SUAMIKU SERIGALA

SUAMIKU SERIGALA
Kau menang


__ADS_3

TRING.


Tubuh Hana langsung di dorong ke ranjang Eliot,


"Aw" pekik Hana, mata Hana langsung beradaptasi pada sekitar.


Lucas muncul memberikan tas dan obat Hana kepada Eliot.


"Pergilah, selesaikan urusanmu yang tadi tertunda" perintah Eliot, Lucas mengangguk dan menghilang.


Eliot yang masih menahan kemarahannya meremas ponsel Hana menjadi abu kembali untuk kedua kalinya di hadapan Hana.


"Arrrggghhh..., ya ampun El... kau malah menghancurkan ponselku lagi" renggek Hana beranjak bangun dari tempat tidur, bersujud dan menyentuh ponselnya yang sudah menjadi abu.


"Kau tidak memerlukan-nya selama tinggal di sini" Seringai Eliot melipat kedua lengannya menatap tajam Hana.


Hana mendelikkan matanya setelah mendengar ucapan Eliot.


"Tidak. Aku tidak mau. Pulang. Aku mau pulang sekarang!" Hana berdiri dan segera merajuk pada Eliot.


"Cih, kau fikir aku masih bisa tertipu" dengus Eliot.


"Aku nggak mau disini El, tolonglah... aku kan sudah bilang jangan pakai kekuatan-mu. Semakin lama aku disini perbedaan waktu di duniaku..., kau juga tahu" pekik Hana menunjukkan wajah cemberutnya.


"Aku tidak perduli" Dengus Eliot kesal memalingkan wajahnya.


"El... "


"Tidak!" ucap Eliot makin galak.


Hana menciut. Diam tak berani bicara. Hana melepaskan tangannya dari rujukannya kepada Eliot. Berbalik badan dan menepikan diri di ranjang Eliot.


Eliot meraih obat Hana. Berjalan menghampiri dan duduk di samping Hana yang masih berwajah cemberut.


"Biar aku obati punggung-mu" ucap Eliot, suaranya kini sudah berubah dengan kekhawatiran, Eliot pun tidak ingin Hana memiliki bekas luka yang di sebab kan olehnya.


Hana tetap dia, hanya menyibakkan rambut dan membalikkan punggung nya kehadapan Eliot. Hana tidak ingin apa yang sedang dia pikirkan terlihat ataupun terdengar oleh Eliot.


TRING.


Hana terkejut dirinya telah berganti baju tanpa susah payah, baju yang Hana pakai kini bagian punggungnya sudah terlihat jelas oleh Eliot tanpa perlu Eliot membuka resleting baju Hana.


Eliot menatap getir punggung Hana yang lebam, warna birunya sudah menyebar, Eliot mengoleskan perlahan salep pereda nyeri. Tangan dingin Eliot langsung membuat sekujur tubuh Hana mengigil seperti memasuki freezer. Tubuh Hana bergetar hebat ketika disentuh oleh tangan Eliot.

__ADS_1


Eliot menyadari tubuh Hana yang sudah bergetar hebat dan kulit Hana berubah putih pucat.


Eliot membalikkan tubuh Hana menariknya ke pangkuan Eliot.


"Jangan membantah dan keras kepala lagi ya..., biarkan aku gunakan kekuatan-ku untuk mengobati lukamu..." pinta Eliot bersuara lembut dan khawatir tubuh Hana akan bertambah parah jika tidak segera dia turun tangan.


Hana memalingkan wajahnya dan menggeleng pelan. Hana tetap keras kepala dengan keinginan nya untuk sembuh dengan obat resep dokter.


Istriku benar-benar keras kepala, jika tidak segera ku tangani, luka yang menyebar akan menggerogoti jantungnya.


"Sayang... " Eliot sudah mulai kehilangan kesabaran namun melihat wajah Hana yang terus memucat membuatnya semakin takut. Eliot takut kehilangan Hana.


Hana tetap tak bergeming. Hana tetap melakukan aksi tutup mulutnya sebelum keinginannya pulang di turuti.


"Swhh, aku benar-benar gila!" Dengus Eliot kesal menahan kemarahan, ia menarik wajah Hana dan menciumnya dengan rakus, dan...


TRING.


Hana terkejut dengan ciuman Eliot yang begitu membara. Eliot sudah menahannya sejak pagi, Hana hanya bisa pasrah. Hana tidak ingin terlalu banyak bergerak mengetahui punggung nya masih terasa nyeri oleh pelukan Eliot.


Hana merasakan tubuhnya seperti remuk berkeping-keping.


"Aw" teriak Hana.


Eliot yang gemas sekaligus kesal menggigit ujung bibir Hana dan melepaskan ciumannya.


Hana menyentuh bibirnya yang sakit karena gigitan Eliot barusan. Hana mendelikkan matanya.


"Apa. Kau tak suka. Mau marah. Silakan!" Delik Eliot kepada Hana tak mahu kalah, Hana masih menunjukkan wajah masam dan cemberut tanpa berbicara kepada Eliot.


"Iiihhh..., sebal, sebal!" Hana yang makin kesal malah memukul dada Eliot dengan keras, namun hanya membuat kedua tangan Hana sakit, memukul dada Eliot yang keras seperti batu.


Eliot tersenyum melihat tingkah istrinya yang sangat menggemaskan dan menarik hidung Hana.


"Kau benar-benar ya... " Senggit Eliot makin gemas.


"Lepas" pekik Hana bersuara kesal, menghempaskan tangan Eliot yang menarik hidungnya.


"Hahahaha... " tawa Eliot bergema, dia senang karena berhasil membuat Hana bersuara.


Eliot kembali menarik tubuh Hana kedalam pelukannya, memeluknya dengan erat.


Hana yang sudah memasang wajahnya dengan mode on cemberut segera memalingkan wajah menghindari tatapan Eliot yang tajam membuat degup jantung Hana tak berhenti berdebar.

__ADS_1


"Kau menang!" ucap Eliot yang dagunya bersandar di pundak Hana.


Hana menarik wajahnya melihat keadaan sekitar, wajahnya langsung berubah sumringah dan berbinar ketika Hana menyadari dirinya sudah berada dalam ranjang miliknya. Ranjang Hana.


Yes. Batin Hana.


"Kau senang sekarang, awas kalau kau berani macam-macam lagi dengan pacar manusia-mu itu" Dengus Eliot.


Cih... siapa juga yang mau macam-macam dengannya, dia yang menghubungi ku lebih dulu. Memang aku yang salah. Senggit Hana tak mahu kalah membalas dengusan Eliot di hatinya.


"Tetap saja aku tidak suka. Aku sudah bilang untuk menjauhi nya" Sahut Eliot membuat Hana lupa kalau Eliot bisa mendengar suara hatinya.


"O-ow" pekik Hana.


Hana membalikkan tubuh nya menatap kembali wajah Eliot yang terus menatapnya dengan tajam.


Seberkas senyuman langsung terpancar dari wajah Hana, Hana melompat kepelukan Eliot.


BLUSH.


Wajah Eliot memerah seketika jiwa keras serigalanya langsung luluh oleh pelukan Hana.


Astaga. Istriku sungguh berbahaya, bagaimana aku bisa terbuai oleh pelukannya yang begitu hangat.


"Aku lapar" ucap Hana dipelukan Eliot.


Eliot menarik perlahan tubuh Hana melihat wajah Hana yang merona merah karena malu.


"Kau sedang menggoda dan merayu-ku" ucap Eliot membelai pipi Hana.


"Iihh, bukan itu, aku sungguh lapar" ucap Hana segera menepis tangan Eliot dari pipinya, Hana tidak ingin Eliot wajahnya yang kembali memerah.


"Aku juga lapar dan haus, kau kan belum memberikan jatahku hari ini" bisik Eliot ditelinga Hana membuat bulu kuduk Hana berdiri semua.


"Bisakah hari ini kau mencari makananmu sendiri" ucap Hana ragu-ragu.


"Bisa, tapi aku harus makan lebih dari sepuluh orang baru bisa menutupi rasa haus-ku, sedangkan untuk rasa lapar tidak bisa digantikan dengan orang lain" ucap Eliot.


Hana berbalik menatap wajah Eliot tak percaya.


"Sungguh aku tidak berbohong, karena aku harus mencari rasa yang sama untuk mengurangi rasa haus-ku ini" ucap Eliot sambil mengecup kedua tangan Hana dan tatapannya tak berkedip sedikitpun.


Hana kembali terdiam tak bisa berbicara, dia hanya berfikir bagaimana bisa hidup berakhir menjadi seperti ini semenjak dia bertemu dengan Eliot.

__ADS_1


Hana tidak mungkin berpikir egois mengorbankan banyak nyawa hanya untuk menggantikan dirinya.


Bagaimana nasib begitu mempermainkan dirinya. Hana yang hanya ingin hidup seperti manusia pada umumnya, bisa menikah dengan normal dan memiliki keluarga yang utuh tidak seperti dirinya yang hanya dibesarkan di pantai asuhan.


__ADS_2