
Aaron memeluk erat tubuh Hana, dia tak memberikan sedikit celah pun padanya.
"Sayang, aku haus!" bisik Aaron lirih di telinganya.
Hana membalikkan wajahnya saat mendengar Aaron berkata. Dan, tepat Aaron tersenyum smirk saat dia berhasil membuat gadis itu menoleh padanya.
Aaron tanpa ragu menarik wajahnya, dia meraup pelan bibir Hana. Membuat gadis itu hilang kendali. Hana memejamkan matanya dan menerima semua perlakuan manis yang diberikan lewat sentuhan bibirnya.
Perlahan dalam ingatannya muncul beberapa adegan yang tak pernah dia bayangkan. Hana, dia tengah bergulat, berpagut penuh dengan kasih sayang bersama Aaron. Dalam bayangan itu Hana terlihat begitu bahagia dan menikmati semuanya.
Hana membuka matanya. Aaron tersenyum lembut menatap wajahnya. Dia terlihat seperti dalam bayangannya beberapa saat lalu.
"Ada apa?" Aaron bertanya dengan gelisah. Dia tahu wajah Hana sudah berubah.
Hana tak bergeming. Dia, tak mungkin mengutarakan pikirannya karena akan langsung terbaca oleh Aaron.
"Tidak, tapi aku mohon jangan kau ulangi lagi!" ucapnya lirih. Aaron membelai wajah wanita yang dicintainya itu.
"Maaf, aku tak bisa mengendalikan diri jika sedang berdekatan denganmu. Aku benar-benar tak bisa mengontrolnya, itu terjadi begitu saja," jelasnya. Aaron tak ingin wanita yang dicintainya malah menghindari setelah perlakuannya barusan.
__ADS_1
Dia, merasa sudah sudah payah merebut perlahan hatinya, tak ingin dia berpaling dengan mudah.
"Uhm, tapi bisakah kau melepaskan pelukanmu itu? Aku benar-benar risih!" Hana berkata. Namun, Aaron tetap menggeleng. Dia menolak melepaskan pelukannya.
"Aku mau ke toilet!" ucap Hana.
"Kau tidak sedang mencari alasan denganku kan?" dengus Aaron, dia takut sekali ditinggalkan oleh Hana.
"Ya ampun, kau masih tidak percaya. Kalau kau tak percaya, ikut saja!" sahut Hana ketus, dia pun lama-lama emosi dengan tingkah Aaron yang terus saja menempel.
"Ok, aku ikut!" cetusnya.
"Kau gila!" Hana beranjak dari duduknya, menghempaskan tangan Aaron yang melingkar di pinggangnya.
"Kau sungguh akan mengikutiku?" Hana membalikkan tubuhnya saat melihat Aaron masih mengekorinya.
"Kau kan yang bilang sendiri tadi!" Aaron tetap tak ingin kalah berbicara.
"Ada apa sih?" celetuk Rani, dia sudah dibelakang Aaron.
__ADS_1
"Kau mau kemana, Ran?"
"Aku kebelet!" ucapnya sambil memegangi perut. Nick dan Nath pun mengekori Rani.
"Nah, stop! Sudah ada Rani, kalian semua diam disini!" dengus Hana menarik lengan Rani pergi bersamanya.
"Kenapa sih, Han?" Rani melihat Hana urung-uringan.
"Haduuuhh, aku kangen suamiku!" ucapnya.
Hana mendorong pintu toilet. Dan. Brukk! Hana menarik wajahnya dan melihat Eliot sudah dihadapannya.
"Sayang, kau sudah pulang," ucap Hana tersenyum dan langsung melompat kepelukan suaminya.
"Uhm, ikutlah denganku!" ucap Eliot, dia mengulurkan tangannya pada Hana.
Hana meraih tangan suaminya dan mengikutinya menyusuri lorong hitam dan gelap juga berkabut. Eliot terus mengenggam tangan Hana dengan erat.
"Sayang, kita mau kemana? Tumben sekali kau membawaku ke tempat seperti ini? Kau hanya pulang sendiri? Dimana Lucas?" Hana bertanya dengan banyak pertanyaan. Namun, Eliot tidak menjawabnya, dia hanya diam dan melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1
"Hohoho, kau sedang main aksi tutup mulut denganku? Baiklah, aku juga tidak akan kalah denganmu!" ucap Hana. Dia sedikit kesal karena suaminya mengacuhkan.
Hana masih mengikuti langkah kaki suaminya. Lorong itu seperti tak berujung. Panjang dan gelap. Semakin lama Hana menyusurinya, tubuhnya mulai merasa kedinginan...