SUAMIKU SERIGALA

SUAMIKU SERIGALA
Shane


__ADS_3

Eliot menatap langit dengan gemuruh dan awan yang menghitam lalu beberapa detik kemudian seketika semua lenyap seolah tak pernah terjadi.


"Tuan" Lucas yang memahami telah terjadi sesuatu.


"Tak apa, memang sudah waktunya. Aku akan mencoba berbicara dengan raja agar kejadian lalu tidak terulang" Sahut Eliot yang sedang dalam perjalanan menuju istana besar milik keluarganya.


"Bagaimana dengan Nyonya" Tanya lukas dari matanya menghawatirkan Tuannya.


"Aku rasa dia mulai menyadari semoga tidak akan sulit kedepannya" Ucap Eliot dengan hatinya yang tidak karuan.


"Apa semua masih bisa di rubah, Tuan?"


"Entahlah. Lihat saja nanti" Eliot menimpali ucapan Lucas dengan tatapan khawatir.


.


.


.


"Hanaa..." Rani langsung berlari kepelukan Hana saat pintu kamar mereka berdua sama-sama terbuka.


"Kau tidak apa-apa kan, Ran?" Tatap Hana melirik kedua laki-laki kembar di belakang Rani.


"Tidak Han, mereka hanya duduk dan terus memegangi tanganku"


"Bagaimana dengan mu Han? Apa dia..." Rani melihat Aaron ragu-ragu.


"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir"


Hana melirik Aaron,


"Sudah kubilang mereka tidak akan melukai teman-mu. Jika mereka berdua serius, mereka harus meminta izin terlebih dahulu pada yang memberikan ikatan pasangan" Celetuk Aaron yang sudah mengerti Rani sudah mempunyai ikatan pasangan.


"Cih, memang bisa" Sewot Hana sambil kembali menatap Rani.


"Tentu saja. Tidak ada yang melarang nya di kaum kami. Asalkan mereka bisa berbagi dengan adil" Ucap Aaron membuat artian lain di telinga Hana dan Rani.


"Ah, seperti nya aku akan makan tiga porsi besar" Celetuk Hana yang mengusap perutnya, mengabaikan ucapan Aaron.


Bisa-bisa nya wanita ini mengabaikan ku. Dengus Aaron di hati.


"Ayo. Makanan sudah siap, kau boleh makan sesukanya" Ucap Aaron mengusap rambut Hana dan membawa Hana dan Rani ke meja makanan.


Hana melirik tangan Aaron yang dengan seenaknya bermain di rambutnya.


"Kenapa? Apa kau keberatan?" Aaron langsung menatap tajam Hana.

__ADS_1


"Cih" Dengus Hana membiarkan nya, Hana tidak ingin satu malah menjadi lebar.


Hana dan Rani langsung berbinar ketika melihat makaan yang tersaji.


"Han..., kita pesta. Ayo habiskan" Rani yang langsung mengambil satu piring besar dan mengambil satu demi satu makanan yang tersedia.


Hana mengangguk semangat dan mengikuti jejak Rani. Mereka berdua, Hana dan Rani makan dengan lahap.


Benar-benar menggemaskan. Aku harus bisa merebutnya. Merebut kembali posisiku perlahan. Aaron yang menatap Hana penuh arti.


"Jangan buru-buru aku bisa mengatur semua waktu kalian" Ucap Aaron yang memahami keadaan waktu istirahat Hana yang akan berakhir.


Hana berdiri dari bangkunya, setelah beberapa suapan.


"Mau kemana Han?"


"Aku ke toilet sebentar Ran, kebelet..." Hana yang meninggalkan meja.


Toilet nya dimana ya, pekik Hana di hati terus menyusuri lorong yang panjang dan gelap.


Kok sepertinya ada yang aneh. Kenapa toilet nya belum ketemu. Batin Hana bergelatut.


SRAKK. SRAKK. SSSHHHRRR...


Telinga Hana mendengar sesuatu yang mendekatinya namun saat dia menoleh dia tidak menemukan apapun.


Suara apa tadi? Seperti desisan. Hana membuang jauh-jauh pikiran yang membuatnya takut dan segera menemukan tanda toilet wanita dan memasukinya.


SRAKK. SRAKK. SSSHHHRRR...


Aaarrrgghh.


Hana berteriak histeris dan langsung tersungkur jatuh di lantai ketika dia membuka pintu toilet sekumpulan ular hitam telah menghandang dan langsung menyerangnya.


"Aarrghh, tolonggg... " Jeritan Hana terdengar langsung di telinga Aaron dan kedua lelaki kembar yang langsung melesat kearah suara.


Rani yang kaget dan binggung namun menyadari ada yang tidak beres mencoba menyusul mereka yang sudah menghilang secepat kilat ke toilet.


Seluruh badan Hana dibelit oleh sekumpulan ular hitam tadi, kedua tangan, kaki dan leher Hana sudah di cekik membuat Hana kehilangan nafas dan tak bisa bicara juga berteriak lagi.


Aaron dan kedua kembar langsung menyerang dan menyingkirkan ular-ular hitam yang hampir memenuhi ruang toilet wanita.


Sial, aku lengah. Aaron menyalahkan dirinya sendiri.


Rani membekap kedua mulutnya, mundur dan terjatuh di lantai ketakutan melihat begitu banyak kemunculan ular hitam yang memenuhi toilet.


ZRAZZ... ZRAZZ...

__ADS_1


Aaron langsung menarik kasar dan menghancurkan dengan tangannya ular-ular hitam yang membelit tubuh Hana.


"SHANE!! Keluar kau" Teriak Aaron penuh kemarahan setelah berhasil melumpuhkan semua ular-ular yang membelit di tubuh Hana.


TRING.


Sosok serba hitam muncul di hadapan mereka. Seorang wanita yang berpenampilan menyeramkan dengan ular-ular hitam yang menyelimuti tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan" Aaron menunjukkan bola mata hijaunya yang berkobar api kemarahan sambil memeluk Hana yang sudah pingsan.


"Aku hanya menggoda dan memberikan satu kejutan yang manis saja!" Ucap Wanita ular yang bernama Shane tadi tersenyum sinis kepada Hana yang sudah pingsan di pelukan Aaron.


"Menggoda katamu" Satu kepulan hijau yang berkobar muncul di tangan Aaron dan...


BLASH!! BRUKK.


Aaron menaruh perlahan tubuh Hana yang pingsan di lantai.


Satu lemparan dari tangan Aaron membuat tubuh Shane terpental ke tembok dan langsung meringis merasakan sakit.


Shane memuntahkan darah hitam dari mulutnya dan menatap Aaron penuh kemarahan. Shane mengepalkan kedua tangan nya.


"Ada apa dengan mu Aaron, kenapa kau begitu marah padaku" Ucap Shane memegangi dadanya yang terasa nyeri akibat pukulan dari Aaron.


"Dia hanya manusia biasa. Aku yakin kau berniat membunuhnya kalau aku tadi datang terlambat" Aaron yang terlihat geram dengan matanya hijau nya yang membara. Mencoba menahan kemarahannya.


"Sungguh a-ku tidak berani. Aku hanya penasaran dengan target buruan yang belum kau makan habis, biasanya kau tak akan menjadi selembut ini..." Ucap Shane bergetar ketakutan saat di seret paksa oleh kedua kembar kehadapan Aaron.


"Lancang. Penasaran. Sejak kapan kau punya hak mencampuri urusanku, hah" Aaron yang masih berkobar penuh kemarahan mencekik leher Shane hingga dia kesulitan bernafas.


"Ma-afkan aku, aku tidak akan mengulanginya!" Mencoba mengiba permohonan maaf pada Aaron.


"Kau tahu, untuk ku tidak ada kata maaf, jadi terimalah hukuman-mu" Aaron yang mencekik dan menghisap setengah kekuatan dari Shane membuat Shane langsung terkulai tak berdaya.


"Masukkan dia ke jurang hitam selama tiga hari" Perintah Aaron, Shane menggeleng ketakutan.


"Ti-dak, jangan masukkan aku kesana. Aku mohon jangan masukkan aku kesana..." Teriak Shane terus meronta sebelum di bawa menghilang oleh kedua kembar.


Rani berjalan bergetar masih dengan ketakutan di seluruh tubuhnya menghampiri tubuh Hana yang tergolek pingsan di lantai.


"Ha-Hana..., bangun Han... " Rani berusahalah menggoyangkan tubuh Hana yang masih belum sadar.


Aaron segera menyesuaikan keadaan dan meredam emosi nya sehingga bola mata hijaunya berubah seperti manusia biasa.


"Aku akan mencoba mengobati nya, kau tak perlu khawatir" Ucap Aaron menepuk pundak Rani.


"Sungguh kau bisa mengobati, tolong lah Hana, aku mohon" Rani yang sangat menghawatirkan kondisi Hana dengan lebam di seluruh tubuhnya.

__ADS_1


"Kembalilah ke kantor mereka akan mengantarkan mu dengan baik" Perintah Aaron seketika Rani berbalik sudah ada orang di belakang nya yang akan mengantarkan nya kembali ke kantor.


Rani mengganguk menuruti perintah atasannya, berdiri dan segera di antarkan oleh mobil limosin yang membawa Rani kembali ke kantor.


__ADS_2