SUAMIKU TERNYATA PRESDIR

SUAMIKU TERNYATA PRESDIR
NGAMBEK


__ADS_3

"Wihhh, cerah nieh muka boss, berhasil nieh ya kayaknya saran yang saya berikan." kata Deni saat melihat wajah cerah sang boss waktu dia menjemput sang boss.


"Hmm, ya begitulah, adek Nur kayaknya sudah tidak marah lagi, dia terlihat senang dengan hadiah yang saya berikan, dan dia juga membuatkan saya bekal." Dewa memperlihatkan kotak bekal pemberian Nuri kepada Deni dengan senyum lebar.


"Ini berarti kayaknya ada bau-bau bakalan kenaikan gaji nieh." 


"Naik gaji naik gaji, kerja dulu yang benar kamu Den."


"Elahh boss, naikin napa, itung-itung sebagai bonus gitu karna saya udah ngasih saran sama boss karna telah membuat boss dan bini boss baikin."


"Hmm iya iya, gaji kamu saya naikin." 


"Asyikk, gitu donk bosku." Deni tersenyum lebar karna sang boss menaikkan gajinya.


"Sering-sering saja boss ada masalah terus minta solusi sama saya agar saya naik gaji terus." kata Deni sambil nyengir.


"Deni, gaji kamu tidak jadi saya naikkan." kesallah Dewa mendengar ucapan asistennya itu yang secara langsung mendoakannya banyak masalah dengan Nuri.


"Yahh jangan gitu napa boss, bercanda saya, jangan ngambek donk boss."


"Sudah jangan merengek kayak anak kecil kamu Deni, kalau bawa mobil itu lihat jalan, jangan lihat saya, kalau nabrak gimana."


"Tapi gaji saya jadi dinaikinkankan bos ya."


"Entahlah, sepertinya saya sudah berubah fikiran."


"Yahh sik boss teganya." Deni mendesah berat, gak jadi deh dia bahagianya.


****


Mata Imel melotot saat melihat vidio berdurasi 3 menit yang beredar digroup kampus.


"Ini elo Nur."


"Apaan." tanya Nuri tidak mengerti maksud Imel, saat ini ketiga sahabat itu tengah makan siang dikantin kampus.


"Niehhh lo lihat sendiri." Imel menyerahkan ponselnya pada Nuri.


"Vidio apaan sieh tuh Mell." kepo Juli yang menghentikan makannya.


"Lo lihat saja sendiri, ada tuh digroup angkatan kita."


Juli mengambil ponselnya dan membuka group angkatan, dia mengklik sebuah vidio yang dimaksud oleh Imel.


"Itu elokan Nur."


"Emang gue." jawab Nuri santai dan menyerahkan ponsel Imel kembali kepada pemiliknya.


"Lo kok bisa menghajar kak Jundi sadis begitu sieh, emang lo ada masalah apa sama kak Jundi."


"Kalau lo nonton sampai habis tuh vidio pasti lo tahu kenapa gue sampai menghajar kak Jundi sampai begitu." kata Nuri sambil  meneguk es tehnya.


"Emang beneran kak Jundi memasukkan obat perangsang ke minuman lo."


"Ya benarlah, kalau gak ngapain gue sampai ngamuk-ngamuk gitu, untung saja kak Dewa datang tepat waktu, kalau gak, bisa dilecehkan gue sama dia." ujarnya berapi-api, "Yahh meskipun keperawanan gue pada akhirnya hilang juga sieh, tapi seenggaknya keperawanan gue diambil sama suami gue sendiri, jadi yah gak dosa sieh." Nuri menambahkan dalam hati yang tentunya kata-katanya tidak bisa didengar oleh Imel dan Juli.


"Sialan, brengsek banget sieh dia jadi cowok, wajahnya aja yang kelihatan kalem, tapi kelakuannya kayak dajjal." Juli emosi mengetahui kalau sahabatnya hampir saja dilecehkan, dia bahkan sampai menggebrak meja segala.


"Kenapa gak lo bikin dia sampai babak belur Nur, setan emang sik Jundi itu." Imel juga tersulut emosinya mendengar cerita Nuri, marah donk dia dan Juli mengetahui kalau sahabatnya akan dilecehkan dan syukurnya Allah menyayangi Nuri dan hal tersebut tidak sampai kejadian, kalau sampai kejadian, entah bagaimana dah hancurnya hati Nuri.


"Lo tenang saja, masa depannya gue tendang sampai dia mengaduh kesakitan, gue harap sieh gak bakalan berfungsi." Nuri tertawa ngakak saat mengingat aksinya itu.


"Hehh, beneran lo nendang barang dia, kok gak ada dividio."


"Gue nendangnya pas diluar dan gak ada yang vidioin."


"Baguslah Nur apa yang lo lakuin, dia berhak untuk mendapatkannya."


Juli dan Imel mendukung sahabatnya.


"Nurr." Tania terlihat berjalan ke arah mereka bertiga, Tania yang mengadakan pesta ulang tahun malam itu.


"Hai Tan." sapa ketiga gadis itu begitu Tania sudah berada didekat mereka.


"Duduk Tan." 

__ADS_1


Tania duduk dikursi yang tersisa, gadis itu kemudian menoleh ke arah Nuri, "Beneran Jundi masukin obat perangsang ke minuman lo." Tania sepertinya merasa tidak enak karna itu adalah pestanya, dan hampir saja salah satu temannya menjadi korban pelecehan saat ulang tahunnya.


Nuri mengangguk.


"Astaga, jahat sekali laki-laki itu, terus gimana."


"Syukurnya saat Jundi akan membawa gue ke mobilnya ada orang yang kebetulan lewat curiga dengan gerak-gerik Jundi, dan orang itu tergerak untuk menolong gue." cerita Nuri bohong tidak mau mengungkapkan identitas orang yang menolongnya yaitu suaminya sendiri.


"Ohh syukrulah, gue merasa bersalah banget sumpah, pasalnya itu adalah party gue."


"It's okay Tan, gak usah merasa bersalah gitu, lagiankan gue gak sampai disentuh jugakan sama laki-laki brengsek itu."


"Benar-benar gak nyangka gue, muka alim kayak gitu ternyata hatinya iblis, jadi nyesel gue pernah ngejar-ngejar dia, gak tahu deh jadinya gue kalau jadian sama dia, iiihhh." Tania merinding sendiri membayangkan dirinya dicekcoki obat perangsang.


Nuri, Juli dan Imel tertawa melihat reaksi  Tania.


"Makanya mulai sekarang gadis-gadis, belajar dari pengalaman, jangan menilai seseorang dari tampangnya." Imel memberi pesan.


"Iya lo benar banget Mel." Tania membenarkan yang  diangguki oleh Juli dan Nuri.


****


Nuri berulangkali melirik pergelangan tangannya yang dilingkari oleh arloji berwarna ungu, warna yang menjadi warna paforitnya, dia sejak tadi berdiri didepan kampus menunggu Dewa yang akan menjemputnya karna Dewa telah berjanji tadi pagi untuk menjemputnya.


"Dimana sieh kak Dewa, katanya bakalan jemput, tapi mana, kok belum datang juga sieh." Nuri terlihat gelisah, dia berulangkali melihat ke arah kanan yang merupakan jalur arah kedatangan Dewa.


"Dia sebenarnya niat gak sieh, kalau gak niat mending gak usah janji kosong gitu deh, kan jadi bete gue jadinya." Nuri sudah mulai menekuk wajahnya menahan kekesalannya.


Nuri sejak tadi menghubungi nomer Dewa dan juga mengirim lebih dari lima pesan, sayangnya nomernya Dewa tidak aktif, siapa yang tidak kesal coba, apalagi Nuri sangat berharap dijemput oleh Dewa, entah kenapa, dia rasanya senang berada didekat-dakat Dewa untuk saat ini.


"Oke gue tunggu lima belas menit lagi, kalau kak Dewa gak datang juga, gue mending pulang naik angkot saja." putus Nuri.


Dan Nuri ternyata tidak menunggu lima belas menit seperti yang dia katakan, Nuri nunggu sampai 30 menit tapi batang hidung Dewa tidak nongol juga, dan itu benar-benar membuat Nuri kesal tingkat Dewa, karna Dewa tidak kunjung datang juga, akhirnya Nuri memilih untuk naik angkot.


"Awas saja kalau dia pulang nanti, gak bakalan gue bukain pintu, biarin aja dia tidur diluar." wajah Nuri benar-benar asam, lebih asam dari asam jawa.


****


Sementara itu saat ini Dewa tengah melakukan pertemuan penting dengan kliennnya sehingga supaya tidak ada yang mengganggu pembicaraanya, Dewa sampai mematikan ponselnya sehingga dia tidak tahu kalau Nuri menelpon dan mengechatnya, karna pertemuan penting ini juga Dewa sampai melupakan janjinya tadi pagi untuk menjemput Nuri.


Pertemuan itu berlangsung cukup lama dan menghasilkan sebuah kesepakatan, dan setelah pertemuan itu berakhir, Dewa meminta Deni untuk mengantarkannya ke rumah setelah terlebih dahulu dia berganti pakaian dari pakaian normal ke pakaian yang biasa dia kenakan saat bersama dengan Nuri dirumah.


Dewa teringat dengan ponselnya yang dia matikan sepanjang pertemuan dengan kliennya, dia merogoh kantong jasnya untuk mengambil benda tersebut dan menyalakannya, dan alhasil saat benda pipih itu berhasil dinyalakan, suara notifikasi pesan berlomba-lomba masuk keponselnya, heran juga Dewa mengetahui hal tersebut, dia berfikir siapa yang mengirim pesan yang begitu banyaknya kepadanya, dan dia surprise sieh saat melihat kalau pesan-pesan tersebut dikirim oleh satu orang yaitu Nuri, dengan antusias Dewa membuka pesan yang dikirim oleh Nuri satu persatu, berharap kalau ada dari pesan yang dikirim oleh Nuri  itu ada yang mengatakan kalau Nuri rindu kepadanya, dan kalau itu terjadi, maka lengkaplah kebahagiannya.


Sayangnya, apa yang dia harapkan ternyata adalah kebalikannya.


Nuri : Kak, dimana sieh, jadi jemput gak


Nuri : Kak, aku udah pulang dari tadi lho, capek aku nunggunya


Nuri : Niat gak sieh sebenarnya kakak jemput aku, kalau gak niat gak usah janji-janji segala deh, bikin orang berharap aja


Nuri : Kak Dewa ini menyebalkan banget deh, ditelpon gak bisa dichat juga sama, dasar php


Nuri : Aku pulang sendiri aja kalau gitu, dasar laki-laki semuanya sama saja, tukang janji tapi tidak ada yang nepatin


Dewa menepuk keningnya, dia baru ingat janjinya untuk menjemput Nuri setelah membaca pesan-pesan Nuri.


"Astaga naga, kok aku bisa lupa begini sieh, Nuri pasti ngambek berat deh ini." 


"Kenapa lagi boss." Deni yang lagi fokus nyetir bertanya saat mendengar suara bossnya yang sepertinya tengah frustasi.


"Saya berjanji untuk menjemput istri saya, tapi karna ada pertemuan penting dengan klien barusan, saya jadi lupa dan saya mematikan ponsel." jelas Dewa khawatir, khawatir karna dia takut Nuri marah dan tidak mau berbicara lagi dengannya seperti kemarin padahal mereka baru saja berbaikan.


"Gak usah khawatir masalah itu boss, ajak saja istri boss itu makan malam romantis, atau ajak shoping tuh ilang deh ngambeknya." 


Dewa diam tidak menanggapi saran yang diberikan oleh Deni.


"Apa boss mau saya booking restoran romantis untuk makan malam dengan istri boss." Deni menawarkan diri membantu sang boss.


"Bagaimana sieh kamu Deni, saya disini sebagai seorang laki-laki sederhana, bukan sebagai laki-laki kaya raya yang bisa menyewa restoran."


"Hmmm." Deni terlihat mendesah panjang, menurutnya bossnya terlalu rumit, pakai pura-pura miskin segala, kalau orang kebanyakan pura-pura kaya, dia malah pura-pura miskin, jalan fikiran orang memang susah untuk ditebak emang, "Ya udah kalau gitu, bagaimana kalau makan malam sederhana saja tapi tetap romantis, gimana boss."


"Terserahlah Den kamu atur saja bagaimana baiknya, aku gak ngerti hal-hal begituan."

__ADS_1


"Oke, perintah dilaksanakan, boss terima beres saja dan tunggu informasi dari saya, asal gaji saya jadi dinaikkan kan bos."


"Hmm, kamu tenang sajalah kalau masalah itu."


"Oke sipp, semuanya akan beres ditangan Deni."


***


Saat tiba dirumah, Dewa sudah menyiapkan mentalnya untuk menerima amukan Nuri.


Dewa membuka pintu pelan, Dewa yakin saat ini Nuri tengah berada dikamarnya, Dewa mengepalkan tangannya dan mengetuk pintu kamar Nuri.


Tok


Tok


"Adek, apa adek didalam."


Bukkk


Bukan sahutan yang didengar, malah suara benda yang dilempar ke arah pintu.


"Adekkk."


Bukkk


Kembali Dewa mendengar suara tersebut, dengan pelan Dewa membuka pintu untuk mencaritahu apa yang terjadi, tapi begitu pintu terbuka.


Dukkk


Sesuatu yang empuk dan dilempar dengan begitu keras mendarat di wajahnya dan jatuh ke lantai, Dewa bisa melihat wajah Nuri yang merah padam tengah melotot ke arahnya.


"Dasar php, kalau gak berniat jemput gak usah janji-janji segala." Nuri kembali melemparkan bantal ke arah Dewa, Dewa berhasil berkelit, hal tersebut membuat Nuri kesal, dia meraih bantal terakhir dan kembali melemparnya dan Dewa yang gesit kembali berhasil menghindar.


Saat tiba dihadapan Nuri, Nuri yang sangat kesal memukul-mukul dada Dewa sambil berteriak, "Dasar laki-laki menyebalkan, tukang php, bikin kesal."


Dewa berusaha menghentikan Nuri dengan meraih tangannya, tenaga Dewa yang jauh lebih besar dari Nuri berhasil membuat Nuri tidak berkutik, Nuri kembali berontak meskipun itu sia-sia.


"Lepasin aku, kamu laki-laki menyebalkan, bisanya hanya janji doank, dasar php."


"Adek, dengerin dulu penjelasan kakak, kakak…" Dewa terdiam, "Yahh memang kakak yang salah sieh sebenarnya karna melupakan janji kakak untuk menjemput adek, tapi itu manusiawikan dek kalau lupa." Dewa sebenarnya juga ingin menjelaskan kalau dia tadi melakukan pertemuan penting dengan klien yang tidak bisa dia wakilkan, tapi karna itu sama saja dengan membongkar identitasnya, dan Dewa berharap Nuri mau berbesar hati memaklumi alasannya tersebut.


"Kakakkan belum tua, masak sudah pikun sieh, kalau aku benar-benar penting untuk kakak, kakak pasti tidak akan lupa." Nuri nyolot.


"Sekali lagi kakak minta maaf adek, tua atau muda, remaja bahkan anak-anak, yang namanya lupakan itu penyakit semua kalangan, tidak perlu menunggu tua dulu untuk punya penyakit lupa, kayak adek tidak pernah lupa saja."


Yah, Nuri membenarkan apa yang dikatakan oleh Dewa, penyakit lupa merupakan penyakit semua kalangan alias semua umur, dia bahkan sering banget lupa, dan dia tidak seharusnya bereaksi berlebihan seperti tadi juga donk, tapi ya dia tetap saja kesal, mungkin karna dihatinya sudah tumbuh benih-benih cinta sehingga itulah yang membuatnya kesal dan marah saat Dewa ingkar janji, karna kalau wanita tidak ada perasaan sama seorang laki-laki dia akan cuek dan tidak akan marah-marah juga.


Karna dilihatnya Nuri sudah agak melunak sehingga Dewa melepaskan tangan Nuri, wajah Nuri juga terlihat kalem dan tidak masam lagi.


"Adek tidak marah lagikan."


"Aku masih kesal sama kakak."


"Ya udah, agar kesalnya hilang, bagaimana kalau nanti malam kita makan malam diluar, mau gak."


"Malas keluar." jawab Nuri acuh.


Namun Dewa tidak menyerah untuk membujuk Nuri, "Ayoklah dek, sekali-kali donk ya kita makan diluar, kakak janji, adek pasti akan suka."


"Hmm, lihat entar deh." kata Nuri tidak memberi kepastian.


"Oke kalau gitu, nanti malam dandan yang cantik ya."


"Ihh, siapa yang bilang iya, aku bilangkan lihat entar."


"Pokoknya kakak tidak mau tahu dan menerima penolakan ya, adek wajib hukumnya untuk mau kakak ajak makan malam titik."


"Dihh pemaksa."


"Ya biarin, orang yang aku paksa adalah istriku sendiri."


Nuri jadi kalah argumenkan tidak tahu harus membalas ucapan Dewa, akhirnya karna kalah argumen dia jadi mengusir Dewa keluar kamar, "Sudah sana kakak mending keluar, aku mau istirahat." Nuri mendorong punggung Dewa.


"Iya tapi ingat ya ntar malam."

__ADS_1


"Tau ahh."


*****


__ADS_2