
Dewa mengerjakan pekerjaanya dengan cepat sehingga dia bisa pulang lebih awal dari waktu yang telah dia tentukan, dia melakukan hal itu karna rindu dengan Nuri dan dia ingin cepat-cepat bertemu dengan istrinya itu.
Dewa tersenyum saat membayangkan ekpresi Nuri saat nanti dia berada didepan pintu lebih cepat dari yang dia janjikan, Nuri pasti kaget melihatnya saat tiba-tiba berada didepan pintu, membayangkan akan hal itu membuatnya ingin segera tiba dirumah.
"Adek pasti kaget saat nanti melihatku tiba-tiba berada dirumah." batinnya, "Ahhh, aku sudah tidak sabar sampai rumah."
****
"Lo dimana Jul." tanya Nuri lewat telpon, saat ini dia mencari kedua sahabatnya dikantin kampus karna berfikir mereka ada disana.
"Kami dicafe depan kampus Nur." jawab Juli dari seberang.
"Elahh, gue ada dikantin nieh nyariin elo, gue fikir lo berdua ada disini, lo kenapa ada dicafe sieh."
"Sekalian mau ngerjain tugas Nur, disinikan ada wifi gratisnya, mending lo temuin kami kesini gieh." jawab Juli.
"Oke, gue otw kesana." Nuri mengakhiri panggilannya dan berjalan keluar kampus untuk menemui kedua sahabatnya, tadi dia keruang dosen untuk mengantarkan tugas teman-temannya karna Nuri ditunjuk sebagai pj oleh dosen mata kuliah yang barusan dia ikuti sehingga Juli dan Imel duluan meninggalkannya.
Sebelum menyebrangi jalanan, Nuri melihat kiri kanan terlebih dahulu, setelah memastikan semuanya aman, Nuri kemudian melangkahkan kakinya untuk menyebrang, saat berada ditengah-tengah jalan, tiba-tiba dari arah kanan sebuah motor melaju dengan kencang, sehingga tak ayal, motor yang melaju dengan kekuatan tinggi tersebut menabrak tubuh Nuri yang telat menghindar, tubuh Nuri terplanting beberapa meter, tubuh Nuri terpental cukup kuat membentur aspal yang membuat seketika Nuri tidak sadarkan diri, dari kepalanya merembas darah segar.
Sementara sik penabrak langsung kabur begitu saja karna takut diamuk oleh warga.
Orang-orang yang berada disekitar berkerumun untuk mengetahui apa yang terjadi, begitu juga dengan Imel dan juga Juli yang tengah asyik-asyiknya menikmati makanan yang mereka pesan.
"Ehh Mel, ada apaan tuh ya rame-rame." Juli melihat orang-orang lewat dinding kaca pada berkerumun ke satu titik.
"Kayaknya ada orang yang tabrakan deh Jul, lihat yuk." ajak Imel yang langsung diangguki oleh Juli.
Mereka tentunya tidak tahu kalau yang mengalami tabrakan itu adalah sahabat mereka sendiri.
Begitu tiba ditempat kejadian, Juli bertanya pada salah satu orang yang ada disana, "Ini ada apa ya pak."
"Tabrak lari neng, korbannya seorang perempuan." laki-laki yang ditanya oleh Juli memberitahu.
"Astaga, kasihan sekali gadis itu."
"Lihat lebih dekat yuk Jul."
Mereka harus berjuang menembus kerumunan orang-orang yang sudah seperti membentuk tembok berlin untuk melihat siapakah gerangan yang mengalami tabrak lari itu, dan saat mereka berhasil menerobos kerumunan, mereka bisa melihat dengan jelas kalau ternyata korban tabrak lari itu adalah sahabat mereka sendiri yaitu Nuri.
"Astagfirullahhalazim." Juli membekap bibirnya, dia shock melihat tubuh tidak berdaya sahabatnya, "Mel, itukan Nuri."
Imel juga tidak kalah shocknya, tubuhnya limbung, hampir saja dia jatuh, namun Juli dengan cepat menahan tubuh sahabatnya itu, "Mel, jangan pingsan saat ini dulu bisakan, Nuri butuh kita untuk saat ini." Juli memperingatkan yang diangguki oleh Imel.
Juli bergegas mendekat, "Tolong, dia adalah sahabat saya, tolong saya untuk membawanya ke rumah sakit terdekat." Nuri berusaha untuk meminta tolong dengan air mata sudah membajanjiri pipinya, dia benar-benar tidak tega melihat sahabatnya seperti ini.
"Naik mobil saya saja mbak, saya antar sampai rumah sakit." seorang mas-mas masih muda menawarkan jasanya.
Juli mengangguk, "Terimakasih pak."
__ADS_1
"Tolong bantu angkat bapak-bapak, bawa ke mobil saya." ujar sik mas-mas yang langsung dilaksanakan oleh beberapa orang yang langsung menggotong tubuh Nuri menuju mobil sik mas-mas.
Imel sudah dibanjiri oleh air mata melihat kondisi sang sahabat yang sudah tidak berdaya, Imel takut, sangat takut kalau Nuri sudah pergi meninggalkan mereka, Juli juga takut, tapi dia berusaha untuk positif thinking, dia berharap sahabatnya itu bisa diselamatkan kalau cepat ditangani.
"Mell, ayok." ajak Juli.
"Gue takut Jul, gue takut Nuri meninggalkan kita." Imel menyuarakan ketakutanya.
"Mell, jangan bilang begitu, gue yakin Nuri pasti akan baik-baik saja."
Imel mengangguk, dia tidak berhenti berdoa dalam hati supaya Nuri bisa diselamatkan.
"Ayok Mel kita juga harus ikut ke rumah sakit." Juli menarik tangan sahabatnya itu menyusul ke mobil mas-mas baik hati yang mau menolong mereka untuk membawa Nuri ke rumah sakit.
*****
Saat ini Nuri tengah ditangani oleh beberapa dokter disebuah ruangan, sementara Imel dan Juli menunggu diluar dengan hati tidak menentu, doa tidak putus-putusnya mereka panjatkan dengan harapan supaya sahabat mereka bisa selamat.
Saking paniknya sampai mereka lupa mengabarkan kedua orang tua Nuri dan juga Dewa.
"Jul, bukannya kita harus menghubungi babe dan ibu." Imel mengingatkan.
"Kak Dewa juga Mel."
"Oke, lo lebih baik kasih tahu kak Dewa berhubung lo ada nomernya kak Dewa, biar gue yang menghubungi ibu."
Juli mengangguk setuju.
Sementara Juli masih berjuang menelpon Dewa, sudah dua kali Juli menghubungi laki-laki itu, namun panggilannya tidak kunjung dijawab oleh Dewa, "Angkat donk kak Dewa, saat genting kayak gini aja kak Dewa tidak menjawab panggilanku." desis Juli agak kesal.
"Gimana Jul." Imel bertanya saat melihat Juli menurunkan ponselnya dari telinganya.
"Gak diangkat Mel sama kak Dewa."
"Coba lagi Jul."
"Hmmm." Juli kembali mendial nomer Dewa, "Angkat donk kak, Nuri lagi berjuang antara hidup dan mati, saat ini dia membutuhkan kakak."
Dan penantian Juli akhirnya terjawab karna Dewa menjawab.
"Halo."
"Kak Dewa, kak Dewa ada dimana sekarang." tanya Juli tanpa membalas sapaan Dewa.
"Adek Juli." suara Dewa terdengar bingung, "Ini adek Julikan." Dewa memastikan kalau yang menelponnya adalah Juli sahabat istrinya.
"Iya kak Dewa, ini aku Juli."
"Ada apa Jul, kamu kok kayaknya khawatir."
__ADS_1
"Kak, kakak dimana sekarang, kakak mending buruan ke rumah sakit."
"Ada apa Juli."
"Nuri kak."
Cess
Mendengar nama istrinya dan kata rumah sakit dari bibir Juli, Dewa seperti diguyur air es, meskipun Juli belum memberitahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi perasaanya sudah tidak enak.
"Apa yang terjadi dengan adek Nur Juli, jangan buat kakak takut begini."
"Nuri..." Juli seperti tidak sanggup menyelsaikan kalimatnya yang membuatnya terdiam.
"Juli, apa yang terjadi, kenapa kamu malah diam." cecar Dewa tidak sabaran plus khawatir.
"Nuri ditabrak kak, tabrak lari."
"Apa." Dewa yang saat ini tengah berjalan dibandara menuju pintu keluar langsung menghentikan langkahnya saat mendengar informasi yang disampaikan oleh sahabat istrinya itu, dia yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Nuri dan memberikan kejutan untuk istrinya itu, ehh malah dia yang dikasih kejutan lebih dulu.
"Kak Dewa, kakak cepat kerumah sakit ya sekarang, Nuri lagi ditangani sama dokter, ibu dan babe juga sudah dikasih tahu sama Imel, sebentar lagi juga mereka akan sampai dirumah sakit."
Juli tidak mendengar jawaban dari Dewa, "Kak, kak Dewa, kakak dengarkan apa yang aku katakan."
Mendengar panggilan Juli, Dewa tersadar dari ketidakpercayaannya, "Saya akan segera kesana."
"Oke kak."
Dewa langsung berlari cepat keluar, Denis sudah menunggunya didepan, tadi sebelum naik pesawat, Dewa sempat menelpon Denis, dia meminta asisten kepercayaannya itu untuk menjemputnya dibandara.
Wajah panik sang boss bisa dilihat dengan jelas oleh Denis yang berjalan dengan cepat ke arahnya, belum sempat dia bertanya tentang apa yang menimpa bossnya itu, Dewa lebih dulu memberi perintah kepadanya, "Jalan Denis."
"Ohh iya baik pak Dewa."
Denis membuka pintu penumpang dan duduk dibelakang stir, laki-laki itu menstater mobil dan melaju keluar area bandara, dari kaca spion depan Denis bisa melihat wajah bossnya yang terlihat tegang, "Apa sieh yang sebenarnya terjadi dengan sik boss." Denis bertanya-tanya dalam hati, namun kalau hanya sekedar bertanya dalam hati tentunya itu tidak akan memuaskan dahaga kekepoannya, dia mempertimbangkan untuk menyuarakan pertanyaannya dalam bentuk lisan, saat dia sudah akan membuka bibirnya untuk mengajukan pertanyaan padanya, Dewa memberi perintah lagi kepadanya.
"Kita ke rumah sakit Denis."
"Ke rumah sakit pak." makin bingunglah Denis mendengar perintah bossnya itu.
"Iya."
"Mohon maaf pak kalau saya lancang bertanya, tapi siapa yang sakit."
"Istri saya."
"Istri bapak, dia kena...."
"Sudahlah Denis jangan banyak tanya, mengemudi saja dengan baik." saat ini Dewa tengah dalam mode tidak ingin diwawancara saking cemasnya memikirkan nasib istrinya.
__ADS_1
"Baik pak." Denis menjalankan mobilnya ketempat yang beritahukan oleh bossnya, dia masih kepo sieh sebenarnya, tapi dia sangat tahu diri untuk tidak mengajukan pertanyaan lagi kepada bossnya itu kalau tidak mau kena marah.
****