
Akhirnya Nuri memutuskan untuk ikut makan malam dengan Dewa meskipun sebenarnya dia masih kesal sieh dengan Dewa, tadi laki-laki itu mengiriminya pesan bertubi-tubi yang mengingatkannya untuk bersiap-siap, padahalkan mereka berada dirumah yang sama, cukup bicara langsungkan beres.
Dan kini Nuri tengah menatap refleksi dirinya didepan cermin, Nuri memang tidak cantik, tapi banyak yang bilang kalau dia manis, Nuri memakai dress selutut berwarna ungu, dan memaki sepatu hak nol senti karna bisa dipastikan Nuri tidak bisa memakai jenis sepatu hak tinggi, dan tentunya tidak lupa tas mungilnya yang kini dia cangklongkan dilengannya, Nuri memasukkan ponsel dan dompetnya sebelum keluar menemui Dewa yang menunggunya diluar.
Dewa yang tengah duduk langsung berdiri saat melihat Nuri keluar, meskipun dengan dandanan natural tapi menurutnya istrinya begitu sangat cantik, hal itu membuatnya tidak berkedip menatap Nuri, yang ditatap jadi salting dan malu-malu.
"Cantik." pujinya yang membuat pipi Nuri bersemu.
Sumpah, hati Nuri dipenuhi oleh taman bunga saat mendengar Dewa mendengarnya, suara degupan jantungnya terdengar berdetak hebat, "Issh kok aku jadi gini sieh sekarang, gampang banget baper kalau digombalin oleh kak Dewa." desahnya dalam hati, dia juga jadi kesal sama dirinya sendiri.
"Kak, bisa gak jangan natap aku kayak gitu." Nuri jadi salting karna ditatap dengan sedemikian rupa.
"Emang kenapa, akukan terpesona dengan kecantikan istriku, makanya aku tidak mau berhenti untuk menatap." goda Dewa.
"Gombal." meskipun bilang begitu dibibir, tapi hati Nuri rasanya meletup-letup seperti ada ratusan kembang api yang meledak dihatinya.
"Wanita kenapa sieh selalu bilang gombal saat dipuji, padahal laki-laki memuji karna memang benar adanya lho, termasuk aku ini, aku muji adek karna memang benar adek cantik menurut kakak."
"Hmm, ini kita jadi berangkat gak sieh kak, atau kakak akan terus ngoceh gak penting sampai pagi."
"Adek mah memang lain, kakak berkata fakta malah dibilang ngoceh gak penting."
"Jadi mau berangkat gak nieh kak sebelum aku berubah fikiran."
"Iya iya ayok."
Mereka berjalan beriringan, diluar rumah sebuah taksi sudah menunggu mereka.
"Kita naik taksi kak."
"Iya."
"Kenapa tidak naik motor kakak saja."
"Kakak tidak mau membuat penampilan adek yang sudah dandan cantik begini menjadi berantakan, makanya kakak memesan taksi."
Nuri agak terharu juga sieh mendengar perhatian yang diberikan oleh suaminya itu, hal itu membuatnya tidak mampu menyembunyikan senyumnya.
"Senyum manis adek selalu membuat dada kakak ser seran, untungnya adek sudah menjadi milik kakak sehingga kakak tidak perlu jungkir balik untuk mendapatkan cinta adek."
"Kak Dewa, sampai kapan sieh kakak ngegombalin aku kayak gini terus, kapan berangkatnya kita ini, aku sudah sangat lapar, karna marah sama kakak aku jadi tidak sempat makan tadi siang."
Dewa jadi terkekeh, "Makanya sayangku, jangan suka marah-marah, gak baik lho marah-marah melulu, cepat tua dan keriput ntar." canda Dewa.
Nuri kok merinding gitu ya mendengar Dewa memanggilnya sayang, rasanya Nuri menyukai panggil tersebut.
"Ayok sebaiknya kita berangkat." ajak Dewa yang diangguki oleh Nuri.
****
Deni bilang melalui chatnya kalau, dia membuat makan malam romantis untuk Dewa dan Nuri disebuah taman dengan biaya yang terbatas supaya Nuri tidak curiga kalau sang suami adalah orang kaya.
Dengan menggandeng tangan Nuri Dewa membawa Nuri berjalan ketengah-tengah taman dimana disanalah tempat Deni menata meja dan kursi untuk makan malam.
"Kita makan ditaman."
"Iya, apa kamu suka."
"Iya, sepertinya ini pasti menyenangkan makan malam ditempat terbuka."
Ditengah-tengah taman tersebut terdapat ruang kosong, disanalah Deni meletakkan meja dan kursi, dan Deni juga memasang lampu kerlap kerlip yang semakin membuat romantis suasana, belum lagi lilin yang diletakkan mengelilingi meja, ini definisi makan malam romantis dengan biaya minimal dalam artian yang sesungguhnya.
Nuri takjub melihat acara makan malam yang dipersiapkan oleh suaminya, dia memandang sekelilingnya dengan wajah yang berbinar.
"Ini semua kamu yang mempersiapkannya."
Dewa mengangguk pasti, "Tentu saja, apa kamu suka."
"Iya, suka banget."
Dewa mengulum senyum dibibirnya, kejutan kecilnya ternyata sudah lebih dari cukup untuk membuat Nuri bahagia.
"Ternyata Deni bisa diandalkan dalam hal beginian, heran deh, tuh anak tahu banyak cara membuat cewek ngambekan kembali normal, sepertinya dia punya banyak cewek deh." ujarnya dalam hati.
Begitu tiba didepan meja, Dewa menarik kursi untuk Nuri dan mempersilahkan gadisnya untuk duduk, sedangkan dia duduk dikursi satunya yang berhadapan dengan Nuri, dimeja sudah terhidang makanan dan minuman dan ditengah-tengah terdapat lilin yang apinya melambai-lambai ditiup angin.
Sejak tadi senyum terus terkembang dibibir Nuri, gadis itu benar-benar terharu dan merasa istimewa oleh perlakuan Dewa, dan itu membuatnya jatuh hati sama Dewa, biasanyakan wanita akan luluh sama sikap lembut laki-laki, dan begitu juga yang terjadi dengan Nuri, gadis itu yang awalnya tidak pernah mencintai Dewa kini perlahan tapi pasti, hatinya sudah mulai menerima Dewa, sehingga setelah takjub dengan dekorasi pemandangan sekitarnya, kini dia memusatkan perhatiannya sepenuhnya pada kekasih halalnya yang tepat berada didepannya itu, dia yang awalnya selalu mengabaikan ketampanan Dewa kini benar-benar mengakui kalau suaminya benar-benar tampan dibawah temaram sinar rembulan dan lampu kerlap kerlip yang menghiasi tempat disekitar mereka.
"Kenapa sieh gue baru menyadari kalau suami gue setampan ini, pantas saja Imel dan Juli selalu memujinya."
"Dekkk." Dewa memanggil Nuri karna dilihatnya istrinya itu menatapnya, "Halooo adek." Dewa bahkan sampai melambaikan tanganya didepan Nuri dan berhasil mengembalikan kesadaran gadis itu.
__ADS_1
"Ehh." jadi malu sendirikan dia.
"Apa adek baik-baik saja." tanya Dewa khawatir, dia takut Nuri kesambet atau apa kan bisa berabe urusannya.
"Ehh iya kak, aku baik-baik saja, aku hanya…hanya terharu karna kakak mempersiapkan semua ini untukku."
Mendengar kata-kata Nuri membuat Dewa tersentuh, gimana tidak, istrinya itu terharu dengan kejutan kecil yang dia persiapkan.
"Terimakasih ya kak."
"Untuk."
"Karna kakak selalu sabar dalam menghadapiku, meskipun aku sering marah-marah gak jelas, labil, dan emosnya sering meledak-ledak dan tidak." mengingat apa yang telah dia lakukan kepada Dewa membuat Nuri jadi merasa bersalah, apalagi mengingat saat awal-awal mereka menikah, dia benar-benar memandang Dewa dengan sebelah mata dan menganggap Dewa pengangguran, itu semakin membuatnya semakin merasa bersalah.
Dewa tersenyum, dia meraih tangan Nuri yang tergeletak dimeja dan menggenggamnya, "Itu karna aku mencintai adek, aku sudah terpesona dengan adek sejak pertamakali melihat adek, itu kenapa aku sampai memberanikan diri datang ke rumah adek meskipun babe terkenal galak, sejak pertamakali melihat adek, kakak bertekad untuk bisa mendapatkan adek, dan ingin menjadikan adek sebagai ratu dihati kakak, yah meskipun pada akhirnya kita menikah karna sebuah kesalahpahaman dan adek terpaksa menerima kakak sebagai suami adek, tapi yah mungkin ini memang cara Tuhan untuk mempersatukan kita."
Nuri mengangguk, dia jadi melow, dan tiba-tiba saja air matanya jatuh, dia hanya tidak pernah menyangka kalau laki-laki yang tidak pernah dia inginkan dan harapkan menjadi suaminya kini berhasil merebut hatinya dan membuatnya jatuh cinta dengan sikap lembut dan penuh pengertiannya telah meruntuhkan dinding pertahanan yang selama ini dia bangun untuk membentengi dirinya dari laki-laki bernama Dewa.
"Aku mencintaimu dek, dan akan selalu seperti itu." Dewa memandang Nuri dengan tatapan penuh cinta.
Meskipun malu untuk mengatakannya, tapi toh Nuri mengakuinya juga, "Aku juga mencintai kakak."
Dewa tidak pernah menyangka Nuri akan membalas perasaannya, tadi saat dia mengatakan cinta bahkan dia tidak berharap Nuri akan membalasnya, karna tidak percaya, dia meminta Nuri untuk mengulangi kata-katanya.
"Coba ulangi sekali lagi dek."
"Aku juga mencintaimu kak."
Dan barulah Dewa mempercayai pendengarannya, tentu saja pengakuan tersebut menjadi salah satu hal yang paling membahagiakan yang pernah dia alami.
Dewa mengarahkan tangan Nuri yang ada dalam genggamanya ke bibirnya dan mengecupnya dengan mesra.
"Terimakasih dek, ini adalah hal yang paling membahagiakan untuk kakak."
Nuri tersenyum malu, dia hanya menunduk tidak kuat rasanya menatap tatapan lembut Dewa.
****
Dan malam itu menjadi malam yang membahagiakann baik untuk Nuri maupun untuk Dewa, bagaimana tidak mereka telah mengikrarkan cinta mereka berdua dengan bintang dan bulan yang menjadi saksi bisu kisah cinta mereka, dan sepanjang malam itu bibir Nuri tidak ada putusnya menyunggingkan senyum kebahagiaan, dia tidak pernah menyangka kalau pada akhirnya bisa jatuh cinta begini pada laki-laki yang awalnya melihat saja ilfil, tapi Tuhan maha membolak-balikkan hati hambanya, dengan kelembutan dan kesabaran Dewa akhirnya membuat Nuri luluh.
Nuri menyurukkan wajahnya didada Dewa, mereka melakukannya lagi, ini untuk kedua kalinya, Nuri merasa malu, wajahnya memanas sehingga dia menyembunyikan wajahnya didada sang suami, tingkah Nuri tersebut membuat Dewa gemas.
"I LOVE YOU DEK."
"Lho, kok diem sieh dek, adek gak cinta emangnya sama kakak."
"Love you kak."
"Terimakasih sayang." Dewa mengecup puncak kepala Nuri berkali-kali.
"Adek tidak menyesalkan melakukannya sama kakak."
Nuri menggeleng.
"Kakak tidak sabar deh dek ingin segera punya bayi, pasti rumah kita ramai kalau ada bayinya, apa adek ingin punya bayi juga."
Wajah Nuri semakin memerah mendengar keinginan dari Dewa tersebut, dia mengangguk malu-malu.
"Sepertinya kita harus lebih bekerja keras kalau menginginkannya, bagaimana menurut adek, apa adek bersedia kerja keras siang malam."
"Apaan sieh kak Dewa, mesum deh." rengek Nuri malu.
Dewa terkekeh, "Ya gak apa-apa mesum dengan istri sendiri adek, gak dosakan ya."
"Hmm."
"Jadi adek maunya anak berapa."
"Dua, laki-laki dan perempuan."
"Kalau kakak minta lima boleh gak dek." goda Dewa yang membuat Nuri langsung protes saking kesalnya.
"Ihh kakak, capek tahu kak, melahirkan itu sakit."
"Kan ada kakak yang akan selalu menemani adek, jadi adek jangan khawatir."
"Tapi tetap saja, aku gak mau lima, maunya dua."
"Kalau 4." Dewa menawar.
"Gak mau, aku maunya dua." kukuh Nuri.
__ADS_1
"Tiga gimana." Dewa masih menawar, mereka sudah seperti pedagang dan pembeli yang tengah menawar dagangan saja.
Nuri terlihat mempertimbangkan, "Boleh deh kalau tiga."
Senyum Dewa terkembang dibibirnya.
"Kalau begitu, ayok kita melakukannya lagi."
"Capek kak."
Namun Dewa tidak mengindahkan keluhan Nuri, dia mulai melakukan aksinya lagi untuk memujudkan impiannya untuk memiliki momongan.
****
Paginya setelah mandi dengan handuk melilit ditubuhnya, Nuri berdiri didepan cermin melihat tampilan dirinya, dia mengernyit saat melihat banyaknya stempel kepemilikan yang dibuat oleh Dewa ditubuhnya, ya kalau dibagian yang tertutup sieh ya seharusnya sieh tidak apa-apa, tapi dibagian lehernya ada beberapa ****** yang begitu sangat kentara yang membuat Nuri meringis saat melihatnya.
"Kak Dewa galak banget." keluhnya, "Akukan mau kuliah, gimana cara nutupinnya."
Tiba-tiba dari arah belakang Nuri merasakan ada tangan yang memeluk lehernya, Nuri merasakan tengkuknya menghangat karna hembusan nafas Dewa yang menggelitik, Dewa kemudian mengecup tengkuk Nuri.
"Kenapa sayang." tanyanya karna melihat Nuri hanya berdiri didepan cermin.
Nuri menunjuk beberapa ****** diarea lehernya, "Lihat nieh akibat perbuatan kakak."
Dewa tersenyum bangga melihat stempel kepemilikannya bertengger manis dileher istrinya, "Itu stempel kepemilikan sayang, itu artinya tidak ada yang boleh mendekatimu karna kamu sekarang adalah milikku seorang."
Nuri merinding mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Dewa, "Tapi aku mau kuliah kakak, kan gak lucu ketempat umum dengan leher penuh kissmark kayak gini." ketus Nuri.
"Kenapa malu sieh sayang, biar orang tahu kalau kamu adalah milikku."
"Ihh, kakak ini ada-ada saja." Nuri berusaha melepaskan tangan Dewa yang melingkari perutnya, namun Dewa bukannya melepaskan, tapi malah makin kuat meluknya.
"Lepasin kak, aku mau dandan ini mau siap-siap ke kampus." protes Nuri.
"Dek, bisa gak hari ini libur saja, kita dirumah saja ya, kakak ingin seharian bersama dengan adek ngurung diri dikamar."
"Isshh ngaco."
"Lepasin kak."
"Iya iya ini kakak lepasin."
Dewa mencuri ciuman dari pipi istrinya sebelum melepaskan belitan tangannya.
*****
"Kok wajah lo agak beda gitu Nur hari ini." komen Imel saat mereka bertiga tengah mengisi perut dikantin kampus.
"Beda apanya Mel."
"Wajah lo agak bersinar gitu kalau gue lihat."
Nuri tertawa karna menurutnya kata-kata Imel terdengar lucu, "Matahari kali bersinar."
"Iya Imel benar Nur." Juli membenarkan kata-kata Imel, "Wajah lo agak cerah gitu, sejak tadi juga lo terus tersenyum, ada apaan nieh, apa lo saat ini tengah happy." tebak Juli.
Nuri senyum-senyum menanggapi ucapan Juli.
"Ahh benar dia lagi bahagia ternyata." simpul Imel, "Bagi-bagi doank bahagianya apa Nur."
Karna tidak ingin menutupi kebahagian yang saat ini tengah dia rasakan, Nuri membenarkan praduga sahabatnya secara lisan, "Emang gue lagi bahagia."
"Karna...."
"Gue dan kak Dewa resmi saling mencintai sekarang." wajah Nuri terlihat berbinar gitu saat membicarakan sang pujaan hatinya tersebut.
"Yang benar lo Nur."
"Benar donk, masak iya gue bohong."
"Syukurlah kalau gitu, emang lo harus mencintai kak Dewa Nur."
"Cie cie ekhem ekhem yang lagi berbunga-bunga, PJnya donk Nur."
Sudah menjadi tradisi deh kayaknya di Indonesia kalau ada yang jadian selalu meminta traktiran.
"Oke, makanan kalian, gue yang bayarin."
"Asyikk makan gratis." antusias Imel, "Sering-sering saja ada yang jadian kayak gini biar kita tetap bisa makan gratis kayak gini."
"Dihh mau elo."
__ADS_1
*****