
"Kok bisa sieh istrinya seorang Sedewa Argantara senorak ini, ya Tuhanku, benar-benar deh, entah apa yang dilihat oleh Dewa pada gadis ini." batin Angell yang tidak habis fikir dengan jalan fikiran Dewa yang memilih Nuri sebagai istrinya, "Dibandingkan dengan aku, tentu saja sangat beda jauh, kayak langit dan bumi, aku itu udah cantik, berpendidikan tinggi lagi, seharusnya tuh Dewa milih aku." Angell masih saja membandingkan dirinya dengan Nuri, Nuri memang tidak secantik Angell, tidak sepintar Angell, tidak sekaya Angell yang merupakan anak tunggal dari pengusaha kaya, tapi toh Dewa yang dicintai oleh Angell memilih Nuri sebagai istrinya bukan diakan, maka disitulah letak keadilan Tuhan, Nuri yang tidak memiliki kelebihan apa-apa, dicintai oleh Dewa.
"Sini duduk adek, kakak mau memperlihatkan album foto kakak kepada adek." Angell melambaikan tangannya untuk meminta Nuri untuk mendekat ke tempat tidurnya.
Nuri berhenti mengagumi kamar Angell, dia berjalan mendekati Angell yang sudah lebih dulu duduk disana.
Angell mulai membuka album foto yang berisi foto-foto kenangannya, foto saat dirinya mengenakan seragam Tk sampai saat mengenakan toga ada di album yang dia perlihatkan pada Nuri.
Nuri mengomentari beberapa foto yang dia lihat di album tersebut, salah satunya adalah foto Angell saat bersama dengan Dewa yang mengenakan seragam SMA, dua orang itu saling berangkulan satu sama lain sambil menatap ke arah kamera sambil tersenyum lebar.
"Ini mbak Angel dan Dewa ya, kalian masih unyu-unyu banget." komennya memperhatikan foto tersebut.
"Iya, itu mbak dan Dewa." Angell membenarkan.
"Mbak Angell dan Dewa sudah lama ya ternyata bersahabat."
"Kami bersahabat sejak masih SMP dek, tahu tidak, sejak SMA bahkan sampai SMA, Dewa itu selalu jadi rebutan cewek-cewek, ya maklum sieh, Dewakan tampan, pinter, kaya lagi, siapa yang tidak kepincut coba sama Dewa." Angell bercerita.
"Ya aku akui seih Dewa itu memang tampan, tapi kok aku gak cinta ya sama dia, dan kalau masalah kaya, kaya dari mananya coba, orang Dewanya kere begitu, kendaraannya saja motor butut, kalau dia kaya, gak mungkin kami tinggal dirumah sederhana begitu, belum lagi kerjaannya Dewa gak jelas begitu." suara hati Nuri, "Atau jangan-jangan, Dewa sudah jatuh miskin kali ya."
"Mmm mbak Angell, aku boleh nanya gak."
"Kamu mau nanya apa dek." suara Angell terdengar lemah lembut, tapi suara itu ternyata mengandung racun.
"Cinta pertamanya Dewa itu siapa ya."
Angell mengangkat bahunya yang berarti dia tidak tahu, "Aku tidak tahu dek, karna setahu mbak, meskipun Dewa itu terkenal, tapi mbak tidak pernah mendengar dia pacaran, sampai tiba-tiba dia memperkenalkan adek sebagai istrinya dan itu membuat mbak kaget."
Nuri hanya mangut-mangut, "Kak Angell aku minta maaf." lisan Nuri tiba-tiba.
"Kenapa minta maaf adek."
"Karna aku menikah dengan laki-laki yang mbak Angell cintai, tapi aku itu gak punya rasa sama Dewa mbak, karna aku hilang ingatan, aku tidak ingat apa-apa, dan menurut cerita yang aku dengar dari sahabat-sahabatku kalau dulu aku menikah dengan Dewa karna terpaksa." Nuri menjelaskan.
"Heh, yang benar saja, tidak kebalik tuh, masak sieh sik dekil ini yang terpaksa menikah dengan Dewa, seharusnyakan Dewa donk yang terpaksa nikahin dia, apa sik dekil ini ngarang cerita bebas kali ya." perasaan Angell sejak tadi berburuk sangka terus sama Nuri, mulai dari dia berfikir Nuri pakai susuklah, dia mengata-ngatai Nuri jeleklah, dekil dan bodohlah, dan sekarang dia bilang kalau Nuri ngarang cerita lagi, padahalkan memang benar Dewa yang dulu ngejar-ngejar Nuri, dan Nuri menikah dengan Dewa itu karna terpaksa karna digrebek warga karna warga kampung beranggapan kalau saat itu Dewa dan Nuri melakukan hal yang tidak-tidak karna ditemukan berduaan didalam kamar Nuri.
"Beneran adek tidak cinta sama Dewa seperti yang adek katakan barusan."
Nuri mengangguk pasti, "Iya mbak, aku benar-benar tidak cinta sama Dewa, kalau mbak mau, aku bisa membantu mbak untuk mendapatkan hatinya Dewa." wah, ini Nuri benar-benar dah ya jadi istri kok durhaka banget, tidak hanya bilang kalau dia tidak mencintai suaminya itu, tapi juga menawarkan jasanya untuk membantu Angell untuk bersama dengan suaminya, emang agak erorlah otaknya sik Nuri sejak kecelakaan itu.
"Ehh, adek serius." bahkan Angellpun tidak percaya dengan kata-kata Nuri barusan.
"Iya serius donk kak, lagian juga aku ada rencana cerai dengan Dewa"
"Beneran memang sik dekil ini tidak cinta sama sekali sama Dewa kayaknya, kok bisa sieh." Angell jadi heran sendiri, "Duuhh, kenapa aku jadi heran begini, ya bagus donk, itu berarti aku punya kesempatan untuk mendapatkan Dewa lagi." kini Angel memiliki harapan besar.
"Tapi sepertinya Dewa sangat mencintai adek deh, kalau Dewanya gak mau cerai gimana."
"Kalau aku maunya cerai dia bisa apa coba, lagian aku sudah tidak tahan tinggal bersama dengan laki-laki yang tidak aku cintai." curhat Nuri.
"Hmmm, baiklah kalau begitu adek, mbak akan membantu adek supaya bisa bercerai dengan Dewa, dan adek membantu mbak supaya bisa bersama dengan Dewa, bagaimana, sama-sama menguntungkan kitakan dek, kayak simbiosis mutualisme gitu."
"Oke setuju mbak." ujar Nuri mengulurkan tangannya untuk dijabat oleh Angell sebagai sebuah tanda kesepakatan.
Angell membalas menjabat tangan Nuri, "Sepakat."
*****
Karna ada beberapa pekerjaan yang harus Dewa selsaikan, makanya Dewa terlambat pulang dan dia tidak bisa menjemput Nuri, dan saat dia pulang kerumah saat menjelang magrib, dia melihat rumahnya gelap gulita seperti tidak ada kehidupan disana.
"Adek Nur kemana, kok rumah gelap gulita begitu, apa dia belum pulang kali ya." Dewa bertanya-tanya sambil kakinya melangkah mendekat, "Apa adek kerja kelompok lagi ya sampai dijam segini belum juga pulang."
Dengan kunci cadangan yang dibawa Dewa membuka pintu depan, dan beneran rumahnya tersebut sepi melompong, Nuri tidak ada dimana-mana, oleh karna itu Dewa tergerak untuk menghubungi Nuri, dia masih berfikir kalau istrinya itu saat ini tengah mengerjakan tugas kelompok, dan Dewa berniat untuk menjemputnya.
Sayangnya, nomer Nuri tidak aktif saat Dewa berusaha untuk menghubunginya, oleh karna itu Dewa beralih menghubungi Juli.
"Halo adek Juli, ini kak Dewa." beritahu Dewa saat sambungan sudah terhubung.
"Oh kak Dewa, ada apa ya kak."
"Adek Juli, apa adek Nur saat ini lagi sama adek gak ngerjain tugas kelompok."
"Oh Nuri ya kak, belum pulang juga dia kak, kami hari ini tidak ada tugas yang harus dikerjakan gitu kak."
"Ohh gitu, apa adek tahu gak kalau adek Nur kemana."
"Katanya Nuri, dia diajak oleh teman barunya yang bernama Angell ke rumahnya gitu saat pulang kuliah sore tadi." Juli memberikan laporannya.
"Angell." Dewa mengulangi.
"Iya, kakak pasti kenalkan."
"Hmm, baiklah ya adek, kakak sebaiknya pergi ke rumah Angell untuk menjemput adek Nuri, udah malam ini, takutnya adek Nur gak ada yang nganterin lagi."
__ADS_1
"Ohh iya kak Dewa, baiklah kalau begitu."
Setelah mendapatkan informasi yang diinginkan, Dewa memutus sambungan dan buru-buru keluar untuk menjemput Nuri ke rumahnya Angell.
"Adek Nur kenapa tidak ngabarin seih kalau mau ikut ke rumahnya Angell, bikin orang khawatir saja." ujarnya dan kembali keluar rumahnya dan menghampiri motornya untuk menjemput istrinya.
****
Saat Dewa tiba didepan gerbang rumah keluarganya Angell, pak satpam yang mengenalinya langsung membukakan gerbang untuknya.
"Ehh ada mas Dewa, masuk mas."
"Iya pak Armin, terimakasih."
Pak Armin yang merupakan satpam rumahnya Angell agak heran juga saat melihat Dewa memakai motor bukannya mobil, motor butut lagi ini yang dipakai oleh Dewa karna setahunya Dewa adalah boss dari sebuah perusahaan.
"Angell ada pak Armin." Dewa bertanya begitu tiba didepan pak Armin.
"Kalau nona muda ada tuan, nona saat ini tengah bersama dengan temannya, sedangkan kalau nyonya besar dan juga tuan besar lagi pergi keuar kota jengukin ibu dan ayahnya nyonya besar tuan."
"Mudah-mudahan teman yang saat ini bersama dengan Angell itu adalah adek Nuri."
"Terimakasih pak Armin, kalau begitu saya masuk dulu."
"Baik tuan muda."
Dan berbarengan dengan Dewa memasuki rumah besar milik keluarga Angell tersebut, Angell dan Nuri terlihat menuruni tangga, ya memang saat ini Angell berencana untuk mengantarkan Nuri pulang.
"Adekk." panggil Dewa.
"Dewa." gumam Nuri saat melihat suaminya yang tiba-tiba ada dirumah Angell.
Dewa berjalan menyongsong ke arah kedatangan Nuri dan Angell.
Dan setiap kali melihat Dewa, apalagi ada pancaran rasa cinta yang sangat jelas dimata Dewa untuk Nuri, dan hal itu selalu saja membuat Angell sakit hati, apalagi saat Dewa yang langsung memeluk Nuri tepat dihadapannya, rasanya sakit banget, terluka tapi tidak berdarah itulah yang saat ini dirasakan oleh Angell, rasanya Angell ingin menangis dan menarik Dewa dari tubuh Nuri, namun Angell berusaha untuk kuat untuk menahannya.
"Adekk, kenapa ponsel kamu gak aktif, kakak khawatir tahu gak."
"Aduhh ini sik Dewa kenapa main peluk-peluk kayak gini seih, lebay banget dah dia." Nuri berusaha melepaskan pelukan Dewa.
"Aku gak apa-apa Dewa, gak usah berlebihan gitu."
Sekarang malah Dewa menangkup wajah Nuri, wajah Nuri yang kecil terasa penuh ditangan kokoh dan besar milik Dewa, "Lain kali jangan pernah bikin kakak khawatir kayak gini lagi dek, mengerti hem." manik mata Dewa yang hitam legam memandang Nuri dengan pendangan lembut dan sarat akan tatapan cinta, dan tiba-tiba saja, hal tersebut membuat hati Nuri bergetar hebat, jantungnya tiba-tiba saja berdebar sangat hebat.
"Iya iya, lepasin dulu donkk ahh." keluh Nuri berusaha untuk melepaskan tangan Dewa, hal itu dia lakukan untuk menenangkan debaran jantungnya, Nuri takut kalau sampai Dewa mendengar suara jantungnya yang berdebar kencang begitu.
Dan tidak pelak, melihat adegan romantis yang tepat didepan matanya itu membuat Angell semakin sakit hati, dia hanya bisa mengepalkan tangannya untuk menahan geram, ingin rasanya dia menjambak rambut Nuri dan mengacak-ngacaknya.
"Kita pulang sekarang ya dek." Dewa benar-benar melupakan Angel yang sejak tadi berdiri terpaku dengan tatapan kosong melihatnya memperlakukan Nuri dengan mesra begitu, Dewa tidak sadar apa kalau ada hati yang dia sakiti.
Nuri mengangguk patuh, dia kemudian menoleh kearah Angell, "Mbak Angell, aku balik dulu ya."
Angell yang wajahnya kaku karna sejak tadi menahan rasa cemburu dan rasa sakit hati berusaha untuk membuat wajahnya senormal mungkin, meskipun senyum adalah hal tersulit yang bisa dia lakukan saat ini, tapi dia berusaha untuk tersenyum meskipun senyum itu terasa kaku.
"Iya adek, terimakasih ya karna telah nemenin kakak."
"Iya mbak sama-sama."
"Terimakasih ya Angell karna telah mengajak Nuri main ke rumah kamu, aku harap kamu menyayanginya dan menganggapnya sebagai adikmu sendiri." timpal Dewa yang dijawab oleh anggukan singkat oleh Angell.
"Bagaimana aku bisa menganggap wanita yang telah merebutmu dariku sebagai adikku sendiri Wa, yang benar saja kamu itu, yang ada aku ingin menjabambak rambutnya dan mengacak-ngacaknya." suara hati Angell.
"Kalau begitu kami pamit dulu Angell."
"Iya Wa."
"Kami pergi dulu ya mbak, baik-baik dirumah ya mbak."
Angell tidak menanggapi kata-kata Nuri tersebut.
"Ayok dek." Dewa merangkul bahu Nuri dan membawa istri yang sangat dia cintai itu keluar dari rumah besar milik keluarga Angell.
Begitu Dewa dan Nuri sudah keluar dan tidak terlihat dipandangannya, Angell langsung berbalik dan kembali menuju kamarnya, dadanya benar-benar sesak, dia merasa kesulitan untuk bernafas, sehingga Angell mempercepat langkahnya, dia ingin segera sampai dikamarnya supaya dia bisa menangis disana.
"Hik hikss." Angell mulai terisak dan membanting tubuhnya ditempat tidurnya, "Brengsek, Nuri sialan, bisa-bisanya Dewa sangat mencintainya begitu, sakit banget hatiku, sakit." untuk beberapa menit kedepan, Angell tidak henti-hentinya menangis, dia berharap dengan menangis bisa meredakan rasa sakit yang saat ini tengah dia rasakan, nyatanya, rasa sakit itu tidak kunjung hilang juga.
Angell tahu apa yang harus dia lakukan untuk meredakan rasa sakit yang saat ini tengah dia rasakan, dia bangkit dari posisi berbaring telungkupnya dan meraih ponselnya yang tergeletak dinakas, dia mendial nomer Diana sahabatnya.
"Halo bidadari, ada apa ya nelpon malam-malam begini." suara Diana terdengar ceria.
"Di, kita ke club."
"Kebetulan sekali, ini aku akan berangkat, ya udah ya Angell, kalau gitu aku otw untuk menjemput kamu."
__ADS_1
Angell mengangguk, namun kemudian dia sadar kalau Diana tidak bisa melihat anggukannya sehingga dia menjawab, "Iya, aku tunggu kamu Di."
"Oke Angell."
Begitu sambungan terputus, Angell kini mulai bersiap-siap.
*****
Saat dalam perjalanan, Dewa menghentikan motornya didekat pedagang kaki lima yang menjual nasi goreng.
"Kenapa berhenti." Nuri bertanya.
"Kita makan dulu adek sebelum pulang."
"Tapi aku sudah makan dirumahnya mbak Angell."
"Ya udah adek, temenin kakak kalau gitu."
"Adek mending tungguin kakak disana ya." Dewa menunjuk tiker yang ada ditrotoar jalan, "Tungguin kakak disana ya dek, kakak mau pesan dulu."
"Hmmm."
"Adek beneran gak mau makan nieh."
"Gak, aku udah kenyang."
"Baiklah kalau begitu."
Setelah memesan, Dewa menyusul Nuri dan duduk disampingnya, gak lama kemudian, nasi goreng yang dipesan oleh Dewa diantarkan oleh abang-abang penjual nasi goreng, dan setelah mengucapkan terimakasih pada sik abang-abangnya, Dewa mulai menyantap nasi gorengnya dengan lahap.
"Adek beneran nieh gak mau makan, enak banget lho ini dek." untuk terakhir kalinya Dewa menawarkan.
"Gak." jawab Nuri konsisten.
Dewa kembali melanjutkan makannya.
Saat Dewa tengah makan begitu, Nuri tidak lepas memperhatikan wajah suaminya itu, ada rasa gimana gitu saat melihat wajah Dewa sekarang, rasa kesal yang selalu dia rasakan saat melihat Dewa seperti sebelum-sebelumnya sirna tidak bersisa begitu saja sekarang, entah apa yang terjadi dengannya sekarang, Nuripun tidak tahu kalau ditanya.
"Kenapa mandangin kakak terus sieh adek, adek mau makan." ucap Dewa karna sadar dirinya sejak tadi diperhatikan terus oleh Nuri.
Nuri langsung mengalihkan matanya kearah lain saat dirinya kepergok memperhatikan Dewa, "Ihh geer deh, siapa juga yang merhatiin kamu." biasalah ya wanita, sudah tertangkap basah masih saja tidak mau mengaku.
"Yang tadi itu apa doank namanya dek, mengagumi." Dewa menggoda.
"Isshh ya gaklah, mana mungkinlah aku mengangumi kamu."
"Jujur saja kenapa sieh dek."
"Ishh dibilang enggak ya enggalah." bantah Nuri.
"Hmmm."
Dewa tiba-tiba mendekatkan sendok yang berisi nasi goreng ke bibirnya Nuri, "Sudah aku bilang aku tidak ma..."
Dewa langsung menyuapkan nasi goreng tersebut ke mulut Nuri yang otomatis membuat Nuri jadi menghentikan ucapannya dan terpaka harus mengunyah nasi goreng yang sudah terlanjur masuk ke mulutnya.
"Ishh menyebalkan deh kamu itu, sudah dibilang aku gak mau makan juga." protes Nuri saat dia sudah menelan nasi goreng yang ada dimulutnya.
"Tapi enakkan dek."
"Hmm." gumam Nuri membenarkan.
"Mau lagi gak." Dewa kembali mengarahkan sendoknya ke bibir Nuri, dan kali ini dengan suka rela Nuri membuka bibirnya untuk menerima suapan yang diberikan oleh Dewa itu.
Dewa tersenyum melihat Nuri, beratapkan langit malam dan kerlap-kerlip taburan bintang dan juga rembulan malam dan duduk lesehan bersama dengan wanita yang dicintai, bagi Dewa, nikmat mana lagi yang akan kamu dustakan, bagi Dewa, malam ini benar-benar malam romantis, dia bisa menghabiskan waktunya dengan wanita yang dicintai.
*****
Sementara itu diclub malam.
"Angell, kamu jangan minum sampai tepar lagi kayak waktu itu." Diana memperingatkan saat mereka berdua bersiap untuk menegak minuman berwarna kuning keemasan itu ke mulut mereka.
"Gak janji Di, aku benar-benar sakit hati banget tahu gak, dan hanya minuman inilah yang bisa menghilangkan rasa sakit hati yang saat ini tengah aku rasakan, pokoknya ya Di, kamu jangan minum sampai kebablasan supaya ada yang membawaku pulang."
"Hmm, baiklah Angell, demi kamu aku harus menahan diri supaya tidak minum banyak, padahal mah aku berencana teler hari ini."
"Berkorbanlah untuk sahabatmu ini Di."
"Baiklah Angell sayang, demi kamu aku rela berkorban."
Dan akhirnya, malam itu, gadis itu gunakan untuk bersenang-senang, terutama untuk Angell, dia benar-benar melupakan rasa sakit hatinya dengan menenggak minuman memabukkan itu dan meliukkan tubuhnya dilantai dansa.
****
__ADS_1