
Juli meletakkan nampan berisi teh didepan Nuri, "Minum dulu Nur agar lo tenang."
Nuri mengangguk, dia meraih cangkir teh tersebut dan langsung menyeruput air teh yang masih mengepulkan uap panas tersebut tanpa meniupnya terlebih dahulu, dan yang terjadi kemudian adalah.
Byurrrr
Teh yang masih panas tersebut tentu membakar lidahnya sehingga membuatnya menyemburkan air berwarna kecoklatan tersebit.
"Astaga Nuri, pelan-pelan." panik Juli yang melihat sahabatnya, "Masih panas itu Nur, ya ditiup dululah."
"Hiks hikss." Nuri malah menangis yang membuat Juli makin khawatir karna berfikir Nuri begitu kesakitan.
"Sakit ya lidah lo, tunggu disini Nur gue ambilkan obat dulu." Juli sudah bersiap untuk berdiri namun tangannya ditahan oleh Nuri.
"Ini yang sakit Jul." sambil memegang di mana area dadanya berada.
Juli mengurungkan niatnya, dia kembali duduk dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi dengan sahabatnya itu, "Apa yang terjadi Nur, lo lagi berantem ya sama kak Dewa."
"Hiks hiks." ditengah-tengah isakannya Nuri mengangguk, "Sik Dewa sialan itu selama ini telah membohongi gue Jul."
"Membohongi lo bagaimana, kak Dewa gak selingkuhkan."
Nuri menggeleng.
"Terus, kak Dewa membohongi lo tentang apa."
"Dia sebenarnya orang kaya Nur, selama ini dia menipu gue dengan berpura-pura sebagai orang miskin, dia adalah seorang Ceo diperusahaan tempat dimana kakak lo bekerja." cerita Nuri.
Tentu saja Juli tidak percaya begitu saja dengan apa yang diceritakan oleh Nuri meskipun Nuri terlihat serius, "Yang benar lo Nur."
Nuri mengangguk untuk membenarkan.
"Beneran kak Dewa orang kaya, bukan kuli seperti yang lo bilang selama ini."
Nuri kembali mengangguk.
"Akhh masak sieh, kok gue gak percaya ya."
"Kalau lo gak percaya, lo tanya saja sama kak Agus siapa ceo dari perusahaan tempatnya bekerja."
"Kak Agus lagi dirumah mertuanya bersama kakak ipar dan keponakan gue."
"Ya udah, lo lihat saja digoogle, disana data-data dan profil ceonya lengkap."
Juli melakukan apa yang dikatakan oleh Nuri, sama seperti Nuri, Juli juga terkejut saat mengetahui fakta kalau Dewa yang selama ini mereka kenal sebagai laki-laki sederhana ternyata adalah seorang ceo dari perusahaan ternama.
"Ini beneran kak Dewa Nur, astaga, jadi selama ini kak Dewa membohongi lo dengan mengatakan kalau dia bekerja sebagai kuli bangunan."
"Jahat bangetkan dia."
"Kak Dewa ngasih tahu alasannya gak Nur sama elo kenapa dia berbohong."
Nuri kemudian menceritakan apa yang diketahuinya, tentang Dewa yang mencari cinta sejati, tentang dirinya yang tidak ingin dicintai karna hartanya.
Juli hanya mangut-mangut mendengar cerita Nuri, fikirnya apa yang dilakukan oleh Dewa tidak salah, wajar saja kalau Dewa ingin mendapatkan cinta sejati dengan berpura-pura menjadi orang miskin mengingat dizaman sekarang kebanyakan wanita mencintai pria karna hartanya.
"Menurut gue ya Nur, apa yang dilakukan oleh kak Dewa itu gak salah, kak Dewa hanya ingin menemukan cinta sejatinya, dan dia sekarang sudah menemukannya, yaitu elo Nur."
"Tapi tetap saja dia telah berbohong sama gue Jul, dan gue paling benci dibohongin."
"Tapikan kak Dewa bohongnya tidak merugikan elo Nur, justru seharusnya lo senang donk ternyata kak Dewa orang kaya, dan itu artinya lo adalah nyonya kaya dan elo bisa membeli apapun yang lo inginkan, bukannya sejak dulu lo bermimpi menikah dengan orang kaya ya."
"Meskipun begitu Jul, gue gak terima dibohongin sama sik Dewa itu, identitasnya saja dia sembunyikan, apalagi hal lainnya."
"Gue yakin Nur, kak Dewa itu bukan tipe laki-laki pembohong."
__ADS_1
"Kok lo malah belain Dewa sieh Jul."
"Habisnya kak Dewa gak salah Nur, dia berbohong demi kebaikan."
"Akhh tahu ah, pokoknya gue masih tidak diterima dibohongin sama dia."
Juli hanya menggeleng melihat kekeraskepalaan sahabatnya itu.
"Lo mau nginep disini."
"Hmmm, bolehkan."
"Tentu saja boleh, rumah gue, ehh salah." Juli meralat, "Rumah kak Agus selalu terbuka kok untuk lo kapanpun lo mau nginep, tapi lo harus ngasih tahu kak Dewa dulu agar dia gak kebingungan nyariin elo."
"Gak mau." bantah Nuri cepat, "Buat apa gue kabur ke rumah lo kalau gue harus laporan segala sama dia, guekan lagi marahan sama dia."
Juli hanya bisa mendesah berat, dan tidak ada yang bisa dia lakukankan, tidak mungkin juga dia memaksa Nuri untuk menghubungi Dewa untuk memberitahukan tentang keberadaannya.
"Ya sudahlah terserah lo saja kalau gitu Nur."
*****
Sampai malam menjelang, Dewa masih melakukan pencarian untuk menemukan keberadaan sang istri, dia tidak mungkinkan hanya tinggal diam dan hanya ongkang-ongkang kaki dan menunggu Nuri pulang sendiri ke rumah, tadi dia sempat menelpon mertuanya dan mananyakan keberadaan istrinya itu, namun ibu mertuanya bilang kalau Nuri tidak ada dirumahnya.
Dan saat ini, Dewa terus menyusuri jalan berharap bertemu dengan istrinya.
"Adek, dimana sieh kamu itu, kenapa sieh kamu suka sekali membuat orang khawatir."
Saat tengah mencari pencarian begitu, Dewa menerima sebuah notikasi chat diponselnya yang ternyata dikirim oleh Juli.
"Semoga Juli membawa kabar baik." gumamnya dan membuka pesan tersebut.
Juli : Kak Dewa, Juli ada dirumah aku kak, tapi untuk malam ini biarkan dulu Nuri menginap dirumah kakakku, kayaknya dia butuh menenangkan diri, sebenarnya Nuri melarangku untuk memberitahu kakak, tapi aku melakukannya diam-diam supaya kak Dewa tidak khawatir dan bingung dengan keberadaan Nuri.
Dewa terlihat lega setelah membaca pesan tersebut, meskipun tidak pulang ke rumah, tapi seenggakanya dia tahu kalau Nuri aman, atas pemberitahuan tersebut, Dewa tidak lupa berterimakasih sama Juli.
Juli : Sama-sama kak Dewa, tapi kak Dewa tidak perlu berterimakasih, Nuri sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri.
Dewa : Sekali lagi terimakasih ya adek
Juli : Sama-sama kak
Meskipun sangat ingin bertemu dengan Nuri dan ingin menyelsaikan masalahnya dengan Nuri malam ini, tapi Dewa tidak mau egois dengan menjemput paksa Nuri ke rumahnya Juli, yang terpenting sekarang adalah, dia sudah tahu kalau istrinya sudah aman, Dewa membenarkan kata-kata Juli, kalau dia harus membiarkan Nuri tenang dulu, dan setelah itu barulah dia akan menemui Nuri dan membicarakan masalah mereka baik-baik.
Dan sekarang Dewa memutar mobilnya untuk kembali ke rumah, dia harus istirahat, dia baru menyadari kalau dirinya begitu sangat capek karna seharian mencari Nuri.
"Aku harus pulang, aku juga butuh istirahat."
****
Semuanya tidak baik-baik saja, tapi sejauh ini, Dewa berusaha untuk menahan dirinya untuk tidak menghubungi Nuri meskipun tangannya rasa gatal sekali untuk melakukan hal tersebut, tapi sampai menjelang siang dia harus memberikan selamat pada dirinya sendiri karna berhasil menahan tangannya untuk tidak menghubungi Nuri meskipun hanya sebuah chat.
Dan untuk mengalihkan perhatiannya dari sang istri, Dewa menyibukkan dirinya bekerja meskipun fikirannya tidak sepenuhnya teralihkan.
Pintu ruangannya tiba-tiba terbuka yang membuat Dewa reflek mendongak dari pekerjaannya, Angell terlihat berdiri diambang pintu dengan senyum manisnya.
"Hai Wa." sapa Angell melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Dewa.
"Angell, kamu ngapain disini." tanya Dewa tanpa membalas sapaan Angell.
"Mau ngajak kamu makan siang."
Dewa melihat arloji yang melingkar dipergelangan tangannya, saking asyiknya bekerja sehingga dia tidak sadar kalau sekarang sudah waktunya untuk makan siang.
"Sudah waktunya makan siang ternyata."
__ADS_1
"Jangan kesibukanmu bekerja membuat lupa makan Dewa, ingat ya, kesehatan itu yang paling penting."
"Hmmm."
"Jadi, maukan Wa makan siang bareng aku."
"Baiklah." gumam Dewa tidak terlihat antusias, sebenarnya dia tidak lapar, masalahnya dengan Nuri yang belum kelar membuat dia tidak punya nafsu untuk makan, tapi tidak enak juga menolak ajakan Angell, apalagi Angell datang ke kantornya segala.
"Ya udah yuk kita berangkat sekarang."
Dewa mengangguk.
*****
Sementara itu Nuri yang memutuskan untuk tidak masuk kuliah hari ini dan kerjaannya hanya mendekam dikamar Juli sejak tadi uring-uringan, dia jadi kesal sendiri karna Dewa sama sekali tidak menghubunginya, diakan berharap kalau Dewa membujuknya dan dia sangat ingin Dewa mencarinya gitu, diakan juga ingin seperti wanita lain yang kalau marah itu dibujuk dan dirayu-rayu oleh pasangannya, dan yang Nuri tidak tahu, kalau kemarin suaminya itu sampai muterin seluruh Jakarta untuk mencarinya.
"Ishhh, ini sik Dewa menyebalkan sekali sieh, masak dia tidak ngehubungin gue sama sekali sieh, seenggak dia chat kek nanyain kabar gue, tanya gue dimana, tanya apakah gue baik-baik saja atau tidak, ini dia adem ayem saja, dia beneran cinta gak sieh sama gue." entah apa dah maunya sik Nuri ini, gak dihubungin dia ngomel-ngomel, dan kalau dihubungin dia sudah pasti akan nyuekin Dewa, memang benar ternyata kalimat yang mengatakan kalau wanita adalah mahluk yang ribet.
"Malah gue bosan lagi dirumahnya kak Agus, kalau dirumah gue sendiri, meskipun jelek gue gak akan bosan." keluhnya.
Karna merasa bosan, Nuri memutuskan untuk jalan-jalan, selain karna faktor bosan, hal tersebut juga dia lakukan untuk menghilangkan rasa galau yang saat ini melingkupi perasaannya karna Dewa yang tidak kunjung mencarinya.
"Mbak Atun, aku pergi dulu ya." pamit Nuri sama mbak Atun yang merupakan ART dirumahnya Agus.
"Neng Nur mau kemana, mau pulang ya."
"Akhh, tidak mbak Atun, aku belum mau pulang kok, hanya mau cari angin saja, bosan soalnya dikamar terus."
"Apa mbak perlu nemenin neng Nur."
"Ohh, tidak perlu mbak, mbak dirumah saja jaga rumahnya." tolak Nuri, saat ini dia benar-benar ingin sendiri saja menikmati kegundahan hatinya.
"Baiklah kalau begitu neng Nur, tapi neng Nur hati-hati ya."
"Iya mbak Atun, terimakasih atas perhatiannya."
Mbak Atun mengangguk, "Baiklah neng, tapi neng Nur tahukan jalan pulang."
"Tentu saja mbak Atun, mbak Atun fikir aku anak TK apa." kekeh Nuri.
"Ya siapa tahu atuh neng."
"Ya sudah ya bik kalau begitu aku pergi dulu."
"Hati-hati ya neng." pesan mbak Atun.
"Iya mbak, ntar kalau balik aku bawain martabak ya."
"Iya neng, mbak tunggu ya."
*****
Nuri berjalan tidak tentu arah, dia melangkah kemana kakinya membawanya, dan tahu-tahunya saja dia sudah lumayan jauh dan dia merasa lapar, dia memasuki salah satu cafe yang dilewatinya, dia yang berniat untuk menenangkan perutnya yang terus meronta sejak tadi seketika rasa laparnya mendadak hilang seketika saat memasuki cafe matanya langsung menyaksikan pemandangan yang membuat dadanya sesak, Nuri melihat tepat beberapa meter didepannya, laki-laki yang sejak tadi pagi membuatnya galau ternyata tengah bersama dengan Angell, dan Nuri bisa melihat kalau suaminya itu terlihat bergembira, buktinya laki-laki tidak henti-hentinya tersenyum seoalah-olah tidak memiliki masalah.
"Kak Dewa." gumam Nuri, dia rasanya tidak mampu melangkahkan kakinya, kakinya seperti menancap ke dalam ubin, seketika tanpa bisa dicegah, air mata Nuri luruh membasahi pipinya, hatinya terasa sangat sakit saat melihat sang suami tengah bersama dengan wanita lain, "Dia sudah membohongiku dan tidak berusaha meminta maaf, dan sekarang dia malah bersenang-senang dengan wanita lain, dasar laki-laki sialan." umpat Nuri geram.
Sementara itu Dewa, dia tidak bahagia kok seperti yang Nuri fikirkan, dia tersenyum hanya untuk menghargai Angell yang berusaha melucu, itu saja, tidak lebih tidak kurang, hati Dewa tetap saja gundah gulana karna fikirannya terus terpancang sama Nuri.
Sampai kemudian matanya tidak sengaja tertuju pada pintu masuk cafe, dan disana, dimuka pintu dia melihat wanita yang dia cintai berdiri, Dewa bisa melihat mata Nuri memancarkan luka.
"Adek." gumam Dewa yang membuat Angell juga menoleh ke arah yang diperhatikan oleh Dewa.
"Wanita dekil itu ngapain sieh disini." Angell tentu saja tidak suka saat melihat Nuri.
Dewa langsung berdiri dan berniat untuk nyamperin Nuri, dia tidak pernah menyangka kalau wanita yang dia rindukan ternyata berada dicafe tempatnya makan sekarang.
__ADS_1
Nuri yang tadinya hanya bisa diam membeku kini seolah mendapatkan kesadarannya kembali, dia tiba-tiba saja bisa menggerakkan kakinya, saat mengetahui Dewa berjalan menghampirinya, Nuri langsung berbalik, dia berniat untuk melarikan diri.
*****