
Hana membalikkan tubuhnya menatap Aaron yang masih tersenyum manis menatap wajah Hana yang kebingungan.
"Ka-kau, bagaimana bisa" Hana yang menunjukkan jarinya ke hadapan Aaron.
Aaron bangkit dari duduknya, menghampiri dan berdiri dengan jelas di hadapan Hana, Hana reflek segera memundurkan tubuhnya selangkah menjauhi Aaeon ketika Aaron mendekatinya.
"Aku kan sudah bilang akan menagih janjiku" Sahut Aaron terus mengembangkan senyumnya pada Hana.
"Jan-ji" Hana mengingat kembali,
"Jangan bilang kau melupakan janji-mu" Aaron mencengkram kedua lengan Hana.
Ah, sial. Dia sungguh menagihnya. Umpat Hana.
"Kau fikir aku akan melupakannya begitu saja" Seringai Aaron menatap Hana dengan penuh kemarahan.
"Aw, sakit!" Pekik Hana meringis menahan sakit cengkraman dari tangan Aaron.
Aaron tersadar dan segera melepaskan perlahan cengkraman tangannya dari Hana lalu berganti tiba-tiba menarik tangan Hana agar mengikutinya duduk.
Aaron melihat bekas cengkraman merah di kedua tangan Hana.
"Apakah sakit?" Sentuh Aaron dengan jari telunjukknya menyentuh bekas cengkramannya tadi.
"Sshh" Hana langsung meringis padahal hanya satu sentuhan saja.
Ah, aku lupa menggunakan kekuatanku. Dia kan wanita manusia. Batin Aaron sedikit merasa menyesal atas perbuatannya barusan.
Lalu Aaron menggenggam kembali kedua tangan Hana kali ini Aaron menyentuhnya dengan sangat lembut, beberapa detik kemudian Aaron melepaskan kedua genggaman tangannya.
"Maaf, aku tidak sengaja" Ucap Aaron, Hana menatap kedua lengannya yang terluka tadi, ajaib luka di kedua tangannya langsung sembuh.
Hurf.
Hana hanya menghela nafasnya, dia tidak ingin mengeluarkan tebakannya lagi, sudah sangat dipastikan bahwa pria di hadapannya bukanlah manusia.
"Apa yang kau lakukan dengan Pak Gerry, bagaimana bisa kau menjadi keponakannya" Dengus Hana, baginya kini dia harus sudah mulai terbiasa dengan kehadiran mahluk astral lain selain Eliot.
Aaron mengulum senyum, "Seperti-nya kau tidak terlalu terkejut" Dengus Aaron memajukan wajahnya mendekati wajah Hana.
Hana segera menghindar dan memalingkan wajahnya.
"Aku tidak mengerti. Sebaiknya aku kembali ke mejaku, masih banyak tugas yang harus kuselesaikan" Hana beringsut dan mencoba berdiri dari duduknya.
"Ah" teriak Hana terkejut, tangannya di tarik dan sudah berada di pangkuan Aaron.
"Memangnya aku sudah menyuruhmu pergi" Senggit Aaron, mata berkerjab tubuhnya langsung bereaksi saat Hana duduk di pangkuannya.
__ADS_1
Aroma manis dari tubuh Hana langsung menyeruak, memekakkan lapar dan dahaga dalam tenggorokan Aaron.
"Wangi sekali tubuhnya" Endus Aaron mulai menjelajah di pundak dan leher Hana.
Hana menggeliat, rasa canggung dan tidak nyaman timbul apalagi ada sedikit rasa takut yang muncul di benaknya jika sampai Eliot tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Ish..., apa sih, lepaskan aku Aaron. Jangan seperti ini, kita sedang di kantor" Ceplos Hana, Aaron menyeringai dan tersenyum.
"Ow, jadi kita harus pindah tempat, kau suka tempat seperti apa? Gunung atau lembah berbukit!" Aaron menawarkan sesuatu yang tidak masuk akal, dengan endusan yang makin menjadi di setiap tubuh Hana.
Hana segera mendorong tubuh Aaron menjauh dan bangkit dari pangkuannya.
"Kau jangan gila, aku bertanya soal pak Gerry bukan hal lain" hardik Hana kesal merasa dirinya di lecehkan.
"Memangnya aku perduli dengan manusia bodoh itu" Aaron berdiri dan menatap Hana dengan tajam.
Hana mengeleng sepertinya usahanya bertanya akan sia-sia. Tidak akan membuahkan hasil hanya akan menyulut sesuatu hal yang sangat tak menyenangkan bagi Hana.
"Hurf..., baiklah aku tidak bertanya lagi, jadi apa yang harus aku bantu untuk menyelesaikan pekerjaanmu" Senggit Hana berusaha tersenyum semanis mungkin di depan satu lagi makhluk astral selain Eliot.
Aaron melirik jam di tangannya,
"Kalau tidak salah sekarang waktu makan siang para manusia" Tukas Aaron.
Hana menautkan kedua alisnya.
"Aku temani kau makan" Ucap Aaron lagi.
"Kau masih takut denganku" Dengus Aaron.
Hana mengangguk.
"Lagipula aku akan makan siang dengan temanku, lebih baik kau cari makanan-mu sendiri" Pekik Hana yang tidak ingin ikut tercemplung terlalu jauh berurusan dengan mahkluk astral selain Eliot. Sudah cukup satu Eliot dalam hidupnya.
"Baiklah kita makan bareng dengan teman-mu sekalian, aku pun ingin mengenalnya" Ucap Aaron sudah melingkarkan tangannya seenaknya sendiri di pinggang Hana.
Hana bergerak mencoba melepaskan ikatan lingkaran Aaron di pinggangnya.
"Kau sungguh berani bermain dengan-ku ya, aku pastikan kau akan menyesalinya" Ancam Aaron di telinga Hana membuatnya bergidig, Aaron sama menakutkannya dengan Eliot.
Hana tak bergeming hanya bisa pasrah menuruti kemauan Aaron saat membawanya keluar ruangan pak Gerry. Hana terpaksa menghampiri meja dan menyambangi Rani.
"Ran" panggil Hana, Rani memang sudah menunggu Hana di meja nya untuk makan siang bersama.
Rani melirik Hana dengan seorang laki-laki yang sudah melingkarkan tangannya di pinggang Hana dan Rani pun melihat dua orang laki-laki kembar di belakang laki-laki tadi. Kedua laki-laki tadi langsung menatap Rani dengan berbeda dan masing-masing menelan salivanya saat menatap Rani, membuat Rani bergidig melihat mereka yang seperti akan menerkamnya.
"Si-siapa Han?" Pekik Rani menatap Hana ragu dan melirik wajah Aaron yang terlihat menakutkan.
__ADS_1
"I-ni pengganti pak Gerry sementara. Keponakannya" Hana memperkenalkan Aaron.
"Ow, Selamat si-ang Pak, saya Rani" Rani mengulurkan tangan untuk berkenalan, namun raut wajah Aaron tak bergeming sedikit pun hanya menatap Rani dari ujung kepala sampai kaki Rani.
Yang membuat Rani terkejut saat dia akan menarik uluran tangannya kedua laki-laki kembar di belakang Aaron malah menyambut uluran tangan Rani dengan manis dan mencium tangan Rani...
"Aku Nick" Nick memperkenalkan dirinya dan bergantian...,
"Aku Nath" ucap Nath yang memperkenalkan dirinya dan seketika lelaki kembar tadi berubah posisi berada di samping kanan dan kiri Rani membuat Rani menjadi waspada.
Apa ini. Apa aku tidak salah. Mereka sepertinya langsung menyukaiku. Batin Rani segera dia menepisnya.
"Kau mau makan dimana?" Tanya Aaron saat mereka sudah berada di depan mobil Limosin hitam.
"Aku akan makan di pinggir jalan seberang toko itu..." ucap Hana yang menunjuk salah satu tempat makan yang tidak jauh dari area kantornya.
Supir membuka kan pintu, Hana langsung di boyong masuk ke dalam mobil. Nick masuk terlebih dahulu kemudian dia langsung menarik Rani di ikuti Nath yang langsung mengapit Rani di tengahnya.
Aaron tersenyum melihat kelakuan pengawal kembarnya yang sudah menemukan mainan baru setelah seribu tahun.
"Kalian menyukainya" Seloroh Aaron tiba-tiba kepada kedua pengawalnya yang terus menatap Rani tanpa berkedip.
Kedua kembar hanya mengangguk dengan cepat ketika Tuannya bertanya.
"Baiklah, kalian boleh memilikinya!" Seru Aaron memberi perintah kepada kedua pengawal kembarnya.
"Hah, apa maksud ucapan-mu" Sontak Hana dan Rani bersamaan melakukan protes atas ucapan Aaron barusan.
"Hahahaha...." Tawa Aaron bergema.
PLETAK.
Hana memukul lengan Aaron keras dan langsung mengibaskan tangannya karena merasakan sakit sama halnya seperti memukul Eliot. Tubuh Aaron pun sekeras batu.
"Kau fikir temanku barang" Hana yang tak terima ucapan Aaron.
"Apa bedanya seharusnya kalian merasa beruntung, kami menjadikanmu mainan bukan santapan kami" Seringai Aaron menatap tajam Hana dan langsung meraih tangan Hana yang sakit.
"Jangan sembarang pukul. Semua hanya akan membuatmu terluka" Aaron mengecup tangan Hana yang memerah dan seketika rasa sakit di tangannya sirna. Hilang oleh kecupan Aaron.
Limosin Aaron berhenti di sebuah restoran berbintang, Aaron turun dan mengulurkan tangannya kepada Hana. Diikuti Nick, Rani dan Nath dibelakang mereka.
"Hana..." Seseorang menarik tangan Hana, Hana menoleh orang tersebut ternyata Morris di hadapannya menatap Hana tak percaya.
Hana melihat Morris menggunakan sarung tangan anti panas saat menarik Hana.
"Sedang apa kau di sini" Senggit Morris seketika marah, dia masih tidak terima melihat Hana yang sudah berubah menjadi cantik bersama dengan lelaki lain selain Eliot yang di kenalnya.
__ADS_1