SUAMIKU TERNYATA PRESDIR

SUAMIKU TERNYATA PRESDIR
NGAMBEK


__ADS_3

Saat itu Nuri tengah menunggu angkutan umum didepan kampus saat sebuah motor berhenti didepannya.


"Hai Nur." sapa sik pengendara yang ternyata adalah Jundi.


"Kak Jundi."


"Mau pulang Nur."


"Iya kak."


"Mau dianterin gak."


"Gak usah kak, ini aku lagi nunggu angkutan umum kok." tolak Nuri.


"Apa ada yang marah ya kalau aku anter."


"Ehh, gak kok kak, aku hanya takut ngerepotin kakak doank." bantah Nuri.


"Gak ngerepotin kok Nur, malahan senang lho aku, ayok aku anter, aku ikhlas lho."


"Duhh, gimana ya ini, nanti Dewa marah lagi kalau dia lihat aku dibonceng cowok." Nuri perang batin,"Tapi dia gak akan tahulah, diakan lagi kerja sekarang." 


Atas pemikiran tersebut, Nuri akhirnya mengiyakan tawaran Jundi.


Tadinya Dewa menghubungi Nuri, laki-laki itu bilang ingin menjemput Nuri, tapi Nuri dengan tegas menolaknya sehingga Dewa tidak jadi melaksanakan niatnya tersebut.


****


"Terimakasih ya kak karna telah nganterin aku." kata Nuri saat turun dari boncengan motor Jundi.


"Sama-sama Nur."


Jundi memperhatikan rumah Nuri yang terlihat sepi, "Rumah adek kok sepi."


"Ohh, iya."


"Ayah dan ibu kamu lagi pergi ya."


"Iya kayaknya." jawab Nuri berbohong, dia tidak mungkinkan bilang kalau sekarang dia tinggal dengan suaminya.


"Gagal deh."


"Gagal apa kak."


"Tadinya aku ingin kenalan gitu sama ekhemm, calon mertua." Jundi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat mengatakan hal tersebut.


"Ehh." Nuri agak salting mendengar kata-kata Jundi barusan.


"Kak Jundi, coba deh kemarin-kemarin kakak deketin aku, aku pasti senang banget, dan sudah pasti mau sama kakak, sekarangkan aku sudah menikah, dan malangnya nasibku, aku malah menikah dengan laki-laki yang tidak aku cintai, kerjaannya tidak jelas lagi." Nuri nelangsa dalam hati.


"Ya sudahlah ya, mungkin Tuhan belum mengizinkan, mungkin besok-besok kali ya."

__ADS_1


Nuri tidak mengiyakan ataupun menolak.


"Ya sudah Nur, kakak pamit dulu."


"Iya kak, hati-hati ya dijalan."


"Oke."


Jundi menjalankan motornya meninggalkan Nuri dibelakang.


"Tuhan, kenapa jodohku sik Dewa itu sieh, kenapa bukan kak Jundi coba, kalau sudah begini, aku bisa apa." Nuri terlihat frustasi meratapi jalan cerita hidupnya yang tidak pernah dia harapkan.


****


"Adek, berhenti main ponselnya, makan dulu." peringat Dewa saat melihat istrinya sibuk berbalas pesan dan melupakan hidangan didepannya.


Namun Nuri tidak menggubris ucapan Dewa, dia masih asyik berbalas pesan dengan teman-temannya, salah satunya adalah dengan Jundi.


Dewa yang kesal karna dicuekin merebut ponsel Nuri, Nuri yang tidak terima ponselnya diambil berusaha untuk merebutnya kembali dari tangan Jundi.


"Ihhh, apa-apaan sieh lo, siniin ponsel gue." Nuri menggapai-gapai berusaha meraih ponselnya dari jangkauan tangan Dewa.


"Makan dulu adek."


"Gue gak mau makan." ketus Nuri kesal.


"Jangan begitu adek, diluar sana banyak orang yang tidak bisa makan, ini adek tinggal makan doank susahnya minta ampun." Dewa sudah seperti bicara dengan anak kecil saja.


"Makan walau sedikit, kakak takut adek sakit nanti."


"Apaan sieh lo, kenapa lo jadi maksa gini seih, babe dan ibu gue saja tidak pernah maksa-maksa gue." Nuri mulai emosi, suaranya meninggi.


"Adek, bisa tidak kalau bicara dengan suami ucapannya itu direndahkan, gak baik adek bicara begitu dengan suami sendiri."


"Isshh, lo fikir gue mau menikah sama elo, gue menikah dengan lo terpaksa, jadi, lo gak usah ngatur-ngatur hidup gue." 


"Astagfirullah adek, kenapa bicaranya begitu, dosa lho."


"Gue gak peduli, siniin hape gue Dewa."


"Kalau adek makan, baru kakak akan mengembalikan ponsel adek."


"Ihhh, resek lo ya." 


Nuri ngambek, dia sudah tidak berusaha mengambil ponselnya lagi, dia berlari menuju kamarnya dan membanting pintu dengan keras.


"Astagfirullah, adek-adek." Dewa mengelus dadanya melihat kelakuan sang istri.


Dewa berjalan ke arah pintu, niatnya sieh untuk meminta maaf, meskipun sebenarnya tidak perlu karna dia gak salah.


"Adekk." Dewa memanggil Nuri namun tidak ada sahutan.

__ADS_1


"Adekk, kakak minta maaf, ini kakak kembalikan ponselnya adek."


Tetap tidak ada sahutan.


"Ya sudah, nanti adek ambil ponselnya sama kakak ya."


Karna tidak berhasil membujuk Nuri, Dewa melangkah ke arah sofa, dia ingin mengistirahatkan tubuh dan fikirannya karna seharian bekerja membuatnya lelah, ditambah lagi dengan sikap Nuri yang labil.


Tidur disofa memang tidak nyaman, itu membuat tubuhnya sakit, namun untuk saat ini Dewa harus puas hanya tidur disofa mengingat Nuri tidak ingin tidur bersamanya.


Didalam kamarnya, Nuri mondar-mandir, sebenarnya sudah sejak tadi dia ingin keluar, selain ingin mengambil ponselnya, dia juga lapar, tadi sieh dia gak lapar, tapi kok sekarang dia lapar ya.


"Dia sudah tidur belum ya." tanyanya pada diri sendiri, "Sepertinya sieh sudah."


Untuk memastikan pertanyaannya itu, Nuri membuka pintu perlahan dan mencoba mengintip keluar, Nuri bisa melihat kalau suaminya itu sudah terlelap disofa.


"Yess, dia sudah tidur." ujarnya penuh syukur, perutnya sejak tadi berbunyi minta untuk diisi.


Dengan pelan Nuri mendorong pintu, dan dengan berjingkat-jingkat dia berjalan ke arah Dewa untuk mengambil ponselnya, setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Nuri kemudian melanjutkan langkahnya menuju dapur, tujuannya adalah mencari makanan yang tadi tidak sempat dia makan, dia yakin Dewa menaruhnya didapur.


Namun ternyata, Nuri harus kecewa karna nasi goreng yang dibelikan oleh Dewa tidak ada dimana-mana.


"Dimana sieh dia meletakkannya, masak iya dibuang."


Nuri tidak tahu kalau nasi goreng itu dimakan oleh Dewa karna Nuri bilang tidak lapar, daripada dibuangkan mubazir, makanya Dewa makan.


"Ihhh, gimana ini, gue laper banget lagi." Nuri memegang perutnya yang terus berbunyi.


"Mana bisa gue tidur kalau lapar kayak gini."


Nuri kemudian memeriksa lemari penyimpanan tempat biasanya menyimpan persedian bahan makanan, dan untuk pertamakalinya Nuri bersyukur melihat satu bungkus mi instan, Nuri sudah seperti melihat harta karun saja.


"Syukurlah masih ada mi instan, terselamatkanlah perut gue."


Nuri mengambil mi instan itu dengan  mata berbinar.


Nuri mulai memasak air, dan begitu air tersebut sudah mendidih dia memasukkan mi tersebut dipanci, mi tersebut sudah mulai melembak dan siap untuk disantap, Nuri mengangkat panci dari kompor, sayangnya, Nuri yang kurang hati-hati sehingga membuat panci yang dipegangnya terlepas dari tangannya, hal tersebut menimbulkan suara berisik, sedangkan kuah dari mi instan yang dimasak muncrat mengenai kaki Nuri, hal tersebut membuat Nuri mengaduh karna kepanasan.


"Awhhhh panas." rintihnya mulai menangis.


Dewa yang sedang tertidur terbangun karna mendengar suara berisik dari arah dapur, dia langsung bergegas dan berlari ke dapur.


Dewa tercengang begitu melihat pemandangan didepanya, Nuri yang mengaduh kesakitan dengan mi instan dan kuahnya yang berceceran dilantai.


"Astaga adek, apa yang terjadi." panik Dewa mendekati Nuri.


Dari dekat Dewa bisa melihat kaki Nuri yang  melepuh.


"Kita kerumah sakit sekarang." Dewa langsung menggendong Nuri dengan entengnya tanpa terlihat kesusahan.


*****

__ADS_1


__ADS_2