SUAMIKU SERIGALA

SUAMIKU SERIGALA
Rumah Baru


__ADS_3

Lucas masih saja cemberut dengan melipat kedua tangannya di dada.


"Jangan marah lagi ...," Rani mengalungkan tangannya di leher Lucas bersikap manja.


Hana yang melihat menatap Rani kesal ucapannya bahkan tak di dengar, sedangkan Eliot memajukan tubuhnya memeluk pinggang Hana dengan erat.


"Ran, kau dengar kan ucapanku barusan," protes Hana.


"Uhm"


"Memangnya apa yang kukatakan?"


"Apa?"


Rani yang menjawab ucapan Hana tanpa membalikkan tubuhnya, masih fokus pada Lucas berkalung tangan di lehernya.


"Iiihhh ..." pekik Hana kesal sendiri, Rani masih tak menggubris ucapannya.


"Sssttt, jangan ganggu lagi sayang. Lebih baik kalau kau sekarang bersikap manja seperti Rani padaku, uhm ..."


Kepala Eliot sudah bergelayut di pundak Hana.


Hana menoleh,


"Cih, tadi kau yang bertanya kita mau pergi kemana," cibir Hana.


"Hahahaha, " Eliot terkekeh renyah.


"Kita tidak jadi ke taman hiburannya? Huh, menyebalkan! Kau ingkar"


Hana yang mendengus kesal.


"Tidak sayang, aku tiba-tiba menjadi lapar lagi setelah ...," endus hidung Eliot sambil mengecup leher Hana yang langsung meremang.


"Eliot, hentikan!' Hana mendorong kepala Eliot agar menjauh dari lehernya.


"Lihatlah Lucas dan Rani, sedang apa sekarang?"

__ADS_1


Hana langsung menolehkan kepalanya, seketika wajah Hana memerah saat melihat Rani kembali berciuman mesra dengan Lucas, tangan Lucas terus berjelajah di tubuh Rani dan sebagian gaun yang di pakai Rani sudah mulai terbuka.


"Astaga, Ran ..., kau benar-benar" Hana berkomentar.


TRING.


Satu buah kelambu putih muncul menjadi pembatas di antara mereka, Hana di tarik ke pangkuan Eliot. Eliot menurunkan kembali dress sabrina yang di pakai Hana hingga ke perut.


"Kalau kau mau, tutup mata dan nikmati saja," ucap Eliot, dan perlahan Eliot mulai mengesap satu demi satu milik Hana secara bergantian. Hana hanya bisa memejamkan matanya menikmati semua sentuhan yang Eliot berikan.


.


.


.


BRAK. BRAK. BRAK.


Aaron membanting semua yang ada di sampingnya melampiaskan semua kemarahan yang dia pendam.


"Tuan, saya akan mencarikan gadis lain," ucap Nick yang tahu Tuannya kehilangan buruan yang sangat dia inginkan.


Aaron berteriak, Nick dan Nath pun langsung menghilang.


Menggantinya dengan gadis lain, hah. Kau fikir itu mudah.


Kenapa hanya aku yang harus menderita padahal dia sudah hampir menjadi milikku. Aku tidak akan menyerah begitu saja, kalau dia tidak dapat kurebut secara halus aku akan memaksanya. Dan jika tetap dia tak bisa kumiliki, seorang pun tak akan bisa memilikinya.


.


.


.


"Aku sudah mencarikan rumah untuk kalian berdua, sebaiknya kau tinggal bersama," ucap Eliot disela mereka sedang menatap kedua wanita yang di cintainya makan dengan lahap. Eliot melirik Lucas yang faham maksud lain dari ucapan Eliot.


Hana melirik Rani,

__ADS_1


"Aku tidak keberatan Han, daripada kedua suami kita ..., yah kau tahu sendiri kan bagaimana mereka" Rani yang berucap sambil menaikkan kedua bahunya.


"Uhm, yang penting aku sama Rani bisa tidur satu kamar!" ucap Hana cengar cengir.


"Betul Han, kita bisa ngobrol sampai pagi!" ucap Rani.


"Cih, kau yakin mau tidur bersama Hana kalau ada aku!' celetuk Lucas.


Rani terdiam.


"Jangan khawatir Lucas, aku sudah meminta kamar terpisah jika kita datang!" sahut Eliot, Lucas manggut-manggut yang tidak ingin urusan ranjang mereka terganggu.


"Satu hal lagi, kalian berhentilah bekerja!" Eliot yang sudah mengantisipasi akan suatu hal yang mungkin saja terjadi.


"Akhh! Tidak mau, aku tidak punya uang nanti, iya kan ..., Ran," Hana yang menoleh mencari dukungan.


PRAKK.


Eliot melemparkan dua kartu hitam ke meja.


"Tidak ada limit, kalian bisa pakai sesukanya, apa masih kurang?" Eliot yang menyombongkan kekayaannya membuat kedua wanita tadi, Hana dan Rani berbinar penuh semangat.


"Ahaha, kalau seperti ini kami tidak keberatan!" Hana mengambil kartu yang di lemparkan Eliot dan membaginya satu dengan Rani.


"Jadi, kapan kita pindah?" kini Rani yang semangat untuk pindah ke rumah baru meraka.


"Kita langsung pulang sekarang saja!' tambah Hana setelah mendapat sogokan limit kartu hitam tanpa batas.


"Benar-benar kalian, mata duitan!" umpat Lucas yang melihat kedua wanita tadi sudah beranjak dari duduknya, langsung luluh setelah mendapat sogokan.


"Lebih baik mata duitan dari pada mereka melirik laki-laki lain" seringai Eliot.


"Berani dia melakukannya, aku pasti membakarnya hidup-hidup' dengus Lucas tersulut emosi oleh candaan Eliot.


"Hahaha, benar"


 

__ADS_1


 


__ADS_2