
"Anda tidak apa-apa" Nick yang menghampiri Aaron membuyarkan lamunannya setelah Eliot membawa pergi Hana.
"Huh, aku terlambat kali ini"
Aaron mengeluarkan satu buah gelang daun di tangannya, menatap gelang tadi dengan penuh arti.
"Apa anda akan melepaskan-nya"
Nath yang kembali bertanya di hadapan Aaron.
"Masih ada ikatan pasangan. Hanya aku seorang yang mampu membukanya. Aku yang dia tidak akan melupakan ku... "
Lamunan Aaron bergulir ketika mundur kebelakang,
Seribu tahun sebelumnya.
Kediaman perdana menteri Zhuan. Perdana menteri Zhuan memiliki dua orang putri yang bernama Putri An Han dan Putri An Ran.
Saat ini tuan Putri An Han sedang berusaha melarikan diri dari perjodohan yang sudah di rancang oleh ayahnya.
"Tuan Putri An Han..., jangan lari. Anda mau kemana Tuan Putri... "
Teriakan dua dayang istana yang berlari mengejar putri An Han yang berlari keluar istana.
"Jangan kejar lagi, aku tidak akan lama. Aku ingin bermain sebentar!"
Ucap Tuan Putri An Han yang mengenakan pakaian pelayan sudah berdiri di atas tembok istana dan bersiap melompat.
"Tuan Putri..., turunlah, kami mohon jangan buat kami dalam kesulitan. Turunlah tuan Putri... Pangeran Mor sudah menunggu anda di kebun bunga..." Bujuk salah satu dayang yang sangat khawatir.
"Aku tidak perduli"
ARRRGGGHHH.
Teriak Putri An Han yang sudah melompat keluar istana dan langsung mendarat di seekor kuda.
"Kau tidak apa-apa kak?"
"Aku kan sudah bilang tunggu aku An Ran, dasar kau, adik tidak setia"
Dengus Putri An Han.
"Sudahlah kak, tidak usah di bahas lagi. Sebaiknya cepat pergi, kalau tidak perayaan hiburan perahunya selesai"
Ucap seorang gadis yang berpenampilan sama seperti Putri An Han, penampilan seorang pelayan. Dia adalah Putri An Ran adik Putri An Han.
"Ah, iya. Ayo cepat pergi. Kalau tidak pangeran Mor akan mengejar kita"
Putri An Han langsung menepuk pantat kuda mereka dan kuda pun berlari dengan kencang.
HIIAAAHH.
Akhirnya mereka sampai pada tepi sungai yang sudah di penuhi dengan orang-orang yang sedang menonton perayaan hiburan perahu.
"Kak, apa kau ingin mencoba menaiki salah satu perahu..."
Putri An Ran yang sudah membawa dua gulali kapas pada kakaknya yang sedang duduk memandangi perayaan hiburan perahu.
__ADS_1
"Tidak. Aku kesini kan hanya untuk menonton dan lari dari pertemuan dengan pangeran Mor... "
Wajah An Han terlihat sangat sedih.
"Apa ayah sungguh akan menjodohkan-mu dengan pangeran mata keranjang itu. Ayah sungguh tega menukar salah satu dari kita untuk memperluas wilayahnya... "
Putri An Ran yang akan bernasib sama dengan kakaknya, dirinya pun sedang dalam tahap perjodohan untuk memperluas wilayah.
"Andai aku bisa tak kembali ke istana. Aku ingin menjauh dan pergi. Ayah pasti akan tetap memaksakan kehendak" keluh Putri An Han.
Di ujung jalan terdengar suara riuh dengan puluhan prajurit yang sedang mencari dan mengejar sesuatu.
Putri An Han dan An Ran segera menyadari.
"Kak, sepertinya pangeran Mor sedang mengejar-mu"
An Ran melemparkan gulali kapas dan menarik An Han segera menaiki kudanya.
Mereka meninggalkan perayaan hiburan perahu dan berlari kearah hutan.
" Celaka sudah hampir gelap, apa kita akan tersesat. Aku takut kak"
An Ran yang memutarkan bola matanya berkeliling saat memasuki hutan yang gelap dan mencekam. Tubuh An Ran bergidik ngeri saat memasuki hutan menggandeng lengan kakaknya dengan erat.
Mereka terpaksa meninggalkan kudanya demi mengalihkan perhatian para prajurit yang sedang mengejar.
"Tidak ada cara lain, kita sembunyi di-si-nii... "
Arrrggghhh.
"Rupanya makanan-ku sudah datang"
Suara seorang pria bergema dari balik mulut gua dan matanya langsung menyala berwarna hijau.
Suara langkah kaki menghampiri mereka.
"Aw, sakit. Sakit sekali An Ran. An Ran... "
Panggil An Han yang melihat di sampingnya An Ran sudah pingsan. An Han sambil memegangi kakinya yang terkilir saat terjerembab ke dalam lubang bergua tadi.
An Han mendapati sosok pria bertubuh tinggi, besar dan berotot. Rambutnya berwarna silver dan bermata hijau sedang menatapnya dengan penuh kelaparan.
An Han langsung waspada dan bergerak perlahan menghampiri tubuh adiknya yang sudah pingsan.
"Si-siapa kau?"
Ucap An Han dengan wajahnya yang memucat, keringat dingin langsung membasahi keningnya, bibirnya bergetar ketakutan sambil memeluk tubuh An Ran apalagi saat An Han melihat kembali kondisi gua yang di penuhi dengan tengkorak kepala dan tulang belulang yang berserakan di mana-mana.
"Hahahaha"
Tawanya bergema di dalam gua membuat suasana lebih mencekam.
"Berani sekali manusia lemah seperti-mu bertanya. Kau sungguh tidak takut mati"
Hardiknya menatap An Han dengan tatapan membunuhnya.
"Ma-mati. Hei, apa hak-mu menentukan kematianku"
__ADS_1
An Han balas menatapnya dengan tajam dia tidak mahu rasa ketakutan membelenggu dirinya dan terlihat lemah.
PAAKKK.
Satu tamparan keras di wajah An Han membuat dirinya tersungkur dan mengeluarkan sedikit darah dari bibirnya.
"Arrgghh. Dasar manusia. Sudah mau mati pun masih bersikap sombong"
Emosi lelaki tadi semakin menjadi membuat tubuh An Han bergetar ketakutan.
"Ma-ma-afkan aku. To-long ampuni kami. A-ku mohon maafkan aku"
An Han langsung mengiba, memelas dan bersujud memegangi kaki pria berbadan kekar tadi.
"Mengampuni. Hahaha. Kau fikir aku bisa luluh hanya dengan ucapanmu" Lelaki bermata hijau tadi terlihat sangat geram, dia tak mungkin melepaskan begitu saja mangsa yang sudah masuk kedalam perangkap yang dia buat.
"Apa saja. Apa saja..., asalkan kau tidak membunuh kami, asalkan kau membebaskan adikku. Biarkan adikku pergi, aku...,aku..., akan lakukan apapun!"
An Han yang memberikan penawaran yang sangat mengiurkan, sangat tidak mungkin untuk lelaki tadi menolaknya.
Lelaki tadi menghampiri An Han berlutut di hadapannya, tangannya menyentuh bibir An Han yang mengeluarkan darah lalu mengambil darah dari bibir An Han dengan tangannya dan mencicipi darah An Han.
Hmmmm. Sangat manis dan enak. Rasanya sangat berbeda dari semua yang pernah aku makan. Sangat sayang jika aku langsung menghabiskan nya. Batin laki-laki tadi.
"Berani sekali kau membuat penawaran dengan ku. Kau fikir, kau sia-pa... "
An Han langsung menggenggam tangan laki-laki tadi dengan erat.
"Asalkan kau bebaskan adikku. Aku akan melakukan apapun. Aku mohon... "
An Han menunjukkan wajah memelas nya.
Sial. Ada apa dengan ku. Kenapa menatap wajahnya tiba-tiba begitu menggemaskan. Aku bisa luluh hanya dengan sekali tatapan matanya.
Lelaki tadi menghempaskan tangan An Han.
"Berikan aku jaminan"
Seringai laki-laki tadi penuh membara menatap An Han.
"Ja-jaminan? Jaminan apa yang kau mau"
Tuding An Han yang reflek langsung menutupi kedua dadanya, dia berfikir bahwa laki-laki di hadapannya menginginkan tubuhnya.
"Hah, apa itu. Kau menutupi tubuhmu itu yang seperti tomat"
Dengus Laki-laki kesal dengan respon An Han.
"Apa. To-tomat. Kau"
Wajah An Han langsung memerah ketika di singgung soal bagian tubuh yang dia tutupi dengan tangannya.
"Aku mau darah dan daging di tubuhmu di sayat setiap hari untuk kumakan. Satu hari 3 kali, aku memakannya"
Ucap laki-laki tadi tanpa rasa mual saat membicarakan sayatan di tubuh seseorang.
Seketika tubuh An Han menegang, membekap mulutnya. Dia bahkan tak bisa membayangkan kalau tubuhnya di sayat setiap hari sebagai santapan. Benar-benar membuatnya mual dan ingin muntah.
__ADS_1