SUAMIKU TERNYATA PRESDIR

SUAMIKU TERNYATA PRESDIR
CINCIN COUPLE


__ADS_3

"Karna adek telah membelikan kakak topi, maka kakak juga akan membelikan adek hadiah."


Nuri selalu saja berfikir kalau suaminya memiliki uang yang terbatas, pemikirannya tersebut membuatnya menolak tawaran dari suaminya, "Gak perlu kak, kak Dewa tidak perlu membelikan aku sesuatu."


"Jangan nolak lagi adek, ayok."


Sebelum Nuri sempat menolak, Dewa sudah menarik tangan Nuri, Dewa baru berhenti disebuah toko perhiasan, tentu saja Nuri tidak habis fikir, kenapa suaminya sampai membawanya ke toko perhiasan sedangkan dia tahu suaminya tidak memiliki banyak uang, fikir Nuri, emang berapa banyak sieh penghasilan dari buruh serabutan, makanpun kadang tidak cukup.


"Kak, jangan bilang kakak akan mengajakku masuk ke dalam."


"Memang kakak mau ngajak adek masuk ke dalam."


"Duhh, kakak tidak perlu berlebihan seperti ini kak, perhiasankan harganya mahal." Nuri masih berusaha untuk menolak.


"Meskipun harganya mahal, tapi kakak masih sanggup untuk membelinya." lisan Dewa, "Bahkan sama tokonya sekalipun aku sanggup membelinya." tambahnya dalam hati.


"Tapi kak aku..."


"Ayok masuk dek, gak usah banyak tapi." Dewa menarik tangan istrinya.


Karna dipaksa begitu, akhirnya Nuri terpaksa mengikuti ucapan Dewa.


Begitu tiba didepan etalase yang memajang berbagai macam perhiasan, Dewa berkata, "Nahh adek, silahkan pilih mana yang adek mau."


"Tapi kak, inikan harganya mahal."


"Harga tidak jadi masalah untuk kakak adek."


"Hah, maksud kak Dewa tuh apa, berarti kak Dewa punya banyak uang untuk membelikan aku perhiasan kali ya." Nuri membatin.


"Adek kenapa malah bengong, ayok pilih."


Kemarin waktu dia ngambek, Dewa membelikannya kalung, sekarang Dewa berniat membelikannya perhiasan lagi, Nuri jadi berfikir kalau suaminya memiliki uang yang cukup banyak, mungkin itu adalah tabungan suaminya yang dia kumpulkan bertahun-tahun lalu, pemikirannya tersebut membuat Nuri jadi terharu, bahkan matanya sampai berkaca-kaca.


"Adekk, adek baik-baik sajakan." Dewa memastikan karna melihat pelupuk mata istrinya yang genangi oleh air mata.


Nuri mengangguk pelan, "Aku baik-baik saja kok."


"Ayok sekarang pilih mana yang adek sukai."


"Kak Dewa sepertinya memiliki banyak uang, apa aku pilih cincin couple saja kali ya sebagai cincin kawin, karna nikah karna dorongan warga karna kesalahpahaman, kami jadi tidak memiliki cincin kawin."


Keinginannya tersebut Nuri ungkapkan dalam bentuk lisan, "Kak Dewa, bagaimana kalau kita membeli cincin couple, anggap saja itu sebagai cincin perkawinan kita."


"Hmmm, boleh juga, aku setuju dengan idenya adik." kata Dewa menyetujui idenya Nuri tersebut.


"Mbak, lihat cincin couplenya ya." pinta Dewa pada karyawan toko emas yang melayani mereka.


Sik mbak kemudian mengeluarkan beberapa cincin couple untuk memudahkan pelanggannya untuk memilih, "Silahkan mas, mbak dipilih."


"Menurut kakak yang bagus yang mana." Nuri bertanya untuk mengetahui pendapat suaminya saat memperhatikan cincin-cincin tersebut satu persatu.


"Menurut kakak semuanya bagus kok, emang adek sukanya yang mana."


Benar apa yang dikatakan oleh Dewa, semua cincin itu bagus semuanya yang membuat Nuri bingung untuk menentukan pilihan.


"Mmm, bagaimana kalau yang ini kak, bagus gak." Nuri mengambil sepasang cincin yang terlihat sederhana tapi elegan


"Itu juga oke kok dek."


Nuri tersenyum mendengar ucapan Dewa, "Menurut kakak, apa kita ambil cincin ini saja kali ya."


"Kalau adek suka, ambil yang itu saja dek."


"Tapi kak, kakak beneran punya uangkan kak." sampai saat ini Nuri masih saja meragukan suaminya.


"Iya adek, kakak punya uang, jadi, stop khawatir oke."


"Syukurlah, lega aku dengarnya."


"Jadi gimana, jadi ngambil yang ini dek."


Nuri mengangguk pasti.


"Mbak, kami ambil yang ini ya."


"Baik mas, mbak, tunggu sebentar ya." ujar sik mbak ramah.


Cincin couple tersebut dimasukkan dalam kotak beludru sebelum diserahkan kepada Nuri oleh sik pelayan toko mas tersebut.


Saat pembayaran, Dewa mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya dan menyerahkannya pada sik pelayan.


Mata Nuri melebar saat melihat Dewa melakukan pembayaran dengan kartu, "Kak Dewa membayar dengan kartu, sebanyak itukah uang kak Dewa, apakah buruh serabutan macam kak Dewa sering melakukan transaksi dengan menggunakan kartu kredit kayak gini." Nuri terheran dalam hati.


"Ayok adek." Dewa meraih pergelangan tangan Nuri dan menariknya keluar dari toko mas setelah selesai membayar.


"Apa adek ingin beli sesuatu lagi." Dewa menawarkan.


Nuri hanya menggeleng, sesungguhnya dia masih belum percaya kalau suaminya memegang sebuah kartu kredit yang biasanya dimiliki oleh orang-orang kaya, "Apa akunya saja kali ya yang terlalu meremehkan, bisa jadi gaji dari buruh serabutan itu besar." Nuri merasa menyesal karna sering meremehkan Dewa.


"Bagaimana kalau kita makan, perut kakak rasanya sudah meronta-ronta minta diisi." Dewa memegang perutnya.


Nuri mengangguk, "Baiklah, ayok kita makan."

__ADS_1


****


Saat ini mereka tengah duduk disalah satu cafe dimall tersebut, mereka baru saja menghabiskan makanan yang mereka pesan.


"Kak Dewa."


"Iya."


"Aku boleh minta sesuatu gak."


"Adek mau minta apa, katakan saja gak usah malu-malu."


"Bisa gak kak, kakak pasangin cincin yang tadi kita beli dijariku."


Dewa terkekeh mendengar keinginan Nuri, "Adek adek." Dewa sampai menggeleng, difikirnya Nuri akan minta apa gitu, "Kakak fikir adek bakalan minta dibeliin mobil, ternyata cuma minta dipasangin cincin doank."


"Emang kak Dewa mau gitu membelikan aku mobil."


"Emang adek mau mobil, kakak bisa membelikannya untuk adek."


"Gilaa, kak Dewa sanggup membelikan aku mobil, seberapa banyak sieh uang yang dimiliki oleh kak Dewa." Nuri benar-benar dibuat surprise oleh Dewa yang benar-benar diluar dugaannya.


"Gimana dek, jadi mau kakak beliin mobil gak."


"Ehhh, gak kok, aku cuma bercanda doank, lagiankan aku gak bisa nyetir."


"Mmmm, sebenarnya kakak memang ada niat sieh beli mobil, biar kakak bisa nganteri adek ke kampus supaya tidak panas-panasan."


"Tuhkan, kak Dewa mau beli mobil beneran, berarti kak Dewa emang punya banyak uang."


"Bagaimana menurut adek." Dewa meminta pendapat Nuri.


"Ehhh, apa kak."


"Bagaimana kalau kakak membeli mobil."


"Emang ada uangnya kak, harga mobilkan mahal kak."


"Ya kita belinya yang murah saja adek, gak perlu mahal, yang pentingkan bisa dipakai, kayaknya kalau beli mobil yang agak murah uang kakak mencukupi deh."


"Ya kalau kakak mau beli, ya beli aja kak, aku sieh setuju-setuju saja."


Dewa tersenyum tipis mendengar dukungan dari istrinya.


"Kak, ayok donk pasangin cincinnya." Nuri kembali pada topik awal, "Biar romantis gitu kak kayak didrama-drama korea itu lho."


"Maaf ya adek, selama ini kakak tidak pernah bersikap romantis."


Nuri tersenyum tipis, "Aku tidak butuh laki-laki yang romantis kak, kakak yang perhatian dan selalu memperlakukan aku dengan baik itu sudah lebih dari cukup untukku."


"Ayok kak pasangin cincinnya." rengek Nuri tidak sabaran.


"Iya, mana cincinnya kakak pasangin."


Dari dalam tas selempangnya Nuri mengeluarkan kotak cincin yang tadi dibelikan oleh Dewa.


Dewa meraih tangan Nuri dan memasukkan cincin tersebut dijari manis Nuri, Nuri tersenyum puas melihat cincin cantik itu melingkar dengan manis dijarinya.


"Sekarang giliran kakak." Nuri mengambil cincin satunya lagi dan memasukkannya ke jari manis suaminya.


"Seharusnya disaat ijab kabul kakak memasangkannya."


"Ya habisnya gimana donk dek, kitakan nikahnya waktu itu dadakan karna digrebek dan dianggap berbuat yang tidak-tidak oleh warga, mana sempat untuk beli cincin segala."


Mendengar kata-kata Dewa, Nuri jadi ingat saat mereka menikah dahulu, Nuri benar-benar menikah karna terpaksa, berawal dari keterpaksaan, lama-lama cinta beneran seperti sekarang ini, mengingat hal tersebut membuat Nuri jadi senyum-senyum sendiri.


"Adek." tegur Dewa karna melihat Nuri senyum-senyum gaje, "Apa adek tidak apa-apa."


"Ehh." Nuri jadi merasa malu sendiri karna ketahuan senyum-senyum sendiri, "Aku baik kok."


"Syukurlah, kakak fikir kesambet tadi, habisnya adek senyum-senyum sendiri."


"Kak, tetap pakai cincin itu ya, jangan sampai dilepas lho agar tidak ada cewek yang godain kakak."


"Pasti adek, adek juga begitu ya."


"Tentu saja kak."


****


Cekrek


Nuri mengambil gambar cincin dijari manisnya sebelum kemudian mengirimnya ke wa group, tidak berselang lama, sahabat-sahabatnya ramai berkomentar.


Juli : Mentang-mentang cincin baru, pamer lo ya.


Ya memang itu sieh niatnya Nuri.


Nuri : Iya donk, yang namanya barang baru harus donk dipamerin agar lo pada iri.


Juli : Dasar riya lo.


Imel : Dibeliin kak Dewa pastinya itu.

__ADS_1


Nuri : Iya, ini cincin couple, kak Dewa membelikannya karna waktu nikah dulu kita tidak punya cincin kawin, jadi yahhh, ini semacam cincin kawin kami.


Juli : Ya itulah resiko nikah digrebek warga, wk wk


Nuri : Sialan lo panjulll


Nuri : Gimana, bagus gak cincin gue


Imel : Bagus, kalau suatu saat lo punya kebutahan mendesak dan lagi tidak punya uang, lo bisa jual tuh cincin


Nuri : Enak saja, sampai kapanpun nieh cincin tidak akan pernah gue jual


Juli : Kak Dewa romantis ya Nur, kemarin dia beliin lo kalung, sekarang cincin, benar-benar laki-laki idaman dunia akhirat dah tuh.


Juli memuji.


Nuri : Kak Arikan juga romantis Jul


Juli : Ahh, romantis darimananya, dia mah cuek orangnya


Nuri : Kak Ari tuh romantis dengan caranya sendiri Jul, ya gak bisa dibandingin dengan laki-laki lain donk


Juli : Iya lo benar juga Nur, cowok gue itu adalah tipe orang yang tidak bisa mengepresikan perasaanya, dia memang romantis dengan caranya sendiri.


Imel : Gue dulu cinta mati sama kak Ari, sumpah ya, menurut gue, kak Ari adalah cowok tertampan dan terkeren di dunia, tapi yah mau bagaimana ya, gue yang cinta mati, malah sik panjull yang keluar sebagai pemenang, patah hati gue waktu itu.


Nuri : Gak cuma lo doank yang patah hati, gue dan Gebi juga kali, secara gitu kak Ari tampan dan keren banget, tapi ya kitakan terhormat, gak mungkin merebut punya sahabat sendiri


Juli : Heh lo sumpret, ingat suami lo pada


Imel : Hehe, iya, sudah gak cintalah gue sama pacar lo itu panjull, secara suami gue juga tampan, sebelas dua belaslah sama kak Ari level ketampanannya.


Nuri : Gue juga, sekarang mah gue cinta mati sama suami gue


Nuri cukup lama berbalas pesan dengan kedua sahabatnya sebelum dia memutuskan untuk istirahat, sedangkan Dewa pamit pergi sebentar entah kemana tujuannya.


*****


Saat itu Dewa dan Nuri tengah bersantai ria dan menghabiskan waktu mereka dengan menonton TV, kebetulan juga hari itu adalah hari minggu, Dewa sieh ngajak Nuri pergi jalan-jalan, tapi berhubung Nuri lagi malas kemana-mana karna pengaruh dari tamu bulanannya sehingga dia memilih berada dirumah seharian.


Nuri membaringkan tubuhnya disofa sederhana dan menjadikan paha Dewa sebagai bantal, sedangkan matanya fokus pada layar televisi yang tengah menayangkan kartun anak-anak yaitu spongebob squarepants, meskipun bukan anak-anak lagi, tapi Nuri suka menonton kartun yang menceritakan tentang spons berwarna kuning yang tinggal dibawah dasar laut, baginya menonton kartun menjadi sebuah hiburan untuknya.


"Udah dewasa kok nontonnya kartun sieh dek, kayak anak kecil saja." komen Dewa, dia yang ingin menonton berita pagi harus mengalah dengan istrinya.


"Seru kak, lucu juga, lebih baikkan nonton kartun daripada nonton gosip, kan dapat dosa."


"Tapi mungkin lebih bagus nonton berita donk adek, bisa dapat informasi-informasi yang terjadi di tanah air kita."


"Gak mau ahh, maunya nonton ini saja." tandas Nuri tidak bisa dibantah dan yahh, pagi itu mereka lewati dengan menonton kartun anak-anak.


Dewa sejak tadi mengelus rambut hitam legam Nuri, dia sangat suka memainkan rambut istirnya itu.


"Adek."


"Hmm."


"Babe dan ibu katanya ingin cepat-cepat punya cucu lho."


Wajah Nuri memanas mendengar clotehan Dewa, dia fikir Dewa akan mengajaknya mencetak anak saat ini juga, Nuri hanya diam, tidak tahu kata-kata apa yang digunakan untuk menanggapi ucapan Dewa.


"Kalau adek libur kuliah, mau gak kalau kita pergi bulan madu."


"Bulan madu." ulang Nuri, "Bulan madu kemana kak."


"Adek maunya kemana." Dewa balik nanya.


"Kak Dewa sebenarnya kerja apa sieh sebenarnya, tidak mungkinkan kalau hanya kuli serabutan punya kartu kredit, beliin aku kalung, cincin couple, dan sekarang kak Dewa ngajakin pergi bulan madu, biaya bulan madukan tidak murah."


"Emang kakak mau ngajak aku pergi kesana gitu kalau aku menyebutkan keinginanku."


"Tentu saja donk sayang." Dewa mencubit pipi Nuri gemes.


"Aku ingin ke Bali kak, kata teman-teman aku, Bali itu sangat indah."


"Emang indah, emang adek tidak pernah ke Bali."


Nuri menggeleng, "Belum pernah kak."


"Duhh kasihan, nanti saat adek libur, kita bulan madunya ke Bali ya agar sik baby segera tercetak disini." Dewa mengelus perut Nuri.


Nuri agak merinding saat tangan Dewa mengelus perutnya yang dilapisi kaos yang dia pakai.


"Emang kak Dewa pernah pergi ke Bali gitu."


"Tentu saja, sering malahan, tapi kakak tidak pernah bosan mengunjungi Bali saking indahnya."


"Kak Dewa sudah sering ke Bali, ngapain sieh dia, masak cuma kuli serabutan sudah sampai jalan-jalan ke Bali, tidak sekali dua kali, sering malah katanya dia ke Bali."


"Ngapai kakak ke Bali, kerja."


"Kerja, kadang juga liburan untuk melepas penat setelah memporsir diri bekerja."


"Kok sekarang aku tidak yakin ya kalau kak Dewa itu adalah pekerja serabutan, mana ada pekerja serabutan kulitnya putih, bahkan kak Dewa terlihat seperti orang yang bekerja kantoran. Nuri mulai curiga tentang kehidupan suaminya yang sebenarnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2