SUAMIKU SERIGALA

SUAMIKU SERIGALA
PINTU PERTAMA


__ADS_3

Di hadapan mereka tercipta empat pilar dengan pintu yang berbeda. Mereka sama-sama melangkah maju menuju pintu pertama dari ilusi yang dibuat oleh Norman dan Spargo.


Bugh! Hana baru saja membuka pintu dihadapnya. Seseorang sudah memeluknya dengan erat.


"Hurf! Tak bisakah kau, tidak membuatku cemas seperti sayang?" Hana seakan salah mendengar, kedua matanya mengkrejap sempurna bahkan hidung dan tubuhnya dapat mencium aroma khas juga kehangatan yang sama. Aroma tubuh Eliot.


Gadis itu terpaku sesaat, pikiran baru saja akan berputar dan berpikir kenapa suaminya bisa berada di hadapan. Bukankah suaminya tadi ada di depannya saat masuk ke arena pertarungan.


Hana menggeleng kuat. Ini pasti salah ada yang salah. Pikiran sendiri merancu tak jelas.


Aku pasti salah lihat. Tetap gadis itu tak percaya dengan apa yang dia rasakan sekarang.

__ADS_1


"Sayang, hei, ada apa? Kenapa denganmu? Kenapa kau diam? Bukankah, ini kemauanmu? Sekarang hanya ada kita berdua. Hana dan Eliot, hanya kita berdua, sayang!" Benar apa yang dikatakan laki-laki dihadapnya. Ini harapan terbesarnya dan sekarang sudah terwujud. Laki-laki yang dia pikir berwujud sebagai Eliot, suaminya.


"Ta-ta-pi, bagaimana caranya kau bisa masuk? Kau kan tadi ada di depan?" Hana melepaskan perlahan pelukannya. Dia masih tak yakin itu suaminya. Suami yang paling dicintainya. Mengingat dia, pernah tertipu satu kali. Kali ini dia pun tidak akan tertipu dengan mudah.


"Bukankah kau ingin pulang? Aku bisa mengantarkanmu pulang sekarang. Kita akan pulang dan kita hanya akan berbahagia. Berdua saja. Kau dan aku!" bujuk Eliot, menggenggam tangan dan mengusap pipi Hana dengan lembut. Cara yang paling Hana sukai ketika suaminya sedang bersikap lembut seperti itu.


"Pu-pulang?"


"Uhm, pulang. Kita akan pulang bersama-sama. Kita hanya perlu melewati pintu itu bersama-sama saja!" tunjuk Eliot. Hana mengalihkan pandangan matanya. Mengikuti arahan tangan Eliot. Samar terlihat pintu berwarna biru yang diselimuti asap. Tak terlihat jelas. Tapi, Hana yakin itu memang sebuah pintu.


"Ayo, sayang, aku sudah tidak sabar lagi. Disana hanya akan ada kita. Cinta kita dan kau tak perlu lagi berbagai suami atau aku berbagi istri dengan laki-laki lain!" bujuk ratunya terus bergema berulang kali di telinga Hana. Sedikit pusing dan membuatnya benar-benar sakit kepala.

__ADS_1


Eliot sudah mengembangkan senyuman penuh kemenangan selangkah lagi mereka berdua akan masuk bersama ke dalamnya.


"Pergi saja kau sendiri! Aku bisa pergi tanpa dirimu!" Hana mendorong kasar tubuh Eliot. Kesadarannya kini benar-benar pulih.


Lalu matanya mendelik dan tubuhnya roboh didepan pintu. Dari dalam pintu tadi ribuan tangan menangkap tubuh Eliot, mencabik-cabiknya tanpa sisa. Bahkan teriakan penuh kepiluan terdengar di telinganya. Eliot mati tak bersisa dan pintu pun tertutup.


Hana berhasil melewatinya. Sekarang kumpulan sinar cahaya berwarna terang menyilaukan matanya. Muncul kembali dihadapnya sebuah pintu berwarna putih dan pintu itu langsung terbuka menyambut pemiliknya.


Dengan tubuh yang masih setengah bergetar, Hana mencoba bangkit dan mendekati pintu tadi. Dia berjalan sambil menembus cahaya yang menyilaukan matanya. Dan, brukk! Pintu tadi tertutup dengan kencang.


Hana kembali roboh. Tubuhnya benar-benar mengigil dan bergetar. Matanya bahkan berurai deras. Seperti sangat nyata baginya. Melihat Eliot mati secara mengenaskan didepan matanya.

__ADS_1


Nafasnya pun masih memburu dengan kencang, "Woww, luar biasanya. Kau benar-benar memang gadis pilihan!" Hana menegadahkan wajahnya kearah suara. Suara Matius.


Dan kini, matanya benar-benar terbuka lebar. Hana menangis sejadi-jadinya. Meraung dengan keras sambil memukuli dadanya. Syukurlah kau masih hidup sayang. Aku tidak tahu, jika itu benar kau...


__ADS_2