SUAMIKU TERNYATA PRESDIR

SUAMIKU TERNYATA PRESDIR
KETAHUAN BOHONG


__ADS_3

Dewa : Adek sudah pulang kuliah belum, kakak jemput ya


Nuri mendapat pesan dari Dewa begitu perkuliahan berakhir


Nuri : Tidak usah, aku mau ngerjain tugas kelompok soalnya


Nuri berbohong, diakan sudah janjian sama Jundi untuk pergi ke bazar buku.


Dewa : Adek kerja kelompoknya dirumah siapa, sampai jam berapa, biar nanti kakak jemput


Nuri : Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri kok, kakak tidak perlu jemput


Dewa : Tapi adek, bagaimana kalau adek pulang malam seperti waktu itu


Nuri : Gak sampai malam kok kali ini


Dewa : Baiklah kalau begitu


Gak lama, Jundi nongol dikelasnya Nuri, cowok itu tersenyum saat matanya menemukan sosok Nuri.


"Ehh kak Jundi tuh Nur, kayaknya dia nyariin elo deh." Juli menyenggol lengan Nuri untuk memberitahu.


Nuri mendongak dan menemukan Jundi berjalan ke arahnya.


"Hai semuanya." Jundi menyapa.


"Hai kak." Juli dan Imel yang menjawab.


"Nur, jadikan."


"Jadi donk."


"Lo sama kak Jundi mau kemana Nur." kepo Imel.


"Ada deh." Nuri sok berahasia.


"Dihh." desis Imel.


Nuri mencangklong tasnya dibahunya, "Pergi sekarang kak."


"Iya."


"Kami pergi dulu ya." pamit Jundi pada Imel dan Juli yang dibalas dengan anggukan oleh Imel dan Juli.


"Byeee." Nuri melambaikan tangan.


Begitu Nuri dan Jundi sudah tidak terlihat, Imel terlihat mendekati Juli.


"Kok Nuri mau ya pergi dengan kak Jundi, diakan sudah punya suami, apa Nuri selingkuh ya dengan kak Jundi."


"Sssttt, jaga omonganmu Mel, Nuri tidak mungkin seperti itu, mungkin dia dan kak Jundi ada perlu."


"Ya bisa jadi sieh."

__ADS_1


***** 


Nuri dan Jundi membeli beberapa buku, dan buku yang dijual dibazar tersebut tidak terlalu mahal harganya, mereka berkeliling dan cukup lama ditempat bazar sehingga tidak terasa sudah sore saat mereka memutuskan untuk pulang.


"Nur." panggil Jundi yang saat ini tengah fokus menyetir motornya.


"Kenapa kak."


"Mau makan dulu gak, aku lapar nieh soalnya."


"Boleh deh kak." Nuri menyetujui karna dia juga lapar karna dia hanya makan saat dikampus.


Jundi menghentikan motornya disebuah tempat makan, tempat makan itu cukup rame, Jundi dan Nuri duduk dimeja kosong, salah satu pelayan mendekati mereka dan menyerahkan buku menu kepada mereka, dan gak lama setelah memesan, makanan yang mereka pesan diantarkan oleh pelayan.


Saat Nuri dan Jundi tengah asyik-asyiknya menyantap makanan yang mereka pesan, terdengar sebuah suara yang sering didengar oleh Nuri memanggilnya dari belakang.


"Adekk."


Nuri dan Jundi reflek menoleh ke belakang, sumpah Nuri kaget melihat Dewa ada direstoran tempatnya makan, tatapan Dewa terlihat menyiratkan kekecewaan karna merasa dibohongi oleh istrinya, bilangnya mau ngerjain tugas, ahh tahunya tengah bersama dengan laki-laki.


"Mati gue, sik Dewa itu bisa marah sama gue." takut Nuri dalam hati.


"Siapa Nur." Jundi bertanya.


Belum sempat Nuri menjawab pertanyaan Jundi, Dewa lebih dulu berkata.


"Pulang sekarang adek." suara Dewa tegas.


"Pulang sekarang sama kakak." Dewa tidak bisa dibantah.


"Iya baiklah." pasrah Nuri.


"Kak Jundi, aku balik ya." 


Jundi mengangguk untuk mengiyakan.


Dewa menahan emosinya, ingin rasanya dia melayangkan tonjokannya pada wajah laki-laki yang saat ini bersama dengan Nuri, Dewa bertambah kesal karna Nuri memanggil laki-laki itu dengan panggilan kakak, sedangkan sama dia menggunakan bahasa yang tidak sopan yaitu elo gue, memang seih sejak semalam Nuri memanggilnya kakak, tapi itukan Dewa yang memaksa.


Begitu Nuri sudah melewatinya, Dewa juga berbalik dan mengikuti Nuri.


Sedangkan Jundi ditinggalkan dengan sebuah pertanyaan, pertanyaan tentang siapakah laki-laki yang dengan penuh otoritas memerintah Juli.


"Apa itu kakaknya Nuri kali ya." Jundi bertanya-tanya dalam hati.


****


Sepanjang dalam perjalanan, Dewa hanya diam tidak seperti biasanya yang selalu mencoba mengajak Nuri bicara, begitu juga dengan Nuri yang duduk dibelakang dengan perasaan was-was.


"Duhh, dia kayak marah beneran deh melihat aku dan kak Jundi, apalagi aku telah membohonginya." Nuri jadi takut sendiri karna selama bersama dengan Dewa, Dewa tidak pernah marah dan senantiasa sabar menghadapi sikapnya yang kekanak-kanakan.


"Kenapa dia tidak marahin gue saja sieh, gue lebih baik dimarahan daripada didiemen begini." batin Juli.


Setibanya dirumah, Dewa masih setia dengan kebungkamannya, sampai membuat Nuri tidak peduli lagi dan berniat beranjak ke kamarnya, namun belum saja kakinya sampai pintu, Dewa terdengar memanggilnya.

__ADS_1


"Adek, kakak ingin bicara." suara Dewa terdengar dingin.


Karna tidak ingin mendengar ceramah Dewa, Nuri berusaha mencari alasan supaya bisa jauh-jauh dari Dewa untuk saat ini, "Aku harus masuk kak, mau istirahat, aku capek soalnya."


"Cepek jalan-jalan sama cowok itu maksudmu." tandas Dewa, Dewa tidak melepas pandangannya ke bola mata Nuri.


"Ehh itu…" Nuri berusaha untuk mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan, "Kami tidak jalan-jalan kok, kami hanya pergi kebazar buku bersama untuk mencari buku-buku yang berkaitan dengan jurusan yang kami ambil." Nuri menjelaskan, "Dan kami hanya teman biasa kak, tidak lebih kok."


"Terus, kenapa adek pakai bohong segala dengan kakak, kenapa bilangnya ada kerja kelompok."


"Ya kalau aku memberitahu kakak yang sebenarnya, aku takut kakak marah dan tidak mengizinkan aku pergi."


"Kamu kenapa tidak minta ditemenin sama Juli dan juga Imel, diakan sahabat kamu, kamu kenapa malah pergi dengan laki-laki asing begitu."


"Dia bukan laki-laki asing, dia temanku yang selalu membantuku." 


"Hmmm." Dewa tersenyum sinis, "Tidak ada pertemanan yang murni antara cowok dan cewek, pasti salah satunya ada yang berharap."


"Udah ah, aku mau masuk, capek." Nuri kembali melanjutkan langkahnya saat Dewa kembali memintanya berbalik.


"Adek, kakak tidak suka melihat adek dekat dengan laki-laki lain, inget dek, adek sudah menikah, tidak seharusnya adek berteman dengan laki-laki meskipun hanya sekedar berteman doank."


"Kenapa sieh kakak mengekang aku, aku mau berteman dengan siapapun itu urusanku, dan kakak tidak memiliki hak untuk ikut campur urusanku, termasuk urusan dengan siapa aku berteman."


"Dek." suara Dewa meninggi, "Bisa tidak adek menghargai perasaan kakak sedikit saja."


"Habisnya kakak menyebalkan, pengekang dan egois." 


"Dek, kakak hanya…"


"Terserahlah aku tidak peduli, intinya, kakak tidak berhak ikut campur dengan urusanku karna aku juga tidak pernah ikut campur dengan urusan kakak."


Setelah mengatakan kata-kata yang melukai hati Dewa, Nuri kembali melanjutkan perjalanannya menuju kamar dan menutup pintunya dan menguncinya dari dalam.


Sedangkan Dewa menatap kepergian Nuri dengan perasaan hampa.


"Tidak bisakah kamu melihatku dek, laki-laki yang tulus mencintaimu."


****


Nuri mengintip dari pintu kamarnya untuk melihat apakah Dewa ada disofa atau tidak, tapi ternyata Nuri tidak menemukan siapa-siapa disana, hal itu membuat Nuri bertanya-tanya.


"Dia dimana."


Nuri keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan Dewa diseantero rumah, sayangny Dewa tidak ada dimana-mana.


"Apa dia pergi kali ya." Nuri menduga-duga, "Tapi kenapa dia tidak bilang-bilang sama aku, biasanya juga dia pamit." Nuri jadi kesal sendiri, padahal saat Dewa memberitahunya kalau dia tengah ada urusan tidak pernah dipedulikan oleh Nuri.


Dia menghempaskan bokongnya dengan keras disofa, tangannya disilangkan didepan dada.


"Dia pergi kemana kira-kira ya." Nuri terlihat berfkir dan setelah itu menggeleng kuat, "Terserahlah dia mau kemana, gue gak peduli mau dia ke laut kek, ke mars kek, atau ke pluto sekalian bila perlu, gak pulang bila perlu itu jauh lebih bagus."


****

__ADS_1


__ADS_2