SUAMIKU SERIGALA

SUAMIKU SERIGALA
Telinga dan Hatiku Sakit


__ADS_3

"Apa kau sungguh sudah melupakan diriku, Hana? Jawablah. Aku ini adalah suamimu, kau jangan tertipu dengan semua ucapan yang Eliot katakan, dia hanya ingin menguasaimu seutuhnya," Aaron menatap mata Hana penuh kasih dan perasaan, hatinya bahkan tak berhenti berdebar jika berhadapan langsung dengan Hana.


Hana segera memalingkan wajahnya, baginya Eliot sudah menjadi suami yang resmi. Dan dia sangat membenci dan menentang perselingkuhan. Buat Hana, dia hanya memiliki satu pasangan yaitu Eliot.


"Tolong jangan seperti ini Aaron, aku-" tangan Hana mendorong perlahan tubuh Aaron yang masih menahan tubuhnya dengan kedua tangan.


"Tatap mataku Hana, tataplah. Huh, rasanya aku ingin sekali merobek dan mencabut jantungmu keluar!" dengus Aaron semakin kesal dengan eratan giginya yang terdengar jelas di telinga Hana.


Merobek dan mencabut jantungku, dia fikir jantungku boneka.


Aaron menatap Hana dengan senyuman smrik, "Aku memang bisa melakukannya, aku akan merobeknya dan menggantikan dengan jantungku," ucap Aaron membuat Hana merinding, meringis ngeri membayangkan jantungnya di robek keluar.


"Aarrggh!" Hana membekap mulut dan menggelengkan kepala, mencoba bangkit dan di bantu duduk oleh Aaron yang masih menatapnya dengan senyuman bahagia.


"Kenapa? Kau tidak suka aku melakukan itu?" Hana menggeleng mendengar ucapan Aaron. Aaron menatap Hana sambil merapihkan rambut Hana yang keluar.


"Kau jangan gila! Itu sama saja kau membunuhku," Hana reflek memukul dada Aaron perlahan.


"Mana mungkin aku membunuhmu. Aku akan ada di sini, di sisimu, menjaga dirimu selama dia pergi!" ucap Aaron seketika membuat kening Hana saling bertautan.


"Pergilah, aku tak perlu di jaga olehmu. Suamiku meninggalkan banyak pengawal untuk menjagaku," tolak Hana.


"Ck, ck, ck. Aku ini juga suamimu, memang hanya Eliot saja yang kau anggap. Masih saja kau tak menganggapku, aku ini ada, hidup, disisimu dan bisa kau sentuh sesuka hatimu!" wajah Hana seketika memerah, Hana tersadar kembali menundukkan wajahnya saat mendengar ucapan Aaron yang memojokkan dirinya.


"Bisakah kau-" Hana mengangkat wajahnya.


"Tidak!"


"Aaron."


"Uhm,"


"Aku mohon dengarkan dulu,"


"Tidak mau!"

__ADS_1


Putus asa rasanya Hana bernegosiasi dengan Aaron, rasanya tidak akan mungkin baginya mencoba merubah fikiran dan hati Aaron yang sudah mengikatkan dirinya pada Hana.


Hurf.


Hana membuang nafasnya dalam, memuntahkan rasa kekesalan yang menggelayut dalam dirinya. Dia ingin sekali bisa menjadi penengah hubungan renggang antara Eliot dan Aaron, namun bagaimana dirinya menjadi penengah kalau dirinya-lah yang menjadi akar masalah-nya.


Aaron menatap kegundahan dari wajah Hana, bukan menjadi egois, namun dia hanya menginginkan dirinya mendapatkan perlakuan adil apalagi ini menyangkut cintanya.


"Kau mau kemana?" Hana yang akan beranjak pergi meninggalkan nya.


"Aku mau mandi, shopping dan menghabiskan uang suamiku," Hana menunjukkan sederet gigi putihnya.


"Aku temani, kau juga kan bisa menghabiskan uangku!"


"Tidak udah. Tidak mau. Aku akan pergi bersama dengan Rani dan pastinya tanpa aku minta pun para pengawal suamiku sudah mengikuti kemana pun aku pergi,"


"Bisakah kau memanggilnya dengan sebutan biasa, telinga dan hatiku sangat sakit mendengar kau berkata seperti tadi," dengus Aaron mencibir ketus ucapan Hana.


"Aku tak memintamu untuk mendengarkan ocehan ku, lagipula aku tak menyuruhmu datang pagi buta seperti ini," Hana memalingkan wajahnya tak perduli lagi pada ocehan yang keluar dari mulut berbisa Aaron.


"Stop!" Rani merentangkan kedua tangannya seperti burung menghalangi jalan Aaron. Tak ingin Aaron mengikuti Hana.


"Jangan usik kemurahan hatiku, lebih baik kau menyingkir!" Aaron mendelikkan matanya, memberi kode memutar kedua bola mata melirik Nick Nath agar membersihkan penghalang dari jalannya.


"Heh, kau fikir kau bagus. Dasar serigala berandalan. Jangan ganggu Hana dan sebaiknya kau jangan main-main dengan istri Lucas kalau kau tidak mau mati di pukul olehnya," Rani langsung memasang kuda-kuda siap menyerang pada Nick Nath yang berganti menghalau jalan Rani.


"Kalian hanya menemaninya bermain, jangan melukai ataupun menyentuh kulitnya," perintah Aaron milirik kembali pada Nick Nath.


"Hei, kau mau kemana, jangan kabur. Hey, " Rani berteriak mencoba mengejar Aaron, namun Nick Nath tetap tak membiarkan Rani mendekati tangga, sedangkan para pengawal yang mencoba memberikan bantuan pada Rani sudah di kalahkan dalam beberapa detik oleh Nick Nath secara bergantian.


"Heh, kalian jangan mendekat. Aku akan teriak nih!" Rani mendelikkan mata tapi tubuhnya mundur selangkah demi selangkah menghindari Nick Nath.


Kedua kembar hanya tersenyum dan saling melirik secara bergantian melihat tingkah Rani yang menurut mereka lucu,


"Kami akan melepaskan-mu, asalkan kamu menjadikan kami sebagai suami-mu juga, benar tidak Nick." Nath yang tersenyum menyenggol sikut Nick.

__ADS_1


"Hohoho, kau benar. Sepertinya dia menarik dan lucu juga kalau di jadikan istri kita," tambah Nick menggoda Rani.


Rani bergisik, "Arrrggghhh tidak mau. Aku masih waras! Jangan ganggu aku. " Rani berjongkok menunduk dan menutupi kedua telinganya.


Nick Nath melipat kedua tangan mereka, tersenyum geli setelah berhasil menggoda Rani sambil mengawasi Rani agar tak kabur dari pandangan mereka.


Ceklek.


Aaron mengikuti Hana yang masuk ke kamarnya, mata Aaron berkeliling sesaat di kamar Hana yang bernuansa sangat lembut. Soft pink dengan dominasi kuning gading.


Apa ini sekarang gayanya, hmm benar-benar gaya banyak berubah.


"Kau? Se-sedang apa di sini?" Hana terkejut ketika Aaron tak melepaskan tatapan matanya, Hana keluar mengenakan handuk yang membalut di tubuhnya.


"Sedang melihat kamar istriku dan aku juga ingin tahu bagaimana rasanya tidur di ranjang yang di tiduri istriku," Aaron yang sudah membentangkan kedua tangannya di ranjang Hana.


Hana tanpa memperdulikan ucapan Aaron segera melesat menghampiri lemari baju, bergegas memilih baju untuk menutupi seluruh tubuhnya.


"Kau sungguh akan meninggalkan-ku sendiri?" Aaron menatap Hana seperti busur panah yang menembus jantung, sudah berubah menjadi duduk di ranjang Hana.


"Uhm, maaf. Tapi aku sudah bilang padamu kan kalau aku akan shopping dengan Rani, jadi sebaiknya kau pergi!"


Hana berbicara menjaga jarak pandang dan tubuhnya mundur perlahan kearah pintu,


"Aw!" Pekik Hana saat akan membuka gagang pintu yang seperti terbakar api.


"Kemarilah!" Hana tetap menggeleng dan tak memajukan langkahnya, masih mengibaskan tangannya yang terasa panas.


Huh, seandainya saat ini ada Eliot di sampingku ini pasti tidak akan pernah terjadi.


Aaron menautkan alisnya kesal, rahangnya mengeras seketika, lagi-lagi dia merasa Hana tak memperdulikan dirinya.


BLASH. BRUK.


Hana sudah berpindah dan terhempaskan pada ranjangnya, Aaron mengapit tubuh Hana dengan kedua lengannya,

__ADS_1


"Bahkan aku ada di hadapanmu pun kau tak perduli denganku! Apa aku sungguh harus berbuat kasar padamu agar kau mengingat dan memikirkanku, hah!" Eratan gigi Aaron terdengar matanya kini sudah berubah warna menjadi hijau dan rambut hitamnya kini menjadi silver.


__ADS_2