tidak bisa sayang, Aaron sudah mengikat dirinya terhadapmu. Sejak seribu tahun lalu dan mungkin sampai saat ini. Di hatinya hanya ada kau seorang!” Eliot berkata dengan nanarnya yang tersembunyi, tapi


dia pun tak bisa mencegahnya.


“Huh, kalian para manusia serigala merepotkan. Hobi sekali sih menyulitkan semua orang.” Hana beranjak dari ranjang Aaron.


“Tidak semua sayang, hanya kau saja!” Eliot menimpali.


“Iya, tetap saja. Sudahlah, aku sangat lapar sekarang. Kalian tidak akan menyediakan menu daging manusia panggang dan memotongnya kecil-kecil untukku kan?” Hana berkata sembarangan.


“Uhm, sepertinya boleh juga idemu. Jika, kau menyukainya, aku akan meminta koki disini membuatkannya untukmu!” Hana hampir tersedak. Perutnya mendadak mual saat mendengar bualan suaminya.


“Jangan bercanda, El. aku tidak akan makan apapun loh, kalau kau menceritakan makanan yang aneh-aneh.” Hana berkerucut bibir.


“Hahaha, kau lucu sekali. Tidak akan sayang, orangtuaku pun tahu, dia tak akan sembarang menyajikan makanan!” Eliot menggandeng pinggang istrinya keluar kamar Aaron.


Saat mereka membuka pintu Aaron tengah bersandar sambil melipat kedua tangannya.

__ADS_1


“Cih, hanya sebentar saja. Lukamu berarti tak cukup parah!” dengusnya. Menyindir keharmonisan yang kembali terpancar di wajah Eliot dan Hana.


“Hah, dia masih marah padaku. Jadi, tak mengizinkanku menyentuhnya!” Eliot dengan helaan nafas panjangnya. Dia pun mengeluh.


“Hanaa!” Rani berteriak. Berlari menghampirinya yang dikejar oleh Lucas.


“Uhm.”


“Kapan kita pulang? Aku sudah tidak betah disini. Tidak enak. Belum  apa-apa aku sudah kangen nonton


drama koreaku, apalagi ini episode terakhir. Sedang seru-serunya,” gerutu Rani. Dia sudah menggandeng lengan Hana.


“Jadi kau juga ingin pulang?” cetus Hana.


“Iyalah, yuk. Kita pulang saja.” Rani terus menjadi kompor meleduk diantara para suami yang sudah mulai terbakar.


“Kau yang jangan banyak bicara. Dasar serigala berandalan gila!” maki Rani tidak mau kalah.


“Lucas, istrimu itu selalu saja mencari masalah. Nanti kalau aku sungguh kesal dengannya. Kugantung dia sebagai bendera selamat datang.” Delik Aaron terdengar serius.


“Cih, mulutmu masih saja kasar, pantas saja Hana tak bisa membuka hatinya untukmu!” Lucas membela istrinya.


“Aaron diam. Jangan buat kepalaku pusing. Kalau kalian terus ribut, aku akan meminta bantuan musuh untuk memulangkanku sekarang!” cetus Hana tiba-tiba.

__ADS_1


“Aarrggg!” teriak meraka, Hana dan Rani kompak. Meraka berdua tiba-tiba tersandung, dan wajah mereka tersungkur di lantai. Padahal  lantai yang mereka ijak bersih tanpa ada apapun penghalang.


“Sa-sakit, Han!” ringis Hana dan Rani. Mereka memegangi hidungnya yang sakit akibat tersungkur tadi.


Lucas segera membantu istrinya berdiri. Sedangkan Eliot dan Aaron kompak mendiamkan Hana walaupun dia sudah meringis kesakitan. Hana melayangkan pandangannya.


“Awas ya kalian, tunggu saja pembalasanku. Aku pastikan kalian menyesal,” tuding Hana yang meyakini mereka tersungkur karena ulahnya. Hana tahu para suaminya itu kesal dengannya karena terus-terusan menbahas pulang.


Mereka sampai di meja makan. Baginda Raja dan Permaisuri telah menunggu. Asher dan Sheira pun telah hadir lebih dulu. Sheira masih menundukan wajahnya saat melihat Eliot. Ada harga dirinya yang seperti terinjak, tapi tidak membuatnya menyerah.


Asher makin lama kian lekat menatap Hana. Tanpa sadar dia pun mulai mengagumi kecantikan Hana. Eliot dan Aaron kian waspada, dia terus mengapit istrinya kemana pun langkahnya.


“Pangeran Eliot, Pangeran Aaron, bisakah Hana duduk disebalahku saja,” usul Permaisuri. Dia ingin sekali dekat dengan Hana.


Hana tanpa ragu dia melangkah maju saat ibu mertuannya itu menggerakan tangannya. Mempersilahkan dia duduk di tempat yang ditunjuknya.


“Ehm, apa suamimu tak menyuruhmu ganti baju?” cetus Sheira. Dia yang kini berhadapan duduk dengan Hana. Sheira keki dengan penampilan anehnya, tapi permaisuri malah tak menegurnya.


Cih, dasar wanita ulet keket. Masih saja dia mau cari gara-gara denganku.


“Mereka menyuruhku, tapi aku yang menolaknya. Untuk apa berpakaian indah kalau hanya untuk menggoda dan mencuri perhatian suami orang!” delik Hana tak kalah tajam. Dia tak akan tinggal diam ketika tahu wanita


dihadapannya berniat merebut suaminya.

__ADS_1


Eliot memang belum menceritakan dengan jelas  Sheira dan Asher. Namun, saat tahu suaminya sampai terluka seperti itu, dia menarik kesimpulan sendiri. Mereka adalah musuhnya.


Ternyata manusia ini benar-benar berani. Pantas saja mereka berdua bersaing untuk mendapatkan cintanya. batin Asher.


__ADS_2