
"Ada apa, sayang?" Eliot bagai serigala penurut segera menghampiri Hana. Dia menempelkan kepalanya, mengusap-ngusap dipundak istrinya. Mencoba menghentikan kemarahan yang seolah akan membakar mereka.
"Kau? Dan kau? Apa yang sedang kalian rencanakan?" delik Hana. Bukan mereda malah makin berang.
Eliot memberi kode untuk pelayan tadi keluar kamarnya. Mereka tak ingin kemurkaan istrinya dilihat.
"Apalagi sih, ay?" Aaron pura-pura tak mengerti.
"Heh, dasar serigala-serigala berandalan. Ini lagi pake ay, ay, segala. Memangnya siapa yang menyuruhmu memanggil seperti itu!" kecut Hana menatap Aaron dengan kesal.
Tangan satunya menunjuk wajah mereka secara bergantian. Satu lagi berada dipingangnya.
Aaron tak menyangka istrinya akan sangat berani sekarang. Hana berubah setelah tahu para suami serigala membutuhkannya.
"Aku tidak mau pakai baju seperti itu. Melihatnya saja sudah menyesakkan apalagi aku memakainya. Tidak bisakah kau mencarikan aku mini dress simple diatas lutut?" cetusnya masih berkeinginan sama.
Eliot dan Aaron saling melirik. Dia bukan tidak mau melakukan permintaan istrinya. Tapi, ini adalah pertemuan resmi dan akan ada pesta penyambutan untuknya.
"Sayang ...," Eliot mencoba mendekati.
__ADS_1
"Tidak mau. Kalau kau tidak memberikan pilihan baju lain. Jangan harap aku menghadiri apapun yang kalian rencanakan." Dengan delikan tajam dan berkacak pinggang Hana menatap mereka bergantian.
"Sudahlah, El. Mengalah saja. Mereka pasti memaklumkan. Mereka pun akan tahu kalau Hana adalah gadis berbeda. Jadi, jangan berdebat lagi dengannya," Aaron berkata yang tak dimengerti oleh Hana. Dia memberi kode keras kakaknya dengan putaran bola matannya.
Hana kembali menautkan alisnya saat mendengar Aaron berbicara.
"Haduh, apalagi sih yang kalian sembunyikan dariku? Aku benar-benar tidak mengerti. Banyak sekali rahasia yang harus aku tebak sendiri." Keluh Hana yang merasa tak nyaman pun berjongkok.
Memijat dahinya yang terasa pusing. Dia merasa berada di istana besar seperti masuk dalam jebakan para serigala. Membuatnya ingin sekali melarikan diri dari jeratan para suaminya itu.
"Bangunlah!" Eliot mengulurkan tangannya. Hana menggeleng kuat, dia tak mau bangun sebelum dapat jawaban pasti dari suaminya.
Tring! Satu jentikan jari dari Eliot, suaminya Hana, dia pun sudah berganti baju.
Hana mengenakan dress sabrina berwarna putih diatas lutut sesuai dengan permintaannya tadi.
"Ayo, kita harus makan siang.” Hana masih tak bergerak. Masih menatap mereka secara bergantian.
“Ada apa lagi, sayang?” ucap Aaron menghampirinya.
__ADS_1
“Aku mau ice cream strawberry, bisakah?” wajahnya berubah menjadi cemas sekarang. Eliot menatap lekat wajah istrinya. Dia tahu saat ini istrinya sedang gugup.
Aaron bersiap menjentikan jarinya setelah mendapat anggukan dari Eliot, “Jumbo cup dengan full toping strawberry fresh!” ucapnya menatap Aaron dan memegangi tangannya.
Mereka hanya bisa tersenyum saat melihat Hana yang gugup dan memakan ice cream strawberry sambil berjalan. Persis seperti anak kecil yang sedang makan gulali kapas. Terus mengatakan enak dan segar saat suapan masuk kedalam mulutnya.
“Hana!” pekik Rani. Dia dan Lucas menghadang mereka. Rani merengut saat melihat Hana makan ice cream. Dia pun seakan telah ribuan tahun tak memakannya.
“Uhm.” Sambil menyuapkan satu sendok ke mulutnya.
“Kok cuma satu sih? Kamu tidak ingat denganku,” dengus Rani sambil menghentakan kakinya di lantai dan saat dia melihat penampilan Hana dengan dress biasa saja makin menjadi.
“Aarrg! Kok dia bisa sih makan ice cream dan tak mengenakan gaun yang disiapkan!” Rani menolehkan wajahnya pada Lucas. Baru berjalan saja Rani sudah merasa pengap.
“Yah, kalau kau mau sepertiku ...,” Hana memutarkan bola matanya jahil kemudian berkata, “Kau juga harus menikahi Nick dan Nath secara bersamaan. Aku jamin kau akan mendapatkan perlakuan sepertiku!” kekeh Hana puas menggoda temannya.
“Agh. Tidak mau. Satu saja sudah membuatku repot apalagi tambah dua!” Rani bergidig ngeri. Hana dan mereka tertawa saat berhasil mengerjainya.
“Tapi, aku juga mau dong Han, satu suap saja!” Rani melangkah maju dan memajukan mulutnya. Meminta ice cream Hana.
__ADS_1
“Benar ya, satu suap. Tidak lebih!” Hana yang seperti aank kecil menyembunyikan ice cream tadi dibelakang punggungnya.
“Iya,iya. Ya ampun, enak banget Han,” Rani tak rela, dia mengigit bibirnya karena ingin makan lagi. Setidaknya dia masih dapat merasakan rasa yang sangat mereka rindukan.