
Hana dan Rani menggeliat bersamaan pada ranjang mereka,melihat sekujur tubuh mereka yang polos tanpa sehelai benang pun,
"Ah, rupanya suamiku sudah pergi," Hana beranjak dari ranjangnya menghampiri lemari baju untuk menutupi tubuh polosnya.
CEKLEK.
Rani menjulurkan kepalanya dari ujung pintu, melihat kamar Hana yang masih terlihat berantakan.
"Kau sudah bangun?" ucap Rani.
"Uhm, kau lapar?" sahut Hana.
"Baiklah kita lihat apakah sarapan sudah siap?" ucap Rani, Hana menggandeng tubuh Rani menuruni anak tangga sambil melihat sekeliling yang terlihat sepi.
"Sepi sekali tidak ada para suami di rumah, belum apa-apa aku sudah merindukan dirinya," seloroh Rani bergelayut di lengan Hana.
"Sarapan anda sudah siap, Nyonya!" sapa seorang pelayan yang menghampiri keduanya.
Mereka menganggukkan kepala, Hana dan Rani mengekori pelayan tadi sampai ke meja makan,
"Wah ... wah ... Han, mereka selalu menyiapkan makanan yang mewah seperti ini, aku jadi makin betah tinggal disini!" lagi-lagi Rani berseloroh tanpa rasa malu.
"Kau gila! Bahkan di sogok dengan makanan dan uang sudah luluh," Hana mengerucutkan bibirnya sambil mengambil satu potong ayam goreng.
"Memangnya kau tidak, hah? Kau bahkan tergila-gila dengan suami serigala mu itu," Rani tidak mau kalah berperang mulut dengan Hana.
"Cih, dasar kau ini selalu saja memakai tameng suami serigala mu sebagai pembelaan!" dengus Hana makin kesal.
"Hahahaha ... sudahlah Han, kita ini sama-sama gilanya jangan saling menikung!" Rani tertawa geli melihat tingkah Hana yang tak perduli dengan ucapannya.
Ting Tong.
Seorang pelayan menghampiri pintu untuk membukanya,
"Nyonya Hana ada yang mencari anda, apakah anda ingin menemuinya?"
Hana hanya menautkan kedua alis saling bertatapan dengan Rani sesaat.
Siapa yang mencari ku di pagi buta begini.
"Biarkan aku masuk!" suara teriakan terdengar tak sabar sampai ke meja makan.
__ADS_1
Hana dan Rani beranjak dari duduknya berbarengan melihat keberadaan suara yang tak sabar menerobos masuk kediaman mereka.
"Kau!' Hana menghampiri yang ternyata Aaron, Nick dan Nath yang datang di pagi buta mereka.
"Aku ingin bicara denganmu, berikan aku waktu untuk berbicara denganmu!" sergah Aaron langsung mengutarakan maksud kedatangannya kali ini dia tidak ingin banyak berbasa-basi.
Para pengawal dengan sigap memberikan perlindungan untuk kedua majikan meraka,
"Tidak apa-apa, dia masih bisa berbicara baik-baik denganku!" Hana mencoba bernegosiasi dengan para pengawal yang di tinggalkan Eliot.
"Maaf Nyonya, namun tuan Eliot berpesan agar anda tidak mendekati tuan Aaron," ucap salah satu pengawal yang maju lebih dulu memberikan tatapan membunuh untuk Aaron dan kedua kembar yang hadir.
SREK. SREK. BOOM. BRAKK.
Pengawal tadi sudah terhempas, lehernya berada dalam cengkraman tangan Aaron.
"Kau sudah bosan hidup, hah. Berani sekali pelayan rendahan seperti dirimu menghalangiku!" Aaron terpancing emosi matanya berubah menjadi hijau, kobaran api muncul dari tangan kanannya siap membakar pengawal tadi,
"Aa-aron hentikan! Jangan buat kekacauan," Hana berusaha melerai dengan menyentuh lengan Aaron, sepersekian detik amarah Aaron mereda, kobaran api di lengannya perlahan menghilang daln bola mata hijaunya kembali menjadi normal.
"Aku hanya ingin berbicara denganmu, itu saja, apakah kau terlalu sulit dan sangat membenciku?'' ucap Aaron terdengar putus asa, kata-katanya terdengar seperti seseorang yang menyimpan banyak luka.
"Jangan khawatir Ran, dia tak mungkin melukaiku," Hana memberikan keyakinan pada sahabatnya.
"Ta-pi, Han ..."
"Sudah Ran, aku tidak apa-apa," bagi Hana walaupun itu kemungkinannya sangat kecil, tapi Hana meyakini bahwa Aaron tidak akan menyakitinya.
"Baiklah jangan lama-lama, aku akan mengawasinya," baru saja Rani melangkah, Nick dan Nath maju menghalangi,
"Kalian minggir, aku mau melihat dengan mataku sendiri dia tak melakukan hal buruk apapun terhadap Hana," Nick dan Nath tetap tak melepaskan tatapan terhadap Rani dan tak menggeserkan tubuh mereka.
Hana mengikuti Aaron ke bagian taman bunga dari mansion mereka.
"Kemarilah," Aaron mengulurkan tangannya pada Hana menanti Hana meraih tangannya.
"Bicaralah, apa yang ingin kau bicarakan," ucap Hana tetap mengacuhkan uluran tangan Aaron dan berjalan melewatinya.
"Kau," delik Aaron.
"Tolong jangan mempersulitku, kau pastinya tahu kalau suamiku sedang tak di rumah. Sebaiknya kau bicarakan apa yang mau kau katakan. Aku ingin keluar bersama dengan Rani jadi-"
__ADS_1
"Argghhh!" teriak Hana saat Aaron menarik paksa Hana ke dalam pelukannya.
Aaron menggendus tubuh Hana, Hana memundurkan tubuhnya,
"Se-sedang apa kau?" Hana berusaha keras menghindari Aaron.
"Kau sungguh sudah membuka ikatan pasangan ku?"
"Aku tidak mengerti, yang aku tahu aku dan Eliot sudah menikah. Dan itu resmi, kau sendiri sudah melihat buku nikah kami kan,"
"Apa gunanya buku nikah jika hatimu masih milikku," pancing Aaron menatap wajah Hana yang gelagapan saat di tatap tajam oleh Aaron.
"Mi-milikmu, hah. Kau bercanda. Aku ini wanita jaman modern, mentang perselingkuhan dan setia pada satu pasangan," sahut Hana berbicara berusaha tegas dengan bibirnya yang bergetar dan memalingkan wajahnya saat menatap Aaron.
"Benarkah? Tapi takdirmu dengan kami para lelaki serigala tidak berkata demikian," senggit Aaron tak mau kalah membalas perkataan Hana.
Aaron membalikkan tubuh Hana sehingga dia leluasa memeluk tubuh Hana dengan erat.
"A-Aaron, hentikan. Aku mohon," Hana semakin menggeliat ketika Aaron menelusuri wajahnya pada tengkuk Hana.
"Aku sangat lapar, sudah berhari-hari aku belum makan dan sangat kelaparan," bisikan Aaron semakin menjadi membuat Hana salah tingkah.
"Jangan begini aku mohon Aaron, kau kan tahu, aku ini sudah menjadi istri orang lain dan dia itu,"
"Diam. Aku tidak ingin mendengar alasan lagi, aku tidak perduli, yang aku tahu aku sangat mencintaimu dan sangat menginginkan dirimu. Aku tidak ingin jauh darimu, mulai dari sekarang ataupun nanti!" Hardik Aaron setengah berteriak membalikkan tubuh Hana dan mencengkam kedua tangannya.
"Aw, sakit, sakit Aaron!" ringgis Hana.
Bruk.
Aaron mendorong tubuh Hana hingga menyentuh rerumputan berbunga,
"Kau mau apa? Aku mohon sadar-lah Aaron, aku ini sudah meni-"
Aaron menutup mulut Hana dengan bibirnya yang hangat, memasuki dan bermain di dalamnya membuat Hana lagi-lagi terhanyut di dalamnya. Sedetik kemudian bayangan putus-putus muncul di ingatan Hana. Bayangan tentang Aaron dan dirinya yang terlibat begitu bahagia.
Aaron melepaskan perlahan pagutannya, menatap wajah Hana yang terlihat bersinar dengan kecantikan yang Hana miliki.
"Kau sama sekali tidak berubah, tetap cantik dan mempesona ku. Aku sungguh merindukanmu sayang," kata Aaron begitu dalam membuat hati Hana bergetar tak karuan.
Apa yang kulihat tadi? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kenapa tubuhku bahkan tak menolak keberadaannya.
__ADS_1