
"Aku panggil Lucas, ya" ucap Eliot.
"No. Aku nggak mau, kita berangkat naik taksi saja" Senggit Hana.
"Ta-pi"
"No. No" Sahut Hana makin tegas, Eliot menciut nyalinya ketika Hana mengeluarka taring kemarahan.
Istriku ini benar-benar serigala betina yang menggemaskan.
Eliot tersenyum tak bergeming atas ucapan Hana barusan.
Hana melingkarkan tangannya di lengan kekar Eliot, kepalanya bersandar di pundak Eliot saat mereka sudah berada di dalam taksi.
Istriku benar-benar menggemaskan. Eliot yang terus tersenyum sambil melirik Hana.
Taksi yang mereka tumpangi berhenti di sebuah rumah sakit, Hana berjalan masuk menggandeng tangan Eliot.
Mata Hana langsung focus pada sorot mata para wanita yang dilewatinya, satu demi satu wanita langsung menatap kearah Eliot, Eliot yang terlihat bersinar dengan tubuh tinggi atletisnmya, wajah tampan dan daya pikatnya membuat semua mata wanita melirik kepadanya.
Bahkan ketika Hana mendaftar untuk pemeriksaan, perawat yang mencatat data Hana malah terkesima melihat wajah tampan Eliot. Hana mendelikkan matanya dan menggandeng Eliot masuk ke dalam ruang tunggu setelah mendaftar.
"Jaga matamu" Senggit Hana kesal karena tatapan semua wanita yang melirik kearah Eliot ketika melewati mereka.
Eliot hanya tersenyum melihat tingkah Hana yang menutupi wajah Eliot dengan tubuhnya, Hana langsung duduk di pangkuan Eliot.
"Apa aku sedang di manja dengan kecemburuan-mu sayang" UCap Eliot memeluk pinggang Hana dan menyandarkan dagunya di pundak Hana.
"Cih..., siapa bilang aku..."
"Nona Hana" panggil perawat yang menyambanginya di depan pintu. Hana melirik kearah pintu dan berdiri dari pangkuan Eliot, tangan Eliot langsung meraih dan menggenggamnya dengan erat ketika Hana berjalan mendekati perawat tadi.
Hana mengikuti perawat yang menunjukkan meja dokter namun mata perawat wanita tadi malah terpesona oleh ketampanan Eliot.
Eliot tidak memperdulikannya hanya terus mengikuti langkah kaki Hana.
Seorang dokter laki-laki langsung memberikan senyuman dan mempersilahkan Hana untuk langsung duduk di tepi ranjang pasien. Mata Eliot langsung menatap geram saat dokter mulai mendekati Hana dan menyuruh Hana berbaring dengan posisi tengkurap.
"Saya akan mulai memeriksanya" Ucap dokter saat akan membuka resleting belakang baju Hana.
"Apa yang kau lakukan" Eliot menahan tangan dokter tadi, mencengkramnya dengan erat tatapan matanya langsung akan membunuh dokter tadi, Hana menolehkan wajahnya, dia tidak ingin pikirannya terbaca oleh Eliot dan dia harus bisa menenangkan emosinya.
"Maaf dokter, bolehkah suami saya yang membuka resleting baju saya" tukas Hana.
BLUSH.
__ADS_1
Wajah Eliot seketika memerah.
"Ba-baik nona" ucap dokter tadi yang dahinya sudah penuh dengan keringat dan tubuhnya yang bergetar saat melihat wajahnya Eliot yang akan menerkamnya.
"Apa kau juga perlu sampai melihat tubuh istriku" Senggit Eliot masih tak terima Hana melakukan pemerikasaan tubuhnya.
"Sa-saya harus memastikan seberapa parah kondisi dan serius dari luka pasiennya, Tuan" sahut dokter berusaha menjelaskan dengan sikap gugupnya.
Hana memiringkan tubuhnya dan bangun dari posisi tengkurapnya. Hana menarik tangan Eliot.
"Maafkan sikap suami saya, ya dokter. Dia memang sedikit kekanakan" ucap Hana mencoba mencairkan suasana menarik tangan Eliot dan langsung medekap tubuh Eliot, mencoba menenangkan emosi Eliot yang sudah terlihat berkobar dimata Hana.
"Ti-tidak apa-apa Nona, saya bisa mengerti kecemasan suami anda" ucap dokter tadi sambil menelan ludahnya saat melihat kembali wajah Eliot yang akan menerkamnya.
Hana menarik wajahnya menatap Eliot,
"Tolong bantu dokter buka resleting-ku" ucap Hana bersikap selembut mungkin, Hana tidak ingin tiba-tiba Eliot marah dan membakar rumah sakit menjadikannya abu.
Eliot memalingkan wajahnya dari dokter tadi ketika mendengar permintaan Hana, menatap Hana dengan lembut tatapan matanya langsung berubah hangat, tangannya perlahan membuka resleting baju Hana.
"Silahkan di periksa dokter" Ucap Hana masih dalam posisi duduk dan terus mendekap tubuh Eliot, Hana mencegah sesuatu yang akan terjadi.
Dokter mengangguk dan melihat lebam yang terdapat pada punggung Hana, dokter hanya meneliti dan melihat lukanya tak berani menyentuh.
Lukanya begitu parah, bagaimana Nona ini bisa mendapatkan luka seperti ini, apa Nona ini disiksa oleh suaminya yang tak berperasaan itu. Batin dokter saat melihat luka di punggung Hana.
BRAKK.
Dokter dan Hana langsung memalingkan wajahnya kepada bangku yang tiba-tiba hancur berkeping.
Tubuh dokter tadi bergetar ketakutan, dia tengak tengok mencari sesuatu yang memungkinkan bisa membuat bangku tadi hancur.
Hana menatap wajah Eliot yang berkobar.
"Se-sebentar saya akan buatkan resep obatnya" Ucap dokter segera meninggalkan Hana dan beralih ke meja kerjanya menuliskan resep untuk Hana.
Kedua tangan Hana menyentuh wajah Eliot dan meredam kembali emosi, Hana mencoba tersenyum semanis mungkin walaupun hatinya terasa pahit, Hana tahu pelakunya Eliot, dia pun sekarang mulai mengendalikan hatinya untuk tak berbicara sembarangan jika tidak ingin bernasib seperti bangku tadi.
"Tolong" ucap Hana lagi memberi kode pelan pada baju belakangnya yang masih terbuka dan Eliot pelan menutupnya.
Hana turun dari ranjang yang pasien berjalan pelan menghampiri dokter.
"I-ini resepnya" dokter tadi menyerahkan selembar kertas pada Hana dengan bergetar yang sudah tertulis resep untuk Hana.
"Terima kasih dok" Hana meraihnya dan segera meraih tangan suami serigalanya yang terus mengeratkan gigi menatap dokter tadi dengan geram. Hana segera membawa-nya keluar dari ruangan tadi.
__ADS_1
Apa itu, apa aku tidak salah lihat, dia terlihat seperti bukan manusia. Batin dokter lagi mengumpat Eliot saat badannya berbalik.
Dan.
BRAKK. BRAKK. GUBRAK.
Meja kerja dokter tadi langsung terbelah menjadi dua membuat dokter tadi yang sedang meletakkan tangannya di meja tersungkur ke lantai.
Hurf.
Hana yang mendengar meja tadi hancur hanya bisa menghela nafas.
"Astaga Eliot, kau yang benar saja" ucap Hana setengah berbisik saat keluar ruangan dokter tadi.
"Dia harusnya bersyukur karena aku tidak memakan dan membunuhnya hidup-hidup" Seringai Eliot menjawab ucapan Hana.
Harusnya tadi aku pergi sendiri dan tak mengajak dia. Benar-benar hari yang kacau.
"Berani kau pergi sendiri, kau akan terima hukuman yang lebih menyakitkan dari ini" Sahut Eliot mencengkram bagian dekat punggung Hana yang memar membuatnya meringis kesakitan saat Eliot mendengar suara hati Hana.
"Aw..., sakit" Pekik Hana.
Eliot memalingkan wajahnya saat Hana meringis sakit, dia pura-pura tidak mendengarnya.
"Lucas" panggil Hana.
Seketika waktu terhenti saat kedatangan Lucas. Lucas sudah ada dihadapan mereka.
"Ada perintah Nyonya" Sahut Lucas membungkuk dan memberi hormat.
"Tolong jaga Tuanmu sebentar, aku akan mengambil resep dan kalian tunggulah di sana" tunjuk Hana pada salah satu kursi tunggu.
"Baik Nyonya" Lucas mengangguk menerima perintah Hana.
"Hey, kau mau pergi sendiri tanpa aku" Senggit Eliot yang langsung kesal mendengar perintah Hana barusan.
__ADS_1