
"Kau sungguh sudah menikah" akhirnya terlontar juga pertanyaan yang membuat Morris penasaran.
"Benar, aku suaminya" sahut Eliot menatap Morris tajam, baru saja Hana akan menjawab namun sudah dikunci ucapan oleh Eliot.
Ck, ck, ck... dia benar-benar mengaku kalau dia suamiku. Desis Hana di hati.
BRUKK.
Satu kaki bangku Hana patah dan Hana tersungkur jatuh.
"Aw, sakit" Hana meringgis, Eliot segera membantu Hana berdiri ketika Morris pun ingin membantu Hana berdiri.
"Kau tidak apa-apa" ucap Morris terdengar khawatir.
Lona yang mendengar hanya menggerakkan giginya, dia bahkan belum berhasil menggoda Eliot, namun Eliot sudah memperkenalkan dirinya sebagai suami Hana.
Cih, beruntung sekali Hana mendapatkan laki-laki setampan itu sepertinya dia juga sangat kaya. Batin Lona yang mata duitan.
Hana mencoba berdiri akan memanggil pelayan untuk mengganti bangku nya yang tiba-tiba patah, namun Eliot segera menarik Hana kedalam pangkuannya, tak sedikit pun memberikan ruang pada Morris untuk menatap Hana lebih dalam.
Sial, dia bahkan berani bermanja di hadapanku. Hana kau benar-benar menyembunyikan kecantikan mu padaku selama ini.
Batin Morris yang terlihat menyesal dan mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Geram dan cemburu pada Eliot.
Hana berbalik menatap tajam Eliot,
Kau pasti pelakunya. Batin Hana.
Eliot hanya tersenyum dan menaikan kedua alisnya.
Sudah kubilang jangan pakai kekuatan-mu. Pekik lagi Batin Hana.
"Siapa suruh dia menatapmu begitu lembut" Eliot menarik pinggang Hana dan berbisik lirih di telinga Hana.
"Kau" Decak Hana kesal.
"Jangan memancing kecemburuan-ku" desis lirih lagi Eliot.
Jadi kau cemburu. Eliot cemburu padaku. Hah, yang benar saja, kau kan juga tahu dia bukan apa-apa lagi untuk-ku. Bukankah kau sendiri yang sudah memblokir aksesnya. Senggit Hana kesal dalam hati sambil menautkan kedua alisnya berbicara dihati dengan Eliot.
Eliot tersenyum lagi, "Kalau sudah tahu, jangan pernah sekali pun mencobanya, " Ucap Eliot masih berbisik lirih di telinga Hana.
"Ehemm" Morris berdeham.
Morris kesal melihat kemesraan yang Hana dan Eliot tunjukkan di depan matanya.
"Sepertinya kau masih berhutang penjelasan dengan-ku, Hana" Morris yang masih belum menerima keputusan sepihak dari Hana.
__ADS_1
Hana menoleh menatap Morris. Benar Hana belum secara resmi memutuskan hubungan nya dengan Hana.
Hana melepaskan pelukan Eliot yang terus menempel dengan nya seperti perangko.
"Berikan kami waktu untuk bicara" pinta Hana lirih, Eliot menggeleng.
Hurf... Hana menghela nafasnya.
"Setelah ini kau boleh menyembuhkan luka di punggung-ku" bisik Hana di telinga Eliot, membuat Eliot setuju dan melepaskan Haan berbicara berdua dengan Morris.
"Jangan macam-macam" ancam Eliot.
Hana tak menggubrisnya.
"Aku pinjam pacarmu sebentar ya Lona" Celetuk Hana menohok Lona.
Lona yang merasa sedikit canggung atas ucapan Hana hanya mengangguk perlahan.
Hana berdiri menjauh dari meja Eliot dan Lona yang diikuti Morris.
"Kau mau minum coklat kesukaanmu" tanya Morris saat duduk berduaan dengan Hana.
"Tidak usah, aku sudah kenyang makan bersama suamiku" ucap Hana.
Eliot yang terus menatap Hana sambil melipat kedua tangannya memasang telinganya lebar-lebar mendengarkan percakapan Hana dan Morris.
Eliot tersenyum saat Hana mengucapkan kata suamiku.
"Bukankah harusnya aku yang bertanya padamu, bagaimana Lona bisa menjadi tunanganmu di saat aku masih menjadi pacarmu" ucap Hana menohok Morris.
Morris terkejut darimana Hana bisa tahu soal Lona adalah tunangannya.
"I-itu... "
"Lona sendiri yang mengatakan, kalau dia tunangan-mu, jadi jangan kau menuntut aku untuk setia padamu" keluh Hana.
Sial, dasar wanita tak tahu diri. Berani sekali dia mengatakan dia tunanganku. Umpat Morris kesal.
"Sudahlah kita berpisah dengan baik saja dan jangan kau ganggu aku lagi" pinta Hana segera mengakhiri pembicaraan yang memuakkan.
"Kau jangan gila Hana" Morris yang masih tidak terima dan langsung menarik tangan Hana, namun sedikit kemudian...,
"Ahhh" teriak Morris segera melepaskan genggaman tangannya dari Hana, Morris melihat tangannya berasap dan melepuh seperti terbakar api.
Hana membulatkan matanya tak percaya, ancaman Eliot sungguh terjadi. Tangan Morris terbakar.
"Lonaaa" teriak Morris memanggil Lona yang tampak berusaha mencari perhatian pada Eliot.
__ADS_1
Lona berdiri dan segera menghampiri Eliot,
"Ada a-pa... " ucap Lona membelalakan matanya saat melihat Morris sedang mengibaskan salah satu tangannya yang terus berasap seperti habis terbakar.
"Cepat, antarkan aku ke rumah sakit" ucap Morris dengan suara bergetar karena tangannya tak berhenti mengeluarkan asap.
Lona yang panik segera membawa Morris pergi dari hadapan Hana dan Eliot.
Hana masih bengong dan tak percaya, ancaman Eliot sungguh terjadi jika dia tanpa sengaja atau ada laki-laki yang menyentuh dia akan terbakar, lalu Hana berpikir bagaimana dengan Aaron kenapa hal itu sama sekali tak terjadi padanya.
"Pengganggu sudah pergi, jadi sekarang waktunya aku mengobati lukamu" Eliot yang sudah mendekap tubuh Hana dari belakang.
Hana sedikit kaget, dia lupa dengan ucapannya dan akan terjadi dengan begitu cepat.
"Mm, itu... bisakah aku... "
TRING.
Eliot sudah menjentikan jarinya dan mereka berdua sekarang sudah berada di kamar Hana.
"Jawabannya tidak, ini hampir tengah malam dan aku belum makan dan minum... " sergap Eliot yang mereka sudah berhadapan dan Eliot menarik Hana dalam pelukannya, dan satu jentikan jari Eliot lagi mereka sudah polos tanpa mengenakan apapun.
Tangan dingin Eliot menyentuh punggung Hana, mendekap Hana lebih dalam dalama pelukannya,
"Aww" teriak Hana menggigit bibirnya, Hana merasakan sesuatu yang hangat mengalir di punggungnya sedikit demi sedikit dan rasa sakitnya pun lama-lama menghilang.
Setelah Eliot yang punggung Hana bersih dari luka yang dia sebabkan dan tanpa ada bekas, Eliot menarik wajah Hana ke hadapannya,
"Aku haus" ucap Eliot dan tanpa pergerakan ataupun penolakan dari Hana, Eliot mulai meraih leher Hana perlahan...
GREP.
Mengisap leher Hana beberapa detik dan segera menarik-nya,
Benar-benar aroma yang sangat menggoda.
Eliot kemudian berpindah pada bibir Hana dan meraupnya dengan begitu lembut bahkan Hana benar-benar sudah terbuai oleh perbuatan Eliot yang begitu dingin menyentuh dirinya namun membuat Hana ingin merasakan lagi dan lagi...
Dari bibir Hana merasakan tangan Eliot sudah bergentayangan kemana-mana, Hana hanya bisa menggeliat dan mengeluarkan semuanya tanpa ada batasan di antara mereka.
Hana larut dalam penyatuan yang Eliot suguhkan membuatnya terus memeluk Eliot dengan erat dan terus berteriak tak jelas dengan suaranya yang makin lama makin menikmati setiap sentuhan Eliot.
Eliot melepaskan penyatuannya setelah rasa lapar yang di rasa Eliot mencukupi dalam dirinya. Eliot tak mungkin melewati batasannya karena dia tahu akan sangat berbahaya bagi Hana saat ini...
Eliot mengecup kening Hana,
"Kau sudah kenyang" ucap Hana berbisik lirih dengan nada malu menutupi wajahnya di dada Eliot.
__ADS_1
"Untuk sekarang cukup, kalau kau menginginkan aku kenyang, tubuhmu belum sanggup... " ucap Eliot mengusap pipi dan rambut Hana.
"Apa Rani akan baik-baik saja" Seloroh Hana dengan pertanyaan yang membuat Eliot tersenyum.