
Setelah hampir satu jam mereka mengeluarkan semua emosinya. Dan mereka berdua saling terpental kearah berlawanan. Baru Lucas dan kedua kembar membantunya.
"Kau sudah puas!" ucap Lucas.
Eliot seolah tersadar oleh sentilan ucapan yang keluar dari mulut Lucas. Aaron pun dengan nafas tersengal menghampiri Eliot.
"Apa kau tak memikirkan seseorang?" dengus Aaron.
"Hah, kau gila. Otakku tiba-tiba beku, jantungku ini terhubung olehnya. Mana bisa aku berpikir!" sakras Eliot berkata, dia memang benar-benar tak bisa berpikir untuk saat ini.
"Setidaknya, berpikirlah. Aku mohon, kau yang sudah membuka ikatan pasangannya, harusnya kau lebih tahu dan memahami dirinya!" kini Aaron seolah menyalahkan Eliot atas apa yang terjadi.
"Cih, memangnya dulu kau pun bisa berpikir jernih," sindir Eliot yang tak mau kalah menyinggung seribu tahun yang sudah berlalu.
"Karena aku salah saat itu, harusnya kau bisa menjaga lebih baik dariku!" Aaron yang tetap bersikeras tak mau disalahkan.
"Dasar serigala abu egois. Sudah tak mau mengalah, masih saja menyalahkan diriku," ucap Eliot kecut.
"Argghhh! Sampai kapan kalian mau terus berdebat. Semakin lama kalian berdebat, nyawa Hana taruhannya!" cetus Lucas.
__ADS_1
Lucas pun merasa khawatir, dia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada teman istrinya. Rani pasti akan mengomel habis-habisan kalau Hana sampai terjadi apa-apa. Dan, dia sangat tidak ingin membuat istrinya sedih. Yah ... terlebih sih karena Lucas takut tak diberi jatah oleh istrinya.
"Shane!" teriak Aaron.
Wanita berpakaian serba hitam dengan puluhan ular di kepalanya muncul.
"Ada perintah, Tuan!" Shane membungkuk dan bmemberi hormat pada Aaron.
"Apa ini semua ulahmu?" tangan Aaron sudah mencekik leher wanita itu dengan sangat kencang.
"Ma-maaf, Tuan, saya tidak mengerti!" Shane berkata dengan lehernya dicekik oleh Aaron.
Aaron melemparkan tubuhnya.
"Saya tidak mungkin berani, apalagi Tuan sudah mengambil separuh kekuatanku!" Shane berkata menjelaskan segalanya. Dia, tak ingin tuannya salah faham.
Ancaman Aaron saat itu sudah membuat kewalahan. Bahkan dia harus kembali melakukan kultivasi yang panjang agar sisa kekuatan yang Aaron tinggalkan pulih.
"Pergilah!" Shane pun menghilang setelah tuannya memberikan perintah.
__ADS_1
Eliot dan Aaron seperti menemukan jalan buntu. Tidak ada jejak ataupun petunjuk. Bagi Eliot, dia masih bisa melacak keberadaan Hana jika detak jantung Hana kembali.
***
"Kau tidak salah ambil, Greg? Dia, ini manusia!" ucap seorang dengan tudung merah sambil menendang tubuh seseorang. Tubuh Hana.
Orang itu berdiri dengan dua orang lain disamping kiri dan kanannya.
Hana tergolek tak berdetak di padang bersalju. Wajahnya membiru dan pucat. Seluruh tubuhnya bahkan sudah tertutupi salju.
"Tidak, Tuan Matius, gadis ini memang gadis pilihannya. Saya yakin sekali!" ucap Greg.
Dia adalah orang yang memberikan wujud sebagai Eliot saat menjemput Hana. Greg yang membuat alam ilusi dan bawah sadar Hana seperti melihat Eliot.
Matius berjongkok dan membalikkan tubuh Hana. Melihat dengan jelas wajah gadis itu.
"Cih, tapi dia sudah mati. Mana mungkin dia gadis pilihannya. Gadis lemah seperti ini. Kau tidak sedang membodohiku kan?" Matius memicingkan matanya pada orang yang bernama Greg tadi membuat tubuhnya bergetar.
"Tidak mungkin saya salah Tuan. Informasi yang saya dapatkan bisa dipercaya!" Greg berlutut dihadapan Matius.
__ADS_1
Greg sebenarnya mulai meragukan kepercayaan sendiri. Jika kali ini dia salah, dia tidak akan mendapatkan hadiah besar melainkan nyawanya sebagai taruhan.