SUAMIKU TERNYATA PRESDIR

SUAMIKU TERNYATA PRESDIR
HADIAH DARI IMEL


__ADS_3

Dari pintu yang tidak tertutup Dewa masuk membawa nampan berisi jus buah dan cemilan untuk ketiga remaja tersebut.


"Maaf ya adek-adek kalau kakak mengganggu obrolan kalian, kakak cuma mau nganterin cemilan supaya kalian makin asyik ngobrolnya."


Ketiga gadis remaja itu refek menoleh ke arah sumber suara.


"Terimakasih kak Dewa, kak Dewa baik banget, beruntung Nuri punya suami seperti kak Dewa." Imel memuji.


"Adek Imel bisa aja, kakak jadi besar kepala."


"Terimakasih ya kak, maaf kalau kami ngerepotin kak Dewa dengan kedatangan kami."


"Tentu saja tidak donk, kakak senang kalian datang, rumah jadi rame."


"Terimakasih kak karna kakak menerima kami dengan baik."


Dewa tersenyum tipis menanggapi ucapan Juli.


"Adek Imel dan adek Juli makan siang disini ya, kita makan sama-sama." Dewa menawarkan.


"Tentu saja kami mau kak." antusias Imel.


"Apaan sieh lo Mel, bikin malu saja."


Dewa terkekeh, "Tidak apa-apa adek Juli."


"Ya sudah, kalian lanjutkan ngobrolnya."


"Kak." panggil Juli yang membuat Dewa berbalik.


"Aku bantuin kakak masak ya." Juli menawarkan jasanya, padahalkan tuh anak gak bisa masakkan ya.


Imel dan Nuri langsung dengan cepat memutar lehernya dengan cepat ke arah Juli, baik Nuri dan Imel tentu saja berfikir hal yang sama, namun Imel memilih menyuarakan apa yang ada difikirannya.


"Emang lo bisa masak Jul."


"Iya bisalah." ucapnya dengan ragu.


"Bisa apaan, perasaan motong tempe saja lo gak bisa."


"Walaupun gue gak bisa, ya gak ada salahnyakan bantuin kak Dewa, ya ngupas bawang, yang pentingkan ada niat untuk bantu, iyakan kak Dewa."


"Boleh kalau adek Juli mau bantu, tentu kakak senang."


"Ayok kalau adek mau bantuin."


"Siap boss." Juli kemudian mengikuti Dewa menuju dapur.


"Gue juga ikut bantuin." Imel ikut-ikutan.


"Kok elo ikut-ikutan juga sieh Cahyo, gue sama siapa disini."


"Elahh manja amet dah lo, gitu aja pakai ditemenin." Imel berlari menyusul Dewa dan juga Juli.


"Ahh dasar." rutuk Juli karna dia ditinggalkan sendirian.


****


Juli dan Imel bertepuk tangan girang saat semua masakan sudah terhidang dimeja, makanan rumahan sederhana, ada tumis kangkung, sayur bening, tempe, ikan asin dan sambal terasi, tapi makanan sederhan itu terlihat menggiurkan dan menggugah selera makan Imel dan Nuri.


"Yeyyyy, masakan kita sudah jadi dan siap untuk disantap." gumam Imel penuh kebanggaan, padahalkan kerjaannya cuma grecokin doank didapur, masih mendinglah Juli yang sedikit agak membantu meskipun itu hanya sekedar mengupas bawang doank.


"Adek duduk dulu, kakak mau panggil adek Nuri dulu."


"Oke kak."


"Meskipun sederhana, tapi makanan ini terlihat enak, gue sangat jarang makan-makanan kayak gini setelah menikah dengan Qian, Qiankan sukanya makanan-makanan yang berbau eropa begitu."


Gak lama, Dewa datang dengan menggendong Nuri karna Nuri masih belum bisa berjalan karna disebabkan oleh kakinya yang masih sakit.


"Cie ciee ekhem ekhem, yang pengantin baru, mesra bangett eyuyy, bikin sik Juli jadi iri saja." Imel menggoda.


"Kok bawa-bawa gue sieh, ya gaklah, yang ada elo kali iri."


"Guekan punya suami keles, gue juga sering banget digendong sama suami gue tersayang, emang elu yang belum menikah." ledek Imel.


Dewa mendudukkan Nuri dikursi yang tersisa.


"Heh, lo berdua, jangan berdebat napa, gak baik berdebat didepan makanan." intrupsi Nuri.


"Benar apa yang dikatakan adek Nuri, sebaiknya kita makan sekarang oke."


"Asiaaappp." kompak Imel dan Juli.


*****


Setelah sore hari, Imel dan Juli pamit pulang, kini hanya menyisakan Dewa dan juga Nuri dirumah.


"Teman adek asyik ya, ramah dan gampang akrab dengan orang baru."


"Hmmm." respon Nuri malas.


"Pakettt." dari depan pintu terdengar sebuah teriakan dari kurir yang biasa mengantarkan barang.


"Ehh paket gue udah datang." Nuri terlihat bersemangat, dia mencoba untuk berdiri mengambil pesanannya.


"Adek duduk saja, biar kakak yang ambilkan."


"Uangnya…."


Dewa sudah melangkah kedepan sebelum Nuri menyelsaikan kalimatnya, dan satu menit kemudian, Dewa masuk dengan membawa bungkusan berwarna hitam.


"Ini pesanan adek." Dewa menyerahkan paket tersebut ke tangan Nuri.


"Uangnya…"


"Kakak bayar pakai uang kakak."


"Nanti aku ganti uangnya."


"Apa sieh adek, kayak sama siapa saja, masak sama suami sendiri pakai main ganti-ganti segala."


"Ya udah terimakasih kalau begitu." Nuri bersyukur juga, itu berarti uangnya aman.


Nuri dengan cepat membuka bungkusan paket tersebut, ternyata Nuri memesan sebuah tas berwarna merah marun, mata Nuri berbinar melihat tas tersebut, dengan senyum mengembang dia mencangklongkannya dilengannya.


"Bagus gak." Nuri meminta pendapat Dewa.


"Bagus adek."

__ADS_1


"Imel dan Juli pasti iri nieh kalau lihat tas baru gue, sudah gak sabar gue ingin masuk kuliah."


Dewa tersenyum melihat kelakuan Nuri, gadis labil yang memang lagi senang-senangnya pamer-pameran.


*****


Malamnya Nuri mendapat chat dari Jundi, bunyi chatnya adalah.


Jundi : Malam Nuri


Kok Nuri agak gimana gitu saat mendapat pesan dari Jundi, ada sedikit desir aneh gimana gitu, desir aneh yang membuatnya menyunggingkan sebuah senyum dibibirnya.


Dengan cepat Nuri membalas.


Nuri : Malam kak


Jundi : Nuri kok tidak aku lihat masuk kuliah tadi pagi


Nuri : Iya kak, memang aku gak masuk, lagi sakit soalnya


Jundi : Astaga, kasihan sekali


Nuri : Cuma sakit biasa kok kak, bukan penyakit mematikan, jadi gak perlu panik


Jundi : Kalau kamu mengizinkan, aku ingin menjenguk kamu, boleh gak.


Nuri jadi dilema, gak mungkinkan membiarkan Jundi datang ke rumah untuk menjenguknya, bisa-bisa Dewa marah lagi, meskipun Nuri tidak menyukai Dewa, tapi diakan istri sahnya Dewa dan Nuri menghormati Dewa.


Nuri : Gak usah kak, besok juga aku sudah bisa kok masuk kuliah, cuma sakit biasa doank kok ini.


Nuri tidak menceritakan apa yang sebenarnya menimpanya.


Jundi : Baiklah kalau begitu, sampai ketemu besok Nuri.


Nuri : Iya


Nuri terlihat senyum-senyum begitu, dan Dewa memergokinya saat dia memasuki kamar, Dewa curiga melihat sang istri.


"Senyum-senyum kenapa adek."


Teguran tersebut membuat Nuri kaget dan sekaligus juga kesal.


"Apaan sieh lo main masuk saja." sungut Nuri.


"Maafkan kakak adek, kakak hanya mau mengambil pakaian kakak." Dewa menunjuk lemari.


"Meskipun begitu, ketuk dulu kek, jangan main masuk sembarangan donk, kalau gue lagi ganti baju gimana."


Dewa menjawab begini dalam hati, "Walaupun adek mengganti baju emangnya kenapa, kitakan suami istri, jadi sah-sah saja kalau aku lihat."


Ucapnya dilisan, "Sekali lagi kakak minta maaf adek."


Nuri tidak menanggapi.


"Sama siapa chatnya, kok sepertinya senang banget." Dewa masih menanyakan penyebab Nuri yang senyum-senyum tadi, dia curiga kalau istrinya menyukai seseorang, Dewa tentu saja tidak suka akan hal tersebut.


"Bukan urusan lo."


Lama-lama Dewa mulai jengkel juga sieh dengan sikap Nuri, apalagi istrinya tersebut dengan tidak sopannya ber elo gue.


"Adekk, bisa tidak kakak minta kalau adek stop ber elo gue, ingat lho dek, kita itu suami istri, adek itu harus sopan sama kakak." suara Dewa terdengar tegas.


Ingin membantah, tapi kok Nuri rasanya takut sehingga dia cukup puas hanya diam.


"Tapi…"


"Tidak ada tapi-tapian ya dek." tandas Dewa tegas, "Adek harus manggil kakak dengan panggilan kakak, jangan panggil elo, itu tidak sopan."


Karna diceramahi begitu,Nuri akhirnya menyerah, "Hmm, baiklah."


Dewa kemudian berjalan menuju lemari untuk melaksanakan niatnya untuk mengambil apa yang dia cari.


"Ishhh menyebalkan, marah-marah tidak jelas." desis Nuri saat Dewa sudah keluar.


Imel terlihat mengirim sebuah gambar diwhatsap group, Nuri reflek membukanya.


"Apaan sieh ini yang dikirim oleh Imel, benar-benar tidak punya kerjaan banget sik sialan itu." Nuri jadi geli saat melihat pakaian tipis menerawang yang dikirim oleh Imel.


Imel : Nur, menggoda iman bangetkan.


Juli : Hehh dodol, apa itu yang lo kirim.


Imel : Bocah kayak lo gak perlu tahu ya panjull


Juli : Sialan lo


Imel : Woee Nur, komen donk, itu hadiah gue buat lo, hadiah pernikahan elo sama kak Dewa.


Nuri : Iuhhh, geli gue, lo saraf beneran Mel, hadiah macam apaan itu


Imel : Ya salamm, elo udah tuirrr tapi masih saja kayak bocah yang tidak tahu apa-apa, itu baju dinas dodol


Juli : Dinas diranjang maksudnya Nur


Imel : Etdah, tuh sik bocah saja tahu, masak lo yang udah nikah bloon begini


Juli : Hehh sialan, katain gue bocah, gue datang sendiri kerumah elo untuk bejek-bejek lo biar tahu rasa


Imel : Emang lo bocahkan, masih belum paham masalah rumah tanggaa


Nuri : Jangan bertele-tele deh, maksud lo ngasih hadiah gak modal begitu untuk gue apa hah, percuma juga gue gak bakalan pakai meskipun lo kasih gue satu juta.


Imel : Jangan bilang lo belum malam pertama, ayok ngaku lo


Juli : Itu privasi, gak perlu lo jawab Nur


Namun Nuri menjawab keingintahuan Imel.


Nuri : Malam pertama gimana, mana mau gue ngelakuinnya, orang gue gak cinta sama suami gue


Imel : Ya salam, jadi elo belum melakukan surga dunia itu, sumpah elo adalah wanita merugi, enak banget lho


Juli : Dasar mesum lo


Nuri : Gue gak rugi kali


Imel : Enak banget lho Nur, masak lo belum pernah ngelakuinnya sieh, apa kak Dewa gak doyan ya sama lo


Nuri : Jul, ayok kita kerumah sik sialan ini, kita bejek-bejek dia

__ADS_1


Imel : Sebelum lo melakukan hal itu, langkahi dulu noh para pengawal yang selalu berjajar membentuk pagar untuk melindungi gue.


Juli : Sombong mentang-mentang orang kaya


Nuri : Dasar sombong


Imel : Suka-suka donk, orang kaya mah bebas


Imel : Ntar gue kirim ya ke rumah lo tuh lingere, lo wajib hukumnya memakai itu, buat suami elo tergoda


Nuri : Ogah


"Dasar Imel, gak modal banget ngasih hadiah." rutuk Nuri.


 Yang Nuri tidak tahu, harga lingere yang akan dihadiahkan Imel kepadanya harganya bisa mencapai jutaan rupiah, baju haram itu dikeluarkan oleh merk ternama.


****


Dan ternyata Imel benar-benar melaksanakan niatnya mengirim lingere tersebut, tidak peduli kalau itu sudah malam.


Dan yang menerima kiriman itu Dewa lagi.


"Adekk, apa kakak boleh masuk." kali ini Dewa meminta izin.


Nuri sieh inginnya bilang tidak, tapi nanti Dewa marah lagi, makanya dengan ogah dia berkata.


"Hmmm."


Saat pintu terbuka, Dewa berkata, "Adek mesan sesuatu lagi." Dewa memperlihatkan kotak berwarna putih yang ada ditangannya.


Nuri terlihat heran karna dia tidak memesan sesuatu, hanya tas yang tadi sore yang dia pesan.


"Aku gak pesan."


Dewa mendekat dan menyerahkan apa yang dibawanya kepada Nuri.


Nuri mengambil kotak yang diikat dengan pita berwarna pink, dia sama sekali tidak berfikir kalau benda tersebut dikirim oleh Imel.


"Coba adek lihat, siapa tahu adek lupa."


Nuri membuka kotak tersebut, dan tanpa rasa bersalah dia mengeluarkan benda itu dan membentangkannya dihadapan Dewa.


Dewa membatin,"Ini apa maksudnya, apa adek Nuri membeli pakaian itu untuk menggodaku." tuhkan, Dewa dibuat geer.


"Imel brengsek." umpat Nuri, dia beneran ngirimnya lagi, guekan sudah bilang gak butuh, ihh, geli gue." Nuri kembali melemparkannya kedalam kotak.


"Aku fikir adek Nuri sengaja membelinya, tahunya…" Dewa agak kecewa mengetahui fakta kalau Nuri malah geli dengan baju haram tersebut.


****


Kaki Nuri sekarang sudah sehat sehingga dia bisa masuk kuliah, dan seperti biasa Dewa memaksa untuk mengantarkannya.


"Nuriii."


Saat mendengar namanya dipanggil, Nuri reflek berbalik dan melihat Jundi berjalan mendekatinya.


Melihat Jundi membuat Nuri gimana gitu, rame rasanya kayak nano nano, ada senangnya, saltingnya, groginya juga ada.


"Kamu sudah sehat." Jundi bertanya begitu sudah berada didekat Nuri.


"Iya, seperti yang kakak lihat."


"Syukurlah, aku senang dengarnya."


"Ke kelas bareng yuk."


"Iya."


Dua insan itu berjalan berbarengan, mereka terlibat sebuah obrolan.


"Kamu mata kuliahnya ada berapa hari ini Nur."


"Cuma dua kak."


"Pulang kuliah mau ikut gak."


"Apa kak Jundi ngajakin aku kencan, gimana donk ini, aku jawab apa ya." geer Nuri dalam hati.


"Kemana."


"Ke bazar buku, banyak buku-buku bagus dengan harga agak murah, gimana, mau ikut gak." Jundi mengulangi pertanyaannya.


"Hmm." Nuri terlihat mempertimbangkan, "Boleh deh."


Senang ajakannya direspon, Jundi tersenyum lebar, "Oke, nanti setelah pulang kuliah aku jemput ke kelas ya."


"Iya kak."


"Ya udah, kamu masuk gieh, aku ke kelas dulu."


"Iya."


Begitu Jundi sudah tidak terlihat, Nuri perang batin, "Tapi kalau gue pergi dengan Jundi, Dewa marah gak ya, dia gak akan marah kalau tidak tahu, dan aku tidak akan memberitahunya, iya, aku harus pergi bersama Jundi."


"Hayoo, ngelamun aja." Imel tiba-tiba datang dan melingkarkan tangannya dipundak Nuri.


"Ishh, bikin kaget aja lo."


"Makanya jangan ngelamun Nur, untung gue yang ngagetin, coba kalau mahluk astral, bisa kerasukan lo."


"Gak lucu." Nuri menurunkan tangan Imel dari pundaknya dan berjalan ketempat duduk.


Imel mengikuti dibelakang, "Nur, lo udah terima belum paket yang gue kirim semalam."


"Sudah gue buang." bohong Nuri, padahal lingere itu dia simpan meskipun dia tidak berniat untuk mengggunakannya.


"Ya elahh, kenapa lo buang sieh, itukan harganya lumayan mahal, gak menghargai banget lo." Imel terlihat kecewa.


"Bercanda gue, gak gue buang kok, gue simpen tuh dengan sangat rapi dilemari meskipun tidak akan gue gunakan."


"Seharusnya lo gunain Nur, masak cuma dijadiin sebagai isi lemari doank sieh, kan mubazir."


"Habisnya gimana, lihatnya saja gue geli."


"Dasar norak lo, itukan supaya suami lo tergoda gitu."


"Gue gak perlu menggodanya, karna gue tidak berniat melakukannya."


"Rugi banget lo tidak merasakan surga dunia."

__ADS_1


"Bodo amet."


****


__ADS_2