
Saat itu Nuri baru selesai mengajari ketiga teman sekelasnya yang kemarin meminta tolong padanya untuk diajarkan mata kuliah yang tidak dikuasai oleh teman-temannya itu saat dia mendapat chat dari saudara sepupunya yang bernama Maryam.
"Mbak Maryam." gumam Nuri terlihat begitu antusias saat melihat nama saudara sepupunya tersebut dilayar ponselnya.
Maryam : Assalmualaikum adek Nuri, adek apa kabarnya, kok ngilang sieh, kakak ada dirumah babe dan ibu nieh
Maryam kakak sepupu Nuri memang terkenal agamis, dia adalah seorang dosen muda yang cerdas yang mengajar disalah satu universitas swasta ternama di Jakarta.
Nuri : Walaikumussalam mbak Maryam, aku kabarnya baik kok mbak, mbak sudah lama di rumah ibu dan babe, Nuri akan segera otw mbak.
Maryam : Mbak tunggu ya adek, mbak juga bawa kue bronis kesukaan adek lho
Nuri : Wahh, makasih banyak mbakku yang baik hati dan super cantik
Begitu mengakhiri chatnya dengan kakak sepupunya itu, Nuri menoleh kepada ketiga temannya, Nuri memang mengajarkan ketiga teman kelasnya disebuah cafe, cafe itu cukup tenang dan tidak banyak terlalu pengunjung untuk saat ini.
"Kita sudah selesaikan, gue boleh balik duluan." ujar Nuri karna dia ingin segera pulang ke rumah orang tuanya untuk bertemu dengan kakak sepupunya.
"Udah kok Nur, terimakasih banyak ya atas bantuannya." ujar teman sekelasnya yang bernama Ririn.
"Sama-sama, sesama teman harus membantukan."
"Kalau kapan-kapan kami mau minta bantuan lo lagi, lo masih bersediakah untuk ngebantuin kami."
"Tentu saja, jangan sungkan untuk minta tolong sama gue." jawab Nuri tulus.
"Oke, gue cabut duluan kalau gitu." Nuri sudah mencangklongkan tasnya dipundaknya saat Ririn berkata.
"Nurr, lo gak bawa kendaraankan, bagaimana kalau gue anterin elo."
"Gak perlu Rin, gue naik angkot saja."
"Gue anter saja Nur, lagiankan elo udah ngajar gue dan yang lainnya."
"Gak perlu Rin, lo gak perlu merasa berhutang budi gitu sama gue."
Akhirnya Ririn berhenti menawarkan jasanya karna Nuri terus menolak, "Hmm, ya sudah kalau lo gak mau, tapi kalau lo butuh bantuan, bilang-bilang ya Nur."
"Tentu saja." setelah mengatakan hal tersebut, Nuri kemudian cabut.
Nuri menyetop angkot pertama yang dilihat untuk membawanya menuju ke rumah orang tuanya.
Dalam perjalanan dia mengechat suaminya untuk memberitahukan kalau dia akan pulang ke rumah babe dan ibunya yang diiyakan oleh Dewa.
****
"Mbak Maryammmm." antusias Nuri saat melihat punggung kakak sepupunya.
Wanita berjilbab lebar itu berbali saat mendengar suara Nuri, Maryam tersenyum saat mendapati Nuri berjalan menghampirinya, dia berdiri untuk menyambut kedatangan sang adik sepupu.
Dua wanita berbeda usia itu saling berpelukan satu sama lain untuk melepas rasa kangen karna mereka sudah lama tidak pernah bertemu.
Ibu Nurjanah hanya tersenyum melihat putrinya dan keponakannya terlihat begitu saling menyayangi satu sama lain.
__ADS_1
"Mbak sudah lama ya."
"Lumayan dek, mbak bahkan sudah menghabiskan dua gelas teh tuh."
"Maaf ya mbak karna aku sudah membuat mbak Maryam menunggu lama."
"Santai Nur, gak usah merasa bersalah begitu."
"Mbak, mending kita ke kamar aku saja yuk."
"Iya, kalian sebaiknya ngobrol disana, mungkin ada hal-hal pribadi yang inginkan kalian obrolkan." timpal ibu Nurjanah yang diangguki dengan kompak oleh Nuri dan juga Maryam.
"Oh ya Nur." ujar ibu Nurjanah sebelum Nuri dan Maryam beranjak.
"Maryam kesini tidak hanya membawa kue coklat kesukaanmu lho, dia juga membawa kabar yang membahagiakan."
"Oh ya, kabar apa itu mbak." kepo Nuri memandang Maryam.
Wajah Maryam terlihat tersipu sebelum berkata, "Mbak juga kesini membawa undangan dek."
"Undangan mbak." ulang Nuri, "Undangan pernikahankah." tebak Nuri yang langsung diangguki oleh Maryam.
Sontak hal tersebut membuat Nuri jingkak saking senangnya, "Akhhh, yang benar mbak, mbak Maryam akan menikah."
Maryam mengangguk.
Nuri sekali lagi memeluk Maryam dan melafalkan, "Selamat ya mbak Maryam, aku turut bahagia."
"Iya adek, terimakasih."
"Sudah pasti mbak Nuri akan datang bersama kak Dewa."
"Mbak pegang lho janji ya."
Nuri mengangguk pasti, sudah pasti dia akan datang dihari bahagia kakak sepupunya yang sangat dia sayangi itu.
*****
Dan hari itupun tiba, Nuri memakai kebaya berwarna silver, senada dengan batik yang kenakan oleh Dewa untuk menghadiri acara sakral kakak sepupunya yaitu Maryam yang hari ini akan melangsungkan pernikahan.
Nuri menyanggul rambutnya yang membuatnya terlihat lebih dewasa dan tampak anggun, Dewa bahkan takjub saat melihat sang istri yang menurutnya begitu sangat cantik dalam balutan kebaya itu.
"Masyaallah, cantik banget adek, kakak benar-benar beruntung memiliki adek." puji Dewa saat melihat sang istri yang baru keluar.
Nuri tersipu mendengar pujian dari suaminya, dia terlihat malu-malu kucing, "Kak Dewa ini bisa saja."
Saat Dewa tidak lepas memandang kecantikan istrinya, Nuri yang salting karna terus ditatap berkata, "Kak Dewa, sebaiknya kita berangkat sekarang supaya kita bisa menyaksikan acara ijab kabulnya mbak Maryam."
"Ohh iya adek, ayok kalau gitu."
Nuri fikir mereka akan memakai jasa taksi saat Dewa melangkah ke depan, tapi ternyata begitu dia diluar, dia menemukan sebuah mobil berwarna putih telah terparkir didepan rumahnya.
"Ini mobil siapa kak."
__ADS_1
"Mobil boss dek, sengaja kakak pinjem supaya dandan adek tidak rusak saat memakai motor."
Nuri tentu senang karna Dewa begitu perhatian dengannya, namun ada kekhawatiran juga sieh dibenaknya saat mengetahui kalau mobil tersebut adalah mobil mahal, "Tapi kak, mobil inikan mobil mahal."
"Emang kenapa kalau mobil mahal."
"Kalau kenapa-napa gimana, hilang karna dicuri mungkin atau nabrak atau..."
"Yakinlah adek, tidak akan terjadi apa-apa kok." potong Dewa dengan penuh keyakinan.
"Tapi kak bagaimana kalau..."
"Daripada adek berfikir yang aneh-aneh, adek sebaiknya masuk gieh supaya kita tidak terlambat menghadari acara sakralnya mbak Maryam." Dewa membukakan pintu untuk Nuri.
Nuri membenarkan sehingga dia masuk dan tidak lagi menyuarakan apa yang saat ini dia fikirkan.
Setelah menutup pintu mobil, Dewa berjalan memutari mobil dan duduk dikursi pengemudi.
"Berangkat sekarang adek."
Nuri mengangguk, dan Dewa mulai menjalankan mobil yang dia bilang adalah mobil bossnya padahal itu adalah mobilnya sendiri.
*****
Setelah menyalami dan memberi ucapan selamat kepada pasangan pengantin yang tengah berbahagia, Nuri dan Dewa memilih untuk menikamati hidangan yang disediakan oleh pihak katering.
Saat mereka tengah asyik-asyiknya menikmati hidangan enak dipiring mereka, tiba-tiba seseorang yang memakai jas datang menghampiri Dewa.
"Pak Dewa." sapa laki-laki yang berumur sekitar empat puluhan ke atas tersebut.
Dewa menoleh dengan was-was ke sumber suara yang menyapanya tersebut.
Nuri juga terlihat heran saat ada orang yang terlihat berasal dari keluarga berada yang menghampiri suaminya, Nuri yakin suaminya tidak memiliki teman kaya seperti orang yang saat ini menatap Dewa kepo, "Siapa sieh orang itu, masak iya kak Dewa punya teman orang kaya."
"Beneran pak Dewa ternyata, saya fikir saya salah lihat barusan." gumam orang tersebut dengan senyum lebar saat mengetahui kalau orang yang dia lihat adalah beneran Dewa.
Dan orang tersebut adalah salah satu menejer diperusahaannya yang bernama pak Gitok.
Disini Dewa hanya berharap kalau pak Gitok hanya menyapanya sambil lalu saja, dia tidak mau identitas yang selama ini dia sembunyikan diketahui oleh Nuri dengan cara seperti ini, dia ingin dia yang memberitahu Nuri secara langsung.
"Bapak disini juga ternyata." bukannya malah pergi, laki-laki bernama Gitok itu malah duduk bergabung dengan pasangan pasutri tersebut dengan duduk dikursi yang tersisa tanpa minta izin terlebih dahulu.
"Duhh, ngapain sik Gitok ini malah duduk sieh, kenapa dia tidak langsung pergi saja cobak."
"Iya." Dewa menjawab singkat dengan harapan kalau dia menjawab singkat dan memasang raut jutek Gitok akan segera berlalu dari hadapannya, sayangnya keinginnanya tidak terwujud karna Gitok kini malah memusatkan perhatiannya sama Nuri.
"Bapak sama siapa, adeknya ya." keponya.
"Niehh orang siapa sieh sebenarnya, kenapa dia manggilnya bapak dan kelihatan segan gitu sama kak Dewa, kayak kak Dewa atasannya saja." suara hati Nuri.
Dewa jadi dilema sendiri, ingin mengusir Gitok supaya semua penyamarannya tidak terungkap sekarang, tapi rasa tidak sopan, tapi kalau laki-laki tersebut semakin lama berada disana, malah itu akan bahaya.
Karna Dewa belum kunjung buka suara untuk menjawab pertanyaan orang yang tidak kenal tersebut sehingga Nuri mengambil alih untuk memberikan jawaban, "Saya bukan adeknya, saya adalah istrinya."
__ADS_1
Nampak raut terkejut yang tidak bisa disembunyikan oleh Gitok tercetak nyata diwajah laki-laki tersebut, "Adek ini istrinya pak Dewa." Gitok memandang atasannya dan juga Nuri bergantian, dia tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
****