SUAMIKU TERNYATA PRESDIR

SUAMIKU TERNYATA PRESDIR
KITA PULANG KE RUMAH


__ADS_3

"Adekkk." panggil Dewa.


Namun Nuri bukannya berhenti, tapi gadis itu justru semakin mempercepat langkahnya, dan tanpa bisa ditahan, air mata gadis itu jatuh dengan deras membasahi pipinya yang hitam manis, dengan kasar Nuri menghapus air matanya sambil merutuk, "Dasar air mata sialan kenapa bisa-bisanya dia berkhianat dengan menangisi laki-laki brengsek itu." air mata Nuri makin deras mengalir sehingga membuat penglihatannya pun menjadi kabur.


Kali ini Dewa tidak ingin kehilangan jejak Nuri, dia ingin segera menyelsaikan permasalahan mereka, dia tidak ingin masalah ini berlarut-larut.


"Adekk." Dewa meraih lengan Nuri yang membuat tubuh Nuri reflek berputar menghadap Dewa.


"Adekk." lirih Dewa saat melihat wajah sang istri yang begitu sangat dia cintai dipenuhi oleh air mata, "Adek nangis."


Nuri berontak, dia berusaha melepaskan pegangan tangan Dewa dilengannya, "Lepasin aku, lepasin, dasar laki-laki sialan, tidak cukupkah kamu berbohong kepadaku, dan sekarang kamu malah berselingkuh dengan sik Angell itu." dengan tangannya yang bebas Nuri memukul-mukul dada Dewa, "Aku benci sama kakak, benci benci." sambil menjerit.


Dewa menarik tubuh Nuri dan menarik gadis itu dalam pelukannya, hal itu dilakukan untuk menenangkan Nuri, "Sssttt."


Namun Nuri yang kesal terus saja berontak, "Lepasin lepasin, lepasin aku, aku tidak sudi dipeluk sama kamu, aku benci sama kamu huhu." tangisnya.


Meskipun dikatakan brengsek dan segala macamnya, dengan sabar Dewa berusaha membujuk Nuri, "Sayang, kita pulang ya ke rumah kita ya sayang, kakak jelaskan semuanya dirumah."


"Aku gak mau, pulang saja sana ke rumah kakak, itu bukan rumahku."


"Adek adek." dengan tingkat kesabaran yang seluas samudra atlantik Dewa masih berusaha untuk membujuk istrinya tersebut, Dewa menangkup wajah Nuri dan menatap Nuri tepat dimanik matanya, "Adek, dengarkan kakak."


Seolah-olah terhipnotis dengan tatapan mata teduh milik sang suami, Nuri berhenti berontak seketika, dia seolah membatu bak patung.


"Kita pulang ya adek, kita bicarakan semuanya baik-baik, gak enak lho adek kita dilihatin banyak orang tuh." dengan lembut Dewa membujuk sang istri.


"Hmmm." gumam Nuri yang dibarengi dengan anggukan.


Dewa tersenyum tipis saat dirinya berhasil meluluhkan sang istri, dia kemudian melambaikan tangannya untuk menyetop taksi, Dewa memang membawa mobil sieh, tapi kalau dia kembali berjalan ke restoran, takutnya nanti Nuri malah berubah fikiran dan kembali ingin kabur darinya, oleh karna itu Dewa menyetop taksi yang dilihatnya.


Saat didalam taksi, ponsel Dewa berdering, dari dalam saku jasnya Dewa mengeluarkan benda pipih tersebut untuk melihat siapakah gerangan yang menghebunginya.


"Iya Angell." ujar Dewa saat menempelkan tuh ponsel ditelinganya, ternyata yang menelpon adalah Angell.


Demi mendengar nama mantan temannya itu sekaligus wanita yang menyukai suaminya tersebut Nuri mendelik, sejak Angell mengata-ngatainya waktu direstoran waktu itu, Angell jadi sangat tidak menyukai Angell, bahkan mendengar namanya saja Nuri tidak suka.

__ADS_1


"........" 


"Sorry Ngell, aku harus menyelsaikan permasalahanku sama istriku, kamu sebaiknya balik saja."


"......."


"Kamu bisa naik taksikan, atau suruh sopir kamu yang jemput bisakan."


"......"


Setelah itu, Dewa menurunkan ponselnya dan kembali memasukkannya ke saku jasnya.


Nuri tidak sepenuhnya luluh, dia masih menyimpan rasa jengkel dibenaknya, apalagi tadi Dewa menerima telpon dari Angell, oleh sebab itu Nuri memilih mengarahkan tatapannya ke arah luar, untuk saat ini, baginya pemandangan sepanjang perjalanan lebih indah daripada suaminya sendiri.


Dewa tahu istrinya tidak begitu saja berhasil dia luluhkan, oleh karna itu, dia meraih tangan Nuri dan membawanya ke bibirnya, Dewa mengecup tangan sang istri dengan mesra.


Semarah-marahnya Nuri saat ini, tapi hatinya meleleh dengan perlakuan sang suami yang begitu manis, hanya saja, dia memilih untuk menyembunyikannya dan tidak menampakkannya.


"Ishh, apaan sieh kak Dewa itu, difikirnya aku bakalan luluh apa." batinnya.


Sampai kemudian, taksi yang mereka tumpangi berhenti tepat didepan sebuah rumah mewah dan megah, Nuri yang sejak masuk taksi tidak lepas mengalihkan tatapan dari jendela tentu saja heran melihat sik sopir taksi berhenti dirumah besar tersebut, bukan dirumah sederhana yang selama ini mereka tempati, dan itu membuatnya mengalihkan perhatiannya ke arah Dewa yang duduk disampingnya.


"Ini rumah sia…."


"Rumah kita adek."


"Hehh, rumah maksudnya." untuk saat ini Nuri seperti melupakan fakta kalau suaminya adalah orang kaya.


"Ya rumah kita dek, rumah yang akan kita tinggali." jelas Dewa.


Saat Nuri akan kembali membuka bibirnya untuk mengajukan pertanyaan, Dewa lebih dulu berkata, "Ayok dek turun."


"Tapi…tapi…"


"Turun dek, nanti didalam kakak jelaskan semuanya." lisan Dewa tegas yang membuat Nuri tidak bisa membantah, tangannya kemudian mendorong pintu mobil.

__ADS_1


Setelah memberikan ongkos pada sopir taksi, dengan menggandeng tangan Nuri Dewa membawanya mendekati gerbang, satpam penjaga rumah besar milik Dewa yang mengenali sang majikannya dengan sigap membukakan gerbang besar tersebut.


"Selamat datang tuan." sambutan sik satpam yang bernama Syarifudin itu.


"Terimakasih Udin." balas Dewa membalas keramahan sik satpam.


Mata pak Udin terarah pada tangan gadis yang digandeng oleh sang tuan, benaknya tentu saja dipenuhi oleh tanda tanya tentang siapakah gerangan wanita yang saat ini bersama dengan sang tuan.


"Siapakah wanita yang bersama dengan tuan, apakah pacarnya tuan." duganya.


Menyadari arti tatapan satpam penjaga rumahnya, Dewa memperkenalkan Nuri.


"Perkenalkan pak Udin, wanita cantik ini namanya adalah Nuri, dia adalah istri saya."


Dan tidak pelak, informasi tersebut membuat pak Udin kaget, pasalnya yang dia tahu kalau tuan majikannya itu masih singgle, dan sekarang, tahu-tahunya sudah menggandeng seorang wanita dan memperkenalkan wanita yang digandengnya sebagai istrinya, hal itu tentu saja sulit dipercaya oleh pak Udin.


"Tuan Dewa jangan bercanda." tuhkan, bahkan pak Udin beranggapan kalau Dewa bercanda.


Kata-kata pak Udin sampai membuat Dewa terkekeh, "Tidak bercanda pak Udin, Nuri memang istri saya, saya menikahinya 3 bulan yang lalu."


"Hehh, beneran wanita ini adalah istri tuan."


"Iya pak Udin." angguk Dewa.


Nuri yang masih menyimpan kekesalan pada Dewa hanya diam saja tanpa menyahuy sedikitpun, bahkan dia tidak mau memperkenalkan dirinya secara resmi.


"Ya sudah pak Udin, saya akan membawa istri saya untuk masuk kedalam untuk melihat-lihat rumah."


"Baik tuan." Udin mengangguk, dia masih belum percaya kalau wanita yang saat ini tengah digandeng oleh Dewa adalah istrinya.


"Ayok sayang kita masuk, kamu harus melihat rumah kita dan seisinya." ajak Dewa tanpa melepaskan genggaman tangannya pada tangan Nuri.


Pasangan pasutri itu kemudian berjalan meninggalkan pak Udin, dia masih menolak untuk percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang majikan barusan.


"Masak sieh gadis itu adalah istrinya tuan, kapan coba tuan menikahnya, kenapa saya tidak tahu kalau tuan menikah, apakah para ART dirumah besar juga pada tahu ya kalau tuan sudah menikah, atau pada belum tahu seperti saya." pak Udin bermonog sendiri.

__ADS_1


*****


__ADS_2