
"Ihh, apa-apaan sieh gue, kenapa juga gue kefikiran insiden tadi pagi coba." Nuri jadi kesel sendiri dengan dirinya sendiri karna bayang-bayang Dewa tidak mau lepas dari fikirannya, "Gak mungkinkan gue jatuh cinta sama laki-laki itu, laki-laki seperti Dewakan bukan tipe gue."
Imel dan Juli saling melempar pandangan saat melihat sahabat mereka itu hanya melamun saja dan tidak kunjung menyentuh makanan yang dipesannya.
"Nuri kenapa tuh."
"Mana gue tahu."
"Nurr, ooo Nur." Juli melambaikan tangannya didepan wajah Nuri untuk mengembalikan kesadaran Nuri yang saat ini entah dimana.
"Ehh, ada apa."
"Lo kenapa melamun."
"Gue gak melamun." bantahnya, padahal jelas-jelas dia melamun tadi.
"Terus apaan tuh namanya kalau bukan melamun."
"Gue lagi berfikir." alibinya.
"Dihh sok-sok'an lo berfikir segala."
Nuri mengabaikan ledekan Imel, sekarang dia menatap ke arah Juli dan mengajukan sebuah pertanyaan yang sejak tadi mengganjal dihatinya pada sahabatnya itu.
"Jul, menurut lo, kalau orang terus memikirkan seseorang itu artinya apa."
"Siapa yang lo fikirin, kak Dewa atau kak Jundi." sambar Imel.
"Ihh, diam lo ah, jangan nyambar aja." ketusnya, "Jadi itu maknanya apa Jul." cecarnya berharap Juli bisa menjawab pertanyaannya.
"Hmm, kalau seseorang memikirkan seseorang difikirannya itu artinya cuma satu Nur."
"Apa."
__ADS_1
"Ya tuh orang tengah jatuh cinta sama orang yang dia fikirkan." jawab Juli, "Emang lo lagi jatuh cinta ya, sama kak Dewa nieh pasti." tembak Nuri langsung.
"Sok tahu lo, ya gaklah." Nuri membantah, diakan belum yakin dengan apa yang dia rasakan, masak dia secepat itu jatuh cinta hanya gara-gara Dewa menangkap tubuhnya saat terpleset tadi pagi sieh.
"Jatuh cinta sama suami sendiri bukan sesuatu dosa lho Nur."
"Apaan sieh, gue gak jatuh cinta sama kak Dewa." Nuri masih membantah.
"Dibibir boleh saja lo bilang gak cinta, tapi itu hati lo mengatakan kalau lo jatuh cinta sama kak Dewa."
"Gue malas ah balas hal begituan, jangan goda gue doank." tandas Nuri memilih makanan yang dia pesan.
"Jul, entar malam lo dianterin sama kak Arikan." Imel mengalihkan topik dengan membahas pesta ultah Tania nanti malam.
"Iya kayaknya kalau mendapat restu dari kak Agus."
"Lo sendiri." Juli balik nanya.
"Ya seperti biasalah Jul, gue dianterin sama suami gue tercinta kak Qianu."
"Hmm, kayaknya gue naik taksi deh."
"Kok naik taksi sieh Nur, itu suami lo masih berdiri dengan kokoh kenapa lo milih naik taksi segala, ingat lho Nur, diangkutan umum itu banyak terjadi pelecehan."
"Malas gue dianter sama Dewa, motornyakan jelek, yang ada nanti dandanan gue malah berantakan lagi saat sampai ditempat pesta."
"Benar juga sieh, kalau pakai motor pasti dandanan jadi berantakan, atau apa lo mau gue jemput sekalian gak Nur." Imel menawarkan bantuan.
"Gak perlu Mel, terimakasih atas tawaran lo, gue mending naik taksi sajalah."
"Ya udah kalau lo gak mau, pesan gue, lo kudu hati-hati oke."
"Sipp."
__ADS_1
****
Saat akan memasuki kelas saat akan mengikuti mata kuliah berikutnya, Nuri cs berpapasan dengan Jundi yang berjalan ke arah kantin.
Jundi tersenyum ke arah ketiga gadis tersebut sebelum menyapa, "Halo semuanya."
"Halo juga kak."
"Kalian pasti dapat undangan ulang tahun dari Taniakan." Jundi bertanya.
Mereka kompak menjawab, "Iya."
"Emang kakak dapat juga." Imel balik nanya.
"Tentu saja dapat, Taniakan naksir aku."
"Hahhh." lagi-lagi mereka kompakan kagetnya.
"Tania suka sama kakak." Imel mengulangi kata-kata Jundi barusan untuk memastikan apakah pendengarannya masih berfungsi dengan baik.
"Iya." jawab Jundi membenarkan.
"Terus, kakak suka tidak sama Tania." itu pertanyaan Nuri, apakah Nuri cemburu, Nuri sendiripun tidak tahu jawabannya.
"Gak." tandas Jundi, "Tania bukan tipeku, gadis yang seperti Nurilah tipeku." Jundi blak-blakan mengatakan hal tersebut berharap Nuri peka kalau dia menyukai gadis tersebut.
"Tania itu salah satu wanita tercantik lho dikelas kami kak, meskipun yah gue lebih cantik sieh." narsis Imel sebelum melanjutkan kata-katanya, "Kenapa bisa kakak tidak suka disaat banyak laki-laki yang mau antre jadi pacarnya."
"Kan tadi aku bilang, aku tida suka sama Tania karna dia bukan tipeku."
"Hmmm, ya bagaimana cantiknya seseorang, kalau bukan tipe susah juga sieh buat jatuh cinta."
"Nurr, ntar malam berangkat bareng ya." Jundi menawarkan.
__ADS_1
"Tidak kak terimakasih atas tawarannya, tapi aku rencananya mau naik taksi saja." tolak Nuri halus.
****