SUAMIKU SERIGALA

SUAMIKU SERIGALA
Eliot terbakar api cemburu


__ADS_3

Ayo... katakan siapa dia, bagaimana dia bisa membuat-mu seperti tadi, bahkan Morris saja yang sudah dua tahun berhubungan dengan-mu... aku yakin kau belum pernah berhubungan intim dengannya kan... " ucap Rani langsung menusuk, menacap di jantung Hana.


"Kau ini sebenarnya berpihak pada siapa sih Ran, aku atau Morris" ucap Hana menunjukkan wajah prustasi nya.


Dalam keheningan, tanpa mereka berdua ketahui, Eliot masih berada di antara mereka, ia terlihat sedang merapikan celananya yang terbuka karena Hana yang membuat nya terus merasa bergelora sambil matanya terus pokus pada Hana yang bertingkah lucu di matanya.


"Sudah-lah, aku bercanda... " Rani menepuk pundak sahabatnya. Ayo kita lanjutkan makan dan minumnya" Rani kembali ke bangkunya tadi.


Hana berdiri dari ke terpurukannya di lantai, kembali menghampiri bangku tadi, melihat bangku kosong tadi, ia bergidik sendiri lalu berpindah ke sebelah Rani.


Hana mengatur nafasnya saat duduk.


"Jadi kau mau cerita apa?" tatap Rani dengan wajah seriusnya.


"Kau tahu sejak aku cerita soal luka di kakiku yang ku bilang kubawa dari mimpi... " ucap Hana memulai ceritanya.


"He-em terus"


"Malam aku bermimpi lagi dan saat aku bangun luka di kaki hilang" Hana menunjukkan kedua telapak kakinya yang sebelumnya Rani pun tahu kondisinya sangat menghawatirkan.


"Eh, iya... sudah hilang sepertinya kau tidak pernah terluka" ucap Rani masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya...


"Ta-pi... " ucap Hana terdengar ragu-ragu.


"Kenapa Han?" ucap Rani dengan mimik wajah lebih serius.


"Aku malamnya bermimpi kembali, aku ber-cin-ta dengan se-seorang dan dia bilang dalam mimpi-ku dia adalah sua-mi-ku" ucap Hana menatap perlahan wajah Rani, melihat ekspresi wajahnya. Awalnya Rani syok dan tak percaya mendengar cerita Hana, lalu...


"Buahahahahhh..." Rani tertawa keras, geli sampai memegangi perutnya sendiri.


Sedangkan Eliot yang mendengarkan Hana bercerita hanya tersenyum.


Ah, lucunya, aku makin gemas saja, sepertinya aku akan membawanya pergi bersamaku secepatnya. Eliot.


"Ah, kau gila! Dasar teman gila" ucap Hana kesal setengah mati memukuli pundak Rani yang masih tertawa oleh ceritanya.


"Ahaha... hahaha... maaf Han, habisnya kau lucu banget. Mana ada ya Han, mimpi jadi kenyataan, sudah jangan mengarang cerita ... siapa sih orang nya yang mengajarkan kamu bercerita nggak masuk akal seperti ini. Dari mulai kau bicara ponsel, luka dan apa tadi su-ami. Kapan kau menikah Han, atau saking prustasi nya kau dengan Morris jadinya kau bertingkah seperti ini... " ucap Rani masih tidak percaya, Rani menganggap Hani sedang membuat karangan.


"Sungguh Rani... aku tidak berbohong, paginya aku pun melihat bercak darahku sendiri di kasur. Awalnya aku pun mengira aku bermimpi, makanya aku telpon minta izin tidak masuk kerja, aku ingin memeriksa ke dokter, tapi saat aku akan pergi aku malah bertemu dengan nya dan dia membawaku pergi setengah hari ini... " ucap Hana menjelaskan panjang lebar.

__ADS_1


"Setengah hari apanya, tiga hari Hana... " ucap Rani dan seketika Rani berdiri dan membekap mulutnya dengan kedua tangan.


"Kau tidak gila kan Han, kau masih waras kan Han" ucap Rani menyentuh kening Hana dengan kedua tangannya, dia mulai sedikit percaya dengan ucapan Hana.


"Aku tidak gila, aku masih waras Rani. Aku meminta-mu datang hanya ingin meminta solusi dari-mu, apa yang harus aku lakukan" Hana mode on terisak memeluk Rani tapi tidak mengeluarkan airmata.


Rani mengusap-usap rambut Hana,


"Omong-omong... suami-mu apa lebih tampan dari Morris" celetuk Hana.


"Akhhh" teriak Hana kesal.


Eliot menyeringai saat dirinya di bandingkan dengan manusia seperti Morris.


"Maaf, maaf... bercanda, tapi aku serius nih... apa dia tampan, kaya dan tubuhnya bagaimana apakah dia..." ucap Rani berbicara penuh binar, sedangkan Hana hanya mengangguk ketika mendengar setiap perkataan Rani.


Kali ini wajah Eliot memerah saat mendengar dan melihat pengakuan dari Hana barusan.


Kau benar-benar menggemaskan istriku.


"Sudah ah Ran... nggak usah di bahas lagi, aku ingin bersembunyi dalam lubang saja kalau seperti ini" ucap Hana.


Ah, Morris.


Hana mengangkatnya,


"Di mana kau?" suara Morris dari seberang telpon.


"Aku di rumah, bersama dengan Rani" ucap Hana matanya melirik ke Rani sedang tangannya mengambil kembali potongan ayam goreng yang sempat dia jatuhkan tadi.


"Benarkah? Kalau begitu turunlah, aku ingin bertemu dengan mu" perintahnya.


Eliot yang dapat mendengar dengan jelas semua perkataan di telpon, tangannya mengepal erat matanya kembali berubah warna.


"Tunggu sebentar ya Ran... " ucap Hana setengah berbisik, menjauhkan ponselnya sebentar dari telinga, berdiri meletakkan ayam gorengnya, berdiri dan mengambil coath yang tergantung di belakang pintunya, memakai nya untuk menutupi pakaiannya yang tembus pandang.


Rani hanya mengangguk cepat, Hana membuka pintu dan menuruni cepat tangganya.


"Tunggu sebentar, aku turun!" ucap Hana.

__ADS_1


Hana tidak tahu kalau Eliot terus di sampingnya. Hana menutup telponnya saat melihat Morris sudah bersandar di mobilnya.


Hana tersenyum lebar saat melihat Morris, mata Eliot memerah tubuhnya keluar api yang bisa membakar siapapun.


"Sayang... " ucap Hana tersenyum mendekati Morris.


Mata Morris menatap Hana dengan penuh *****, bahkan dia tidak pernah sekali pun melihat Hana berpakaian seperti itu, Hana selalu berpakaian serba tertutup saat menemuinya,


"Kau... " ucap Morris menelan saliva-nya, tangannya baru akan menyentuh lengan Hana, namun tubuh Morris langsung terpental kebelakang seketika punggung nya mencium mobilnya.


"Akh" teriak Hana mendelik dan saat dia mencoba mendekati Morris, akan menolongnya, lengannnya sudah tercengkram dengan erat.


"Aww... panas, panas... " teriak Hana lengannya seperti terbakar. Hana melihat tangannya yang memerah dan seketika Eliot muncul di hadapannya.


"Huh... huh... panas sekali, sakit... tolong lepaskan" ucap Hana meringis kesakitan hampir menangis.


"Kau lupa, aku sudah memperingati-mu jauhi manusia itu sebelum aku yang menghabisi atau orang-orang ku memakannya tanpa sisa" ancam Eliot dengan matanya yang merah seperti api.


"Sa-sa-sakittt... panas... ahkhh... " teriak Hana makin keras.


Morris menggerakkan tubuhnya yang terpental tadi, punggung nya terasa sakit semua, dan mata melihat pemandangan aneh, saat melihat Hana merintih kesakitan.


Morris mendekati binggung,


"Ada apa Hana, kau kenapa?" tanya Morris makin mendekat akan menyentuh tangannya, Hana melihat Eliot mendelik tajam, tangannya yang satu sudah bersiap membakar Morris.


"Pe-pergi, aku tidak apa-apa" teriak Hana, membentak dan mengusir Morris.


"Sayang kau... "


"Pergi-lah aku mohon" ucap Hana seketika tubuhnya melemah dan tubuh Hana tergolek di jalanan.


Morris yang merasa memiliki kesempatan, ia mencoba mendekati lagi tubuh Hana, ia akan mengangkat tubuh Hana, namun saat kedua tangannya menyentuh tubuh Hana, kedua tangan Morris terbakar.


Morris membelalak kaget dan berteriak,


"Akhh... apii... panas, panas... tolooong" teriaknya menjauhi tubuh Hana dan berlari mencari pertolongan untuk tangannya yang terbakar.


Lucas yang mendadak muncul,

__ADS_1


Ah, Tuan benar-benar terbakar api cemburu. Pekik Lucas.


__ADS_2