
"Iya" mata Hana langsung mendelik tajam.
"Kau sungguh berani, hah" ucap Eliot terdengar akan meledak.
"Aku tidak ingin selama menunggu obatku semua mata wanita terus menatap-mu" Senggit Hana tak ingin kalah dengan ledakan kemarahan Eliot.
BLUSH.
Wajah Eliot memerah lagi setelah mendengar ucapan Hana, hati serigalanya langsung luluh tanpa menjawab lagi ucapan Hana dia langsung menuruti kata-kata Hana, Eliot menyeret tangan Lucas agar duduk ke tempat yang Hana tunjuk tadi.
Hurf, Hana menghela nafasnya setelah dia berhasil membujuk keras hati serigalanya Eliot.
"Untung aku berhasil membujuknya, kalau tidak..." pekik Hana dengan suara lirih saat dia meninggalkan Eliot yang masih terlena oleh ucapan Hana tadi.
"Kau dengar barusan Lucas, istriku cemburu. Dia sedang cemburu padaku" Ucap Eliot menyombongkan dan membanggakan dirinya.
"Iya, Tuan, saya tahu" sahut Lucas sedikit kecut.
Eliot menolehkan wajahnya menatap Lucas, "Ada apa? Kau tidak suka dengan ucapanku" Senggit Eliot yang melihat wajah Lucas yang cemberut.
"Ti-tidak berani Tuan" sahut Lucas langsung menundukkan kepalanya.
Eliot melirik kemeja Lucas ada bekas lisptik, "Oh..., aku tahu kau tidak suka karena aku mengganggu kesenangan-mu kan..., tenang saja, setelah istriku bilang kau boleh pergi, kau bisa melanjutkan kembali kesenanganmu" Dengus Eliot.
Lucas tak berani menjawab hanya memalingkan wajahnya yang juga memerah karena sindirian tuannya barusan.
"Oya, bagaimana dengan Aaron apa dia sudah melakukan pergerakan kembali" ucap Eliot langsung terlintas tentang Aaron.
"Belum Tuan, sepertinya Tuan Aaron masih mengobati lukanya" sahut Lucas.
"Hemm"
.
.
.
Hana memberikan catatan resep obat kepada petugas.
"Tolong buatkan copian resepnya ya" ucap Hana kepada petugas apotik.
Hana tersentak kaget ketika membalikkan wajahnya seseorang berdiri dihadapannya menatap Hana dengan tajam.
__ADS_1
Wajah Hana langsung memucat, dia mengalihkan pandangannya sesaat, melirik ke kanan kiri depan dan belakang.
"Ba-bagaimana kau bisa sampai di sini" ucap Hana terbata tangan Hana langsung di cengkram erat.
"Kau masih terluka, apa itu karena aku?" Seringai Aaron tajam.
"I-itu...," Hana binggung menjawabnya.
"Nona Hana" panggil petugas apotik, Hana membalikkan wajahnya,
"Iya" Hana berusaha melepaskan cengkraman Aaron dan sekali lagi Hana menatap cengkraman tangannya.
"Ba-bagaimana bisa" pekik Hana pelan dan menatap wajah Aaron.
"Aw..., tolong lepaskan..., aku mau ambil obatku" pinta Hana, namun Aaron tetap tak melepasnya.
Hurf, Hana membuang nafasnya lagi, dia tak mungkin berteriak atau bergumam di hati, Hana tidak ingin hal yang lebih buruk terjadi padanya.
Karena Aaron tak melepaskannya Hana terpaksa berjalan dengan cengkraman tangan Aaron saat mengambil obatnya. Aaron terus memperhatikan Hana, setiap gerak geriknya.
"Kau sepertinya tidak takut dengan-ku. Siapa kau sebenarnya?" Ucap Aaron yang begitu penasaran dengan Hana dan tubuhnya yang menghamburkan aroma manis yang sangat menggoda Aaron.
Hana terus membawa Aaron untuk duduk di salah satu pojok tempat duduk, Hana harus menyelesaikan cepat pertemuannya dengan pria yang Hana anggap aneh tersebut. Hana tidak ingin menunjukkaan wajah takutnya, dia berusaha setenang mungkin menghadapinya.
"Bisakah kau lepaskan tanganmu dulu" ucap Hana yang merasakan tangannya terasa nyeri karena cengkramannya.
"Aku tidak akan kabur atau melarikan diri" Senggit Hana ketus.
Perlahan Aaron melepaskan cengkramannya, Hana menyandarkan tubuhnya perlahan di bangku sambil menunjukkan wajah meringisnya dihadapan Aaron.
"Kenapa kau" Aaron menyentuh punggung Hana yang sakit.
"Aw, sakit" pekik Hana pelan membekap mulutnya, dia tidak ingin telinga Eliot mendengar Hana merasa terancam.
"Aku jatuh dari saat sedang mabuk" sahut Hana mencari alasan sebisanya.
"Benarkah, coba aku lihat" Ucap Aaron akan menyentuh kening Hana untuk melihat kejadian Hana yang sebenarnya, namun Hana yang peka dan meyakini bahwa pria yang dihadapannya bukan seorang manusia namun sebangsa dengan Eliot segera menghindari. Apalagi setelah Hana menyadari dirinya tidak terbakar dan orang di hadapannya pun tidak mati terbakar.
"Iya..., yang sakit itu punggungku, bukan kening" Senggit Hana.
Benar-benar wanita yang berbeda bahkan dia tidak memiliki ketakutan sama sekali saat menatapku.
"Tolong pergilah, aku tidak ingin pacar-ku marah saat melihat-mu. Aku sangat mencintai pacarku" ucap Hana mencoba berbohong dan,
__ADS_1
DREET... DREET...
Ponsel dalam tasnya tepat bergetar, Hana segera merogoh ponselnya. Hana membulatkan matanya karena telpon yang mengubunginya adalah Morris. Sungguh suatu kebetulan.
"Lihat..., dia sudah menelpon untuk menjemputku" Hana menunjukkan ponselnya yang masih bertuliskan "Morris sayangku"
Aaron mengerutkan kedua alisnya, masih belum mempercayai Hana, namun hati Aaron sangat terusik dan tak menyukai kalau Hana sudah memiliki seorang pacar.
Cih, hanya seorang pacar manusia, aku pasti sangat mudah untuk melenyapkannya.
"Ayolah tolong aku kali ini..., aku tidak ingin putus dengan pacarku" ucap Hana sekarang dia mulai gelisah saat melihat Eliot dan Lucas yang sedang berkeliaran mencarinya.
"Ohh, lalu apa imbalan yang akan kau berikan dan aku pun masih ada urusan dengan-mu yang belum kita selesaikan" Aaron yang merasa tidak rela kalau Hana mengusirnya dan mencoba mengikat Hana dengan sebuah perjanjian.
"Apapun... tolonglah!!" wajah Hana bertambah pucat karena Eliot makin mendekat dan ponselnya terus berdering. Hana tidak mungkin berdiri, dia pasti akan langsung terlihat oleh Eliot.
"Baiklah, pegang janji-mu. Aku pastikan akan menagihnya" Seringai Aaron dan dalam sekejab Aaron pun menghilang dari pandangan mata Hana.
Astaga. Hana membekap mulutnya sendiri, ternyata tebakannya benar bahwa pria tadi bukan manusia.
Hana kembali melihat ponselnya yang terus bergetar,
"Hallo" Hana mengangkatnya.
"Kemana lagi kau pergi, susah sekali akhir-akhir ini aku menemui dan menghubungimu" bentak Morris dari ujung telpon.
"A-aku..., aku ti-" Hana terkejut ketika ponselnya di tarik seseorang dan saat dia menoleh Eliot sudah menatap Hana dengan tatapan membunuh dan saat dia menyadari nama pemanggil telpon Morris dan tulisan yang tertera dalam panggilan membuatnya akan membanting ponsel Hana,
"Ja-jangan banting lagi, aku mohon" ucap Hana menghentikan tangan Eliot yang akan membanting ponsel Hana.
"Kau sungguh keterlaluan" mata Eliot berkobar berubah warna merah dan tangannya langsung mendekatkan ponsel Hana di telinganya.
"Hana kau mendengar-ku, kemana kau pergi selama ini" ucap Morris terdengar kesal karena Hana mengacuhkan ucapannya.
"Dia bersama-ku, kami sedang berbulan madu. Aku suami Hana, kalau kau masih ingin hidup jangan ganggu Hana" ancam Eliot tegas dan penuh kemarahan langsung mematikan telpon Morris.
Hana menggeleng tak percaya dengan ucapan Eliot barusan.
"Kenapa? Kau tidak suka. Tidak terima dengan ucapanku!" Eliot membelalakkan matanya seakan ingin menelan Hana hidup-hidup...
Hana menciut, tak bergeming. Pasrah ketika seketika Eliot menggenggam tangan Hana,
"Tunggu dulu" ucap Hana, Eliot mendelikkan matanya karena Hana mulai berani menentangnucapannya.
__ADS_1
"Itu..., tas dan obatku" ucap Hana melirik kerah bangku yang masih tergeletak tas dan obatnya yang baru dia ambil. Eliot memberi kode pada Lucas dan Eliot membawa Hana menghilang dengannya.
...Bersambung...