SUAMIKU SERIGALA

SUAMIKU SERIGALA
Aku Tidak Memaksanya


__ADS_3

"Tuh, tuh, benar kan. Arrgghh!" Hana berteriak keras. Dia jongkok dan menutupi kedua telinganya saat Aaron berbicara.


"Hei, kau, jangan jadi api diantara kami." Eliot mulai tersulut emosi ketika Aaron menabuh gendang kecemburuan dihati istrinya.


"Aku tidak membakar apapun. Coba saja kau tanya dia?" Aaron seolah tak peduli. Jika ada kesempatan bagus kenapa tidak dia mengambil Hana tanpa harus berbagi dengan siapapun.


"Hana, kau mendengarku. Jangan dengarkan, dia!" Eliot menghampiri istrinya dan baru saja dia menyentuh lengannya. Hana sudah menghempaskan diri dan berlari ke pelukan Aaron.


Aaron tersenyum penuh kemenangan saat istrinya memeluknya dengan erat. Dan, dia menggerakkan bibirnya kearah Eliot, "Lihat saja, aku pastikan merebutnya kembali!" gerakan bibirnya membuat Eliot murka dan menarik lengan istrinya secera paksa.


"Dengarkan aku, Hana. Aku mohon!" Dia mencoba membujuk. Namun, Hana masih memalingkan wajahnya. Masih tak ingin mendengarkan ucapan Eliot.


"Apa kau mau melihat kamarku?" tawar Aaron. Hana menoleh dan mengangguk. Saat ini dia tak ingin dekat-dekat dengan Eliot.

__ADS_1


"Aaron, kau jangan berbuat seenaknya. Disini dia istriku," dengus Eliot.


"Dia istriku juga, El. Kau lupa, aku sudah mendaftarkan diri, dan besok mereka akan tiba disini. Jadi, tidak salah dong, kalau dia sekarang kuajak ke kamarku. Lagipula, aku juga suaminya sekarang!" sergah Aaron tak mau kalah. Dia benar-benar tak melewatkan kesempatan.


"Keputusan belum di buat, Aaron. Jadi, hak-mu masih belum berlaku!" tegas Eliot.


"Benarkah? Coba aku tanyakan pada istriku," Aaron seolah mencari pembelaan. Mencari perlindungan di ketiak Hana.


Tentu saja tawaran itu begitu menggiurkan untuk Hana. Apalagi hatinya sedang kesal. Untuk bisa pulang apapun akan dia lakukan. Toh, jika dipikirkan lagi hanya berkawin saja. Mereka pun sudah sering melakukannya.


"Iya, aku mau ikut ke kamar denganmu dan juga ber-ka-win!" Lidahnya hampir kelu saat mengucapkan kata terakhir.


"Kau yakin, Hana? Karena setelah kau keluar dari kamar ini. Kau tak bisa kembali lagi!" tegas Aaron. Tapi, karena dalam pikiran Hana hanya ingin pulang dan saat ini yang bisa membantunya pulang adalah Aaron. Dia pun mengangguk.

__ADS_1


Namun, senyuman penuh kemenangan kembali meluncur mulus di wajah tampan Aaron.


"Kau dengar sendiri. Aku tidak memaksanya pergi. Dia sendiri yang ingin ikut denganku. Dan, pastinya kau tahu, ketika dia sendiri yang memintanya, kau tak bisa menyentuhnya sampai aku sendiri yang mengatakan puas!" Ucap Aaron menatap wajah Hana.


Degh! Hati Hana bergetar. Dia seperti mereka telah dijebak oleh perkataan Aaron. Apalagi mendengar perkataan terakhirnya.


Eliot langsung lemas. Ketika Hana menyetujui. Dia, tak punya hak untuk melarangnya. Aturan di istana sangat ketat, berbeda dengan dunia yang Hana tinggali. Jika, Eliot melanggar. Hukuman yang dia terima setengah kekuatannya harus di musnahkan.


Eliot harus menjaga kekuatannya stabil. Apalagi akan diadakan kongres. Tidak akan ada yang tahu bahaya diluar rencana yang telah mereka susun.


"Cih, pintar sekali kau mencuri kesempatan!" Eliot membuang jauh wajahnya. Dan membiarkan Hana dibawa pergi keluar kamar oleh Aaron.


Hana sempat menoleh. Sesaat ada rasa penyesalan saat dia berdebat dengan suaminya. Dia ingin kembali, tapi mendengar Aaron berkata seperti tadi. Dan diamnya Eliot, pasti ada satu hal yang Hana belum ketahui.

__ADS_1


__ADS_2