
"Boring deh, jalan yuk." saran Juli begitu dosen pengampu mata kuliah mereka telah keluar dari ruang kelas mereka karna kebetulan juga mata kuliah yang mereka ikuti sudah habis.
"Mmm, gue setuju, udah lama lho kita gak menghabiskan waktu bertiga." Imel menyetujui saran Nuri.
"Gimana Nur, lo mau gak." Juli menyenggol lengan Nuri yang sejak tadi tidak memberi respon.
"Gue mau sieh, tapi gue harus izin suami dulu kali."
"Ahh iya, gue juga harus izin sama kak Qianu." timpal Imel yang baru ingat kalau dia juga punya suami, kadang memang Imel lupa kalau dia sudah menikah.
Juli hanya mendesah, kalau seandainya suami kedua sahabatnya itu tidak mengizinkan, alamat batallah mereka perginya.
"Mell, mending sono dah lo jauh-jauh saat nelpon kak Qianu, gue suka mual denger kata-kata bucin lo." usir Juli mengibas-ngibaskan tangannya.
"Iri bilang boss." sewot Imel tapi dia agak menjauh juga mengikuti apa yang diperintahkan oleh Juli.
Sedangkan Nuri, tetap stay ditempatnya, dia mendial nomer suaminya, pada deringan pertama, Dewa sudah menjawab panggilannya.
"Iya adek."
Yang namanya juga orang lagi jatuh cinta, jadi maklumlah ya kalau tuh hati penuh dengan bunga-bunga bermekaran ditaman hati, hal itulah yang saat ini tengah dirasakan oleh Nuri, tuh anak bawaannya senyum saja saat mengingat suaminya itu, apalagi saat menelpon seperti ini, baginya suara Qianu merupakan suara paling merdu yang pernah dia dengar.
Juli yang sejak tadi memperhatikan sahabatnya itu jadi geli sendiri, "Ihh, kok gue sieh yang geli sendiri." komennya yang diacuhkan oleh Nuri.
"Kak ini sik panjull ngajakin aku jalan." Nuri tidak sadar menyebut nama ledekan Juli karna kesal karna ledekan Juli.
"Panjull." ulang Dewa terdengar bingung, "Siapa panjull adek."
"Maksud aku Juli kak, dia ngajakin jalan gitu, boleh gak kak aku pergi, aku bosan soalnya dirumah terus." Nuri membuat suaranya sok diimut-imutkan sehingga membuat Juli membuat gerakan seperti orang yang muntah.
"Dihh syrikk aja lo." balas Nuri tanpa suara membalas ledekan Juli.
"Busett, gak Imel, gak elo, sama saja, bikin gue mau muntah saja."
"Iri bilang boss."
"Iri, gaklah yaww." Juli memang punya pacar, namanya Wahyu Arial Dirgantara atau yang biasa dipanggil Ari, mereka sudah pacaran sejak SMA, Ari adalah laki-laki tengil dan slengean yang tidak pernah berkata-kata manis sama Juli, jadi wajar saja kalau Juli dan Ari tidak pernah yang namanya romantis-romantisan baik lewat telpon apalagi saat bertemu secara langsung, selama mereka berpacaran, Ari tidak pernah sama sekali berkata-kata manis sama Juli, sehingga wajar saja Juli enek saat mendengar kedua sahabatnya yang kadang lebay bin alay saat ngobrol begini dengan pasangan masing-masing.
__ADS_1
"Jadi gimana kak, boleh gak aku jalan sama Juli dan Imel." Nuri kembali fokus dengan telponnya.
"Boleh donk adek." jawab Dewa dari seberang yang membuat seketika senyum Nuri melebar.
Dewa bukan merupakan tipe suami yang posesif, dia memberi kepercayaan sepenuhnya kepada Nuri untuk melakukan apapun yang ingin dilakukan asal itu membuat Nuri senang, karna fikirnya, sebuah hubungan akan langgeng jika dibangun diatas dasar sebuah kepercayaan.
"Boleh kak." Nuri memastikan apa yang didengarnya.
"Iya boleh dek, asal..."
"Lo diizinin pergi sama laki lo." Juli bertanya tanpa suara yang dijawab dengan sebuah anggukan oleh Nuri.
"Yess." senyum Juli mengembang saat mengetahui kalau Nuri sudah mendapatkan izin dari Dewa, sekarang tinggal mengetahui apakah suami Imel mengizinkan atau tidak.
"Asal apa kak." kejar Nuri.
"Pulangnya kakak jemput."
"Sip kalau yang itu."
"Oya kak, kakak lagi apa sekarang." Nuri bertanya pada suaminya sebelum memutus sambungan.
"Sama siapa." keponya, ya wajarlah kepo, kan sama suami sendiri.
"Kakak lagi makan siang sama teman."
Kalau Dewa bilang dia tengah makan malam dengan teman perempuannya, sudah bisa dipastikan Nuri akan ngambek, dan berhubung Nuri juga tidak bertanya tentang jenis kelamin temannya sehingga fikir Dewa dia juga tidak perlu untuk memberitahu Nuri secara rinci.
"Oh ya sudah kalau gitu kakakku yang tampan, selamat menikmati makan siangnya."
"Iya adekku yang cantik, ingat, adek juga jangan lupa makan, kakak tidak mau kalau adek sakit."
"Kenapa kalau aku sakit, itu merepotkan kakak ya." jadi salah sangkan kan sik Nuri.
"Kakak senang kok direpotkan adek, kakak hanya tidak ingin melihat wanita yang kakak cintai dan kakak sayangi kesakitan sedangkan kakal tidak bisa meredakan rasa sakit yang adek rasakan."
Kata-kata Dewa itu membuat Nuri jadi tersipu malu, "Ahh kakak ini bisa saja."
__ADS_1
"Ya udah kalau gitu kak, I LOVE YOU mmmuahh."
Melihat sahabatnya memonyongkan bibirnya sampai tuh bibir mencium ponsel membuat Juli bergidik jijik, "Ihh zizik dah gue."
Namun Nuri tidak memperdulikan ledekan Juli, saat ini dia tengah menunggu ucapan cinta dan ciuman jarak jauh dari suaminya."
"Love you to adek, miss you mmuahh."
Seketika itu Nuri memegang area dimana jantungnya berdetak cepat begitu panggilan sudah terputus, detakan hanya untuk satu nama yaitu Dewa.
"Kak Dewa selalu saja bisa membuatku tersenyum, jadi kangen deh." desahnya dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.
"Lo ternyata sama alay dan lebaynya ya seperti Imel saat menelpon suami lo Nur, sumpah lo berdua membuat gue ingin muntah." komen Juli saat Nuri mengakhiri panggilannya dengan Dewa.
"Makanya nikah say, agar lo tahu bagaimana rasanya seorang suami itu bucin sama kita."
"Gue itu belum siap secara fisik dan lebih-lebih mental untuk membangun sebuah hubungan rumah tangga ya Nurr, gak kayak lo dan Imel yang ngebet ingin menikah dan merasakan apa yang namanya surga dunia."
"Dihh sialan lo, guekan dinikahkan secara paksa kali, bukan karna ngebet."
Dua menit kemudian, Imel terlihat mendekat ke arah Juli dan Nuri untuk menyampaikan informasi yang diterimanya dari sang suami. "Gimana Mel." tanya Juli tidak sabaran dan penuh.harap, "Lo diizinin gak sama kak Qianu."
"Sudah pasti donk, secara suami gue itu orangnya baik dan pengertian, dia bahkan meminta beberapa pengawal untuk ikut menjaga kita."
"Pengawal Mel." kompak Juli dan Nuri saling melempar pandangan saat mendengar kata-kata Imel barusan.
"Iya pengawal agar kita aman tanpa gangguan apa-apa, hal itu dilakukan oleh suami gue untuk memastikan gue aman." jawab Imel dengan entengnya tidak memperdulikan ekpresi tercengang dari wajah kedua sahabatnya.
"Ya salam Imel, sekalian saja kerahkan semua pengawal dirumah suami lo untuk ikutan mengawal elo untuk memastikan lo benar-benar aman saat pergi kemana-mana."
"Iya lo benar Jul, gue telpon kak Qianu dulu kalau gitu untuk memintanya melakukan apa yang lo sarankan."
Imel sik lemot malah beneran lagi menelpon suaminya untuk meminta Qianu menyuruh semua pengawal dirumah besar untuk mengawalnya.
"Ya Tuhan." Juli sampai menepuk keningnya sendiri, "Punya sahabat kok lemot akut kayak gini lagi."
"Sabar Jul, orang sabar disayang Tuhan." Nuri terlihat pura-pura khawatir.
__ADS_1
****