SUAMIKU SERIGALA

SUAMIKU SERIGALA
Pertengkaran Mulut


__ADS_3

"A-aron ... Hentikan. Aku mohon kau jangan emosi!"


Mata Hana hampir mendelik keluar melihat perubahan yang terjadi pada Aaron secara langsung. Buat Hana memang bukan pertama kali melihat perubahan Aaron, tapi yang dia saksikan secara langsung baru kali ini.


"Kau yang membuatku seperti serigala gila. Aku hanya menginginkanmu tidak lebih!" Aaron sudah mencengkram kedua tangan Hana dengan erat.


"Sa-sakit, panas sekali Aaron, tolong lepaskan!" Tiba-tiba Hana merasakan perih yang panas pada kedua lengan yang di cengkaram Aaron.


"Tatap mataku Hana, tak bisa-kah matamu menatap kearahku. Aku ini sekarang yang berada disisimu, bukan serigala abumu itu," Hana meringis merasakan sakit, namun wajahnya tak sedikitpun menatap kepada Aaron.


Hana sudah tak sanggup berbicara, perih dan panas yang dihujamkan dari tangan Aaron seolah membuat tulang-tulang di pergelangan Hana remuk. Hana seolah kehabisan nafas, rasa kering dan hawa panas seolah membakarnya dia hidup-hidup.


Plek.


Aaron akhirnya menyerah dia tak tega menyakiti Hana lebih jauh.


Sudah seperti ini pun kau tak memohon ataupun berteriak padaku, setidaknya marah-lah. Apakah cintaku dulu sudah benar-benar menghilang dalam ingatanmu? Hana bagaimana aku membangkitkan semua kenangan kita.


Pedih terasa di hati Aaron menatap Hana yang sudah tergolek tak sadarkan diri di ranjangnya.


Seketika wajah Aaron berubah kekuatannya menghilang, dia menyentuh wajah Hana yang sudah tak sadarkan diri, airmatanya pun tak terasa mengalir begitu saja. Dia benar-benar terluka akan cinta yang dia rasakan.


"Nick Nath!"


Tring.


Mereka muncul di hadapan Aaron dan memberikan hormat.


Bugh. Bugh.


Rani ikutan berlari menerobos dan mendorong kedua tubuh kembar, saat kembar menghilang dari hadapannya dia curiga terjadi sesuatu dengan Hana.


"Apa yang kau lakukan dengan Hana?" Rani membulatkan matanya segera berjalan menghampiri ranjang ketika melihat Hana tak sadarkan diri.


Rani mendekati Hana, dia melihat kedua lengan Hana seperti melepuh terbakar api.


"Han, Hana ... Bangun, kau tidak apa-apa kan? Jangan bercanda dengan-ku Han, ayo bangun! Jangan membuatku takut, bagaimana aku nanti menjelaskannya kepada suami-mu" suara Rani terdengar berisik dengan isak tangis Rani menguncang tubuh Hana perlahan,

__ADS_1


Huh ribut sekali, aku lupa masih ada istri Lucas di sini.


"Dia tidak apa-apa, hanya pingsan saja. Kau keluarlah!" Aaron memberikan kode pada Nick untuk membawa Rani keluar.


"Tidak apa-apa kau bilang, aku ini tidak buta," delik Rani, dan ...,


"Arrrggghhh!" Rani menjerit kesakitan menyentuh kedua matanya, dia merasakan hawa panas pada matanya dan seketika cahaya dalam matanya menghilang. Rani tiba-tiba buta.


"Kau sangat berisik atau kau juga mau aku buat bisu dan tuli!" Rani mengeleng dan langsung menangis.


"Heh serigala berandalan, apa yang kau lakukan dengan penglihatanku, cepat kembalikan. Kau jangan keterlaluan kalau Hana tahu kau membuatku seperti ini dia pasti membunuhmu, dia tidak akan mungkin membiarkan-ku terluka seperti ini," Rani tanpa ragu masih memaki Aaron.


"Berisik sekali. Nick bawa dia keluar, kali ini kalau dia mencoba tidak patuh kau boleh mencicipi nya sedikit," perintah Aaron disertai dengan senyuman smirk yang keluar dari bibirnya.


"Argghhh, Aaron kau gila! Jangan main-main denganku. Arghh!" Rani mengibaskan kedua tangannya mencoba melawan dalam kondisi tak melihat dengan kalang kabut.


Blash.


Nick sudah membopong tubuh Rani keluar kamar Hana.


"Nath, tolong kau berikan sedikit hawa dingin-mu pada Hana, sepertinya aku terlalu terbawa emosi tadi," perintah Aaron terlihat cemas karena Hana masih belum sadarkan diri.


Nath mengangguk, menghampiri dan menyentuh lengan Hana yang melepuh secara bergantian.


"Aku hanya bisa menghilangkan lukanya saja, mungkin rasa sakit masih akan dia rasakan. Di bandingkan dengan kekuatan tuan Eliot mungkin saya hanya ada sepertiganya," ucap Nath setelah selesai menyentuh lengan Hana secara bergantian.


"Tidak apa-apa, yang penting tidak ada bekas. Aku bisa menghilangkan rasa sakitnya dengan caraku sendiri. Kau keluarlah. Oya, bilang Nick jangan menyentuhnya, kalian hanya perlu menemani-nya bermain saja." pesan Aaron.


"Baik Tuan, kami tahu ini hanya untuk menakutinya. Lagipula kami lebih menyukai wanita serigala di bandingkan makanan kami," tegas Nath.


"Uhm!" Aaron mengangguk lalu matanya kembali focus pada Hana.


Nath keluar setelah tuannya mengangguk. Aaron membelai lembut pipi Hana, mengangkat wajahnya mendekati bibirnya perlahan, memberikan bawa yang hangat membara lewat bibirnya membuat Hana membuka matanya. Hana mendorong perlahan tubuh Aaron sehingga terlepas ciumannya.


"Aku mohon pergilah Aaron, kau kan tahu hati-ku,"


"Sstttt, jangan bicara lagi, biarkan aku disini. Aku membuatmu terluka, sebelum dia kembali aku tidak akan mungkin meninggalkanmu sendiri," Aaron tetap bersikeras.

__ADS_1


"Tapi-"


"Sudah. Aku janji tidak akan menyentuhmu seperti tadi, aku hanya akan mengawasimu dari kejauhan," wajah Aaron terlihat begitu berharap dan bersedih ketemu menerima penolakan bertubi dari Hana, Hana pun menjadi tidak tega.


"Kau janji tidak akan mengulanginya!" Hana menatap wajah Aaron yang perlahan berubah seperti mentari pagi yang bersinar cerah.


"Iya, aku janji!"


"Baiklah," Rani mengamati sekeliling terlihat sunyi,


Hana meraih ponselnya di samping ranjang, menghubungi Rani. Suara deringan ponsel menyala tidak jauh dari Hana, Hana melirik Aaron,


"Dia sedang bermain bersama Nick Nath, kau tenang saja. Mereka tidak akan melukainya," jelas Aaron.


"Panggil mereka, aku kan sudah bilang akan pergi bersama dengan Rani!" Hana berbicara sedikit ketus dan memajukan bibirnya.


Aaron tersenyum, "Sebentar aku panggil mereka!" lalu Aaron memanggil Nick Nath dan mereka pun muncul di kamar Hana.


"Hanaa ... Lihatlah serigala berandalan gila ini melakukan padaku," Rani yang berlari kepelukan Hana, mengadukan perbuatan Aaron dan kedua kembar.


"Kau sungguh membuat Rani buta, Aaron?" dengus Hana, Rani memutarkan bola matanya yang sudah kembali normal, menghasut Hana agar memarahi Aaron.


"Aku hanya memberi pelajaran pada mulutnya yang berisik. Sudah beruntung hanya kubuat tak melihat setengah jam, tadinya aku akan membuatnya buta, tuli dan bisu secara permanen!" Aaron berbicara panjang lebar tak mau kalah dengan Rani.


"Tuh, tuh Han, kau dengar sendiri kan dia bilang apa. Dia memang serigala berandalan tidak sopan!" Rani kembali memprovokasi Hana sambil berkacak pinggang di hadapan Aaron.


"Huh kau memang sungguh berisik. Lucas benar-benar sial mendapatkan istri sepertimu!" Aaron mengacuhkan Rani sambil membalikkan badannya.


"Heh, apa kau bilang. Jangan bawa-bawa suamiku. Kalau kau berani lawan aku," senggit Rani tambah kesal mendengar sindiran Aaron.


"Arrrggghhh!! Apa-apaan sih kalian? Kenapa jadi bertengkar. Kepalaku pusing mendengarnya!" Hana menggelengkan kepala sambil kedua tangannya melerai pertengkaran mulut antara Aaron dan Rani.


"Dia yang salah dan mulai duluan Han, aku tuh cuma ikutan saja!"


"Cih, kau seperti anak kecil yang mengadu kepada ibumu!" tambah Aaron semakin menjadi.


"Hiiihhh! Bikin sebal. Kenapa kalian tidak menikah saja sih!!" akhirnya ucapan setengah gila tercetus dari mulut Hana.

__ADS_1


"Huhh, aku tidak mau!" sahut Aaron dan Rani berbarengan


__ADS_2