
Eliot hanya mengikuti Sheira yang tampak bahagia karena bisa berkeliling dengannya. Wanita itu terus melirik kearah Eliot. Namun, pandangan mata Eliot hanya tertuju ke depan tanpa memperdulikan siapa yang berada di sampingnya.
"Apa Pangeran selalu berada di istana?" Sheira berkata, memecah keheningan mereka. Dia, sepertinya sudah tak kuat untuk berlama-lama berdiam diri.
"Tidak, adakalanya pun aku berburu juga seperti yang lainnya!" Eliot menjawab dengan datar, tanpa menoleh kearahnya.
"Uhm, apa yang biasanya kau buru?" Sheira tak sabar. Dia, berbalik badan dan berdiri tepat dihadapan Eliot. Dia, sangat ingin Eliot bisa menatap wajahnya.
Eliot melarikan pandangannya sesaat menatap wanita dihadapannya. Wanita itu terlihat begitu sempurna, cantik dan tanpa celah sedikitpun. Bahkan tubuhnya yang terpampang nyata dihadapan orang biasa mungkin akan membuatnya tersihir oleh kecantikannya.
Namun, Eliot menaikan sudut bibirnya. Rahangnya mengeras, "Apa kau sedang merayuku?" tukas Eliot. Dia, tak ingin lagi berbasa-basi. Maksud dan tujuan Asher dan Sheira sudah sangat terbaca jelas oleh Eliot.
"Hohoho, apakah Pangeran Eliot tergoda olehku?" Sheira memajukan tubuhnya, memberanikan diri untuk menyentuh pipi Eliot. Namun, Eliot segera menghindarinya.
"Jaga sikapmu! Selama aku masih menganggapmu tamu. Aku tidak ingin mencari ribut dengan siapapun!" Eliot mencengkram kasar kedua tangan Sheira. Tatapan matanya sangat tajam. Dia tahu wanita itu mempunyai niat lain terhadap dirinya.
"Arrrggh, sakit Pangeran, kau menyakitiku!" Sheira berkata dengan sangat manja. Seolah mencari celah perhatian dari Eliot.
__ADS_1
Eliot segera menghempaskan tangan Sheira. Dia tak ingin terperangkap oleh jebakan wanita yang sedang menggodanya.
"Pangeran kau membuatku penasaran!" satu tiupan dari mulut Sheira ke wajah Eliot membuatnya sedikit runtuh. Eliot sedetik kemudian mematung.
Sheira menggandeng lengan kekar Eliot ke salah satu sudut pojokan taman bunga istana, "Pangeran, apa aku cantik?" ucap Sheira setelah dia berhasil membuat pertahanan Eliot runtuh.
"Uhm, kau memang sangat cantik!" Eliot berkata dengan sangat datar. Dia, sudah dikuasai oleh sihir wanita itu.
"Bagaimana kalau kau menguji kecantikanku, Pangeran," Sheira dengan mantra yang keluar dari bibirnya mengarahkan tangan Eliot agar menyentuh wajahnya. Mengarahkan tangan Eliot agar membelai wajahnya. Membelainya dengan lembut.
"Pangeran, aku mau kau menciumku sekarang!" ucapnya. Sheira terus memajukan wajahnya. Wanita itu kian mendekat diwajah Eliot.
"Apa yang kau lakukan, Nona Sheira?" sedetik kemudian wanita itu berhenti. Saat detik-detik yang dia rasa akan berhasil melakukan apa yang dia inginkan. Lucas muncul diantara mereka.
Sheira membuka matanya. Dia mengepal dengan erat kedua tangannya. Rencananya di gagalkan oleh kedatangan Lucas.
"Ah, kami sedang menikmati pemandangan," ucap Sheira. Lucas segera maju menghampiri Eliot. Dia, terus menatap wanita itu penuh dengan kecurigaan.
__ADS_1
"Antarkan Nona Sheira ke kamar tamu, sepertinya dia perlu beristirahat!" Lucas memberikan perintah kepada salah satu pengawal yang mengikutinya.
"Ba-baiklah, aku pamit dulu!" dia terpaksa membungkuk dan meninggalkan Eliot dan Lucas.
Lucas menepuk pundak kakaknya, "Kau, tidak apa-apa?" Mata hitam Eliot berubah menjadi biru saat disentuh oleh adiknya.
"Uhm, untungnya kau datang. Hampir saja aku menghianati istriku!" dengus Eliot.
"Kau sadar?" Lucas melirik kakaknya.
"Tadinya kalau kau tidak datang aku akan menuruti semua permainannya. Aku ingin tahu, apa yang sedang Asher dan Sheira rencanakan. Aku yakin, wanita itu dibawa Asher untuk menggodaku!" jelas Eliot. Dia, sebenarnya sudah menyadari sheira akan melakukan mantra. Eliot sengaja membuat wanita itu lengah. Eliot sengaja mengurangi kekuatannya agar Sheira memulai aksinya.
"Cih, harusnya kau bilang, aku kan tidak harus khawatir dan mengikutimu!" Lucas keki sendiri.
"Tidak apa-apa dan terima kasih. Sampai saat ini kau masih selalu berada disisiku dan tak pernah memihaknya!" ucap Eliot menepuk pundak adiknya.
"Aku kan tahu kejadian yang sebenarnya, mana mungkin aku memihaknya. Sebaiknya kau segera urus segalanya sebelum kita bawa pulang istri-istri kita itu!" tambah Lucas.
__ADS_1