SUAMIKU SERIGALA

SUAMIKU SERIGALA
Maafkan aku


__ADS_3

Disaat Sheira sedang melancarkan aksinya. Mata batin Eliot tersadar dan membangunkannya. Dia segera mendorong jauh-jauh tubuh wanita itu. Hingga tubuh Sheira terhempas jauh ke pekarangan bunga istananya.


"Lancang. Berani sekali kau!" Eliot tanpa ragu mencekik leher Sheira, hingga membuatnya kehabisan nafas. Eliot mencengkram kasar leher Sheira , mengangkat tubuhnya ke angkasa dengan satu kali cekikan mematikan.


"Pa-Pangeran! Ma-maafkan aku, su-sungguh aku tidak sengaja!" Sheira menyadari usahanya barusan sudah sia-sia. Matra hipnotisnya bisa dipatahkan oleh Eliot. Tubuhnya mendadak dingin seperti es. Eliot menggunakan setengah tenaganya untuk memberikan pelajaran pada Sheira.


"Kau tahu, aku tidak membunuhmu sekarang bukan karena takut. Aku masih melihatmu dan Asher. Jika, kau bukan orang yang dibawa Asher. Aku pastikan kau mati sekarang juga!" Mata biru Eliot terus berkobar-kobar. Dia benar-benar marah.


Sheira tercekik hampir mati. Saat ini dia hanya bisa menuruti dulu ucapan Eliot. Dia lebih memilih menyelamatkan diri ketimbang rencana yang sudah di susunnya.


Eliot menghempaskan kasar cengkramannya. Dan melemparkan tubuh Sheira ke sembarangan. Lalu dia melesat pergi meninggalkannya.


Dasar sial, aku pikir tadi sudah berhasil. Ternyata tamengnya begitu kuat. Bahkan matra yang kubuat tidak mempan padanya. Sepertinya aku harus mencari sasaran lain. Akan kubalas semua penghina hari ini. Di Kerajaan tak seorangpun menolakku.

__ADS_1


Sheira dengan segala kemarahannya sambil memegangi lehernya yang berbekas oleh cekikan Eliot.


Semakin kau menolakku. Semakin besar keinginanku untuk memilikimu pangeran Eliot.


Eliot setengah mabuk. Dia bukan tak terkena matra yang diberikan oleh Sheira. Tapi kebaikan itu tubuhnya mulai menggila, dia harus segera mencari pelampiasan.


Brukk. Dia menendang kamar Aaron dan melesat masuk ke dalamnya.


Eliot sudah tak perduli lagi oleh aturan yang dibuat istana. Saat ini yang dibutuhkan tubuhnya adalah pulih dari matra yang Sheira buat. Nafasnya tersengal. Wajahnya memerah saat dia mendekati ranjang Aaron.


Aaron menatapnya dalam perubahan tubuh kakaknya yang berbeda. Dia, seperti akan mati kehabisan nafas dan benar-benar terlihat tersiksa.


"Apa ini? Siapa yang membuatmu seperti itu?" Aaron dengan segala rasa khawatirnya melesat dan mendekat Eliot.

__ADS_1


"Keluarlah, aku tidak perduli jika setelah ini aku akan menerima hukuman. Yang penting saat ini aku bisa selamat dan mengembalikan kekuatanku!" cetus Eliot. Tangannya menekan pundak Aaron dengan keras.


"Cih, sudah hampir mati pun kau tak meminta pertolongan dengan benar. Benar-benar pasangan yang merepotkan!" dengusnya. Kemudian tangan Aaron mendorong kasar tubuh Eliot ke ranjangnya.


"Baiklah, aku akan diam kali ini. Anggap ini hutangmu padaku. Aku pastikan akan menanggihnya dua kali lipat! Lagipula, istriku itu sedang ngambek, aku kewalahan membujuknya. Jadi, kau bujuklah dia!" ucap Aaron tanpa membalikkan tubuhnya. Dia melesat keluar dari kamarnya dan menutup pintu dengan rapat.


Seraya pintu kamarnya tertutup. Ada rasa sedih yang menyelimuti hatinya. Seribu tahun sudah berlalu, perasaan pun bisa berubah. Hanya dia saja sendiri yang masih belum beranjak dari perasaannya.


Air matanya menetes di pipi. Aaron mengusapnya dan melesat pergi meninggalkan kamarnya.


Sejak kehadirannya Eliot dikamar Aaron. Hana kebingungan sendiri. Dia benar-benar khawatir saat melihat suaminya datang dengan begitu tersiksa.


"Ma-maafkan aku, Hana. Aku mohon jangan marah lagi!" ucap Eliot seperti orang yang akan mati. Mencoba menggapai tangan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2