
Setelah rasa kangennya terobati, Dewa mendorong bahu Nuri pelan, mata mereka bertemu satu sama lain, pancaran bola mata tersebut jelas saja menggambarkan rasa cinta dari masing-masing kedua insan tersebut, Dewa dengan perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Nuri, tahu apa yang akan dilakukan oleh sang suami, Nuri otomatis memejamkan matanya, menanti apa yang akan Dewa lakukan pada dirinya, sayangnya, sebelum Dewa melakukan apa yang dia inginkan pada sang istri, pintu ruang kerjanya kembali terbuka, tentu saja hal tersebut membuat Dewa menjadi kesal karna hal romantis yang akan dia lakukan bersama sang istri terganggu, dia menoleh ke arah pintu dan bersiap untuk mendamprat sik pengganggu, namun sayangnya, kata-kata yang akan dia keluarkan kembali tertelan ditenggorokannya saat melihat siapa yang berada diambang pintu.
Nuri juga menoleh ke arah pintu, dan melihat Angell menatapnya dengan tatapan kentara sekali tidak suka, Nuri yang juga sudah menganggap Angell sebagai musuh memandang Angell dengan tidak kalah sengitnya, dalam hati dia merutuk, "Gadis ganjen itu, mau ngapain sieh dia kesini, jangan-jangan dia mau menggoda kak Dewa lagi." Nuri bersuudzon ria.
"Brengsek, haruskah aku melihat adegan yang menyakitkan ini." geramnya, ingin rasanya dia menjabambak rambut Nuri, tapi sayangnya, didepan Dewa, dia tidak bisa melakukan hal tersebut sehingga dia harus puas untuk menahan keinginannya tersebut.
"Angelll." ujar Dewa saat mengetahui kalau yang datang adalah sahabatnya.
"Hai Wa." sapa Angell senyum, "Hai Nur." dia juga menyapa Nuri dengan wajah datar.
Dibelakang Angell terlihat Marta, sekertaris Dewa itu terlihat ketakutan, gimana tidak ketakutan, dia tahu bossnya saat ini tengah bersama dengan sang istri didalam, dan Angell tiba-tiba datang meminta bertemu dengan Dewa, Marta sudah bilang kalau bossnya tidak bisa ditemui, karna Dewa selalu berpesan kepada Marta, setiap kali istrinya datang, dia tidak bisa menerima tamu, siapapun tamunya, dan Marta sudah menyampaikan amanat dari sang boss kepada Angell, sayangnya Angell malah tidak memperdulikan kata-kata Marta dan malah menerobos masuk, dan Marta jelas saja ketakutan karna dia tidak berhasil menjalankan perintah sang boss, kalau hanya dimarahin sieh Marta tentu saja gak apa-apa, menurutnya Dewa wajar saja marah karna dia lalai menjalankan perintah sang boss, tapi kalau sampai dipecat, Marta pasti akan menangis darah, pasalnya mencari kerja itu susahnya minta ampun, dan kalaupun dapat, belum tentu juga dapat yang gajinya mentereng seperti yang dia dapatkan sekarang ini.
"Pak Sadewa, saya benar-benar minta maaf, saya sudah berusaha menahan ibu Angell, tapi ibu Angellnya memaksa untuk masuk." Marta berusa untuk menjelaskan, dia berharap dengan begitu sang boss tidak memecatnya.
Dewa bukannya marah atau memecatnya seperti yang dibayangkan oleh Marta, tapi Dewa malah dengan senyum berkata, "Gak apa-apa Marta, kamu pergi saja."
__ADS_1
"Ohh, iya pak." Marta pergi dengan lega karna Dewa tidak memarahinya, "Syukurlah, pak Dewa tidak marah." batinnya.
Angell melangkah masuk dengan anggunnya dan mengenakan pakaian terbaik yang dia miliki, dengan dandanan yang sempurna yang membuat Nuri jadi insecure.
"Kenapa sieh gadis ganjen ini harus secantik ini, bikin gue kesal saja." keluhnya dalam hati.
Dan seperti kebiasaannya, begitu didekat Dewa, Angell langsung memeluk Dewa dan mencium pipi Dewa, dan hal tersebut seketika menyulut bara api yang sangat panas didadanya Nuri.
Dewa tidak merespon apa yang dilakukan oleh Angell, sejak menikah, dia benar-benar membatasi diri supaya tidak bersentuhan fisik dengan seorang wanita meskipun itu Angell sekalipun, hal itu dilakukan untuk menjaga perasaan istrinya, dan saat Angell memeluknya dan menciumnya, tentu saja Dewa tidak siap akan hal itu sehingga dia tidak bisa mengelak karna Angell melakukannya tiba-tiba, dengan takut-takut Dewa melirik ke arah Nuri, Dewa bisa melihat wajah istrinya yang merah padam, mata Nuri melotot tajam ke arahnya.
"Ishhh, ingin gue unyeng-unyeng sik ganjen ini, bisa-bisanya dia memeluk dan mencium suami gue didepan mata gue sendiri." geram Nuri, "Itu juga kak Dewa, dia bukannya menolak malah menerima saja, dasar menyebalkan, awas saja ntar malam, gak gue izinin dia tidur bersama dengan gue." benar dah tuh dugaan Dewa, dia tidak bakalan diizinin tidur dikamar ntar malam.
"Mmm, Angell bisa tidak kalau ketemu gak perlu peluk dan cium segala." kata Dewa, dia berharap Nuri tahu kalau dia tidak menginginkan hal tersebut.
"Ohh, gitu ya, sorry." ujar Angell agak kecewa, biasanya Dewa biasa aja tuh saat dia memeluk dan mencium kedua pipinya, dan sekarang malah Dewa melarangnya dengan terang-terangan untuk melakukan hal tersebut, "Ini pasti karna sik gadis dekil sialan ini sehingga Dewa tidak ingin aku peluk dan cium, benar-benar menyebalkan gadis dekil ini." Angell menatap Nuri dengan tatapan permusuhan yang begitu sangat kentara, Nuri juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Dewa menyadari adanya hawa tidak enak yang terjadi diruangannya yang disebabkan oleh Nuri dan Angell, Dewa ingin antara istrinya dan juga sahabatnya menjalin hubungan baik, biar bagaimanapun, kedua wanita tersebut begitu sangat berharga untuk Dewa, oleh karna itu Dewa berkata, "Adekk, Angell, kalian yang akur ya, jangan musuhan."
"Siapa yang musuhan." kompak Nuri dan Angell bersamaan, dan itupun dikatakan dengan nada ketus, siapa yang bakalan percaya coba kalau mereka tidak musuhan.
"Aku dan sik gan..." Nuri hampir saja kecoplosan mengatakan sik ganjen, kalau dia keceplosan, sudah bisa dipastikan deh kalau bakalan terjadi keributan, tapi untungnya Nuri berhasil mengerem kata-katanya, "Maksud aku, aku dan sahabat kak Dewa gak musuhan kok." ralatnya, Nuri ogah menyebut nama Angell secara langsung dengan bibirnya, oleh karna itu dia memanggil Angell dengan panggilan 'sahabat kak Dewa'.
"Iya Wa, ngapain juga aku musuhin istri kamu." Angell mengatakan kalimat tersebut sambil memandang Angell dengan tatapan sinis yang jelas-jelas mengindikasikan ketidaksukaannya kepada Nuri, "Dihh lagian aku gak level dengan istri kamu yang hitam dekil begini, heran deh aku, kenapa bisa-bisanya kamu menikahi gadis jelek dan dekil ini, jika dibandingkan dengan aku, jelas sangat jauhlah bedanya." tambah Angell dalam hati.
"Syukrulah kalau begitu, tapi bisakan wajahnya gak asam begitu."
Nuri dan Angell tersenyum sedikit, dan setelah itu, kembali bibir mereka terlihat masam.
"Tuhan, kenapa bisa seperti ini sieh, aku ingin banget melihat istriku dan sahabatku akur, biar bagaimanapun, mereka adalah dua wanita yang aku sayang." sayang dengan cara yang berbeda pastinya.
****
__ADS_1