
Ya, Asher tertawa penuh kepiluan. Saat mendapatkan itu semua dia tidak berbahagia. Dia merasa sedih. Hati seakan hancur.
"Asher, kau sungguh-sungguh melakukan semua, hah?" Tiba-tiba sosok yang paling dicari muncul. Eliot muncul dihadapannya. Dan, wajah sedihnya berubah kembali. Dia berbalik badan dan masih dengan pedang penghancur keluarga di tangannya.
"Hoh, rupanya kau bersembunyi. Seperti tikus kecil yang akan memangsa lawannya dari belakang. Benar-benar mengelikan dan kau seorang pengecut!" seperti mendapatkan tambahan kebencian, sedihnya menghilang dan wajah kebencian yang muncul di hadapan Eliot.
"Sadarlah, Pangeran Asher, kami adalah keluargamu. Kami tidak mungkin membiarkan dirimu sebagai penghancur. Kami yang akan mendukung dan membelamu. Kami semua, tak mungkin mencelakaimu!" Eliot mencoba membujuk Asher agar menghentikan dirinya untuk menghancurkan diri.
"Kau, tikus pengecut. Hanya seorang pecundang yang berkata seperti itu! Kau pikir, aku tidak tahu, rencana Baginda Raja untuk menjadikanmu sebagai pewarisnya. Bukankah, seharusnya Baginda adil, akulah seharusnya yang mendapat. Bukan kau!" tangan Asher bergerak sendiri mengayunkan pedangnya dan langsung menghujam jantung Eliot.
Jleb. Satu kali tusukan, pedangnya langsung bersarang tepat di jantung Eliot. Hingga membuat tubuhnya roboh seketika di padang bersalju. Darah merah seketika membanjiri. Warna putih salju tadi berubah menjadi warna merah. Darah Eliot.
"Sadarlah, Pangeran ... kita adalah keluar--ga!" detik terakhir pun sebelum Eliot meregang nyawanya masih mengatakan hal yang membuat jantung Asher bereaksi. Apalagi saat Asher melihat kematian Eliot yang tetap tersenyum padanya.
__ADS_1
"Arggh!!" Teriak Asher memegangi dadanya disebelah kiri. Terasa nyeri di jantungnya seperti ribuan pedang tadi. Menghujam berkali-kali tanpa henti padanya.
"Si--sial, sakit sekali. Kenapa bisa seperti ini, padahal aku sudah mengalahkan semuanya!" Asher membuang pedangnya. Dia berjalan tertatih sambil memegangi dadanya yang seperti menggerogoti tubuh.
Bahkan Asher sudah melihat separuh dari bagian tubuhnya yang sudah keriput dan menghitam. Dia tersadar bahwa sedang berada dalam lorong ilusi. Jika dia tak mampu mencari pintu keluar. Pelan-pelan, tubuh menghitamnya akan menguasai dirinya dan dia pun akan mati.
Asher menyeret tubuhnya yang sudah mati rasa separuh. Dengan sisa-sisa kekuatannya. Harapan yang tadi sirna kini muncul kembali.
"Selamat. Ternyata kau berhasil juga, ya walaupun seperti tahap pertama ini benar-benar sulit kau lewati!" suara Matius kembali memecah keheningan. Membuat telinga dan mata Asher tersadar.
Dia melihat bayangan dalam cermin di bawah tubuhnya. Bagian tubuhnya separuh menghitam.
***
__ADS_1
"Arghh! Tolong ... siapapun, tolong aku. Argh. Jangan mendekat! Jangan sentuh aku!" teriak suara seorang gadis yang penuh dengan ketakutan. Dihadapannya kini empat orang siap menggagahinya.
Tangan dan kaki wanita tadi diikat pada batang pohon. Wajahnya penuh luka dengan pakaian yang sudah robek-robek akibat tadi dia berhasil melawan.
"Harusnya kau tadi menurut Nona manis, semua tidak akan berakhir seperti ini!" salah seorang berkata dengan pisau kecil ditangannya. Pisau tadi sudah bergerak di wajah gadis itu bersiap akan menyayat wajahnya.
Saat itu Aaron berada di atas pohon. Dia sedang bersandar dan menonton pertunjukan.
Cih, masih saja ada wanita bodoh yang terjebak. Aku akan lihat dulu sampai dimana pertunjukan itu berlangsung.
Pikiran Aaron. Dia tersenyum smirk menatap kebodohan wanita itu. Tentu saja Aaron tidak akan perduli dengan gadis manapun. Hatinya hanya terikat oleh seorang Hana, "Aku mohon ... lepaskan aku. Tolong lepaskan, aku!" gadis itu mulai terisak. Sama-sama Aaron melihat wajah gadis tadi berubah menjadi Hana.
Aaron mengkrejamkan matanya berkali-kali. Dia ingin meyakinkan penglihatannya salah. Tapi, dihadapannya kini, itu adalah benar-benar Hana. Gadis pujaan hatinya.
__ADS_1