
"Apa mungkin dia istri kita," sahut Aaron berbicara santai sambil mengambil satu anak panah dan mengarahkannya ke papan panah.
"Sepertinya begitu. Mungkin dia menolak kehadiran Bezial!" cetus Eliot
seolah mengetahui isi pikiran dari istrinya.
"Hahaha. Hana, Hana. Bagaimana nanti saat dia menjadi Ratu. Apapun yang dia lakukan dilayani dan dia tak bisa menolaknya. Apa dia akan terus menolak takdirnya." Ucap Aaroon. Dan. Blash! Anak panah yang diarahkannya melesat dan mengenai sasaran.
"Kau pikir dengan sikap keras kepalanya itu, dia mau tinggal disini. Kalau dia sampai mau tinggal disini, aku bertaruh. Ya... itu pun kalau kau bisa lolos dari kongres. Aku akan mengabulkannya satu mingguku hanya untuk-mu!" cetus Eliot. Anak panahnya pun melesat mengenai sasaran.
"Hah, kau sedang main taruhan denganku, El? Kalau dia mendengar, mati kau. Aku yakin seratus persen dia tidak akan memberikan jatah satu bulan. Hana kita itu benar-benar merepotkan. Sudah dikasih enak, dia menolaknya." Cibir Aaron menimpali.
__ADS_1
"Enak kan menurut kita, tapi buatnya kan seperti berada dalam sangkar Emas. Dia, sudah terbiasa dengan kehidupannya yang sekarang. Kita pun tak bisa memaksa," lagi Eliot menimpali.
"Cih, kau terus saja membelanya!" dengus Aaron. Tetap tak ingin kalah darinya.
"Tentu saja, dia kan istriku. Memang siapa lagi yang akan kubela. Apapun keinginannya, asalkan dia bahagia. Aku pasti mengikutiya." Perkataan Eliot membuat Aaron menoleh padanya. Dia mengembangkan senyuman dan menangguk.
"Aku pun sama sepertimu, El!" Aaron mengangguk pasti. Dia tak sabar menantikan kehadiran ketua kongres agar semua yang direncanakan berlangsung dengan cepat.
***
Saat ini dia hanya mengenakan sutera kimono mandi. Tangannya mencengkram erat tak membiarkan pelayan itu membantunya memakai baju.
__ADS_1
Baju setengah korset dengan ikatan begitu banyak dibelakangnya. Belum lagi kain yang akan membalutnya harus diputar berkali-kali. Seperti baju zaman Eropa kuno sama seperti pakaian yang dikenakan Sheira.
"Maafkan aku, Nona. Tapi, anda harus memakaikan, jam makan siang akan segera tiba dan tamu yang dinantikan pun akan segera datang. Waktu kita sangat terbatas, Nona!" Bezial bersikeras memakainya.
"Tidak. Aku tidak mau. Kalau hanya datang untuk makan siang dan pesta penyambutan, pakai saja gaun atau mungkin dress diatas lutut. Simple dan tidak merepotkan." Hana menggeleng kuat. Benar-benar tak ingin mengenakan baju yang terlihat sesak saat dipakainya.
"Aku mohon, Nona. Tolong dipakai ya. Aku tidak mau sampai kepalaku di penggal," lagi Bazial mengambil kesempatan. Dia berlutut memohon pada Hana.
"Argh. Aku tidak perduli. Mau kau digantung, digorok, dicambuk atau dicincang-cincang seperti daging giling oleh mereka. Aku tetap tidak mau memakai baju itu!" Hana menghempaskan kakinya yang dipegangi oleh pelayannya.
"Huhuhu, Nona, aku mohon padamu. Jangan melakukan itu padaku. Aku belum mau mati. Aku belum berkawin dengan siapapun dari para pengawal serigala-serigala tampan di kerajaan ini!" Bezial meraung tambah keras. Seolah tak akan berhenti, jika kemauannya tidak di turuti.
__ADS_1
"Argghhh! Merepotkan. ELIOTTTT DIMANA KAU?? KALAU KAU TAK KESINI DALAM SATU DETIK. JANGAN HARAP MALAM INI KAU DAPAT JATAH DARIKU!! " teriak Hana bergema. Bezial sampai begidik melihat kemarahannya.
Dan tak sampai satu detik mereka sudah berada di hadapan Hana.