SUAMIKU SERIGALA

SUAMIKU SERIGALA
Hana Terbakar Cemburu


__ADS_3

Huh, susahnya membujuk istriku. Kalau keinginan tak dituruti bisa-bisa jatahku nanti malam hilang.


Lucas sedang memutar otaknya. Dia sebenarnya ingin menghipnotis Rani. Namun, dia urungkan, dia tak tega kalau istrinya dimanipulasi sendiri olehnya.


Dan satu-satunya cara adalah, Lucas bergelatut manja dipundak istrinya. Dia mulai menyusupkan tangannya pada kaos yang dipakai istrinya.


"Sayang, bagaimana kalau kita mencoba ranjangku. Kau, pasti belum pernah mencoba bergulat di ranjang itu?" bisik Lucas lirih. Sambil matanya memberi petunjuk pada ranjang didepan istrinya. Dia tahu istrinya pasti tidak akan menolak jika dirinya mengajak.


Rani melirik kamar suaminya. Dan matanya tertuju pada ranjang besar dengan disekelilingnya kayu berbingkai tirai mewah. Dia penasaran ingin sekedar duduk atau tiduran disana. Pasti akan sangat nyaman dan empuk saat mereka melakukannya.



Rani turun dari pangkuan suaminya. Tangannya menyentuh setiap inci dari ranjang tesebut. Dia mencoba duduk diatasnya. Hmmm, benar-benar empuk. Mungkin kalau tidak ada Lucas dihadapannya, ranjang itu akan dilompat-lompati olehnya.


"Kau yakin ini tidak akan terbelah dua atau rusak seperti biasanya!" cetus Rani. Dia tahu suaminya tak akan cukup dengan satu kali permainan.

__ADS_1


"Tidak akan sayang, dibawahnya ada lapisan baja. Walaupun aku mengerahkan semua kemampuanku, ya ... paling-paling penyok sedikit, tidak sampai terbelah," Lucas mengembangkan senyum. Dia tahu istrinya sudah mulai terjebak olehnya.


Tangan Rani masih saja mengusap-ngusap ranjang tersebut. Lucas duduk disamping istrinya,


“Bagaimana? Mau dicoba sekarang?” Lucas menarik tubuh istrinya.


Namun, sedetik kemudian dia memutar bola matanya. Dia teringat keinginannya untuk pulang.


“Arrrgghhh! Bisa-bisanya kau menggunakan hal semacam ini untuk menggodaku? Kau gila, Lucas!” teriaknya. Dia kemudian mendorong kasar tubuh suami.


“Sayang!” Lucas mencoba menyentuh lengan suaminya.


“Hah, jangan sentuh! Aku sebal. Pulang, aku ingin pulang sekarang!” pekik Rani. Dia sekarang benar-benar marah.


Dan hal serupa tak berbeda. Di kamar Eliot, Hana membanting semua barang-barang yang berada di dalam kamar suaminya.

__ADS_1


“Dengarkan aku, Han. Kau jangan salah faham!” Eliot berusaha mendekat. Namun, lagi-lagi istrinya itu menghindar.


“Salah faham katamu? Kau bahkan memanggil namanya dengan mesra!” dengus Hana yang masih terbakar cemburu. Dia masih kesal dengan suaminya. Sejak tadi dia menahan untuk memakinya.


"Ada apa ini? Kalian sedang bertengkar?" Aaron muncul diantara keduanya. Hana uang sedang melipat kedua tangannya dan membelakangi suaminya.


"Pokoknya aku mau pulang sekarang!" Hana pun sama. Ogah berlama-lama disana. Alasannya bukan karena tempat, tapi karena adanya wanita lain.


"Pulang? Jangan aneh-aneh, Hana. Kau itu tak bisa pulang sebelum kongresku selasai. Kau harus ada disini dan menjadi saksi. Ya ... bukan saksi saja sih, kami itu seperti ditempatmu, menikahinya secara resmi!" Aaron mencoba memberikan pengertiannya.


Namun, kepalang tanggung Hana sudah tersulut emosi. Dia, sudah tak perduli lagi. Mau kongres itu ada ataupun tidak. Baginya, sekarang adalah pulang.


"Aku tidak perduli. Kalau kau tidak setuju aku akan pulang sendiri. Akan kucari jalan pulangnya sendiri!" Ketus sudah Hana. Hatinya benar-benar terbakar cemburu.


"Ck, ck, ck, kau ya, El. Untuk apa sih kau melirik wanita lain?" Aaron yang jadi ikutan kesal. Bukan memenangkan malah membuat percikan apinya bertambah besar.

__ADS_1


__ADS_2