
"Dia akan baik-baik saja bersama Lucas, Lucas pasti akan menjaga nya" Ucap Eliot tegas.
"Benarkah?" Hana yang terdengar masih meragukan jawaban dari Eliot.
"Rani bukan hanya diberi tanda, tapi Lucas sudah memberikan ikatan pasangan pada Rani" Ucap Eliot.
"Ikatan pasangan? Apa itu?" Hana yang belum jelas mengerti arti ikatan pasangan. Dalam pikiran Hana masih terlintas kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Rani.
"Lucas sudah menaruh benihnya di dalam Rani" Ucap Eliot membuat Hana menatap wajah Eliot.
"Memangnya kau ti-dak" Seloroh Hana bertanya diluar jalurnya namun membuatnya penasaran.
"Aku masih memendamnya karena kau berbeda" Ucap Eliot terdengar frustasi.
"Memendannya? Bagaimana bisa. Ta-pi kau kan sudah mengambil yang pertama" Ucap Hana makin malu-malu saat mengutarakan nya.
"Yang pertama hanya membuka jalan, tapi aku belum bisa memberikan ikatan pasangan terhadap-mu" Jelas Eliot dan pikirannya melanglang buana ke segala arah.
"Kenapa bisa begitu" Ucap Hana kembali, dia merasa ada yang aneh dengan ucapan Eliot karena saat mereka berhubungan Hana merasakannya secara bersamaan.
"Kau menginginkannya? Akan aku coba sekarang jika kau menginginkan nya" Pertanyaan Eliot langsung ditolak dengan gelengan kepala oleh Hana.
"Kau sungguh bertingkah ya" Eliot mencubit pinggang Hana pelan.
"Aw" Hana melonjak duduk oleh cubitan Eliot.
"Sudah aku mau mandi, aku akan berangkat bekerja hari ini" Ucap Hana sambil mencari sesuatu untuk menutupi tubuhnya.
Eliot menyeringai sinis ketika Hana mengungkit soal pekerjaan, ingin rasanya Eliot segera membawa Hana pergi dan meninggalkan dunianya. Namun masih saja ada batasan yang tak bisa Eliot sentuh soal Hana.
"Perlu bantuan" Ucap Eliot yang sudah berdiri di hadapan Hana sudah berpakaian lengkap dan akan menggendong Hana.
"Stop. Aku bisa sendiri. Kapan kau akan pergi" Dengus Hana setengah mengusir.
"Kau mengusirku?"
Hana mengangguk.
"Lucas"
TRING.
Lucas muncul di hadapan Hana dan Eliot sedang menggedong Rani yang polos tanpa mengenakan apapun sambil memunggungi mereka.
"Ya, Tuan" Sahut Lucas.
"Kau sudah selesai"
"Sudah Tuan, ini saya baru akan mengantar ke kamar mandi" Sahut Lucas yang masih membelakangi Tuannya, untungnya Lucas sudah mengenakan pakaian lengkap hanya Rani yang malu membenamkan wajahnya pada Lucas.
"Tinggalkan dia, kita harus segera pergi" Perintah Eliot.
__ADS_1
"Baik Tuan"
Lucas berjalan ketepi ranjang Hana yang juga Hana masih duduk di ranjangnya sambil memegangi selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Saya titip dia, Nyonya" Ucap Lucas menaruh tubuh Rani perlahan di ranjang Hana dan Rani segera menutupi tubuhnya dengan ujung selimut Hana.
Hana hanya mengangguk.
"Oya, ponsel barumu sudah ada di dalam tas, aku akan pergi sebentar dan akan segera kembali sayang" Pesan Eliot sebelum mereka benar-benar menghilang dari hadapan mereka.
Setelah Eliot dan Lucas pergi.
BRUKK.
Sebuah bantal langsung melayang di wajah Rani, Rani pura-pura meringis...
"Bilang tidak suka di sentuh, bahkan kau yang lebih dahulu melakukan ikatan pasangan" Senggit Hana yang tiba-tiba kesal sendiri.
Rani mendengus kesal dengan ucapan Hana,
"Cih, memangnya kau sendiri bisa menolak pesona suami serigala-mu ketika dia mengajakmu" Cibir Rani kesal karena Hana mengejeknya.
"Haduh..., haduh..., sekarang kau sudah bisa menjawab cibiran-ku" Tukas Hana menjulingkan matanya.
"Sudahlah, kita bahas masalah Kita nanti saja, lihat sudah jam berapa. Kita sudah mau terlambat" Pekik Rani mengingatkan jam yang menggantung di dinding kamar Hana.
Hana melirik dan segera turun menarik selimutnya yang ujungnya juga di tarik oleh Rani,
"Kau... " Dengus Hana kesal, serba salah.
.
.
.
Hana memejamkan matanya sesaat saat berada dalam taksi perjalanan menuju kantor mereka.
"Han" Rani menyenggol sikut Hana.
"Hemm"
"Apa suami-mu akan membawamu pergi" Pekik Rani terlihat wajahnya yang sangat gusar.
Hana membuka matanya menoleh Rani.
"Memang Lucas berbicara apa pada-mu" Dengus Hana yang sekaligus penasaran dengan hubungan Lucas dan Rani.
"Dia sih tidak mengatakannya dengan jelas, hanya bilang akan segera membawaku. Aku resah Han..., bagaimana dengan karirku disini... " Dengus Rani.
Hana mencubit pinggang Rani,
__ADS_1
"Aw, apa sih Han?"
"Kau fikir mereka miskin sampai tidak bisa mencukupi keinginan-kita" Seloroh Hana yang juga frustasi saat memikirkan Eliot akan membawanya pergi.
"Hiss..., kau ya Han, aku sendiri masih belum bisa membayangkan apa jadinya kita disana hanya sebagai penyuplai makanan dan minuman saja" Tiba-tiba tubuh Rani bergidik ketika memikirkan itu.
"Maksudnya?" Otak Hana yang tiba-tiba lola.
"Mereka kan mengawani dan memberikan ikatan pasangan pada kita hanya memberikan tanda bahwa kita adalah pemasok makan dan minum utama mereka. Hanya mereka yang boleh sentuh, kau fikir mereka mencintai kita... " Decak Rani mengoceh tak masuk akal.
Taksi berhenti di pelataran kantor mereka, Hana dan Rani turun sangat jelas di wajah Hana memikirkan ucapan Rani barusan.
"Benarkan kataku. Kita hanya dijadikan pemasok saja" dengus Rani.
Hana tak bergeming. Benar yang Rani katakan. Dia bahkan tak mengenal siapa Eliot sebenarnya.
Tiba-tiba dia muncul di mimpi lalu hadir di hidup nyatanya. Mengaku dan mengklaim bahwa dirinya adalah suami Hana. Bagaimana Eliot bisa dengan seenaknya menentukan Hana sebagai istrinya namun perasaan cinta Hana masih dipertanyakan.
Hana kembali ke meja kerjanya, baru saja dia duduk intercom di mejanya berbunyi.
"Bisa kesini sebentar Han" Suara Pak Gerry dari intercom memberikan perintah.
"Baik Pak" Sahut Hana segera mematikan intercom di meja nya.
"Kenapa Han? " Tanya Rani.
"Nggak tahu Ran" Hana menaikan kedua bahunya.
Hana berdiri dari tempat duduk nya menuju ruangan Pak Gerry.
Tok. Tok. Tok.
Hana mengetuk pintu ruangan Pak Gerry tiga kali baru terdengar perintah untuk masuk di telinga Hana.
Hana mendorong pintu ruang kerja Pak Gerry,
Hana menundukkan kepala dan mengulas senyum di wajahnya,
"Bapak perlu bantuan saya?" Ucap Hana sudah berdiri di hadapan Pak Gerry.
Pak Gerry tampak sibuk dengan beberapa berkas yang dia tanda tangani. Lalu dia berdiri membawa berkas yang dia tanda tangani tadi.
"Sementara waktu aku akan berlibur dan posisiku di kantor akan di gantikan oleh keponakan-ku... " Ucap Pak Gerry tangannya tertuju menyerahkan berkas yang sudah dia tanda tangani barusan pada seseorang yang sudah duduk manis di sofa sambil memandangi Hana dari belakang langsung tersenyum manis saat Pak Gerry memperkenalkan nya.
Mata Hana terbelalak kaget melihat Aaron sudah di apit oleh dua orang kepercayaan nya.
"Ke-keponakan ba-pak?" Ucap Hana terdengar tak percaya, bagaimana bisa Pak Gerry tiba-tiba mempunyai seorang keponakan.
"Ia, dia baru saja semalam datang dari Alaska" Sahut Pak Gerry tersenyum saat membanggakan keponakan di hadapannya.
Hana menautkan alisnya masih tak percaya,
__ADS_1
"Baiklah Han, saya akan tinggal karena penerbangan saya, saya minta tolong kamu untuk sementara waktu menjadi sekretaris nya dan mendampingi dalam tugas-tugas yang saya tinggalkan" Tepuk tangan Pak Gerry pada pundak Hana.
"Se-sekretaris, ta-pi Pak" Hana segera berbalik ketika Pak Gerry meninggalkan Hana dan di susul oleh kedua orang kepercayaan Aaron yang mengikuti keluar atas perintah Aaron.