
"Aku tidak akan menyerah, kau tahu itu kan?" Aaron menarik wajah Hana yang tertunduk.
"Aaron, bisakah kau tidak membahas ini lagi. Kau tahu, aku sudah menikah dan Eliot adalah suamiku satu-satunya!" tegas Hana.
Namun, Aaron tetap menggeleng kepalanya.
"Aku mencintaimu, Hana. Kau, selamanya ada dihatiku, tak akan pernah terganti!" sepertinya beribu kali pun dia mencoba bernegosiasi dengan Aaron tak akan pernah membuahkan hasil.
"Haduh, iya, iya. Ya sudah, terserah kau saja!" Hana sudah lelah berdebat. Dia, hanya bisa bersabar menghadapi tingkat Aaron.
"Han, kita jadi nonton filmnya kan? Ini aku sudah membeli tiket!" Rani datang membawa tiket nonton dan belanjaannya yang masih dibawakan oleh Nick dan Nath.
"Uhm, jadi, tapi-," Hana memberikan kode pada beberapa dua pengawalnya agar mengambil belanjaan yang berada di tangan kedua kembar dan menaruhnya di mobil.
"Ya ampun, Han, ngapain sih kau berbaik hati seperti itu. Aku memang sengaja menyuruh mereka membawanya!" Rani yang tersenyum kecut saat Hana menyuruh pengawal mengambil belanjaan dari tangan kedua kembar.
"Haiss, sudah Ran, kita kan mau nonton. Masa kau masih saja mengerjai mereka. Kasihan mereka dong, biarkan mereka juga bersenang-senang," ucap Hana mencoba menenangkan hati temannya yang kacau.
"Ya sudah, ayo kita masuk!" Rani menyambar tangan Hana agar tak terus-terusan di pepet oleh Aaron.
"Hei, mau kau bawa kemana istriku?" Aaron yang mulai menggila memanggilnya dengan sebutan istri.
__ADS_1
"Istri, istri, dasar serigala berandalan, kau itu tak puas ya jadi pebinor. Sadar diri-lah!" cetus Rani ketus.
"Pebinor? Apa maksud ucapanmu?" Aaron yang tak paham panggilan Rani.
"Iya, kau itu Pe-bin-or, perebut bini orang!" selorohnya sambil berkacak pinggang.
"Hah, astaga. Kau, wanita mulutmu!" Aaron yang melangkah maju akan membuat perhitungan dengan Rani.
"Wo-wo-wo, sudah sudah. Kalian ini ribut terus. Memangnya tidak capek!" hardik Hana.
"Tidak!" kompak keduanya menjawab. Hana menyentuh dahinya yang tiba-tiba terasa nyeri.
"Ok, terserah!" tak sengaja Hana malah menarik tangan Aaron ikut bersama dengannya, masuk lebih dahulu ke ruang bioskop.
"Arghh!" pekik Hana.
"Ssst! Jangan berisik!" Aaron membawa Hana duduk di bangku bersandar yang mirip seperti tempat tidur.
Hana berusaha melepaskan pegangan tangan Aaron, tapi usahanya tetap sia-sia. Dia, ingin meminta pertolongan Rani. Namun, Rani malah dihimpit oleh kedua kembar. Mereka berdua mengamankan posisi Rani.
"Aaron!"
__ADS_1
"Uhm."
"Bisakah kau?"
"Tidak. Diamlah, kita kan hanya menonton. Nikmati saja tontonannya!" Aaron menarik tubuh Hana kedalam pelukannya. Dia, membelai rambut dan sesekali mengecup keningnya.
Baiklah Han, kali ini kau mengalah saja.
Aaron tersenyum saat mendengar suara hati Hana.
Cepat atau lambat, aku pasti bisa membuka hatimu, Hana. Kau, dia dan dirimu adalah ikatan yang tak bisa dilepaskan begitu saja.
***
"Aku mohon Baginda Raja dan Permaisuri mau mengabulkannnya!" pinta Eliot. Dia sudah mengutarakan maksudnya soal Hana yang tak perlu menjalani ritual pembuka masa lalu. Saat Eliot nanti membawanya ke istana besar.
"Kau yakin akan melakukannya itu, Pangeran? Kau tidak akan menyesal? Kau tahu resikonya kan?" Baginda Raja mengingatkan sesuatu yang tak mungkin Eliot dapat lupakan begitu saja.
"Aku tahu Baginda Raja. Namun, aku tak ingin kehilangannya lagi!" Eliot yang tetap bersikeras dengan kemaunya.
"Dia pasti akan terluka dan terlebih lagi aku akan kecewa. Sebaiknya kau pikirkan kembali. Kami, hanya ingin yang terbaik untuk kalian semua!" Permaisuri berkata. Dia benar-benar sangat menghawatirkan kondisi juga perasaan anak-anaknya.
__ADS_1
Bagaimanapun dia seorang ibu. Dan ibu selalu mengingatkan juga menginginkan yang paling baik untuk putra-putranya.