
Dewa : Den, tolong jemput saya dan bawain pakaian kerja saya sekalian ke rumah saya ya.
Dewa mengirim pesan pada asistennya tersebut.
Deni : Ke rumah bapak yang mana nieh.
Dewa : Ke rumah yang kamu beliin untuk saya itulah.
Deni : Oke siap bapak, saya otw nieh
Gak lama, mobil yang dikendarai oleh Deni berhenti tepat didepan rumah sederhana milik Dewa, Dewa terlihat duduk didepan teras menunggu asistennya.
Deni berjalan mendekati Dewa dengan membawa apa yang dipesan oleh Dewa.
"Niehh boss, baju kerja boss." Deni menyerahkan stelan baju kerja milik sang boss.
Sampai saat ini Deni masih heran dan bertanya-tanya, kenapa bossnya meminta dicarikan rumah yang lebih sederhana dan memilih tinggal dirumah tersebut ketimbang dirumah besarnya yang mewah dan sudah pasti nyaman.
Dan karna penasaran, dia kembali menanyakan hal yang sama seperti pertanyaannya kemarin.
"Boss, kenap boss memilih tinggal dirumah gubuk ini sieh, padahalkan boss memiliki rumah yang besar dan luas"
"Meskipun rumah gubuk, rumah ini jauh lebih nyaman Den."
Deni semakin heran mendengar jawaban atasannya tersebut, "Nyaman dari segi apaan coba maksudnya, Ac gak ada, kolam renangnya gak ada, apa itu yang dinamakan nyaman." batin Deni tidak mengerti jalan fikiran Dewa.
"Maksudnya gimabna boss, kok saya kurang paham gitu maksud boss Dewa."
"Ahh sudahlah, kamu tidak perlu tahu." tandas Dewa lagi-lagi tidak menjawab rasa ingin tahu asisten pribadinya itu, "Kamu sebaiknya tunggu disini, saya mau mengganti pakain saya."
"Hmmm." gumam Deni karna tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan, "Misteri tentang presdir disebuah perusahaan besar yang lebih memilih tinggal dirumah gubuk, sepertinya itu cocok untuk dijadikan judul novel."
****
"Ehh Nur, tadi pagi saat gue ketemu sama kak Jundi, dia nitip salam lho sama lo." beritahu Imel saat mereka tengah mengisi perut dikantin kampus.
"Masak sieh." kata Nuri tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Imel.
Jundi adalah kakak tingkat mereka, lumayan tampan sieh, intinya kalau cowok itu berniat untuk mendekatinya, sudah bisa dipastikan Nuri mau, tapi itu dulu, sekarangkan dia sudah punya suami, tapi fikir Nuri, diakan menikah dengan Dewa karna terpaksa, jadi gak ada salahnya donk dekat dengan cowok lain.
"Iya, dia sempat minta nomer ponsel elo sama gue, tapi gue bilang, kalau lo serius, minta sendiri sama orangnya." jelas Imel.
"Cie Nuri, ada yang naksir, kakak kelas lagi." goda Juli sambil senyum-senyum.
"Apaan sieh lo Jul." Nuri jadi salting digoda begitu.
"Ehh, tapi bukannya elo sudah punya pacar ya Nur."
__ADS_1
"Pacar." ulang Nuri karna dia merasa tidak punya pacar, "Pacar apaan."
"Astaga, pakai gak mau ngakuin anak orang lagi, itu lho Nur, kakak ganteng yang waktu itu jemput lho." yang dimaksud oleh Imel adalah Dewa.
"Diaa." gumam Nuri karna tahu siapa yang dimaksud oleh Imel.
"Iya dia, siapa ya namanya, gue lupa." Imel mencoba mengingat-ngingat namanya.
"Kak Dewa Mel." Juli yang masih ingat memberitahu.
"Ahh iya kak Dewa, tampangnya benar-benar seperti namanya deh, kayak Dewa."
"Nyebut Imel, lo itu sudah menikah, jangan muji-muji cowok lain." Juli memperingatkan.
"Emang ganteng Jul, gimana donk, tapi lebih ganteng suami gue donk, Qianu." Imel jadi senyum-senyum sendiri saat mengingat suaminya.
"Dia bukan pacar gue, tapi suami gue, tapi gue ogahlah ngakuin kalau dia suami gue, gue gak berencana menjalani pernikahan dalam jangka waktu yang lama dengan dia." batin Nuri lebih memilih menyembunyikan fakta tersebut kepada kedua sahabatnya.
"Ehh itu." Imel menunjuk ke arah laki-laki yang baru memasuki kantin, dialah Jundi Arzaki, laki-laki yang mengirim salam untuk Nuri.
Reflek Nuri dan Juli menoleh kearah yang ditunjuk oleh Imel, mereka bisa melihat Jundi tengah tersenyum kepada mereka, lebih tepatnya sieh kepada Nuri.
"Manis ya dia." puji Imel yang melihat senyum Jundi.
"Hentikan kebiasaan lo muji laki-laki lain deh Mel, ingat kak Qianu suami elo." timpal Juli pada sahabatnya yang memang sejak dulu bibirnya itu selalu mengomentari tentang ketampanan seorang cowok.
"Ahh elo Jul, guekan cuma muji doank gak berniat untuk selingkuh." Imel membela diri.
"Dia kesini Nur." beritahu Imel saat dilihatnya Jundi melangkahkan kakinya ke arah meja mereka.
"Astaga, dia kesini, mau ngapain." Nuri jadi semakin salah tingkah saat mengetahui Jundi mendekati meja mereka.
"Hai semuanya." Jundi menyapa.
"Hai kak Jundi." kompak Juli dan Imel.
"Hai kak." balas Nuri juga malu-malu.
"Apa aku boleh gabung dengan kalian." tanya Jundi.
"Tentu saja boleh." jawab Imel cepat.
Jundi tersenyum senang mendengar jawaban Imel, dia kemudian duduk dikursi kosong, dan kebetulan kursi kosong itu ada didekat Nuri, jadi makin salah tingkah dah sik Nuri.
Dan empat orang itu ngobrol dengan akrab, Jundi orangnya asyik, mudah bergaul dan akrab dengan orang, termasuk dengan dengan ketiga adik tingkatnya itu.
Setelah beberapa saat ngobrol tentang ini itu, Jundi terlihat melihat jarum jam yang melingkar dipergelangan tangannya.
__ADS_1
"Duhh, sebenarnya aku ingin ngobrol lebih lama dengan kalian, tapi sayangnya sebentar lagi aku ada kelas." Jundi terlihat tidak rela untuk pergi.
"Besok-besokan bisa ngobrol lagikan kak."
"Ahh iya benar juga."
Namun sebelum beranjak dari tempatnya, Jundi melirik ke arah Nuri dan berkata, "Nur, apa boleh aku meminta nomer kamu."
Nuri yang ditanya, malah Imel yang menjawab, "Tentu sangat boleh donk kak."
"Astaga sik Imel ini, sejak tadi dia saja yang ngejawab padahal bukan dia yang dimintain." kesal Juli dalam hati dengan kelakuan sahabatnya yang gesrek ini.
"Bolehkan adek Nuri." ulang Jundi karna Nuri belum mengiyakan.
"Mmm, boleh kok kak." jawab Nuri pada akhirnya.
Jundi terlihat senang karna berhasil mendapatkan nomer dari wanita yang dia sukai.
Nuri menyebut sederet angka dan Jundi mencatatnya diponselnya.
"Bolehkan aku hubungin kamu Nur."
Saat Imel membuka bibirnya untuk menjawab, Juli lebih dulu mendahului Imel.
"Nuri yang ditanya Mel bukan elo."
Kata-kata Juli itu membuat Imel kembali menelan kata-katanya kembali.
Dengan malu-malu Nuri menjawab, "Boleh kok kak."
"Oke kalau gitu, nanti aku hubungin ya Nur, tapi gak ada yang akan marahkan."
"Tentu saja tidak ada." jawab Nuri cepat.
"Leganya aku."
Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Juli berlalu pergi.
Imel dan Juli memandang Nuri saat Jundi telah berlalu dari hadapan mereka.
"Gak ada." Juli mengulangi kata-kata Nuri barusan, "Maksudnya kak Dewa itu bukan pacar lo."
"Emang bukan." jawab Nuri acuh tak acuh.
"Terus, kok dia bisa jemput lo tiap hari."
"Tahu, tanya saja sama orangnya."
__ADS_1
Jawaban tersebut membuat Juli mendengus.
*****