SUAMIKU TERNYATA PRESDIR

SUAMIKU TERNYATA PRESDIR
KEISENGAN NURI


__ADS_3

"Sial." umpat Diana saat melihat sahabatnya mabuk parah, sepertinya Angel berniat minum sampai mati, sudah teler masih saja menegak minuman memabukkan itu.


Diana juga minum, tapi cuma satu gelas sehingga tidak membuatnya sampai mabuk, dia sadar dia harus tetap terjaga karna dia harus membawa mobil kembali ke apartmen.


"Kalau mak sama bapaknya tahu aku ngajakin anak mereka ke club dan minum sampai mau mampus begini, bisa digantung aku."


Saat Angel akan menegak minuman yang entah untuk kesekian kalinya, Diana sigap menahan tangan sahabatnya itu, "Stop Angel, kamu sudah sangat mabuk, sebaiknya kita pulang sekarang." Diana mengambil gelas itu dan menjauhkannya dari jangkauan Angel.


"Di, aku mau minum Di, minuman itu sanggup membuat rasa sakit yang saat ini aku rasakan hilang, jadi, jangan halangi aku." suara Angel terdengar teler.


"Tapi kamu sudah teler Ngel, kalau kamu pingsan aku tidak mungkin bisa menggotong kamu, lebih baik ayok kita balik sekarang, kita bisa kembali besok lagi." Diana berusaha membujuk Angel.


"Aku mau disini sampai pagi Angell, tempat ini sangat menyenangkan."


"Iya aku tahu ini tempat yang menyenangkan, tapi ini sudah waktunya kita pulang, kita bisa kembali besok-besok."


Kini Diana meraih tangan Angel dan melingkarkan tangan Angell melingkari bahunya, "Busett, dia kurus tapi berat banget sumpah." keluh Diana berusaha untuk membawa Angel keluar dari club.


Dan pada akhirnya setelah perjuangan yang cukup melelahkan, Diana akhirnya berhasil mendudukkan Angell dimobilnya.


"Huhhh, gila Angell berat banget." lega dan bersyukur karna dia berhasil membawa Angel sampai ke mobilnya.


"Dewaaa, aku mencintaimu Dewa, kenapa kamu tidak membalas perasaanku, kamu benar-benar laki-laki yang sangat jahat." Angel meracau.


Diana merasa kasihan melihat kondisi sahabatnya yang cintanya bertepuk sebelah tangan, "Kasihan banget Angel." imbuhnya sebelum menjalankan mobilnya.


****


Selama Nuri dirawat dirumah sakit, selama itu juga Dewa selalu menginap dirumah sakit menemani istrinya, ibu mertuanya sering memintanya untuk pulang dan beristirahat dirumah biar dia saja yang menjaga dan menemani Nuri, tapi Dewa selalu bilang kalau Nuri adalah istrinya dan tanggung jawabnya sehingga dia tidak mungkin membiarkan ibu dan ayah mertuanya yang sudah tua yang menjaga Nuri dirumah sakit, ketimbang dirinya, ayah dan ibu mertuanya lebih membutuhkan tempat yang nyaman.


"Ishh, sebel banget deh aku ngelihat laki-laki itu, wajahnya begitu sangat menyebalkan, kenapa sieh dia harus disini tiap malam." kata hati Nuri, bibirnya manyun, sejak tadi dia selalu mencuri-curi pandang ke arah Dewa yang duduk disofa, laki-laki itu tengah sibuk dengan leptopnya untuk mengerjakan sejumlah pekerjaan kantor yang belum kelar.


Sesekali ditengah kesibukannya, Dewa melirik ke arah Nuri, melihat istrinya itu belum tidur, Dewa memperingatkan, "Adek, kenapa adek belum tidur, udah tengah malam lho ini, adek harus istirahat."


"Tuhkan, sudah menyebalkan, main perintah lagi, benar-benar laki-laki menyebalkan." rutuk Nuri dalam hati.


"Mana bisa tidur kalau aku belum ngantuk." lisan Nuri ketus.


"Hmm, ya udah kalau adek belum ngantuk." Dewa menyerah menyuruh Nuri untuk tidur.


Tiba-tiba saja ide jail terbersit dibenak Nuri, "Aku kerjain dia saja ahh." senyum jail tersungging dibibirnya.


"Aku lapar, ak mau makan."


"Adek laper, adek mau makan apa."


"Aku mau makan ayam geprek, makan sate, makan bakso, makan lontong sayur, es krim, pear, pisang, minumnya boba." Nuri mengabsen.


"Adek mau makan sebanyak itu, emang bisa habis."

__ADS_1


"Ya habislah, kalau gak habis mana mungkin aku minta dibeliin." ketus Nuri, "Emang kamu gak mau beliin, kalau gak mau ya udah."


"Iya adek, kakak akan beliin apa yang adek inginkan."


Dewa mengeluarkan ponselnya, dia akan menyuruh Denis untuk mencari makanan yang diminta oleh Nuri.


"Iya boss." suara Denis diseberang sana terdengar mengantuk, dia dipaksa untuk bangun, kalau Dewa bukan bossnya, mana mungkin dia mau bangun begitu disaar lagi enak-enaknya berada didunia mimpi.


"Denis, tolong cariin maka..."


"Kamu nelpon siapa." Nuri bertanya yang membuat Dewa menghentikan ucapannya.


"Aku lagi nelpon teman aku adek, aku minta dia untuk nyariin makanan yang kamu inginkan."


"Aku mau kamu yang beliin, kenapa nyuruh orang lain sieh." Nuri benar-benar ngeselin, dia persis kayak orang ngidam.


"Apa bedanya adek, aku atau temankukan sama saja."


"Gak mau, pokoknya harus kamu yang nyariin." kukuhnya.


"Baiklah baiklah." Dewa menyerah, dia begitu sangat mencintai Nuri sehingga apapun yang diinginkan oleh gadis itu pasti akan dia turuti.


"Boss, jadi ini gimana." terdengar suara Denis diseberang.


"Gak jadi Denis." jawab Dewa tanpa beban, dia tidak tahu apa kalau Denis menahan kesal karna bossnya itu telah mengganggu tidurnya dan sekarang malah bossnya bilang tidak jadi lagi, sakitnya tuh disini, tapi Denis bisa apa, gak mungkinkan mengeluarkan kekesalannya sama sang boss, kalau dia melakukan hal itu, bisa dipecat dia sebagai asisten Dewa.


"Hmmm, jangan lama."


"Gak akan lama adek."


Sebelum pergi, Dewa mendekat ke arah Nuri dibankar, "Kakak pergi dulu ya adek, adek baik-baik disini." Dewa sudah seperti akan pergi lama saja, "Kakak tidak akan lama." Dewa mengelus puncak kepala Nuri, tangan Dewa langsung ditepis oleh Nuri karna dia tidak suka Dewa menyentuhnya.


"Jangan sentuh aku, aku tidak suka."


Dewa terluka saat Nuri menepis tangannya, tapi sebisa mungkin dia berusaha bersikap biasa dan tersenyum, "Adek tunggu ya." ujarnya dan keluar dari ruang inap Nuri.


"Dasar menyebalkan, siapa yang ngasih izin dia nyentuh-nyentuh aku."


30 menit kemudian, Dewa kembali setelah berhasil mendapatkan apa yang diinginkan oleh istrinya itu, tapi sayangnya, Dewa harus menelan kekecewaan saat menemukan Nuri malah tertidur, Dewa hanya bisa menarik nafas panjang dan menggeleng.


"Adek-adek, tadi mau makan ini itu, ehh ternyata malah tidur." Dewa memang tidak pernah bisa marah sama istrinya.


Dewa meletakkan makanan yang dia beli dinakas dekat tempat tidur Nuri, dia kemudian mengarahkan tatapannya pada istrinya, wajah Nuri benar-benar manis saat tertidur, Dewa mendekatkan wajahnya kekening istrinya dan mengecupnya cukup lama, dia hanya bisa menyentuh Nuri saat tertidur tanpa mendapat penolakan dari istrinya itu.


"Selamat tidur sayang, cepat sembuh dan ingat sama aku, aku selalu mencintaimu."


****


Pagi-pagi sekali, Angel terbangun karna perutnya yang terasa mual karna pengaruh minuman beralkohol yang dia tenggak semalam.

__ADS_1


Hoekk, hoekk


Angel berjibaku ditoilet apartmen Diana untuk mengeluarkan isi perutnya, selain perutnya yang terasa tidak enak, Angel juga merasakan kepalanya terasa pening.


"Duuh kepalaku." keluhnya memegangi kepalanya yang terasa berat.


"Hoekk hoekk." dia kembali mengeluarkan isi perutnya yang masih belum tuntas.


Masih dengan kepala yang masih terasa pening, Angel kembali ke kamar, apartmen Diana terdiri atas dua kamar, dan setiap menginap diapartmen Diana, Angell selalu menempati kamar yang satunya.


Angel mendudukkan pantatnya dipinggir ranjang sembari memegangi kepalanya yang masih pening saat kemudian pintu kamar didorong dari luar yang menampakkan tubuh Diana yang membawa nampan berisi sarapan untuk sahabatnya tersebut.


"Pagi bidadari cantik, udah bangun." goda Diana dan melangkahkan kakinya memasuki kamar dimana Angel berada.


Angell tidak menjawab karna dia lebih fokus dengan sakit kepala yang dia rasakan, selain terasa berat, kepalanya juga kini terasa berdenyut.


"Kamu sakit kepala Ngell." tanya Diana saat melihat sahabatnya memegang kepalanya.


"Hmm."


"Nieh aku bawakan kopi hitam untuk meredakan sakit kepalamu." Diana menyodorkan nampan berisi sarapan yang dibawakannya untuk Anggel, "Mual juga ya."


Angel mengangguk.


"Tuh sama obat pereda mual juga yang aku bawakan karna aku yakin kamu muntah-muntah."


"Terimakasih Di." ujar Angell mengambil alih nampan yang disodorkan oleh Diana dan meletakkannya dipanggkuannya, Angel kemudian meraih cangkir berisi kopi hitam untuk meredakan sakit kepala yang dia rasakan.


Diana duduk disamping Angel, gadis itu sudah berpakaian rapi, sepertinya dia sudah siap untuk berangkat bekerja.


"Kamu mau pergi kerja Di."


Diana mengangguk, "Gak apa-apa ya aku tinggal."


Angell mengangguk.


"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu, kamu baik-baik saja disini."


Kembali Angel mengangguk.


"Di." panggil Angel yang membuat Diana yang sudah sampai diambang pintu berbalik.


"Kenapa Ngell."


"Terimakasih."


"Santai saja, kamu kayak sama orang lain saja." ujarnya dan berlalu pergi meninggalkan Angell yang kini mulai menyentuh sarapannya.


****

__ADS_1


__ADS_2