
Hana meraih tangan suaminya. Dia benar-benar tak tega saat melihat suaminya tersiksa. Wajahnya benar-benar pucat.
"A-ada apa, sayang? Kenapa kau bisa seperti ini?" Hana menyentuh wajah suaminya dengan kedua tangannya. Eliot hampir membeku seperti es.
Darah yang mengikat di jantung Eliot hanya ada darah Hana. Setelah dia melakukan ikatan pasangan dengannya. Jika keadaan Eliot sangat mendesak seperti tadi, atau dia sedang kehilangan kesadaran.
Tubuhnya akan menolak siapapun untuk menyentuhnya. Tubuh, jiwa dan raganya hanya untuk Hana. Dan sebagai penawar tentu saja Eliot harus segera mencari Hana jika dia ingin menyelamatkan nyawanya.
Begitu pun dengan Aaron. Seribu tahun lalu, harusnya Hana memang memiliki benang merah jodohnya hanya untuk Eliot. Namun, karena Aaron iri dan cemburu oleh kakaknya. Apalagi saat bertemu Hana di masa lalu, Aaron langsung jatuh hati padanya saat pandangan pertama.
Aaron, merebut paksa. Apalagi, darah Hana membuatnya tergila-gila. Melakukan ikatan pasangan lebih dulu dengan Hana, tujuannya untuk memblokir Hana mengenali tubuh Eliot. Mengikat jiwa, raga dan tubuhnya untuk Hana.
Saat dimasa kini mereka kembali dipertemukan. Aaron tak bisa menolak jiwa terdalamnya yang bangkit saat mengenali tubuh Hana. Namun, hanya Hana saja yang tak merasakan itu. Hatinya seolah sudah terkunci oleh Eliot.
"Aku mohon, maafkan aku, sayang. Maafkan aku!" Eliot mengulangi lagi perkataan sambil menggenggam erat tangan Hana penuh harap.
__ADS_1
Hana merasakan yang tak biasa. Tubuh suaminya bergetar menghebat. Dia seolah menahan sakit yang sangat luas biasa.
"Apa yang bisa kulakukan untuk sayang? Tolong jangan membuatku takut! Kau kenapa?" Hana dengan segala kepanikan.
Air matanya sudah mengalir deras. Dia yang tahu suaminya selalu dingin dan kuat. Saat melihatnya tersiksa seperti ini membuat hatinya sakit.
Setelah mendengar kata-kata dari istrinya. Eliot yakin Hana pasti sudah memaafkannya. Dia pun melingkarkan tangannya dipinggang istrinya. Menariknya kepelukan dan menciumnya dengan penuh kelembutan.
Perlahan hawa dingin yang menguasai hati dan jiwa Eliot mereda. Kumpulan energi hitam yang membelunggunya menghilang. Hawa yang membakarnya seperti api perlahan sirna dengan ciumannya.
Hana mengangguk pelan. Dia percaya dengan semua yang suaminya katakan.
"Syukurlah, terima kasih, sayang!" Eliot merekatkan pelukannya lebih erat.
Dia tahu istrinya pasti mendengar ucapan cepat atau lambat. Membuktikan semua keraguan istrinya adalah salah. Karena cinta tulusnya hanya untuk Hana.
__ADS_1
"Tapi, tetap saja aku masih marah padamu. Kau, tidak menceritakan siapa dia sebelum aku sampai disini! Dan aku juga tetap ingin pulang!" Hana mendorong pelan tubuh suaminya.
Tentu saja dia tak mungkin melupakan misinya. Misinya tadi sudah gagal. Aaron menolak mengajak pulang sebelum Hana menuruti semua keinginannya.
Eliot duduk menghampiri istrinya. Hana berpaling wajah pada suaminya. Dia tak ingin melihat wajahnya jika membuatnya luluh.
"Kita kembali ke kamarku saja ya!" Eliot memeluk istrinya dari belakang. Berbisik lembut di telinganya.
"Tidak, sebelum kau menyetujuiku pulang dan menceritakan semuanya. Aku tidak mau terlihat bodoh seperti tadi!" dengusnya.
"Soal dia dan yang lainnya aku bisa janji cerita. Namun, untuk kepulangan dirimu. Aku mohon, bersabar hingga kongres Aaron selesai. Tolong jangan sia-siakan usahanya!" Ucapan Eliot benar-benar terdengar serius.
Hana membalikkan tubuhnya. Menatap wajah suaminya.
"Apa benar kalau dia tak bisa melewati kongres itu, kemungkinan besar nyawanya terancam?" Hana yang ingin menegaskan semua ucapan Aaron tadi tidak sedang membohonginya.
__ADS_1
"Uhm, itu adalah pilihan dari kau kami. Kaum serigala. Bagi mereka yang tak bisa melepaskan ikatan jiwa dengan seseorang yang sudah dipilihnya, maksudnya Aaron yang belum melepaskan perasaannya padamu itu. Kongres-lah penentu. Dia, harus berjuang sendiri melewati semua rintangan yang akan diberikan kepala kongres! Kalau dia tak selamat keluar dari rintangan itu, berarti kematian-lah yang dia dapatkan!"