SUAMIKU SERIGALA

SUAMIKU SERIGALA
Kalian tidak mencium-nya


__ADS_3

"Tu-tuan... "


"Heemm"


"A-ku, aku mau di bawa kemana?"


An Han yang berkata sambil melihat sekitar dalam pelarian kuda yang begitu kencang.


"Pulang"


"Iya, maksud-ku kemana?"


An Han yang merasa mulai takut karena melewati jalan yang tidak dia kenali. Jalan yang di penuhi dengan kabut bahkan dengan penglihatan mata normal tidak mungkin bagi seorang manusia akan melewati nya.


Aaron tak menjawab hanya terus menarik kecepatan kudanya lebih kencang. Sedangkan An Han hanya bisa mendekap tubuh Aaron dengan pasrah.


Aaron sampai di gerbang istana, kedua pintu gerbang langsung terbuka saat mengetahui Aaron kembali.


"Turunlah"


Perintah Aaron, An Han masih tak bergerak dari atas kuda, matanya berkeliling, dan...


"Arrrggghhh"


An Han berteriak ketika tubuhnya di angkat paksa turun oleh Aaron. An Han segera bersembunyi di belakang tubuh Aaron dan terus memegangi bajunya saat Aaron mulai berjalan.


Dan.


BLASH. BLASH. BLASH. BLASH.


An Han dan Aaron langsung di keliling empat orang lelaki yang bertubuh sama besar dan tinggi juga tampan.


"Kau pulang!"


Ucap salah satu dari mereka yang langsung menghadang tepat di hadapan Aaron.


Hidung lelaki tadi mengendus sesuatu yang tajam dan menyengat. Aaron langsung waspada dan tetap menutupi tubuh An Han yang tepat di belakang nya.


"Apa ini. Kau bawa makanan pulang"


Seringai nya yang penasaran melihat kearah An Han yang bersembunyi ketakutan.


"Hemm. Tapi yang ini maafkan aku kak, aku tidak bisa berbagi dengan-mu"


Aaron yang segera memotong rasa keinginan tahuan kakaknya.


"Oya. Benarkah. Apa makanan ini benar-benar lezat!"


Saudara tertua Aaron mengeratkan giginya.


"Sama saja. Hanya yang ini sedikit berbeda. Lain kali kalau aku keluar lagi, aku pasti bawakan makanan untukmu yang lebih enak"


Ucap Aaron tangan satunya ke belakang melindungi tubuh An Han.


Apa sih yang mereka bicarakan. Makanan. Makanan. Ishhhh, kesal sekali aku mendengar nya. Ingin rasanya wajah mereka kucakar satu persatu.


Umpat An Han di batinnya keluar begitu saja.


Saudara tua dan Aaron sama-sama menautkan kedua alisnya ketika mendengar umpatan An Han.


"Apa kau bilang, kau ingin mencakar-ku!" Hardik saudara tua Aaron.


An Han terkejut. Dia segera memeluk pinggang Aaron kencang dari belakang.


Saudara tua Aaron penasaran dan kakinya berputar kebelakang ingin melihat wajah An Han, namun An Han yang ketakutan memutar pinggang Aaron menutupi wajahnya.


"Aku lelah, biarkan kami istirahat sejenak. Nanti malam akan aku bawa dia"

__ADS_1


Aaron menarik tangan An Han kedepan, tetap memasukkan wajah An Han di dadanya dan membawa An Han pergi bersamanya.


Saudara tua Aaron terus memandangi punggung Aaron yang membawa An Han pergi.


Bau apa ini. Sungguh sangat menggoda. Batin Saudara tua Aaron.


"Kalian tidak mencium-nya"


Ucap Saudara tua saat memandang satu lelaki dan dua lelaki kembar yang serempak menggeleng kan kepala.


Sampai di kamar Aaron.


"Mandi dan bersiaplah, pelayan akan menjemput-mu sebentar lagi"


Ucap Aaron yang tiba-tiba bersuara lembut sambil mengusap rambut An Han.


An Han menatap sejenak.


"Ada apa"


"Kau mengantarkan adikku kemana?"


"Rumah bordir"


Sahut Aaron dengan santainya seperti tak punya dosa.


"Apa. Kau sungguh mengantarkan adikku kesana, hah!"


An Han menatap wajah Aaron penuh dengan emosi,


"Heem"


An Han menatap penuh kebencian bagaimana bisa dia bisa percaya kalau adiknya akan di antarkan dengan selamat.


An Han merasa tertipu.


"Aku tidak mau disini. Aku mau pulang, sekarang!"


GREP.


Tangan kekar Aaron mencengkram dagu An Han dengan kasar.


"Berani sekali lagi kau bahas pulang. Aku pastikan akan menghukum mu. Aku akan memotong dengan kapak tubuhmu menjadi beberapa bagian dan membagikan nya kepada semua saudara ku"


Ancam Aaron, seketika airmata An Han keluar membasahi pipinya. Dia sangat takut juga memikirkan keselamatan adiknya.


Tok. Tok. Tok.


"Pangeran, kami datang!"


Suara seorang pelayan dari balik pintu langsung memecah kesunyian. Aaron melepaskan cengkraman nya perlahan saat pintu kamarnya di buka.


"Pergilah. Bersihkan dirimu. Aku akan menunggu mu di ruangan baca kami"


Ucap Aaron dan...


"Mari Nona..., ikut dengan kami!" Kedua pelayan bersiap membawa An Han pergi.


"Antar kan dia ke ruangan baca setelah kalian selesai"


Perintah Aaron.


"Baik pangeran"


Mereka pun bergegas keluar membawa dan mendampingi An Han ke tempat pemandian.


Untung saja aku menutupi bau di tubuhnya kalau tidak mana berani aku melepaskan walaupun dia bersama dengan para pelayan. Tapi seperti nya kakak tertua-ku mulia curiga.

__ADS_1


Batin Aaron saat melihat An Han di bawa keluar oleh para pelayan.


Satu jam berlalu, pelayan akan membawa An Han pada ruang baca setelah mandi dan berganti pakaian.


An Han melirik sekitar tembok istana yang sangat tinggi tak ada celah baginya untuk melarikan diri.


Aku harus keluar dari tempat ini. Bagaimana pun caranya. Aku sangat menghawatirkan An Ran. Apa dia baik-baik saja...


Batin An Han berdua.


BLASH.


Seseorang langsung menghadang mereka, kedua pelayan langsung memberi hormat,


"Hormat kepada pangeran Eliot"


Ucap mereka sambil menundukkan wajah.


"Pergilah. Biar aku yang mengantarkan nya ke ruang baca"


Perintah Eliot namun matanya terus menatap An Han dengan tajam.


Sebenarnya sudah sejak An Han keluar dari kamar Aaron dia terus membuntuti. Eliot membuntuti aroma manis yang keluar dari tubuh An Ran. Bahkan dari jarak jauh pun dia bisa menciumnya.


"Baik pangeran" Kedua pelayan pun pergi meninggalkan Eliot dengan An Han yang tak bergeming.


"Hemm..., rupanya ini yang adikku sembunyikan. Makanan yang sangat menggiurkan dan menggoda." Ucap Eliot berkeliling tubuh An Han menatapnya dari ujung rambut sampai kaki.


An Han yang meningkatkan kewaspadaan, dengan mengepalkan kedua tinju di tangannya, memasang kuda-kuda akan menyerang bila laki-laki di hadapannya melakuan pergerakan. An Han tak ingin dirinya berujung pada kematian.


Pangeran Eliot menautkan kedua alisnya saat melihat tingkah An Han, seberkas senyum terlihat dari kedua ujung bibirnya.


DAG. DIG. DUG.


Bagaimana bisa dia terlihat begitu menggemaskan.


Aku tidak boleh mati disini. Aku belum menolong adikku. Aku harus cari cara keluar dari sini.


"Hahahaha"


Tawa renyah Eliot bergema, dia bahkan tersentak kaget bahwa ada makanan yang akan mati namun masih memikirkan cara untuk melarikan diri.


Sangat menarik. Benar-benar sangat menggemaskan. Pantas adikku tak ingin berbagi.


Sedetik kemudian Eliot melangkah maju, dan


"Arrrggghhh"


Teriakan An Han bergema memekak kan telinga Eliot.


BLASH.


Aaron langsung muncul di hadapan An Han, seketika teriakan An Han berhenti dan dia langsung melompat kepelukan Aaron.


"Kak, makanan kita sudah menunggu"


Ucap Aaron meningkatkan kewaspadaan pada kakaknya sambil tangan satunya mengusap punggung An Han menenangkan nya.


Eliot mendelik dan meninggalkan mereka.


"Ayo" Aaron menarik tangan An Han dengan lembut bersamanya mengikuti Eliot yang berjalan lebih dahulu penuh amarah karena Aaron mengganggu kesenangannya.


Mereka masuk di ruang baca, mata An Han melihat semua pria yang menghadangnya datang bersama dengan empat wanita sedang menunggu mereka dengan pakaian mereka yang sangat terbuka dan tipis. Entah kenapa An Han merasa ada yang aneh, mereka hanya berdiri terdiam, seperti tak bereaksi. Mereka semua seperti sudah di hipnotis.


Apa ini. Apa mereka wanita penghibur. Pekik An Han yang masih berdiri di samping tubuh Aaron.


"Kemarilah"

__ADS_1


Aaron menarik tubuh An Han ke pangkuannya, mata Eliot langsung menatap geram. Dia pun menginginkan makanan yang di bawa oleh Aaron.


An Han melirik ke atas meja, seketika perutnya langsung mual melihat hidangan di atas meja. Semua berbahan daging mentah dan darah.


__ADS_2