SUAMIKU SERIGALA

SUAMIKU SERIGALA
Suamiku Hanya Eliot


__ADS_3

Hana membekap mulutnya sendiri. Dia bahkan belum mempercayai kalau dirinya berada di ruang lainnya yang tak terjangkau dunia manusia.


"Ba-bagaimana bisa aku sampai disini. Aku sedang di toilet dan aku menabrak-mu!" jari telunjuk Hana berhenti di dada Eliot.


"Astaga! Itu bukan dirimu!" dia memekik. Buluk kuduknya berdiri.


Hana sudah mencoba membiasakan dirinya untuk bertemu dengan hal-hal di luar nalar. Namun, semakin lama dia bayangkan, dia menjadi takut sendiri.


"Maafkan aku, El. Aku ceroboh!" Hana menghentikan kemarahannya tadi. Dia tahu tak bisa menyalahkan suaminya. Suami serigalanya tak bersalah.


"Aku tahu, aku yang memang bersalah padamu!" Eliot yang tetap menyalahkan dirinya sendiri.


"Kau masih mau berapa lama lagi disini. Suhu disini akan semakin dingin, atau kau memang ingin dia terus berada dalam pelukanku!" cibir Aaron mengingatkan kemenangannya lagi.


"Hah!" Eliot memeluk tubuh istrinya dan langsung menghilang.


"Ha-Hana, kau kembali!" Rani berteriak dan langsung memeluknya saat melihat Hana muncul di ruang tamu rumah baru mereka. Rani pun baru saja sampai di rumah.

__ADS_1


Namun, sedetik kemudian matanya memicing tajam, "Cih, apa kau tidak salah? Kau juga bersama serigala berandalan itu!" Rani berkerucut bibir saat melihat kehadiran Aaron.


"Sayang!" Lucas sudah memeluk tubuh istrinya dari belakang.


Wajah Rani berbinar saat mendengar suara yang dia rindukan, "Sa-sayang, kau juga kembali!" sebenarnya baru dia akan bertanya keberadaan suaminya, tapi suaminya lebih dulu muncul.


"Uhm!" dengus Lucas. Hidungnya terus menggosok di rambut istrinya.


"Ayo, kita ke kamar!" tanpa rasa malu sedikitpun Rani menarik tangan suaminya ke kamar. Rani tahu suaminya pasti ingin meminta jatah darinya.


"Kalau kau bisa, coba saja kau yang tahan!" sahut Rani, dia kini sudah meminta digendong oleh Lucas.


"Sssttt, apa kalian selalu berisik seperti ini?" dengus Aaron. Dia, sudah duduk dengan santainya di salah satu sofa.


"Hei, kenapa kau masih disini? Pergi sana!" Hana berkacak pinggang mengusirnya.


"Pergi? Yang benar saja? Aku ini sekarang sudah resmi menjadi suami-mu juga!" Aaron tetap mempertahankan statusnya beberapa saat lalu. Dia tak mau kehilangan semua kesempatan yang sudah didepan matanya.

__ADS_1


"Hah, yang benar saja? Suami katamu? Enak saja kau ngaku-ngaku. Kau tidak lihat, ini suamiku, suamiku ada disini dan suamiku hanya Eliot. Cuma dia, tidak ada yang lain!" Hana membelalakan matanya. Kesal dengan ucapan yang keluar dari mulut Aaron. Dia masih mengingkari semua pernyataan Aaron.


"Sayang!" Eliot mencoba menyentuh lengan istrinya.


"Diam! Kau jangan ikut campur. Aku itu masih marah dan belum buat perhitungan denganmu. Bisa-bisanya kau putuskan secara sepihak tanpa kau bicarakan padaku lebih dulu!" Hana yang benar-benar meradang. Dia masih belum bisa menerima Aaron sebagai suaminya juga.


"Hehehe, kau sudah seperti serigala yang takut pada istri, mana cakarmu, El! " kekeh Aaron. Eliot mendelikkan matanya.


Bugh! Satu bantal sofa mendarat diwajah Aaron tanpa dia sempat menghindari.


"Argghhh, berani sekali kau mengumpat suamiku!" Hana segera melompat ke tubuh Aaron. Dia sudah berada di atas tubuhnya. Menyambar dan memukuli dadanya.


"Hahaha, El, ternyata istriku ini sangat agresif. Dia, benar-benar sudah tak sabar sampai menerjangku disini!" Eliot segera menjentikkan jarinya. Mereka sudah berada di atas ranjang.


"Sayang ... kau sungguh tak merindukanku?" Eliot berkata sambil duduk disamping istrinya yang masih garang menghajar Aaron.


"Arghh!" pekik Hana, dia akan menolehkan wajahnya. Namun, dia lengah dan membuat tubuhnya roboh di pelukan Aaron.

__ADS_1


__ADS_2