SUAMIKU SERIGALA

SUAMIKU SERIGALA
Mencoba bernegosiasi


__ADS_3

"Tuh kan kalian benar-benar cocok! Hahaha, Rani nanti kalau Lucas kembali akan ku bilang kalau kau ingin menjadikan Aaron sebagai suami keduamu!" Hana terkekeh meledek keduanya.


"Kau gila! Aku tidak mau!" Rani menghentakan kedua kakinya di lantai sembari mencibirkan bibirnya terhadap Aaron.


"Iya, iya. Bercanda Rani. Sudah sana ganti baju katanya kita mau shopping menghabiskan uang suami kita," ucap Hana sambil menunjukkan sederet gigi putihnya.


"Hohohoh, aku lupa. Semua karena serigala berandalan itu. Tunggu sebentar aku ganti baju ya Han," Rani bergegas meninggalkan kamar Hana.


"Aku akan menunggu-mu di mobil," ucap Aaron akan meninggalkan kamar Hana.


"Eh, tunggu! Sebaiknya kau tidak usah ikut saja, berikan kami waktu bersantai berdualah. Aku janji tidak akan melantur kemana-mana," Hana kembali mencoba bernegosiasi.


"Kau lupa kesepakatan kita tadi. Aku akan ada disisi-mu selama dia tidak berada di sisi-mu!" Aaron semakin menegaskan keberadaannya, kali dia akan berusaha memperjuangkan cintanya terhadap Hana.


"Aku akan baik-baik saja Aaron, aku mohon pergilah. Kami hanya berbelanja, makan dan nonton paling tidak akan lama," Hana meraih tas dan menyelempangkannya.


"Jangan membantah lagi. Aku tetap akan menunggu-mu di mobil,"


Aaron tak menggubris ucapan Hana, berbalik pergi meninggalkan Hana.


Huh, susahnya menghadapi orang-orang keras kepala. Dosa apa aku di kehidupan lalu sampai harus bertemu dengan dua serigala yang menyebalkan. Andai saja aku masih bisa hidup normal seperti wanita pada umumnya.


Hana berjalan pelan keluar dari kamarnya dengan pikiran yang berkecamuk dalam jiwa.

__ADS_1


"Han, ada apa? Mukamu kok jadi kusut banget setelah ketemu serigala berandalan tadi. Apa dia mengancammu lagi?"


Rani sudah menggandeng tangan Hana saat mereka menuruni tangga.


"Uhm tidak apa apa Ran, hanya saja dia meminta untuk ikut bersama kita," sahut Hana.


"Cih, memang dia suka sekali cari ribut ya. Huh andai saja ada Lucas di sini, dia pasti sudah di hajar habis habisan oleh Lucas," Rani keki sendiri sambil mengkerucutkan wajahnya apalagi saat dia keluar pintu Aaron sudah berdiri sambil melipat kedua tangannya.


"Masuklah," Aaron membukakan pintu untuk Hana dan Rani.


"Eh kami ada mobil dan supir sendiri tak perlu kau antar," Rani menghadang lebih dulu tak mengizinkan Hana masuk ke dalam mobil.


"Kau benar benar mencari gara gara denganku ya? Apa perlu aku buat permanen penglihatan, pendengaran dan lidahmu itu,"


Aaron tak kalah tersulut emosi ketika Rani mulai berbicara kembali dengannya.


Rani menarik lengan Hana menjauh dari mobil Aaron.


Grep.


Aaron mencengkram lengan Hana sebelahnya,


"Aw," rasanya tertusuk panah berapi saat Aaron menyentuh lengannya.

__ADS_1


"Aa-ron lepas, sakit!" ringkih Hana.


"Masuklah, aku sudah bilang masuk!"


delik Aaron.


"Iya, iya. Ran, sudah kita pakai mobilnya saja," Hana tak ingin memperpanjang keributan.


Akhirnya dengan segala keterpaksaan Hana dan Rani masuk ke dalam mobil Aaron.


Benar-benar menjengkelkan. Dasar serigala berandalan.


.


.


.


Dalam istana besar,


"Tuan anda tidak apa apa?" Lucas sangat khawatir ketika melihat wajah Eliot yang terlihat panik.


"Dia sedang bersamanya, jika hari ini aku tidak ingin bertemu dengan Asher aku pasti sudah menghilangkan dan menghajar-nya!"

__ADS_1


Dari nada bicaranya Eliot terdengar kesal dan marah,


"Aku bisa mewakili-mu jika kau izinkan, aku takut dia pun mengganggu Rani-ku!" Lucas ikut menjadi memanas.


__ADS_2