
Putri An Han menahan mual di tubuhnya.
"Bagaimana, apa kau mau menukar dirimu dengan keselamatan adikmu itu"
Seringai laki-laki tadi masih menatap Putri An Han dengan tajam.
Tidak aku tidak boleh membiarkan sesuatu yang buruk terjadi dengan adikku.
"Ba-ba-ik, aku Terima"
Cih. Mulutmu berkata iya tapi tubuhmu bergetar.
"Kalau begitu..., berikan aku jaminannya terlebih dahulu"
Lelaki tadi langsung mengeluarkan sebilah pisau dari celananya.
An Han langsung bergidik, dia tak mungkin berlari ataupun melarikan diri dengan kondisi kakinya yang terkilir. Dia bahkan belum sempat memeriksa kakinya yang sudah mati rasa.
"Tu-tuan..., bisakah anda melihat kondisi kakiku. Sangat sakit dan tidak nyaman. Bagaimana kau bisa menikmati dagingku jika di sebelah sana sudah membusuk... "
An Han mencoba memberanikan diri membujuk dan bernegosiasi. Berusaha mengalihkan perhatian laki-laki tadi.
Lelaki tadi memicingkan matanya menatap An Han, namun sedetik kemudian dia melirik kaki An Han yang sudah mulai membiru akibat terkilir.
Lelaki tadi mengarahkan pisau tadi pada bagian kaki dan langsung merobek dengan pisau tadi.
SREK. SREK.
Suaranya terdengar jelas oleh An Han, dia ingin menarik kakinya namun tak bisa dia gerakkan. Hanya dalam hitungan beberapa menit luka di kaki An Han sudah di ikat dengan perban.
Ah, dia sudah membalut lukanya. Sekarang apa lagi. Aku harus mencari alasan apa agar dia tidak meminum darah dan memakan daging ku.
Wajah An Han sudah mulai ketakutan saat lelaki tadi mulai menghampiri nya.
"Tu-tuan... "
"Apa lagi" Bentaknya sambil mendelikkan mata.
"A-adik-ku. Antarkan dia pulang. Aku tidak ingin dia melihat kau meminum darah dan memakan daging ku."
Suara An Han masih bergetar, dia tidak tahu apakah ucapannya kali ini akan berhasil atau tidak.
"Hah. Manusia sungguh merepotkan. Berikan darahmu, aku sudah membalut lukamu"
Lelaki tadi kembali memicingkan matanya menatap An Han dengan tajam dan langsung menarik tubuh An Han, membawa An Han kedalam mulut gua yang tak bercahaya.
"Arrrggghhh, tidak aku mohon. Ja-ngan..., arrrggghhh!!"
GRAUK.
Teriakan An Han sudah tak terdengar lagi. Lelaki tadi sudah menancapkan mulutnya di leher An Han dan membuat An Han pingsan.
An Han tak sadarkan diri, dia jatuh dalam pelukan lelaki tadi. Sesaat lelaki tadi terpesona menatap wajah manis An Han. Dia menunjuk nunjuk pipi An Han yang kenyal dengan jari nya.
Sial. Lucu dan menggemaskan. Bagaimana bisa rasa lemah ku bangkit begitu saja dengan mudah ketika aku menatap wajahnya. Bahkan ketika aku menyantap ratusan darah dan tubuh wanita tidak seperti ini.
__ADS_1
Tiba-tiba lelaki tadi mengusap rambut An Han dengan lembut dan tersenyum.
Keesokan harinya, An Han terbangun dia melihat sekitar dan tidak menemukan sosok An Ran.
Dimana adikku. Ash..., ssshh, sakit.
An Han menyentuh lehernya yang terasa nyeri, dan
BLASH.
Saat An Han menoleh lelaki tadi sudah muncul di hadapan nya dengan membawa berbagai macam buah dan makanan.
"Makanlah yang banyak. Aku tidak suka makan manusia tak berdaging"
Lelaki tadi langsung melemparkan buah dan makanan ke pangkuan An Han.
An Han menatapnya.
"Di-dimana adik-ku"
"Sesuai permintaan mu, bukankah kau tidak ingin dia melihat ku meminum dan memakan dagingmu"
GLUK.
An Han meneguk air ludahnya sendiri, rasa takut kini langsung membayang kembali di pelupuk matanya. Baru saja dia sedikit bernafas, kini secara tidak langsung dia merasakan leher nya di cekik.
"Kenapa. Apa aku salah bicara"
An Han menggeleng pelan.
Jangan pancing emosinya An Han. Kau harus bisa membujuknya. Dia pasti bisa kau bujuk. Tenanglah.
"Aku lapar"
Ucapnya mendekati tubuh An Han, An Han yang sudah sedikit membaik dari luka terkilir mencoba untuk bangun dan menghindari lelaki tadi, namun apa daya tubuh lelaki tadi lebih besar di banding apapun dengan tubuhnya yang seperti lidi.
An Han di tarik ke pelukannya,
"Biar aku periksa bagian mana dahulu yang akan ku sayat"
Lelaki tadi yang berhasil membawa An Han duduk di sebuah batu dan memangku nya. Dia mengeluarkan pisau dan mulai memeriksa dengan pisaunya dari wajah An Han, leher perlahan dia melepaskan baju An Han, An Han segera menutupi.
Lelaki tadi melemparkan pisaunya,
"Sepertinya akan lebih enak kalau di gigit langsung!" Seringai nya sambil mendekat kan wajahnya dan mengendus harum tubuh An Han.
Hmmm..., begitu menyegarkan.
Mata hijaunya kembali menyala, An Han menutupi lehernya dengan kedua tangannya.
Lelaki tadi menatap An Han,
"Jadi aku harus mulai dari mana" Dengus nya terdengar kesal.
Benar-benar sial, baru dua hari bersamanya..., kemarin aku masih berhasil menahannya. Sekarang dia menunjukkan wajahnya yang seperti itupun bahkan bisa membangkitkan kelemahan ku. Kalau begini bagaimana aku akan meminum darah dan menyayat dagingnya. Pekik Lelaki tadi.
__ADS_1
"Na-nama. Sia-pa namamu. Aku seharusnya tahu nama orang yang akan meminum dan memakan daging-ku"
An Han mengkerejap dengan tubuhnya yang masih bergetar.
Heh. Berani sekali wanita manusia ini. Padahal seluruh tubuh nya sudah gemetaran. Cibir lelaki tadi.
Lelaki tadi menarik wajah An Han,
"Aaron. Namaku Aaron. Ingat itu. " Aaron tanpa ragu lagi menarik wajah An lebih dekat dan mencium bibir An Han dengan lembut.
Sedetik kemudian Aaron melepaskannya.
"Aku tidak akan melepaskan-mu. Aku sudah memberi tanda padamu. Dan kau adalah milikku"
Ucap Aaron merebahkan tubuh An Han di atas batu, melepaskan semua pakaian An Han yang tersisa. Menyerang An Han dengan lembut tanpa adanya perlawanan dari An Han. An Han menerima semua sentuhan yang di berikan oleh Aaron dengan sangat manis.
Setelah kenyang Aaron menarik tubuh An Han dan mengecupnya. Merapikan pakaian An Han dan Aaron pun dapat merasakan bahwa ini pertama kalinya An Han membuka ikatan pasangan bersamanya.
"Apa aku sudah boleh pulang"
Ucap An Han terdengar ragu saat menatap wajah An Han.
"Pulang. Hah. Berani sekali kau tawar menawar denganku. Kau lupa, nyawa mu sudah di tukar dengan adik mu" Seringai Aaron yang berubah kesal ketika An Han berkata pulang.
"Ta-tapi kan Tu-an sudah minum dan... "
An Han menatap wajah Aaron perlahan.
PLETAK.
Satu sentilan keras mendarat di kening An Han.
"Baiklah, kita akan pulang"
Ucap Aaron, seberkas senyum langsung mengembang di wajah An Han.
"Su-ngguh"
Aaron mengangguk.
"Tentu saja, tapi kau pulang ke tempat ku"
Dengus Aaron berdiri dan menarik perlahan tubuh An Han ke dalam pelukannya.
Arrrggghhh. Kenapa aku harus lari ke hutan sih. Lolos dari pangeran Mor aku malah bertemu serigala gila. Batin An Han.
Aaron menautkan kedua alisnya saat dia mendengar umpatan yang keluar dari mulut An Han. Sedetik kemudian seberkas senyum langsung mengembang di wajahnya.
Dan.
TRING.
Saat mereka keluar dari mulut gua pakaian Aaron berubah.
Hah, apa ini. Ba-bagimana dia bisa berganti baju secepat itu. Apakah dia siluman. Batin An Han. Tubuhnya masih bergetar ketakutan.
__ADS_1
Aaron menaikan tubuh An Han ke atas kuda lebih dahulu sebelum dirinya duduk di belakang An Han dan memeluknya dengan erat.
Ah. Ayah. Ibu..., aku salah..., bagaimana nasibku sekarang. Harusnya aku tak menolak perjodohan dengan pangeran Mor. Batin An Han berteriak menyesali semua perbuatannya...